BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan, ada beberapa bagian yang dapat membantu antara organ satu dengan organ lainnya, contohnya saja otot. Otot dapat melekat di tulang yang berfungsi untuk bergerak aktif. Selain itu otot merupakan jaringan pada tubuh hewan yang bercirikan mampu berkontraksi, aktivitas biasanya dipengaruhi oleh stimulus dari sistem saraf. Unit dasar dari seluruh jenis otot adalah miofibril yaitu struktur filamen yang berukuran sangat kecil tersusun dari protein kompleks, yaitu filamen aktin dan miosin (Awik, 2004).
Pada saat otot berkontraksi, filamen-filamen tersebut saling bertautan yang mendapatkan energi dari mitokondria di sekitar miofibril. Oleh karena itu, banyak jenis otot yang saling berhubungan walaupun jenis otot terdiri dari otot lurik, otot jantung, dan otot rangka. Ketiganya mempunyai fungsi dan tujuan yang berbeda pula.
1.2 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami perbedaan jenis-jenis jaringan otot pada hewan maupun pada manusia. Selain itu, dapat mengetahui kontraksi otot pada saat otot bekerja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Otot
Otot merupakan suatu organ/alat yang dapat bergerak ini adalah sutau penting bagi organisme. Gerak sel terjadi karena sitoplasma merubah bentuk. Pada sel-sel sitoplasma ini merupakan benang-benang halus yang panjang disebut miofibril. Kalau sel otot yang mendapatkan rangasangan maka miofibril akan memendek, dengan kata lain sel oto akan memendekkan dirinya kearah tertentu.
Otot merupakan jaringan pada tubuh hewan yang bercirikan mampu berkontraksi, aktivitas biasanya dipengaruhi oleh stimulus dari sistem saraf. Unit dasar dari seluruh jenis otot adalah miofibril yaitu struktur filamen yang berukuran sangat kecil yang tersusun dari protein kompleks , yaitu filamen aktin dan miosin. Pada saat berkontraksi, filameb-filamen tersebut saling bertautan yang mendapatkan energi dari mitokondriadi sekitar miofibil.
Terdapat pula macam – macam otot yang berbeda pada vertebrata. Yang pertama ialah otot jantung, yaitu otot yang menyusun dinding jantung. Otot polos terdapat pada dinding semua organ tubuh yang berlubang (kecuali jantung). Kontraksi otot polos yang umumnya tidak terkendali, memperkecil ukuran struktur-struktur yang berlubang ini. Pembuluh darah, usus, kandung kemih dan rahim merupakan beberapa contoh dari struktur yang dindingnya sebagian besar terdiri atas otot poos. Sehingga kontraksi otot polos melaksanakan bermacam-macam tugas seperti meneruskan makanan kita dari mulut ke saluran pencernaan, mengeluarkan urin, dan mengirimkan bayi ke dunia.Otot kerangka, seperti namanya, adalah oto yang melengkat pada kerangka. Otot ini dikendalikan dengan sengaja. Kontraksinya memungkinkan adanya aksi yang disengaja seperti berlari, berenang, mengerjakan alat-alat, dan bermain bola. Akan tetapi, apabila otot jantung, otot polos, ataupun otot kerangka atau lurik memeberikan suatu ciri, maka otot tersebut merupakan alat yang menggunakan energi kimia dan makanan untuk melakukan kerja mekanisme.
Jenis-jenis otot
Dalam garis besarnya sel otot dapat dibagi menjadi 3(tiga) golongan yaitu :
1. Otot Polos
Otot polos terdiri dari sel-sel otot polos. Sel otot ini bentuknya seperti gelendongan, dibagian tengan terbesar dankedua ujungnya meruncing. Otot polos memilki serat yang arahnya searah panjang sel tersebut miofibril. Serat miofilamen dan masing-masing mifilamen teridri dari protein otot yaitu aktin dan miosin. Otot polos bergerak secara teratur, dan tidak cepat lelahg. Walaupun tidur. Otot masih mampu bekerja. Otot polos terdapat pada alat-alat dinding tubuh dalam, misalnya pada dinding usus, dinding pembuluh darah, pembuluh limfe, dinding saluran pencernaan, takea, cabang tenggorok, pada muskulus siliaris mata, otot polos dalam kulit, saluran kelamin dan saluran ekskresi (Ville,1984)
Cara kerja otot polos
Bila otot polos berkontraksi, maka bagian tengahnya membesar dan otot menjadi pendek. Kerutan itu terjadi lambat, bila otot itu mendapat suatu rangsang, maka reaksi terhadap berasal dari susunan saraf tak sadar (otot involunter), oleh karena itu otot polos tidak berada di bawah kehendak. Jadi bekerja di luar kesadaran kita.
2. Otot lurik
Sel-sel otot lurik berbentuk silindris atau seperti tabung dan berinti banyak, letaknya di pinggir, panjangnya 2,5 cm dan diameternya 50 mikron. Sel otot lurik ujungnya sel nya tidak menunjukkan batas yang jelas dan miofibril tidak homogen akibatnya tampak serat-serat lintang. Otot lurik di bedakan menjadi 3 macam, yaitu : otot rangka, otot lurik, dan otot lingkar. Otot-otot rangka mempunyai hubungan dengan tulang dan berfungsi menggerakkan tulang. Otot ini bila di lihat di bawah mikroskop, maka tampak susunannya serabut-serabut panjang yang mengandung banyak inti sel, dan tampak adanya garis-garis terang di selingi gelap yang melintang (Ville,1984).
Otot-otot kulit seperti yang terdapat pada roman muka termasuk otot-otot lurik berada di bawah kehendak kita. Perlekatannya pda tulang dan kulit, tetapi ada juga terdapat dalam kulit seluruhnya. Otot-otot yang merupakan lingkaran di sebuah otot lingkaran, misalnya otot yang mengelilingi mulut dan mata
Cara kerja otot lurik
Bila otot lurik berkontraksi, maka menjadi pendek dan setiap serabut turut dengan berkontraksi. Otot-otot jeis ini hanya berkontraksi jika di rangsangan oleh rangsangan daraf sadar (otot valunter). Kerja otot lurik adalah bersifat sadar, karena itu disebut otot sadar, artinya bekerja menurut kemauan, karena itu di sebut otot sadar, artinya bekerja menurut kemauan atau perintah otak. Reaksi kerja otot lurik terhadap perangsang cepat tapi tidak tahan kelelahan.
3. Otot jantung
Otot jantung merupakan otot “istimewa”. Otot ini bentuknya seperti otot lurik perbedaanya ialah bahwa serabutnya bercabang dan bersambung satu sama lain. Berciri merah khas dan tidak dapat dikendalikan kemauan. Kontraksi tidak di pengaruhi saraf, fungsi saraf hanya untuk percepat atau memperlambat kontraksi karena itu disebut otot tak sadar. Otot jantung di temukan hanya pada jangtung (kor), mempunyai kemampuan khusus untuk mengadakan kontraksi otomatis dan gerakan tanpa tergantung pada ada tidaknya rangsangan saraf. Cara kerja otot jantung ini disebut miogenik yang membedakannya dengan neurogonik (Ville,1984).
B. Mekanisme Kerja Otot
Dibalik mekanisme otot yang secara eksplisit hanya merupakan gerak mekanik itu. Terjadilah beberapa proses kimiawi dasar yang berseri demi kelangsungan kontrakso otot. Hampir semua jenis makhluk hidup memilki kemampuan untuk melakukan pergerakan. Fenomena pergerakan ini dapat berupa transport aktif melalui membran, translokasi polimerase DNA sepanjang rantai DNA, dan lain-lain termasuk kontraksi otot.
C. Struktur Otot Lurik
Otot pengisi atau otot yang menempek pada sebagian besar tulang kita (=skeletal) tampak bergaris-garis atau berlurik-lurik jika dilihat melalui mikroskop. Otot tersebut terdiri dari banyak kumpulan (bundel) serabut paralel panjang dengan diameter penampang 20-100 m yang di sebut serat otot. Panjang serat otot ini mampu mencapai panjang serat otot ini mampu mencapai panjang otot itu sendiri dan merupakan sel-sel berinti jamak (=multinucleated cells). Serat otot sendiri tersusun dari kumpulan-kumpulan paralel seribu miofibril yang berdiameter 1-2 m dan memanjang sepanjang sebuah serat otot
Garis-garis pada otot lurik disebabkan oleh struktur miofibril-miofibril yang saling berkaitan. Pada gambar 2, terlihat bahwa lurik itu merupakan daerah dengan densitas / kepadatan yang silih berganti (antara padat dan renggang) dengan sebutan luriklurik A dan lurik-lurik I. Pola-pola itu berepetisi dengan teratur sehingga tiap satu unit pola dinamakan sarkomer.
Sarkomer memiliki panjang 2.5 - 3.0 m pada otot yang rileks dan akan memendek saat otot berkontraksi. Antara sarkomer satu dengan lainnya, terdapatlah lapisan gelap disebut disk Z (=piringan Z). Lurik A terpusat pada daerah terang yang dinamakan daerah H yang peusatnya terletak pada lurik / disk M. Jika kita melihat gambar 2 lebih teliti lagi, maka terdapat sekelompok filamen yang tebal dan filamen tipis.
Filamenfilamen tebal dengan diameter 150 Angstrom itu tertata secara paralel heksagonal dalam daerah yang disebut daerah H. Sementara itu filamen-filamen tipis dengan diameter 70 Angstrom memiliki ujung yang terkait langsung dengan disk Z. Daerah yang terlihat gelap pada ujung-ujung daerah A merupakan tempat relasi-relasi antara filamen tebal dan filamen tipis. Relasi-relasi ini berupa cross-bridges (=jembatan-silang) yang berselang secara teratur.
a. Filamen-filamen tebal tersusun dari Miosin
Filamen-filamen tebal pada vertebrata (makhluk hidup bertulang belakang) hampir sebagian besar tersusun dari sejenis protein yang disebut Miosin. Molekul miosin terdiri dari enam rantai polipeptida yang disebut rantai berat dan dua pasang rantai ringan yang berbeda (disebut rantai ringan esensial dan regulatori, ELC dan RLC). Miosin termasuk protein yang khusus karena memiliki sifat berserat (=fibrous) dan globular.
Secara umum, molekul miosin dapat dilihat sebagai segmen berbentuk batang sepanjang 1600 Angstrom dengan dua kepala globular. Miosin hanya berada dalam wujud molekul-molekul tunggal dengan kekuatan ioniknya yang lemah. Bagaimanapun juga, protein-protein ini berkaitan satu sama lain menjadi struktur
Struktur tersebut ialah struktur dari filamen tebal yang telah dibicarakan sebelumnya. Pada struktur itu, filamen tebal merupakan suatu bentuk yang bipolar dengan kepala-kepala miosin yang menghadap tiap-tiap ujung filamen dan menyisakan bagian tengah yang tidak memiliki kepala satupun (=bare zone / jalur kosong). Kepalakepala miosin itulah yang merupakan wujud dari cross-bridges dalam perhubungannya dengan miofibrilmiofibril. Sebenarnya, rantai berat miosin berupa sebuah ATPase yang menghidrolisis ATP menjadi ADP dan Pi dalam suatu reaksi yang membuat terjadinya kontraksi otot. Jadi, otot merupakan alat untuk mengubah energi bebas kimia berupa ATP menjadi energi mekanik. Sementara itu, fungsi rantai ringan miosin diyakini sebagai modulator aktivitas ATPase dari rantai berat yang bersambungan dengannya.
Di tahun 1953, Andrew Szent-Gyorgi menunjukkan bahwa miosin yang diberi tripsin secukupnya akan memecah miosin menjadi dua fragmen (Gambar 5) yaitu Meromiosin ringan (LMM) dan Meromiosin berat (HMM). HMM dapat dipecah dengan papain menjadi dua bagian lagi yaitu dua molekul identik dari subfragmen-1 (S1) dan sebuah subframen-2 (S2) yang berbentuk mirip batang.
b. Filamen-filamen tipis tersusun dari Aktin, Tropomiosin dan Troponin
Komponen penyusun utama filamen tipis ialah Aktin. Aktin merupakan protein eukariotik yang umum, banyak jumlahnya, dan mudah didapati. Aktin didapati dalam wujud monomer-monomer bilobal globular yang disebut G-aktin yang secara normal mengikat satu molekul ATP untuk tiap-tiap monomer. G-aktin itu nantinya akan berpolimerisasi untuk membentuk fiber-fiber yang disebut F-aktin. Polimerisasi ini merupakan suatu proses yang menghidrolisis ATP menjadi ADP dengan ADP yang nantinya terikat pada unit monomer F-aktin. Sebagai hasilnya, F-aktin akan membentuk sumbu rantai utama dari filamen tipis
Tiap-tiap unit monomer F-aktin mampu mengikat sebuah kepala miosin (S1) yang ada pada filamen tebal. Mikrograf elektron juga menunjukkan bahwa F-aktin merupakan deretan monomer terkait dengan urutan kepala ekor-kepala. Maka dari itu, F-aktin memiliki wujud yang polar. Semua unit monomer F-aktin memiliki orientasi yang sama dilihat dari sumbu fiber. Filamen-filamen tipis itu juga memiliki arah yang menjauhi disk Z. Sehingga kumpulan-kumpulan filamen tipis yang menjulur pada kedua sisi disk Z itu memiliki orientasi yang berlawanan.
Komposisi miosin dan aktin masing-masing sebesar 60-70% dan 20- 25% dari protein total pada otot. Sisa protein lainnya berkaitan dengan filamen tipis yakni Tropomiosin dan Troponin. Troponin terdiri dari tiga subunit yaitu TnC (protein pengikat ion Ca), TnI (protein yang mengikat aktin), dan TnT (protein yang mengikat tropomiosin). Dari sini, dapat disimpulkan bahwa kompleks tropomiosin - Troponin mangatur kontraksi otot dengan cara mengontrol akses cross-bridges S1 pada posisiposisi pengikat aktin.(Anonim, 2010)
c. Protein minor pada Otot yang mengatur jaringan-jaringan Miofibril
Disk Z merupakan wujud amorf dan mengandung beberapa protein berserat (fibrous). Protein-protein lain itu ialah -aktinin (untuk mengikatkan filamen-filamen tipis pada disk Z), desmin (banyak terdapat pada daerah perifer / tepi disk Z dan berfungsi untuk menjaga keteraturan susunan antar sesama miofibril), vimentin (bersifat sama dengan desmin), titin (merupakan polipeptida dengan massa terbesar, berada sepanjang filamen tebal sampai disk Z, dan berfungsi seperti pegas yang mengatur agar letak filamen tebal tetap di tengah-tengah sarkomer), dan nebulin (berada di sepanjang filamen tipis dan berfungsi untuk mempertahankan panjang filamen). Sementara itu, disk M yang merupakan hasil penebalan akibat sambungan filamen-filamen tebal itu juga mengandung C-protein dan Mprotein. Peranan kedua protein itu ada pada susunan atau perkaitan antara filamen-filamen tebal pada disk M.
Mekanisme Kontraksi Otot
Setelah struktur otot dan komponen-komponen penyusunnya ditinjau, mekanismeatau interaksi antar komponenkomponen itu akan dapat menjelaskan proses kontraksi otot.
a. Filamen-filamen tebal dan tipis yang saling bergeser saat proses kontraksi
Menurut fakta, kita telah mengetahui bahwa panjang otot yang terkontraksi akan lebih pendek daripada panjang awalnya saat otot sedang rileks. Pemendekan ini rata -rata sekitar sepertiga panjang awal.
Melalui mikrograf elektron, pemendekan ini dapat dilihatsebagai konsekuensi dari pemendekan sarkomer. Sebenarnya, pada saat pemendekan berlangsung, panjang filamen tebal dan tipis tetap dan tak berubah (dengan melihat tetapnya lebar lurik A dan jarak disk Z sampai ujung daerah H tetangga) namun lurik I dan daerah H mengalami reduksi yang sama besarnya. Berdasar pengamatan ini, Hugh Huxley, Jean Hanson, Andrew Huxley dan R.Niedergerke pada tahun 1954 menyarankan model pergeseran filamen (=filament sliding). Model ini mengatakan bahwa gaya kontraksi otot itu dihasilkan oleh suatu proses yang membuat beberapa set filamen tebal dan tipis dapat bergeser antar sesamanya.
b. Aktin merangsang Aktivitas ATPase Miosin
Model pergeseran filamen tadi hanya menjelaskan mekanika kontraksinya dan bukan asal-usul gaya kontraktil. Pada tahun 1940, Szent-Gyorgi kembali menunjukkan mekanisme kontraksi. Pencampuran larutan aktin dan miosin untuk membentuk kom-pleks bernama Aktomiosin ternyata disertai oleh peningkatan kekentalan larutan yang cukup besar. Kekentalan ini dapat dikurangi dengan menambahkan ATP ke dalam larutan aktomiosin. Maka dari itu, ATP mengurangi daya tarik atau afinitas miosin terhadap aktin. Selanjutnya, untuk dapat mendapatkan penjelasan lebih tentang peranan ATP dalam proses kontraksi itu, kita memerlukan studi kinetika kimia. Daya kerja ATPase miosin yang terisolasi ialah sebesar 0.05 per detiknya. Daya kerja sebesar itu ternyata jauh lebih kecil dari daya kerja ATPase miosin yang berada dalam otot yang berkontraksi. Bagaimanapun juga, secara paradoks, adanya aktin (dalam otot) meningkatkan laju hidrolisis ATP miosin menjadi sekitar 10 per detiknya. Karena aktin menyebabkan peningkatan atau peng-akti-vasian miosin inilah, muncullah sebutan aktin. Selanjutnya, Edwin Taylor mengemukakan sebuah model hidrolisis ATP yang dimediasi / ditengahi oleh aktomiosin
Pada tahap pertama, ATP terikat pada bagian miosin dari aktomiosin dan menghasilkan disosiasi aktin dan miosin. Miosin yang merupakan produk proses ini memiliki ikatan dengan ATP. Selanjutnya, pada tahap kedua, ATP yang terikat dengan miosin tadi terhidrolisis dengan cepat membentuk kompleks miosin-ADP-Pi. Kompleks tersebut yang kemudian berikatan dengan Aktin pada tahap ketiga. Pada tahap keempat yang merupakan tahap untuk relaksasi konformasional, kompleks aktin-miosin-ADP-Pi tadi secara tahap demi tahap melepaskan ikatan dengan Pi dan ADP sehingga kompleks yang tersisa hanyalah kompleks Aktin-Miosin yang siap untuk siklus hidrolisis ATP selanjutnya. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa proses terkait dan terlepasnya aktin yang diatur oleh ATP tersebut menghasilkan gaya vektorial untuk kontraksi otot.
c. Model untuk interaksi Aktin dan Miosin berdasar strukturnya
Rayment, Holden, dan Ronald Milligan telah memformulasikan suatu model yang dinamakan kompleks rigor terhadap kepala S1 miosin dan Faktin. Mereka mengamati kompleks tersebut melalui mikroskopi elektron. Daerah yang mirip bola pada S1 itu berikatan secara tangensial pada filamen aktin pada sudut 45o terhadap sumbu filamen. Sementara itu, ekor S1 mengarah sejajar sumbu filamen. Relasi kepala S1 miosin itu nampaknya berinteraksi dengan aktin melalui pasangan ion yang melibatkan beberapa residu Lisin dari miosin dan beberapa residu asam Aspartik dan asam Glutamik dari aktin.
d. Kepala-kepala Miosin “berjalan” sepanjang filamen-filamen aktin
Hidrolisis ATP dapat dikaitkan dengan model pergeseran-filamen. Pada mulanya, kita mengasumsikan jika cross-bridges miosin memiliki letak yang konstan tanpa berpindah-pindah, maka model ini tak dapat dibenarkan. Sebaliknya, cross bridges itu harus berulangkali terputus dan terkait kembali pada posisi lain namun masih di daerah sepanjang filamen dengan arah menuju disk Z. Melalui pengamatan dengan sinar X terhadap struktur filamen dan kondisinya saat proses hidrolisis terjadi, Rayment, Holden, dan Milligan mengeluarkan postulat bahwa tertutupnya celah aktin akibat rangsangan (berupa ejeksi ADP) itu berperan besar untuk sebuah perubahan konformasional (yang menghasilkan hentakan daya miosin) dalam siklus kontraksi otot. Postulat ini selanjutnya mengarah pada model “perahu dayung” untuk siklus kontraktil yang telah banyak diterima berbagai pihak.
Pada mulanya, ATP muncul dan mengikatkan diri pada kepala miosin S1 sehingga celah aktin terbuka. Sebagai akibatnya, kepala S1melepaskan ikatannya pada aktin. Pada tahap kedua, celah aktin akan menutup kembali bersamaan dengan proses hidrolisis ATP yang menyebabkan tegaknya posisi kepala S1. Posisi tegak itu merupakan keadaan molekul dengan energi tinggi (jelas-jelas memerlukan energi). Pada tahap ketiga, kepala S1 mengikatkan diri dengan lemah pada suatu monomer aktin yang posisinya lebih dekat dengan disk Z dibandingkan dengan monomer aktin sebelumnya. Pada tahap keempat, Kepala S1 melepaskan Pi yang mengakibatkan tertutupnya celah aktin sehingga afinitas kepala S1 terhadap aktin membesar. Keadaan itu disebut keadaan transien. Selanjutnya, pada tahap kelima, hentakan-daya terjadi dan suatu geseran konformasional yang turut menarik ekor kepala S1 tadi terjadi sepanjang 60 Angstrom menuju disk Z. Lalu, pada tahap akhir, ADP dilepaskan oleh kepala S1 dan siklus berlangsung lengkap.
Pengaturan untuk Kontraksi Otot
Gerakan otot lurik tentu dibawah komando atau suatu kontrol yang disebut impuls saraf motor.
a. Ca2+ mengatur Kontraksi Otot dengan proses yang ditengahi oleh Troponin dan Tropomiosin
Sejak tahun 1940, ion Kalsium diyakini turut berperan serta dalam pengaturan kontraksi otot. Kemudian, sebelum 1960, Setsuro Ebashi menunjukkan bahwa pengaruh Ca2+ ditengahi oleh Troponin dan Tropomiosin. Ia menunjukkan aktomiosin yang diekstrak langsung dari otot (sehingga mengandung ikatan dengan troponin dan tropomiosin) berkontraksi karena ATP hanya jika Ca2+ ada pula. Kehadiran troponin dan tropomiosin pada sistem aktomiosin tersebut meningkatkan sensitivitas sistem terhadap Ca2+. Di samping itu, subunit dari troponin, TnC, merupakan satu-satunya komponen pengikat Ca2+. Secara molekuler, proses kontraksi (Anonim,2010)
b. Impuls saraf melepaskan Ca2+ dari Retikulum Sarcoplasma
Sebuah impuls saraf yang tiba pada sebuah persambungan neuromuskular (= sambungan antara neuron dan otot) akan dihantar langsung kepada tiap-tiap sarkomer oleh sebuah sistem tubula transversal / T. Tubula tersebut merupakan pembungkus-pembungkus semacam saraf pada membran plasma fiber. Tubula tersebut mengelilingi tiap miofibril pada disk Z masing-masing.
Semua sarkomer pada sebuah otot akan menerima sinyal untuk berkontraksi sehingga otot dapat berkontraksi sebagai satu kesatuan utuh. Sinyal elektrik itu dihantar (dengan proses yang belum begitu dimengerti) menuju retikulum sarkoplasmik (SR). SR merupakan suatu sistem dari vesicles (saluran yang mengandung air di dalamnya) yang pipih, bersifat membran, dan berasaldari retikulum endoplasma. Sistem tersebut membungkus tiap-tiap miofibril hampir seperti rajutan kain. Membran SR yang secara normal non-permeabel terhadap Ca2+ itu mengandung sebuah transmembran Ca2+-ATPase yang memompa Ca2+ kedalam SR untuk mempertahankan konsentrasi [Ca2+] bagi otot rileks. Kemampuan SR untuk dapat menyimpan Ca2+ ditingkatkan lagi oleh adanya protein yang bersifat amat asam yaitu kalsequestrin (memiliki situs lebih dari 40 untuk berikatan dengan Ca2+). Kedatangan impuls saraf membuat SR menjadi permeabel terhadap Ca2+.Akibatnya, Ca2+ berdifusi melalui saluran-saluran Ca2+ khusus menuju interior miofibril, dan konsentrasi internal [Ca2+] akan bertambah. Peningkatan konsentrasi Ca2+ ini cukup untuk memicu perubahan konformasional dalam troponin dan tropomiosin. Akhirnya, kontraksi otot terjadi dengan mekanisme “perahu dayung” tadi. Saat rangsangan saraf berakhir, membran SR kembali menjadi impermeabel terhadap Ca2+ sehingga Ca2+ dalam miofibril akan terpompa keluar menuju SR. Kemudian otot menjadi rileks seperti sediakala.
.
Otot Halus (Smooth Muscles)
Makhluk hidup vertebrata memiliki dua jenis otot selain otot lurik yaitu otot cardiac (=kardiak; berhubungan dengan jantung) dan otot halus. Otot cardiac ternyata juga berlurik-lurik sehingga mengindikasikan suatu persamaan antara otot cardiac dan otot lurik. Walaupun begitu, otot skeletal (lurik) dan otot cardiac masih memiliki perbedaan antar sesamanya terutama pada metabolismenya. Otot cardiac harus beroperasi secara kontinu sepanjang usia hidup dan lebih banyak tergantung pada metabolisme secara aerobik. Otot cardiac juga secara spontan dirangsang oleh otot jantung itu sendiri dibanding oleh rangsangan saraf eksternal (=rangsangan volunter). Di samping itu, otot halus berperan dalam kontraksi yang lambat, tahan lama, dan tanpa melalui rangsang eksternal seperti pada dinding usus, uterus, pembuluh darah besar. Otot halus disini memiliki sifat yang sedikit berbeda dibanding otot lurik. Otot halus atau sering dikatakan otot polos ini berbentuk seperti spindel, tersusun oleh sel sel berinti tunggal, dan tidak membentuk miofibril. Miosin dari otot halus (protein khusus secara genetik) berbeda secara fungsional daripada miosin otot lurik dalam beberapa hal:
o Aktivitas maksimum ATPase hanya sekitar 10% dari otot lurik
o Berinteraksi dengan aktin hanya saat salah satu rantai ringannya terfosforilasi
o Membentuk filamen-filamen tebal dengan cross-bridges yang tak begitu teratur serta tersebar di seluruh panjang filamen tebal
a. Kontraksi Otot Halus dipicu oleh Ca2+
Filamen-filamen tipis otot halus memang mengandung Aktin dan Tropomiosin namun tak seberapa mengandung Troponin. Kontraksi otot halus tetap dipicu oleh Ca2+ karena miosin rantai ringan kinase (=myosin light chain kinase / MLCK) secara enzimatik akan menjadi aktif hanya jika Ca2+-kalmodulin hadir. MLCK merupakan sebuah enzim yang memfosforilasi rantai ringan miosin sehingga menstimulasi terjadinya kontraksi otot halus. Proses kontraksi otot halus secara kimiawi.Konsentrasi intraselular [Ca2+] bergantung pada permeabilitas membran plasma sel otot halus terhadap Ca2+. Permeabilitas otot halus tersebut dipengaruhi oleh sistem saraf involunter atau autonomik. Saat [Ca2+] meningkat, kontraksi otot halus dimulai. Saat [Ca2+] menurun akibat pengaruh Ca2+- ATPase dari membran plasma, MLCK kemudian dideaktivasi. Lalu, rantai ringan terdefosforilasi oleh miosin rantai ringan phosphatase dan otot halus kembali rileks.
b. Aktivitas Otot Halus termodulasi secara Hormonal
Otot halus juga memberi tanggapan pada hormon seperti epinefrin. Pengaruh hormon tersebut juga dapat dilihat pada gambar 12. Tahap-tahap kontraksi yang terjadi pada otot halus ternyata lebih lambat daripada tahap-tahap yang terjadi untuk otot lurik. Jadi, struktur dan pengaturan kontrol otot halus tepat dengan fungsi yang diembannya yaitu pengadaan suatu gaya tegang selama rentang waktu cukup lama namun mengkonsumsi ATP dengan laju konsumsi rendah.
D. Perbandingan Otot Dari Tiap Vertebrata
a. Pisces
Sistem otot (urat daging): penggerak tubuh, sirip-sirip, insang-organ listrik (Sonic, 2008).
Belut laut
Sistem otot:
Tubuh berupa lingkaran-lingkaran otot yang tersusun sebagai huru W. Corong bukal digerakan oleh otot-otot radial. Lidah digerakan oleh otot retraktor dan protraktor.
Ikan hiu
Sistem otot:
Otot-otot di seluruh tubuh secara teratur bersegemen (materik) disebut miotom. Otot-otot itu bermodifikasi kepala dan di apendiks.
Ikan perak
Sistem otot:
Otot tubuh dan ekor terutama terdiri dari miomer-miomer (otot-otot bersegmen) yang berselang-seling/berganti-ganti tempat dengan vertebra ketika mengadakan gerakan berenang dan berbalik arah. Miomer-miomer itu secara kasar berbentuk seperti hurup W dan dirakit menjadi 4 sabuk miomer, yang di sepanjang punggung merupakan rakitan yang terberat. Antara miomer-miomer itu terdapat jaringan ikatan yang jika direbus, sabuk-sabuk miomer itu terpisah-pisah menjadi lapisan-lapisan daging (Sonic, 2008).
b. Amphibi
Secara majemuk, sistem otot katak berbeda dari susunan mioton primitif, terutama dalam apendiks. Otot-otot segmental mencolok pada tubuh. Segmen kaki teratas berotot besar (Sonic, 2008).
c. Reptilia
Dibandingkan dengan katak, sistem otot buaya itu lebih rumit, karena gerakannya lebih kompleks. Otot-otot kepala, leher, dan kaki tumbuh baik, walaupun kurang jika dibandingkan pada mammalia. Segmentasi otot jelas pada kolumna vertebralis dan
rusuk (Sonic, 2008) .
d. Aves
Tulang kuadrat dari tengkorak mempunyai 2 permukaan artikular dorsal. Semua tulang pelvis bersatu. Ada sebuah pigostil. Sternum mempunyai 4 buah tekik (celah) posterior. Otot pektoralis mayor dimulai pada lunas tulang sternum, dan menarik tulang humerus kebawah (berarti menarik sayap ke bawah). Sebaliknya, otot pektoralis minor menarik sayap ke atas (Sonic, 2008).
e. Mamalia
Tulang kuadrat dari tengkorak mempunyai 2 permukaan artikular dorsal. Semua tulang pelvis bersatu. Ada sebuah pigostil. Sternum mempunyai 4 buah tekik (celah) posterior. Otot pektoralis mayor dimulai pada lunas tulang sternum, dan menarik tulang humerus kebawah (berarti menarik sayap ke bawah). Sebaliknya, otot pektoralis minor menarik sayap ke atas (Sonic, 2008).
BAB III
KESIMPULAN
Dalam makalah ini dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis jaringan di bagi menjadi 3 macam yaitu otot polos, otot jantung, dan otot lurik. Dari ketiga jenis otot tersebut mempunyai cara kerja yang berbeda. Selain itu, dalam mekanisme kontraksi otot, terdapat Filamen-filamen tebal dan tipis yang saling bergeser saat proses kontraksi, Aktin merangsang Aktivitas ATPase Miosin Model untuk interaksi Aktin dan Miosin berdasar strukturnya dan Kepala-kepala Miosin “berjalan” sepanjang filamen-filamen aktin
KERJA OTOT LURIK
• Otot rangka adalah masa otot yang bertaut pada tulang yang berperan dalam menggerakkan tulang-tulang tubuh.
MEKANISME OTOT LURIK/OTOT RANGKA
• Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan yang relatif dari filamenfilamen aktin dan myosin.
• Selama kontraksi otot, filamen-filamen tipis aktin terikat pada dua garis yang bergerak ke Pita A, meskipun filamen tersebut tidak bertambah banyak.
• Gerakan pergeseran itu mengakibatkan perubahan dalam penampilan sarkomer, yaitu penghapusan sebagian atau seluruhnya garis H.
• Filamen myosin letaknya menjadi sangat dekat dengan garis-garis Z dan pita-pita A
• Lebar sarkomer menjadi berkurang sehingga terjadi kontraksi
• Kontraksi berlangsung pada interaksi antara aktin miosin untuk membentuk komplek aktin-miosin.
Mekanisme Kontraksi Otot
• Pergeseran filamen dijelaskan melalui mekanisme kontraksi pencampuran aktin dan miosin membentuk kompleks akto-miosin yang dipengaruhi oleh ATP.
• Miosin merupakan produk, dan proses tersebut mempunyai ikatan dengan ATP.
• Selanjutnya ATP yang terikat dengan miosin terhidrolisis membentuk kompleks miosin ADP-Pi dan akan berikatan dengan aktin.
• Selanjutnya tahap relaksasi konformasional kompleks aktin, miosin, ADP-pi secara bertahap melepaskan ikatan dengan Pi dan ADP, proses terkait dan terlepasnya aktin menghasilkan gaya fektorial
Kontraksi otot dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
1. Treppe atau staircase effect, yaitu meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini disebabkan karena konsentrasi ion Ca2+ di dalam serabut otot yang meningkatkan aktivitas miofibril.
2. Summasi, berbeda dengan treppe, pada summasi tiap otot berkontraksi dengan kekuatan berbeda yang merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan (summasi unit motor berganda dan summasi bergelombang).
3. Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karena pekerjaan itu sendiri.
4. Tetani adalah peningkatan frekuensi stimulasi dengan cepat sehingga tidak ada peningkatan tegangan kontraksi.
5. Rigor terjadi bila sebagian terbesar ATP dalam otot telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak lagi dapat dikembalikan ke RS melalui mekanisme pemompaan.
ini uraian secara sederhana
JADI
Beketjanya otot lurik secara sederhana demikian
• Rangsangan pada sebuah saraf motorik ( yang mensarafi serabut otot) pada ujung saraf motorik mensekresi neurotransmiter Asetilkolin.
• Asetilkolin akan menyebabkan retikulum sarkoplasmik melepaskan sejumlah ion kalsium ( yang tersimpan dalam RS) kedalam miofibril.
• Ion kalsium dan pembongkaran ATP yang menghasilkan energi menimbulkan kekuatan menarik filamen aktin dan miosin,yang menyebabkan gerakan bersam-sama sehingga menghasilkan proses kontraksi.
• Kemudian dalan satu detik ion kalsium dipompa kembali kedalam retikulum sarkoplasmik tempat ion kalsium disimpan. K
• embalinya ion kalsium ini menyebabkan kontrasi otot berhenti.
• Otot tidak pernah istirahat benar,meskipun keliatannya demikian.
• Pada hakekatnya mereka selalu berada dalam keadaan tonus otot,yang berarti siap untuk bereaksi terhadap rangsangan.
• Misalnya ketokan pada tendo patella mengakibatkan kontraksi dari extensor quadrisep femoralis dan sedikit rangsangan sendi lutut.
• Sikap tubuh ditentukan oleh tingkat tonus.
•
Minggu, 09 Oktober 2011
Selasa, 12 Juli 2011
fisiologi pasca panen ( indeks )
I.PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Proses pematangan buah pisang merupakan proses pengakumulasian gula dengan merombak pati menjadi senyawa yang lebih sederhana. Tidak seperti buah pada umumnya yang mengakumulasi gula secara langsung dari pengiriman asimilat hasil fotosintesis di daun yang umumnya dikirim ke organ lain dalam bentuk sukrosa. Pertumbuhan buah pisang ditunjukkan oleh perubahan panjang dan lingkar buah yang cepat. Selama pertumbuhan buah, berat buah pisang secara individual terus meningkat. Pada saat masak, berat buah dipertahankan selama 2-4 hari, kemudian mulai menurun bersamaan dengan perubahan warna kulit pada saat mulai masak. Berat daging buah sangat rendah pada awal pertumbuhan buah, sedang berat kulit buah sangat tinggi. Dengan semakin masak buah, berat daging buah semakin meningkat, sedang berat kulit berangsur-angsur. Penurunan ini mungkin karena adanya selulose dan hemiselulose di kulit yang dikonversi ke pati selama penuaan buah. Isndikasi ini nampak bahwa setelah 15 hari pertumbuhan buah pisang jenis Cavendis, ratio daging buah terhadap kulit 0,41 dan sesudah 130 hari meningkat menjadi 1,90. Konsentrasi pati pada daging buah meningkat sampai 70 hari pada masa pertumbuhan buah pisang dan kemudian menurun. Kandungan pati pada buah pisang yang belum masak 20-25% dari total berat segarnya dan sekitar 2-5% saja yang mampu diubah menjadi gula dan sebagian dilepas dalam bentuk gas CO2 melalui proses respirasi. Pada awal pertumbuhan buah konsentrasi gula total, gula reduksi dan bukan reduksi sangat rendah. Tetapi saat proses pemasakan, gula total meningkat tajam dalam bentuk glukosa dan fruktosa. Naiknya kadar gula yang tiba-tiba ini dapat digunakan sebagai indeks kimia.
1.2.Tujuan dan Kegunaan
Adapun tujuan dari praktikum “Waste indek “ ini, yaitu untuk mengetahui indeks pemasakan khususnya pada buah pisang dan sayur kankung selain itu praktikum ini juga mengajarkan agar kita mengetahui proses atau mekanisme pemasakan buah dan sayur.
Sedangkan kegunaan melakukan praktikum “waste indeks” yaitu adalah mengetuhi fungsi dari indeks pemasakan buah dan sayur dan dapat jika mengetahui bagaimana etilen bekerja di dalam buah pisang dan sayur kankung.
1.3.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada praktikum ini yaitu :
Bagaimana mekanisme waste indeks pemasakan buah pisang dan sayur kankung.
Mekanisme etilen pada buah mangga dan sayur kankung
Pada saat pemasakan buah terjadi peningkatan respirasi, produksi etilen serta terjadi akumulasi gula, perombakan klorofil dan senyawa lain sehingga buah menjadi lunak (Quazi dan Freebairn, 1970; Krishnamoorthy, 1981). Dikatakan pula oleh Matto et al., 1975, bahwa pelunakan buah disebabkan juga oleh degradasi protopektin tidak larut menjadi pektin yang larut atau oleh hidrolisis pati dan hidrolisis lemak (Krishnamoorthy, 1981)..
Kecepatan laju respirasi buah akan meningkat dengan meningkatnya suhu, pada suhu 35oC laju respirasi ini akan meningkat tajam, walaupun pada suhu tersebut produksi etilen terhenti (Krishnamoorthy, 1981). Selama pemasakan, pektin yang tidak larut air berkurang dari 0,5% menjadi 0,2%, berat basah dari pektin yang larut air meningkat, kandungan selulosa dan hemiselulosa menurun (Bennet et al, 1987; Quazi dan Freebairn, 1970). Peranan mitokondria pada proses pemasakan buah penting dalam hal respirasi yang mampu menyediakan energi ATP yang akan digunakan untuk membentuk UDP-glukose sebagai penyedia substrat untuk sintesis sukrosa (Solomos dan Laties, 1983). Sebagaimana dijelaskan oleh Anderson dan Beardall, 1991, sukrosa disintesis lewat UDP dan glukosa dalam sitosol. Dari triosa fosfat akan membentuk fruktosa 1,6 difosfat dengan dikatalisis oleh enzim aldolase yang kemudian oleh aktivitas fosfatase menghasilkan fruktosa 6P, yang akan mengalami konfigurasi struktur molekul oleh enzim heksosa-isomerase dan glukosa-P mutase menghasilkan glukosa-1P, lebih lanjut akan membentuk UDP-glukose dengan tersedianya UTP dan dikatalisis oleh UDP glukose pirofosforilase. UDP glukosa akan bergabung dengan fruktosa-6P yang telah terbentuk sebelumnya menghasilkan sukrose 6P yang dikatalisis oleh Sucrose Phosphate Synthase (SPS).
Sukrosa juga dapat dibentuk lewat pemecahan pati (Anderson dan Beardall, 1991). Penggabungan karbon berlangsung di dalam jaringan fotosintetik (kloroplas) dan dalam jaringan non fotosintetik (amiloplas). Keberadaan pati di dalam jaringan tersebut tidak dalam periode yang panjang. Bila ekspor triosefosfat ke sitosol tidak dapat diteruskan oleh asimilasi CO2 misal pada waktu malam, maka proses pematangan buah pisang merupakan proses pengakumulasian gula dengan merombak pati menjadi senyawa yang lebih sederhana. Tidak seperti buah pada umumnya yang mengakumulasi gula secara langsung dari pengiriman asimilat hasil fotosintesis di daun yang umumnya dikirim ke organ lain dalam bentuk sukrosa (Anderson dan Beardall, 1991). Pertumbuhan buah pisang ditunjukkan oleh perubahan panjang dan lingkar buah yang cepat. Selama pertumbuhan buah, berat buah pisang secara individual terus meningkat. Pada saat masak, berat buah dipertahankan selama 2-4 hari, kemudian mulai menurun bersamaan dengan perubahan warna kulit pada saat mulai masak. Berat daging buah sangat rendah pada awal pertumbuhan buah, sedang berat kulit buah sangat tinggi. Dengan semakin masak buah, berat daging buah semakin meningkat, sedang berat kulit berangsur-angsur menurun (Lodth dan Pantastico, 1975).
Penurunan ini mungkin karena adanya selulose dan hemiselulose di kulit yang dikonversi ke pati selama penuaan buah. Indikasi ini nampak bahwa setelah 15 hari pertumbuhan buah pisang jenis Cavendis, ratio daging buah terhadap kulit 0,41 dan sesudah 130 hari meningkat menjadi 1,90. Konsentrasi pati pada daging buah meningkat sampai 70 hari pada masa pertumbuhan buah pisang dan kemudian menurun. Kandungan pati pada buah pisang yang belum masak 20-25% dari total berat segarnya dan sekitar 2-5% saja yang mampu diubah menjadi gula dan sebagian dilepas dalam bentuk gas CO2 melalui proses respirasi. Pada awal pertumbuhan buah konsentrasi gula total, gula reduksi dan bukan reduksi sangat rendah. Tetapi saat proses pemasakan, gula total meningkat tajam dalam bentuk glukosa dan fruktosa. Naiknya kadar gula yang tiba-tiba ini dapat digunakan sebagai indeks kimia (Pantastico, 1973)
Pada saat pemasakan buah terjadi peningkatan respirasi, produksi etilen serta terjadi akumulasi gula, perombakan klorofil dan senyawa lain sehingga buah menjadi lunak (Quazi dan Freebairn, 1970; Krishnamoorthy, 1981). Dikatakan pula oleh Matto et al., 1975, bahwa pelunakan buah disebabkan juga oleh degradasi protopektin tidak larut menjadi pektin yang larut atau oleh hidrolisis pati dan hidrolisis lemak.
Kecepatan laju respirasi buah akan meningkat dengan meningkatnya suhu, pada suhu 35oC laju respirasi ini akan meningkat tajam, walaupun pada suhu tersebut produksi etilen terhenti (Krishnamoorthy, 1981). Selama pemasakan, pektin yang tidak larut air berkurang dari 0,5% menjadi 0,2%, berat basah dari pektin yang larut air meningkat, kandungan selulosa dan hemiselulosa menurun (Bennet et al, 1987; Quazi dan Freebairn, 1970). Peranan mitokondria pada proses pemasakan buah penting dalam hal respirasi yang mampu menyediakan energi ATP yang akan digunakan untuk membentuk UDP-glukose sebagai penyedia substrat untuk sintesis sukrosa (Solomos dan Laties, 1983). Sebagaimana dijelaskan oleh Anderson dan Beardall, 1991, sukrosa disintesis lewat UDP dan glukosa dalam sitosol. Dari triosa fosfat akan membentuk fruktosa 1,6 difosfat dengan dikatalisis oleh enzim aldolase yang kemudian oleh aktivitas fosfatase menghasilkan fruktosa 6P, yang akan mengalami konfigurasi struktur molekul oleh enzim heksosa-isomerase dan glukosa-P mutase menghasilkan glukosa-1P, lebih lanjut akan membentuk UDP-glukose dengan tersedianya UTP dan dikatalisis oleh UDP glukose pirofosforilase. UDP glukosa akan bergabung dengan fruktosa-6P yang telah terbentuk sebelumnya menghasilkan sukrose 6P yang dikatalisis oleh Sucrose Phosphate Synthase (SPS).
II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Komoditi buah
Buah pisang termasuk buah klimakterik. Prosespemasakannya diiringi laju respirasi dan laju produksi etilena yang relatif tinggi (Kader 1992). Berbagai perubahan fisik dan kimia mengikuti proses pemasakannya di antaranya pelunakan buah, peningkatan kandungan gula, perubahan warna kulit buah, dan peningkatan laju respirasi dan laju produksi etilena. Seperti halnya buah-buahan klimakterik lainnya, proses pemasakan tidak dapat dihentikan, tetapi dapat diperlambat sehingga daya simpan buah dapat diperpanjang. Salah satu cara yang akhir-akhir ini dilaporkan dapat memperlambat proses pemasakan ialah pemakaian poliamina. Poliamina adalah zat pengatur tumbuh yang secara alami ditemukan pada sel tanaman (Galston & Kaur-Sawhney 1995, Kumar et al. 1997, Walden et al. 1997).
Poliamina yang umum ditemukan pada tanaman ialah putresina, spermidina, dan spermina. Selain peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, poliamina dikenal sebagai zat antisenesen yang dapat digunakan untuk menghambat proses pemasakan buah, mempertahankan kekerasan buah tomat . Bila ekspor triosefosfat ke sitosol tidak dapat diteruskan oleh asimilasi CO2 misal pada waktu malam, maka pati akan dimobilisasikan dan diekspor. Umumnya produksi triose P dari pati ditimbulkan oleh suatu kondisi di mana ratio ATP/ADP menurun yang biasanya terkait dengan rendahnya triose P dan meningkatnya konsentrasi Pi. Mobilisasi pati ke sukrose umumnya lewat “starch phosphorilase” dan enzim lain. Katalisis oleh “starch phosphorilase” menghasilkan glukosa-1P yang lebih lanjut akan diubah menjadi glukosa 6P dan fruktosa 6P oleh enzim glukose P mutase dan heksose isomerase. Dari glukose 1P juga akan dihasilkan UDP glukose oleh UDP glukose pirofosforilase dengan terbentuknya UTP. UDP glukose akan bergabung dengan fruktose 6P menghasilkan sukrose 6P yang dikatalisis oleh SPS. Namun suatu hal yang perlu diperhatikan bahwa proses respirasi buah klimakterik ini meningkat hanya pada waktu awal pemasakan (ripening) sampai mencapai puncak klimakterik yang selanjutnya segera diikuti penurunan yang tajam sehingga tidak cukup energi ATP yang dihasilkan sampai buah mudah terinvasi oleh mikroorganisme (Krishnamoorthy, 1981).
2.2.Komoditi Sayur
Susunan buah sayur – sayuran tropika yang tipe dalam perdagangan sangat beraneka ragam .Didalamnya termasuk 16 suku untuk buah –buahan dan sejumlah yang kurang lebih sama dengan sayur – sayuran .Meskipun pada hakekatnya hanya ada dua tipe sayur yaitu berdaun atau kah berdaging , namun dalanm susunana anatominya menjadi lebih sulit , bila yang dihadapi adalah sayur majemuk seperti yang kita amati pada tanaman kankung .Kankung merupakan komoditi sayur yang sangat mudah tumbuh di daerah yang mana saja.Indeks kematangan kankung memiliki fase yang cepat hal ini dikarenakan perkembanagan tanaman ini sangat lah cepat selain itu jumlah klorofil pada daun kankung mengandung nitrogen yang tinggi sehingga kematangan tanaman ini sangatlah cepat sehingga perkemabangan tanaman ini juga sangat cepat.Fase respirasi pada sayur kankung juga sangat cepat sehingga hormone etilen yang bekerja di dalam sayur ini sangat cepat inilah yang membuat indeks kematanagan buaha ini sangat cepat. Selain itu kankung juga merupakan komoditi sayur yang jenisnya sangat digemari hal ini dikarenakan perbanyakan sayur kankung juga sangat cepat (Anonim, 2011).
DAFTAR PUSATA
Anonim, 2011. Indeks kematangan pada komoditi sayur dan
buah.http://www.wikepedia.com.Diakses pada tanggal 14 april 2011 pukul 23.16 WITA . Makassar
Anonim, 2011. Fisiologi buha dan sayur tropika .http://
Herianto.blogspot.com.Diakses tanggal 14 april 2011 pukul 23 :34 WITA. Makassar
Krishnamoorthy, 1981 .Fisiologi Pasca panen. Grafindo: Jakarta
Er.B.Pantastico, 1973. Fisiologi pasca panen Penaganan buah dan sayur tropika dan
sutropika.Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
Joses Walden, 1997. Teknik Pra panen dan pasca panen. IPB Press: Bogor
V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh maka kita dapat menyimpulkan bahwa
Indeks kematangan buah pisang dan sayur kankung dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal
Buah pisang memilki indeks kematangan yang lenih cepat dibandingkan buah lain hal ini karenakan hormone etilen yang bekerja pada jaringan buah pisang tersebar
Sayur kankung memiliki tingkat respirasi yang tinggi dan klorofil pada daun yang banyak.
5.2.Saran
Dalam praktikum ini masih banyak hal – hal yang harus diperbaiki , sehingga kiranya kerja sama antar praktikan itu sangat diperlukan.
I.PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Mutu buah-buahan dan sayur-sayuran tidak dapat diperbaiki tapi dapat dipertahankan. Mutu yang baik diperoleh bila pemanen hasil dilakukan dengan tingkat kemasakan yang tepat. Buah yang belum masak, bila dipungut akan menghasilkan mutu jelek dan proses pematangan yang salah. Begitu pula bila sayur-sayuran dipungut terlalu awal, dapat lebih lama tinggal hijau namun mutunya jelek. Sebaliknya, penundahan waktu pemungutan buah-buahan dan sayur-sayurann akan meningkatkan kepekaan buah dan sayur-sayuran itu terhadap pembusukan akibatnya mutu dan nilai jualnya rendah.
Dalam beberapa hal, bila hasil harus dikirim kepasar yang jauh letaknya atau harus disimpan untuk menunggu harga yang lebih baik, pemanenan harus dilakukan pada keadaan sudah tua tetapi belum masak. Disinilah letak kesukarannya, sebab berbeda denga tingkat-tingkat kemasakan, batas antara stadium masih muda dan sudah tua sukar ditentukan. Perubahan dalam ketegaran dan warna tidak ada. Sering kali petunjuk waktu pemanenan menjadi mana suka dan subjektif. Pendekatannya ialah dengan mengombinasikan beberapa cara dalam menentukan keadaan sudah tua
Teknologi pasca panen selain menentukan mutu juga akan menentukan jumlahkehilangan. Di dalam tahapan pasca panen selalau terjadi kehilangan dan kerusakan hasil,sehingga dapat mengurangi jumlah dan mutu produksi. Bentuk kehilangan pasca panen antaralain susut bobot, kebusukan, penurunan secara fisik dan penurunan daya tarik. Kondisi ini akan menimbulkan kerugian yang sangat besar. Kegiatan pasca panen buah jeruk terdiri dari sortasi, pengemasan, penyimpanan pengangkutan dan pengolahan yang kesemuanya saling berhubungan.
1.2.Tujuan dan kegunaan
Adapun tujuan dari praktikum “Kerapatan jaringan buah dan sayur” ini, yaitu untuk mengetahui tingkat kerapatan jaringan khususnya pada buah pisang dan sayur kankung selain itu praktikum ini juga mengajarkan agar kita mengetahui proses atau mekanisme pemasakan buah dan sayur.
Sedangkan kegunaan melakukan praktikum “Kerapatan jaringan buah dan sayur” yaitu adalah mengetuhi mekanisme akan jaringan buah dan sayur pada fase pra panen dan pasca panen baik buah pisang maupun buah kankung.
1.3.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada praktikum ini yaitu :
Bagaimana mekanisme kerapatan jaringan pemasakan buah pisang dan sayur kangkung.
Mekanisme etilen pada buah mangga dan sayur kangkung
II.TINJAUAN PUSATAKA
Pisang yang ditanam secara komersil dipanen dalam keadaan hijau pada berbagai tingkat kemasakan. Bila harus diangkut ketempat yang jauh, pisang itu dipetik dalam keadaan kurang masak kira – kira 75 – 80 % masak yang sudah menampakkan sudut – sudutnya yang jelas dan yang akan matang dalam kira – kira 3 minggu. Pisang untuk pengapalan antar pulau dipetik dalam keadaan 85% - 90% masak. Buah – buahan itu sudah berkembang penuh namun sudut – sudut buahnya masih ,Nampak nyata buah – buahan akan matang dalam 1 – 2 minggu. Untuk pemasaran setempat atau dekat – dekat saja, buah di petik dalam keadaan lebih masak lagi. Yang akan matang dalam waktu kurang dari seminggu(Anonim, 2011).
Penanganan pasca panen (postharvest) sering disebut juga sebagai pengolahan primer (primary processing) merupakan istilah yang digunakan untuk semua perlakuan dari mulai panen sampaikomoditas dapat dikonsumsi “segar” atau untuk persiapan pengolahan berikutnya. Umumnya perlakuan tersebut tidak mengubah bentuk penampilan atau penampakan, kedalamnya termasuk berbagai aspek dari pemasaran dan distribusi. Pengolahan (secondary processing) merupakan tindakan yang mengubah hasil tanaman ke kondisi lain atau bentuk lain dengan tujuan dapat tahan lebih lama (pengawetan), mencegah perubahan yang tidak dikehendaki atau untuk penggunaan lain. Ke dalamnya termasuk pengolahan pangan dan pengolahan industry (Pantastico, 1973).
Penanganan pasca panen bertujuan agar hasil tanaman tersebut dalam kondisi baik dan sesuai/tepat untuk dapat segera dikonsumsi atau untuk bahan baku pengolahan. Prosedur/perlakuan dari penanganan pasca panen berbeda untuk berbagai bidang kajian (Krishnamoorthy, 1981).
Dalam kerapatan jaringan pada buah pisang ada beberapa yang mempengaruhi salah satunya meliputi perlakuan sortasi di tingkat pedagang pengumpul dilakukan secara manual yaitu dengan cara memisahkan jeruk besar, sedang dan kecil yang digolongkan dengan kelas B, C dan D. dengan demikian pada saat di pasaran maka harga jual akan berbeda karena sudah digolongkan dengan kelas serta perbedaan kualitas buahnya. Pengkelasan buah jeruk ada 4 ukuran didasarkan pada diameter buah yang berukuran diatas 7,0 cm (kelas A), antara 5,7-6,5 cm (kelas B), ukuran antara 5,0-5,6 cm (kelas C) dan lebih kecil 5,0 cm adalah kelas D. Dari sejumlah petani produsen jeruk ada yang melakukan sortasi buah sebelum dijual ke pengumpul yang menghendaki harga jual ada perbedaan antara buah besar dan kecil, namun ini merupakan pekerjaan tambahan bagi para petani. Perbandingan petani yang melakukan pengkelasan dan tidak adalah 85 : 15, yakni 85% petani menjual langsung secara borongan tanpa memperhatikan besar kecilnya buah jeruk, sedangkan yang 15% melakukan pengklasan karena menginginkan harga jual lebih tinggi dan pelaksanaan panen lebih lambat (Anonim,2011).
Perlakuan penyimpanan sementara dilakukan dengan cara menumpuk diatas lantai atau hamparan plastik sambil menunggu hasil panen yang lain, baru kemudian diangkut ke pasar. Pengemasan dilakukan dalam karung untuk memudahkan pengangkutan, namun untuk buah yang akan dikirim ke luar daerah, dilakukan pengepakan dalam peti kayu berukuran 40 x 60 cm. Selain itu ada petani yang merangkap pengumpul yang langsung menjual ke pasar secara eceran pada pedagang lainnya di pasar pagi.Ini merupakan salah satu cara yang sangat efektif dalam pengokahan sel jaringan sehingga kerapatan lebih optimal (Walden, 1997).
III.METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1.Waktu dan Tempat
Praktikum kerapatan jaringan dilaksanakan pada hari sabtu , 9 April 2011, bertempat di lab.1 jurusan Agronomi fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin
3.2.Alat dan bahan
Alat – alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan , pisau , gelas ukuran dan alat tulis menulis .Sedangkan bahan – bahan yang digunakan bahan – bahan yang digunakan adalah pisang , kankung dan air secukupnya.
3.3.Prosedur kerja
3.3.1.Pisang
1. Menimbang berat pisang menggunakan timbangan lalu catat hasilnya .
2. memasukkan pisang ke dalam Erlenmeyer.
3. Masukkan pisang ke dalam Erlenmeyer sampai pisang tenggelam dan terbaca pada skala tertentu Erlenmeyer.
4. mengangkat pisang lalu menghitung volume pisang dengan rumus :
V pisang = V air dengan pisang – V air tanpa pisang
5. Menentukan tingkat kerapatan jaringan dengan rumus :
Kerapatan jaringan = berat pisang
Volume pisang
3.3.2. Kangkung
1. Menimbang berat kangkung menggunakan timbangan lalu catat hasilnya
2. memasukkan kangkung ke dalam Erlenmeyer.
3.memasukkan air ke dalam sampai kangkung tenggelam dan terbaca pada skala tertentu Erlenmeyer.
4. mengangkat kankung lalu menghitung volume kangkung dengan rumus :
V kankung = V air dengan kankung – V air tanpa kankung
5. Menentukan tingkat kerapatan jaringan dengan rumus :
Kerapatan jaringan = berat kangkung
Volume kangkung
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka diperoleh hasil sebagai berilkut :
Volume kankung =
Massa kerapatan kankung =
Massa kerapatan pisang =
V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan , dapat disimpulkan
Kerapatan jaringan tiap komoditi buah dan sayur memilki perbedaan yang besar.
Keraparan jaringan pisang adalah
Kerapatan jaringan kankung adalah
5.2.Saran
Dalam praktikum ini masih banyak hal – hal yang harus diperbaiki , sehingga kiranya kerja sama antar praktikan itu sangat diperlukan.
1.1.Latar Belakang
Proses pematangan buah pisang merupakan proses pengakumulasian gula dengan merombak pati menjadi senyawa yang lebih sederhana. Tidak seperti buah pada umumnya yang mengakumulasi gula secara langsung dari pengiriman asimilat hasil fotosintesis di daun yang umumnya dikirim ke organ lain dalam bentuk sukrosa. Pertumbuhan buah pisang ditunjukkan oleh perubahan panjang dan lingkar buah yang cepat. Selama pertumbuhan buah, berat buah pisang secara individual terus meningkat. Pada saat masak, berat buah dipertahankan selama 2-4 hari, kemudian mulai menurun bersamaan dengan perubahan warna kulit pada saat mulai masak. Berat daging buah sangat rendah pada awal pertumbuhan buah, sedang berat kulit buah sangat tinggi. Dengan semakin masak buah, berat daging buah semakin meningkat, sedang berat kulit berangsur-angsur. Penurunan ini mungkin karena adanya selulose dan hemiselulose di kulit yang dikonversi ke pati selama penuaan buah. Isndikasi ini nampak bahwa setelah 15 hari pertumbuhan buah pisang jenis Cavendis, ratio daging buah terhadap kulit 0,41 dan sesudah 130 hari meningkat menjadi 1,90. Konsentrasi pati pada daging buah meningkat sampai 70 hari pada masa pertumbuhan buah pisang dan kemudian menurun. Kandungan pati pada buah pisang yang belum masak 20-25% dari total berat segarnya dan sekitar 2-5% saja yang mampu diubah menjadi gula dan sebagian dilepas dalam bentuk gas CO2 melalui proses respirasi. Pada awal pertumbuhan buah konsentrasi gula total, gula reduksi dan bukan reduksi sangat rendah. Tetapi saat proses pemasakan, gula total meningkat tajam dalam bentuk glukosa dan fruktosa. Naiknya kadar gula yang tiba-tiba ini dapat digunakan sebagai indeks kimia.
1.2.Tujuan dan Kegunaan
Adapun tujuan dari praktikum “Waste indek “ ini, yaitu untuk mengetahui indeks pemasakan khususnya pada buah pisang dan sayur kankung selain itu praktikum ini juga mengajarkan agar kita mengetahui proses atau mekanisme pemasakan buah dan sayur.
Sedangkan kegunaan melakukan praktikum “waste indeks” yaitu adalah mengetuhi fungsi dari indeks pemasakan buah dan sayur dan dapat jika mengetahui bagaimana etilen bekerja di dalam buah pisang dan sayur kankung.
1.3.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada praktikum ini yaitu :
Bagaimana mekanisme waste indeks pemasakan buah pisang dan sayur kankung.
Mekanisme etilen pada buah mangga dan sayur kankung
Pada saat pemasakan buah terjadi peningkatan respirasi, produksi etilen serta terjadi akumulasi gula, perombakan klorofil dan senyawa lain sehingga buah menjadi lunak (Quazi dan Freebairn, 1970; Krishnamoorthy, 1981). Dikatakan pula oleh Matto et al., 1975, bahwa pelunakan buah disebabkan juga oleh degradasi protopektin tidak larut menjadi pektin yang larut atau oleh hidrolisis pati dan hidrolisis lemak (Krishnamoorthy, 1981)..
Kecepatan laju respirasi buah akan meningkat dengan meningkatnya suhu, pada suhu 35oC laju respirasi ini akan meningkat tajam, walaupun pada suhu tersebut produksi etilen terhenti (Krishnamoorthy, 1981). Selama pemasakan, pektin yang tidak larut air berkurang dari 0,5% menjadi 0,2%, berat basah dari pektin yang larut air meningkat, kandungan selulosa dan hemiselulosa menurun (Bennet et al, 1987; Quazi dan Freebairn, 1970). Peranan mitokondria pada proses pemasakan buah penting dalam hal respirasi yang mampu menyediakan energi ATP yang akan digunakan untuk membentuk UDP-glukose sebagai penyedia substrat untuk sintesis sukrosa (Solomos dan Laties, 1983). Sebagaimana dijelaskan oleh Anderson dan Beardall, 1991, sukrosa disintesis lewat UDP dan glukosa dalam sitosol. Dari triosa fosfat akan membentuk fruktosa 1,6 difosfat dengan dikatalisis oleh enzim aldolase yang kemudian oleh aktivitas fosfatase menghasilkan fruktosa 6P, yang akan mengalami konfigurasi struktur molekul oleh enzim heksosa-isomerase dan glukosa-P mutase menghasilkan glukosa-1P, lebih lanjut akan membentuk UDP-glukose dengan tersedianya UTP dan dikatalisis oleh UDP glukose pirofosforilase. UDP glukosa akan bergabung dengan fruktosa-6P yang telah terbentuk sebelumnya menghasilkan sukrose 6P yang dikatalisis oleh Sucrose Phosphate Synthase (SPS).
Sukrosa juga dapat dibentuk lewat pemecahan pati (Anderson dan Beardall, 1991). Penggabungan karbon berlangsung di dalam jaringan fotosintetik (kloroplas) dan dalam jaringan non fotosintetik (amiloplas). Keberadaan pati di dalam jaringan tersebut tidak dalam periode yang panjang. Bila ekspor triosefosfat ke sitosol tidak dapat diteruskan oleh asimilasi CO2 misal pada waktu malam, maka proses pematangan buah pisang merupakan proses pengakumulasian gula dengan merombak pati menjadi senyawa yang lebih sederhana. Tidak seperti buah pada umumnya yang mengakumulasi gula secara langsung dari pengiriman asimilat hasil fotosintesis di daun yang umumnya dikirim ke organ lain dalam bentuk sukrosa (Anderson dan Beardall, 1991). Pertumbuhan buah pisang ditunjukkan oleh perubahan panjang dan lingkar buah yang cepat. Selama pertumbuhan buah, berat buah pisang secara individual terus meningkat. Pada saat masak, berat buah dipertahankan selama 2-4 hari, kemudian mulai menurun bersamaan dengan perubahan warna kulit pada saat mulai masak. Berat daging buah sangat rendah pada awal pertumbuhan buah, sedang berat kulit buah sangat tinggi. Dengan semakin masak buah, berat daging buah semakin meningkat, sedang berat kulit berangsur-angsur menurun (Lodth dan Pantastico, 1975).
Penurunan ini mungkin karena adanya selulose dan hemiselulose di kulit yang dikonversi ke pati selama penuaan buah. Indikasi ini nampak bahwa setelah 15 hari pertumbuhan buah pisang jenis Cavendis, ratio daging buah terhadap kulit 0,41 dan sesudah 130 hari meningkat menjadi 1,90. Konsentrasi pati pada daging buah meningkat sampai 70 hari pada masa pertumbuhan buah pisang dan kemudian menurun. Kandungan pati pada buah pisang yang belum masak 20-25% dari total berat segarnya dan sekitar 2-5% saja yang mampu diubah menjadi gula dan sebagian dilepas dalam bentuk gas CO2 melalui proses respirasi. Pada awal pertumbuhan buah konsentrasi gula total, gula reduksi dan bukan reduksi sangat rendah. Tetapi saat proses pemasakan, gula total meningkat tajam dalam bentuk glukosa dan fruktosa. Naiknya kadar gula yang tiba-tiba ini dapat digunakan sebagai indeks kimia (Pantastico, 1973)
Pada saat pemasakan buah terjadi peningkatan respirasi, produksi etilen serta terjadi akumulasi gula, perombakan klorofil dan senyawa lain sehingga buah menjadi lunak (Quazi dan Freebairn, 1970; Krishnamoorthy, 1981). Dikatakan pula oleh Matto et al., 1975, bahwa pelunakan buah disebabkan juga oleh degradasi protopektin tidak larut menjadi pektin yang larut atau oleh hidrolisis pati dan hidrolisis lemak.
Kecepatan laju respirasi buah akan meningkat dengan meningkatnya suhu, pada suhu 35oC laju respirasi ini akan meningkat tajam, walaupun pada suhu tersebut produksi etilen terhenti (Krishnamoorthy, 1981). Selama pemasakan, pektin yang tidak larut air berkurang dari 0,5% menjadi 0,2%, berat basah dari pektin yang larut air meningkat, kandungan selulosa dan hemiselulosa menurun (Bennet et al, 1987; Quazi dan Freebairn, 1970). Peranan mitokondria pada proses pemasakan buah penting dalam hal respirasi yang mampu menyediakan energi ATP yang akan digunakan untuk membentuk UDP-glukose sebagai penyedia substrat untuk sintesis sukrosa (Solomos dan Laties, 1983). Sebagaimana dijelaskan oleh Anderson dan Beardall, 1991, sukrosa disintesis lewat UDP dan glukosa dalam sitosol. Dari triosa fosfat akan membentuk fruktosa 1,6 difosfat dengan dikatalisis oleh enzim aldolase yang kemudian oleh aktivitas fosfatase menghasilkan fruktosa 6P, yang akan mengalami konfigurasi struktur molekul oleh enzim heksosa-isomerase dan glukosa-P mutase menghasilkan glukosa-1P, lebih lanjut akan membentuk UDP-glukose dengan tersedianya UTP dan dikatalisis oleh UDP glukose pirofosforilase. UDP glukosa akan bergabung dengan fruktosa-6P yang telah terbentuk sebelumnya menghasilkan sukrose 6P yang dikatalisis oleh Sucrose Phosphate Synthase (SPS).
II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Komoditi buah
Buah pisang termasuk buah klimakterik. Prosespemasakannya diiringi laju respirasi dan laju produksi etilena yang relatif tinggi (Kader 1992). Berbagai perubahan fisik dan kimia mengikuti proses pemasakannya di antaranya pelunakan buah, peningkatan kandungan gula, perubahan warna kulit buah, dan peningkatan laju respirasi dan laju produksi etilena. Seperti halnya buah-buahan klimakterik lainnya, proses pemasakan tidak dapat dihentikan, tetapi dapat diperlambat sehingga daya simpan buah dapat diperpanjang. Salah satu cara yang akhir-akhir ini dilaporkan dapat memperlambat proses pemasakan ialah pemakaian poliamina. Poliamina adalah zat pengatur tumbuh yang secara alami ditemukan pada sel tanaman (Galston & Kaur-Sawhney 1995, Kumar et al. 1997, Walden et al. 1997).
Poliamina yang umum ditemukan pada tanaman ialah putresina, spermidina, dan spermina. Selain peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, poliamina dikenal sebagai zat antisenesen yang dapat digunakan untuk menghambat proses pemasakan buah, mempertahankan kekerasan buah tomat . Bila ekspor triosefosfat ke sitosol tidak dapat diteruskan oleh asimilasi CO2 misal pada waktu malam, maka pati akan dimobilisasikan dan diekspor. Umumnya produksi triose P dari pati ditimbulkan oleh suatu kondisi di mana ratio ATP/ADP menurun yang biasanya terkait dengan rendahnya triose P dan meningkatnya konsentrasi Pi. Mobilisasi pati ke sukrose umumnya lewat “starch phosphorilase” dan enzim lain. Katalisis oleh “starch phosphorilase” menghasilkan glukosa-1P yang lebih lanjut akan diubah menjadi glukosa 6P dan fruktosa 6P oleh enzim glukose P mutase dan heksose isomerase. Dari glukose 1P juga akan dihasilkan UDP glukose oleh UDP glukose pirofosforilase dengan terbentuknya UTP. UDP glukose akan bergabung dengan fruktose 6P menghasilkan sukrose 6P yang dikatalisis oleh SPS. Namun suatu hal yang perlu diperhatikan bahwa proses respirasi buah klimakterik ini meningkat hanya pada waktu awal pemasakan (ripening) sampai mencapai puncak klimakterik yang selanjutnya segera diikuti penurunan yang tajam sehingga tidak cukup energi ATP yang dihasilkan sampai buah mudah terinvasi oleh mikroorganisme (Krishnamoorthy, 1981).
2.2.Komoditi Sayur
Susunan buah sayur – sayuran tropika yang tipe dalam perdagangan sangat beraneka ragam .Didalamnya termasuk 16 suku untuk buah –buahan dan sejumlah yang kurang lebih sama dengan sayur – sayuran .Meskipun pada hakekatnya hanya ada dua tipe sayur yaitu berdaun atau kah berdaging , namun dalanm susunana anatominya menjadi lebih sulit , bila yang dihadapi adalah sayur majemuk seperti yang kita amati pada tanaman kankung .Kankung merupakan komoditi sayur yang sangat mudah tumbuh di daerah yang mana saja.Indeks kematangan kankung memiliki fase yang cepat hal ini dikarenakan perkembanagan tanaman ini sangat lah cepat selain itu jumlah klorofil pada daun kankung mengandung nitrogen yang tinggi sehingga kematangan tanaman ini sangatlah cepat sehingga perkemabangan tanaman ini juga sangat cepat.Fase respirasi pada sayur kankung juga sangat cepat sehingga hormone etilen yang bekerja di dalam sayur ini sangat cepat inilah yang membuat indeks kematanagan buaha ini sangat cepat. Selain itu kankung juga merupakan komoditi sayur yang jenisnya sangat digemari hal ini dikarenakan perbanyakan sayur kankung juga sangat cepat (Anonim, 2011).
DAFTAR PUSATA
Anonim, 2011. Indeks kematangan pada komoditi sayur dan
buah.http://www.wikepedia.com.Diakses pada tanggal 14 april 2011 pukul 23.16 WITA . Makassar
Anonim, 2011. Fisiologi buha dan sayur tropika .http://
Herianto.blogspot.com.Diakses tanggal 14 april 2011 pukul 23 :34 WITA. Makassar
Krishnamoorthy, 1981 .Fisiologi Pasca panen. Grafindo: Jakarta
Er.B.Pantastico, 1973. Fisiologi pasca panen Penaganan buah dan sayur tropika dan
sutropika.Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
Joses Walden, 1997. Teknik Pra panen dan pasca panen. IPB Press: Bogor
V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh maka kita dapat menyimpulkan bahwa
Indeks kematangan buah pisang dan sayur kankung dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal
Buah pisang memilki indeks kematangan yang lenih cepat dibandingkan buah lain hal ini karenakan hormone etilen yang bekerja pada jaringan buah pisang tersebar
Sayur kankung memiliki tingkat respirasi yang tinggi dan klorofil pada daun yang banyak.
5.2.Saran
Dalam praktikum ini masih banyak hal – hal yang harus diperbaiki , sehingga kiranya kerja sama antar praktikan itu sangat diperlukan.
I.PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Mutu buah-buahan dan sayur-sayuran tidak dapat diperbaiki tapi dapat dipertahankan. Mutu yang baik diperoleh bila pemanen hasil dilakukan dengan tingkat kemasakan yang tepat. Buah yang belum masak, bila dipungut akan menghasilkan mutu jelek dan proses pematangan yang salah. Begitu pula bila sayur-sayuran dipungut terlalu awal, dapat lebih lama tinggal hijau namun mutunya jelek. Sebaliknya, penundahan waktu pemungutan buah-buahan dan sayur-sayurann akan meningkatkan kepekaan buah dan sayur-sayuran itu terhadap pembusukan akibatnya mutu dan nilai jualnya rendah.
Dalam beberapa hal, bila hasil harus dikirim kepasar yang jauh letaknya atau harus disimpan untuk menunggu harga yang lebih baik, pemanenan harus dilakukan pada keadaan sudah tua tetapi belum masak. Disinilah letak kesukarannya, sebab berbeda denga tingkat-tingkat kemasakan, batas antara stadium masih muda dan sudah tua sukar ditentukan. Perubahan dalam ketegaran dan warna tidak ada. Sering kali petunjuk waktu pemanenan menjadi mana suka dan subjektif. Pendekatannya ialah dengan mengombinasikan beberapa cara dalam menentukan keadaan sudah tua
Teknologi pasca panen selain menentukan mutu juga akan menentukan jumlahkehilangan. Di dalam tahapan pasca panen selalau terjadi kehilangan dan kerusakan hasil,sehingga dapat mengurangi jumlah dan mutu produksi. Bentuk kehilangan pasca panen antaralain susut bobot, kebusukan, penurunan secara fisik dan penurunan daya tarik. Kondisi ini akan menimbulkan kerugian yang sangat besar. Kegiatan pasca panen buah jeruk terdiri dari sortasi, pengemasan, penyimpanan pengangkutan dan pengolahan yang kesemuanya saling berhubungan.
1.2.Tujuan dan kegunaan
Adapun tujuan dari praktikum “Kerapatan jaringan buah dan sayur” ini, yaitu untuk mengetahui tingkat kerapatan jaringan khususnya pada buah pisang dan sayur kankung selain itu praktikum ini juga mengajarkan agar kita mengetahui proses atau mekanisme pemasakan buah dan sayur.
Sedangkan kegunaan melakukan praktikum “Kerapatan jaringan buah dan sayur” yaitu adalah mengetuhi mekanisme akan jaringan buah dan sayur pada fase pra panen dan pasca panen baik buah pisang maupun buah kankung.
1.3.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada praktikum ini yaitu :
Bagaimana mekanisme kerapatan jaringan pemasakan buah pisang dan sayur kangkung.
Mekanisme etilen pada buah mangga dan sayur kangkung
II.TINJAUAN PUSATAKA
Pisang yang ditanam secara komersil dipanen dalam keadaan hijau pada berbagai tingkat kemasakan. Bila harus diangkut ketempat yang jauh, pisang itu dipetik dalam keadaan kurang masak kira – kira 75 – 80 % masak yang sudah menampakkan sudut – sudutnya yang jelas dan yang akan matang dalam kira – kira 3 minggu. Pisang untuk pengapalan antar pulau dipetik dalam keadaan 85% - 90% masak. Buah – buahan itu sudah berkembang penuh namun sudut – sudut buahnya masih ,Nampak nyata buah – buahan akan matang dalam 1 – 2 minggu. Untuk pemasaran setempat atau dekat – dekat saja, buah di petik dalam keadaan lebih masak lagi. Yang akan matang dalam waktu kurang dari seminggu(Anonim, 2011).
Penanganan pasca panen (postharvest) sering disebut juga sebagai pengolahan primer (primary processing) merupakan istilah yang digunakan untuk semua perlakuan dari mulai panen sampaikomoditas dapat dikonsumsi “segar” atau untuk persiapan pengolahan berikutnya. Umumnya perlakuan tersebut tidak mengubah bentuk penampilan atau penampakan, kedalamnya termasuk berbagai aspek dari pemasaran dan distribusi. Pengolahan (secondary processing) merupakan tindakan yang mengubah hasil tanaman ke kondisi lain atau bentuk lain dengan tujuan dapat tahan lebih lama (pengawetan), mencegah perubahan yang tidak dikehendaki atau untuk penggunaan lain. Ke dalamnya termasuk pengolahan pangan dan pengolahan industry (Pantastico, 1973).
Penanganan pasca panen bertujuan agar hasil tanaman tersebut dalam kondisi baik dan sesuai/tepat untuk dapat segera dikonsumsi atau untuk bahan baku pengolahan. Prosedur/perlakuan dari penanganan pasca panen berbeda untuk berbagai bidang kajian (Krishnamoorthy, 1981).
Dalam kerapatan jaringan pada buah pisang ada beberapa yang mempengaruhi salah satunya meliputi perlakuan sortasi di tingkat pedagang pengumpul dilakukan secara manual yaitu dengan cara memisahkan jeruk besar, sedang dan kecil yang digolongkan dengan kelas B, C dan D. dengan demikian pada saat di pasaran maka harga jual akan berbeda karena sudah digolongkan dengan kelas serta perbedaan kualitas buahnya. Pengkelasan buah jeruk ada 4 ukuran didasarkan pada diameter buah yang berukuran diatas 7,0 cm (kelas A), antara 5,7-6,5 cm (kelas B), ukuran antara 5,0-5,6 cm (kelas C) dan lebih kecil 5,0 cm adalah kelas D. Dari sejumlah petani produsen jeruk ada yang melakukan sortasi buah sebelum dijual ke pengumpul yang menghendaki harga jual ada perbedaan antara buah besar dan kecil, namun ini merupakan pekerjaan tambahan bagi para petani. Perbandingan petani yang melakukan pengkelasan dan tidak adalah 85 : 15, yakni 85% petani menjual langsung secara borongan tanpa memperhatikan besar kecilnya buah jeruk, sedangkan yang 15% melakukan pengklasan karena menginginkan harga jual lebih tinggi dan pelaksanaan panen lebih lambat (Anonim,2011).
Perlakuan penyimpanan sementara dilakukan dengan cara menumpuk diatas lantai atau hamparan plastik sambil menunggu hasil panen yang lain, baru kemudian diangkut ke pasar. Pengemasan dilakukan dalam karung untuk memudahkan pengangkutan, namun untuk buah yang akan dikirim ke luar daerah, dilakukan pengepakan dalam peti kayu berukuran 40 x 60 cm. Selain itu ada petani yang merangkap pengumpul yang langsung menjual ke pasar secara eceran pada pedagang lainnya di pasar pagi.Ini merupakan salah satu cara yang sangat efektif dalam pengokahan sel jaringan sehingga kerapatan lebih optimal (Walden, 1997).
III.METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1.Waktu dan Tempat
Praktikum kerapatan jaringan dilaksanakan pada hari sabtu , 9 April 2011, bertempat di lab.1 jurusan Agronomi fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin
3.2.Alat dan bahan
Alat – alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan , pisau , gelas ukuran dan alat tulis menulis .Sedangkan bahan – bahan yang digunakan bahan – bahan yang digunakan adalah pisang , kankung dan air secukupnya.
3.3.Prosedur kerja
3.3.1.Pisang
1. Menimbang berat pisang menggunakan timbangan lalu catat hasilnya .
2. memasukkan pisang ke dalam Erlenmeyer.
3. Masukkan pisang ke dalam Erlenmeyer sampai pisang tenggelam dan terbaca pada skala tertentu Erlenmeyer.
4. mengangkat pisang lalu menghitung volume pisang dengan rumus :
V pisang = V air dengan pisang – V air tanpa pisang
5. Menentukan tingkat kerapatan jaringan dengan rumus :
Kerapatan jaringan = berat pisang
Volume pisang
3.3.2. Kangkung
1. Menimbang berat kangkung menggunakan timbangan lalu catat hasilnya
2. memasukkan kangkung ke dalam Erlenmeyer.
3.memasukkan air ke dalam sampai kangkung tenggelam dan terbaca pada skala tertentu Erlenmeyer.
4. mengangkat kankung lalu menghitung volume kangkung dengan rumus :
V kankung = V air dengan kankung – V air tanpa kankung
5. Menentukan tingkat kerapatan jaringan dengan rumus :
Kerapatan jaringan = berat kangkung
Volume kangkung
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka diperoleh hasil sebagai berilkut :
Volume kankung =
Massa kerapatan kankung =
Massa kerapatan pisang =
V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan , dapat disimpulkan
Kerapatan jaringan tiap komoditi buah dan sayur memilki perbedaan yang besar.
Keraparan jaringan pisang adalah
Kerapatan jaringan kankung adalah
5.2.Saran
Dalam praktikum ini masih banyak hal – hal yang harus diperbaiki , sehingga kiranya kerja sama antar praktikan itu sangat diperlukan.
Pertanian Berkelanjutan
PERTANIAN BERKELANJUTAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONSERVASI TANAH
pertanian berkelanjutan meliputi komponen-komponen fisik, biologi dan sosioekonomi, yang direpresentasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan pengurangan input bahan-bahan kimia dibandingkan pada sistem pertanian tradisional, erosi tanah terkendali, dan pengendalian gulma, memiliki efisiensi kegiatan pertanian (on-farm) dan bahan-bahan input maksimum, pemeliharaan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi tanaman, dan penggunaan dasar-dasar biologi pada pelaksanaan pertanian.
Salah satu pendekatan pertanian berkelanjutan adalah input minimal (low input) secara khusus ditulis oleh Franklin H. King dalam bukunya Farmers of Forty Centuries. King membandingkan penggunaan input minimal dan pendekatan berkelanjutan pada pertanian daratan Timur (oriental) dengan apa yang dia lihat sebagai kesalahan metoda yang digunakan petani Amerika. Gagasan King adalah bahwa sistem pertanian memiliki kapasitas internal yang besar untuk melakukan regenerasi dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya internal.
Baru-baru ini, Undang-undang Produktivitas Pertanian Amerika, yang merupakan bagian dari Undang-undang Keamanan Pangan 1985, menyediakan kewenangan untuk melaksanakan program riset dan pendidikan pada sistem pertanian alternatif -yang kemudian dikenal sebagai pertanian berkelanjutan dengan input minimal (Low Input Sustainable Agriculture (LISA)). Pada bulan Desember 1987, Kongres Amerika menyetujui US $ 3,9 juta untuk memulai pekerjaan tersebut atas dasar undang-undang Keamanan Pangan. Undang-undang tersebut memberikan mandat untuk melakukan investigasi ilmiah pada a) peningkatan produktivitas pertanian, b) produktivitas lahan sentra produksi, c) mengurangi erosi tanah, kehilangan air dan nutrisi, dan d) melakukan konservasi sumberdaya natural dan energi.
Petani Amerika saat ini sedang mencari sumberdaya yang efisien, biaya lebih rendah, dan sistem-sistem produksi yang lebih menguntungkan. Siapapun yang bergerak di bidang pertanian seharusnya berbagi kepedulian yang lebih luas pada masyarakat dalam mendukung lingkungan yang bersih dan nyaman. Selama sepuluh tahun terakhir, telah terjadi paradigma yang mengangkat masyarakat pertanian dari kondisi yang mengharuskan produktivitas lebih tinggi menuju suatu kondisi masyarakat yang peduli pada keberlanjutan. Hal ini dirasakan sebagai suatu kesalahan bahwa produktivitas yang tinggi dari kegiatan pertanian konvensional telah menimbulkan biaya kerusakan yang cukup siginifikan terhadap lingkungan alam dan disrupsi masalah sosial.
Dalam usaha mengalihkan konsekuensi-konsekuensi negatif pertanian konvensional, beberapa format sistem pertanian berkelanjutan yang berbeda telah direkomendasikan sebagai alternatif-alternatif untuk mencapai tujuan sistem produksi pertanian yang dapat menguntungkan secara ekonomi dan aman secara lingkungan. Kepentingan dalam sistem pertanian alternatif ini sering dimotivasi dengan suatu keinginan untuk menurunkan tingkat kesehatan lingkungan dan kerusakan lingkungan dan sebuah komitmen terhadap manajemen sumberdaya alam yang berkeadilan. Tetapi kriteria yang paling penting untuk kebanyakan petani dalam mempertimbangkan suatu perubahan usaha tani adalah keingingan memperoleh hasil yang layak secara ekonomi.
Adopsi terhadap metode pertanian alternatif yang lebih lebar ini membutuhkan bahwa metode tersebut sedikitnya sama kualitasnya dalam memperoleh keuntungan dengan metode konvensional atau memiliki keuntungan-keuntungan non-keuangan yang signifikan, seperti sebagai usaha menjaga penurunan kualitas sumberdaya air dan tanah secara cepat.
Riset dan pendidikan bergerak terbatas diantara para peneliti atau mahasiswa. Sebagaimana seorang mahasiswa menjadi lebih baik diberikan pendidikan mengenai pengetahuan praktis pertanian berkelanjutan, lebih memiliki minat dan dana akan ditingkatkan untuk mendukung riset selanjutnya.
Jaminan peneliti dan ketersediaan dana penelitian ini akan lebih memberikan harapan untuk meningkatkan minat pada pendidikan yang memandu riset selanjutnya secara umum. Pooling pendapat yang dilakukan mahasiswa di sejumlah fakultas seluruh Amerika menunjukkan ketertarikan pada pertanian berkelanjutan. Kebanyakan mereka mempertanyakan masalah-masalah pertanian berkelanjutan sebagai sebuah pemikiran yang tidak dapat diadopsi dalam program agroekologi. Mereka memberikan komentar bahwa penurunan dampak lingkungan akibat usaha pertanian berkelanjutan sebagai sebuah keuntungan yang besar dari meninggalkan usaha pertanian konvensional. Lebih banyak riset yang dilakukan pada pertanian berkelanjutan ini, program-program pendidikan yang lebih baik akan dapat dilaksanakan di wilayah ini.
Ketika perubahan dari kegiatan pertanian konvensional ke pertanian berkelanjutan dilaksanakan, perubahan sosial dan struktur ekonomi juga akan terjadi. Pada saat input menurun, terdapat hubungan yang menurun pula pada hubungan kerja terhadap mereka yang selama ini terlibat dan mendapatkan manfaat dari pertanian konvensional. Hasilnya adalah terdapat banyak kemungkinan yang dapat ditemukan yaitu meningkatnya kualitas hidup, dan peningkatan kegiatan pertanian mereka. Dalam mengadopsi input minimal (low input) sistem-sistem berkelanjutan dapat menunjukkan penurunan potensial fungsi-fungsi eksternal atau konsekuensi-konsekuensi negatif dari jebakan sosial pada masyarakat. Petani sering terperangkap dalam perangkap sosial tersebut sebab insentif-insentif yang mereka terima dari kegiatan produksi saat ini.
Pertanian Berkelanjutan Suatu Konsep Pemikiran Masa Depan. Pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang berlanjut untuk saat ini, saat yang akan datang dan selamanya. Artinya pertanian tetap ada dan bermanfaat bagi semuanya dan tidak menimbulkan bencana bagi semuanya. Jadi dengan kata lain pertanian yang bisa dilaksanakan saat ini, saat yang akan datang dan menjadi warisan yang berharga bagi anak cucu kita. Menurut Gips, suatu sistem pertanian itu bisa disebut berkelanjutan jika memiliki sifat-sifat sbb:
Mampertahankan fungsi ekologis, artinya tidak merusak ekologi pertanian itu sendiri
Berlanjut secara ekonomis artinya mampu memberikan nilai yang layak bagi pelaksana pertanian itu dan tidak ada pihak yang diekploitasi. Masing-masing pihak mendapatkan hak sesuai dengan partisipasinya.
Adil berarti setiap pelaku pelaksanan pertanian mendapatkan hak-haknya tanpa dibatasi dan dibelunggu dan tidak melanggar hal yang lain.
Manusiawi artinya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dimana harkat dan martabat manusia dijunjung tinggi termasuk budaya yang telah ada.
Luwes yang berarri mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini, dengan demikian pertanian berkelanjutan tidak statis tetapi dinamis bisa mengakomodir keinginan konsumen maupun produsen.
Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources), untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin. Keberlanjutan yang dimaksud meliputi : penggunaan sumberdaya, kualitas dan kuantitas produksi, serta lingkungannya. Proses produksi pertanian yang berkelanjutan akan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap lingkungan.
Pertanian organik merupakan salah satu bagian pendekatan pertanian berkelanjutan, yang di dalamnya meliputi berbagai teknik sistem pertanian, seperti tumpangsari (intercropping), penggunaan mulsa, penanganan tanaman dan pasca panen. Pertanian organik memiliki ciri khas dalam hukum dan sertifikasi, larangan penggunaan bahan sintetik, serta pemeliharaan produktivitas tanah. The International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM) menyatakan bahwa pertanian organik bertujuan untuk:
a) menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dengan kuantitas memadai,
b) membudidayakan tanaman secara alami,
c) mendorong dan meningkatkan siklus hidup biologis dalam ekosistem pertanian,
d) memelihara dan meningkatkan kesuburan tanah jangka panjang,
e) menghindarkan seluruh bentuk cemaran yang diakibatkan penerapan teknik pertanian,
f) memelihara keragaman genetik sistem pertanian dan sekitarnya, serta
g) mempertimbangkan dampak sosial dan ekologis yang lebih luas dalam sistem usaha tani.
Beberapa kegiatan yang diharapkan dapat menunjang dan memberikan kontribusi dalam meningkatkan keuntungan harmonisasai produktivitas pertanian dalam jangka panjang, meningkatkan kualitas lingkungan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat tani adalah sebagai berikut: (1) pengendalian hama terpadu, (2) aplikasi sistem rotasi dan budidaya rumput, (3) konservasi lahan, (4) menjaga kualitas air/lahan basah, (5) aplikasi tanaman pelindung, (6) diversifikasi lahan dan tanaman, (7) pengelolaan nutrisi tanaman, (8) agroforestri (wana tani), (9) manajemen pemasaran, dan (10) audit dan evaluasi manajemen pertanian secara terpadu dan holistik.
Berdasarkan penjabaran yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa pertanian organik merupakan salah satu teknologi alternatif pertanian yang memberikan berbagai hal positif, yang dapat diterapkan pada usaha tani, sehingga produk-produk hasil pertanian dapat bernilai komersial tinggi, menjamin pemenuhan kebutuhan pangan dan keamanan pangan, dan dapat memberikan kesadaran masyarakat dan petani khususnya dalam melestarikan ekosistem lingkungan. Oleh karena itu, untuk menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan yang harmonis dan berkelanjutan, perlu dilakukan upaya antara lain : (1) sosialisasi pemasyarakatan mengenai pentingnya pertanian yang ramah lingkungan, (2) penggalakkan konsumsi produk hasil pertanian organik, (3) diperlukan lebih banyak kajian/penelitian untuk mendapatkan produk organik yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu perlu ditekankan bahwa usaha tani yang berorientasi pasar global perlu menekankan aspek kualitas, keamanan, kuantitas dan harga yang bersaing.
Salah satu alasan mengapa harus berlanjut adalah pengalaman selama ini dimana input tinggi telah menyebabkan degradasi lahan secara nyata. Sebagai contoh penggunaan pestisida yang berlebihan menyebabkan resurgensi, resistensi dan munculnya hama penyakit sekunder.
Penggunaan pupuk yang berlebihan malah menyebabkan pertemubuhan vegetatif yang tak diinginkan dan di daerah hilir menyebabkan eutrifikasi (suburnya perairan akibat akumulai hara oleh aliran air). Lahan sebagai penopang utama telah rusak, maka akan sangat mahal biaya yang harus dikeluarkan dan dimasa yang akan datang anak cucu hanya ditinggali barang sisa kurang bermutu. Pada hal harapakn kita semua generasi yang akan datang harus lebih baik daripada generasi saat ini. Langkah yang bisa ditempuh adalah pertama meningkatkan kesadaran pertanian berkelanjutan. Kedua setiap pihak yang berkait dengan pertanian melaksanakan prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan. Ketiga dukungan konsumen yang tidak mengkonsumsi produk pertanian yang tidak ramah lingkungan. Langkah operasional yang bisa dilaksanakan adalah : melaksanakan pengolahan tanam minimal, sebanyak mungkin menggunakan pupuk organik, melaksanakan pengendalian hama penyakit dengan bahan yang ramah lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1991. Toward sustainability. Soil and water research priorities for developing countries. National Academy press. Washington ,D.C. x +65h.
Brown, L.R. 1995. Nature’s limits. Dalam : State of the World. W.W. Narton & Company New York. H 3-20
Gardner, G. 1996. Presserving agricultural resources. Dalam : State of the World. W.W narton & Company. New York. H 78-94
Browse > Home / Daulat Pangan / Refleksi Pengembangan Kapasitas Petani Melalui Penerapan Sistem Pertanian Berkelanjutan
pertanian berkelanjutan meliputi komponen-komponen fisik, biologi dan sosioekonomi, yang direpresentasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan pengurangan input bahan-bahan kimia dibandingkan pada sistem pertanian tradisional, erosi tanah terkendali, dan pengendalian gulma, memiliki efisiensi kegiatan pertanian (on-farm) dan bahan-bahan input maksimum, pemeliharaan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi tanaman, dan penggunaan dasar-dasar biologi pada pelaksanaan pertanian.
Salah satu pendekatan pertanian berkelanjutan adalah input minimal (low input) secara khusus ditulis oleh Franklin H. King dalam bukunya Farmers of Forty Centuries. King membandingkan penggunaan input minimal dan pendekatan berkelanjutan pada pertanian daratan Timur (oriental) dengan apa yang dia lihat sebagai kesalahan metoda yang digunakan petani Amerika. Gagasan King adalah bahwa sistem pertanian memiliki kapasitas internal yang besar untuk melakukan regenerasi dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya internal.
Baru-baru ini, Undang-undang Produktivitas Pertanian Amerika, yang merupakan bagian dari Undang-undang Keamanan Pangan 1985, menyediakan kewenangan untuk melaksanakan program riset dan pendidikan pada sistem pertanian alternatif -yang kemudian dikenal sebagai pertanian berkelanjutan dengan input minimal (Low Input Sustainable Agriculture (LISA)). Pada bulan Desember 1987, Kongres Amerika menyetujui US $ 3,9 juta untuk memulai pekerjaan tersebut atas dasar undang-undang Keamanan Pangan. Undang-undang tersebut memberikan mandat untuk melakukan investigasi ilmiah pada a) peningkatan produktivitas pertanian, b) produktivitas lahan sentra produksi, c) mengurangi erosi tanah, kehilangan air dan nutrisi, dan d) melakukan konservasi sumberdaya natural dan energi.
Petani Amerika saat ini sedang mencari sumberdaya yang efisien, biaya lebih rendah, dan sistem-sistem produksi yang lebih menguntungkan. Siapapun yang bergerak di bidang pertanian seharusnya berbagi kepedulian yang lebih luas pada masyarakat dalam mendukung lingkungan yang bersih dan nyaman. Selama sepuluh tahun terakhir, telah terjadi paradigma yang mengangkat masyarakat pertanian dari kondisi yang mengharuskan produktivitas lebih tinggi menuju suatu kondisi masyarakat yang peduli pada keberlanjutan. Hal ini dirasakan sebagai suatu kesalahan bahwa produktivitas yang tinggi dari kegiatan pertanian konvensional telah menimbulkan biaya kerusakan yang cukup siginifikan terhadap lingkungan alam dan disrupsi masalah sosial.
Dalam usaha mengalihkan konsekuensi-konsekuensi negatif pertanian konvensional, beberapa format sistem pertanian berkelanjutan yang berbeda telah direkomendasikan sebagai alternatif-alternatif untuk mencapai tujuan sistem produksi pertanian yang dapat menguntungkan secara ekonomi dan aman secara lingkungan. Kepentingan dalam sistem pertanian alternatif ini sering dimotivasi dengan suatu keinginan untuk menurunkan tingkat kesehatan lingkungan dan kerusakan lingkungan dan sebuah komitmen terhadap manajemen sumberdaya alam yang berkeadilan. Tetapi kriteria yang paling penting untuk kebanyakan petani dalam mempertimbangkan suatu perubahan usaha tani adalah keingingan memperoleh hasil yang layak secara ekonomi.
Adopsi terhadap metode pertanian alternatif yang lebih lebar ini membutuhkan bahwa metode tersebut sedikitnya sama kualitasnya dalam memperoleh keuntungan dengan metode konvensional atau memiliki keuntungan-keuntungan non-keuangan yang signifikan, seperti sebagai usaha menjaga penurunan kualitas sumberdaya air dan tanah secara cepat.
Riset dan pendidikan bergerak terbatas diantara para peneliti atau mahasiswa. Sebagaimana seorang mahasiswa menjadi lebih baik diberikan pendidikan mengenai pengetahuan praktis pertanian berkelanjutan, lebih memiliki minat dan dana akan ditingkatkan untuk mendukung riset selanjutnya.
Jaminan peneliti dan ketersediaan dana penelitian ini akan lebih memberikan harapan untuk meningkatkan minat pada pendidikan yang memandu riset selanjutnya secara umum. Pooling pendapat yang dilakukan mahasiswa di sejumlah fakultas seluruh Amerika menunjukkan ketertarikan pada pertanian berkelanjutan. Kebanyakan mereka mempertanyakan masalah-masalah pertanian berkelanjutan sebagai sebuah pemikiran yang tidak dapat diadopsi dalam program agroekologi. Mereka memberikan komentar bahwa penurunan dampak lingkungan akibat usaha pertanian berkelanjutan sebagai sebuah keuntungan yang besar dari meninggalkan usaha pertanian konvensional. Lebih banyak riset yang dilakukan pada pertanian berkelanjutan ini, program-program pendidikan yang lebih baik akan dapat dilaksanakan di wilayah ini.
Ketika perubahan dari kegiatan pertanian konvensional ke pertanian berkelanjutan dilaksanakan, perubahan sosial dan struktur ekonomi juga akan terjadi. Pada saat input menurun, terdapat hubungan yang menurun pula pada hubungan kerja terhadap mereka yang selama ini terlibat dan mendapatkan manfaat dari pertanian konvensional. Hasilnya adalah terdapat banyak kemungkinan yang dapat ditemukan yaitu meningkatnya kualitas hidup, dan peningkatan kegiatan pertanian mereka. Dalam mengadopsi input minimal (low input) sistem-sistem berkelanjutan dapat menunjukkan penurunan potensial fungsi-fungsi eksternal atau konsekuensi-konsekuensi negatif dari jebakan sosial pada masyarakat. Petani sering terperangkap dalam perangkap sosial tersebut sebab insentif-insentif yang mereka terima dari kegiatan produksi saat ini.
Pertanian Berkelanjutan Suatu Konsep Pemikiran Masa Depan. Pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang berlanjut untuk saat ini, saat yang akan datang dan selamanya. Artinya pertanian tetap ada dan bermanfaat bagi semuanya dan tidak menimbulkan bencana bagi semuanya. Jadi dengan kata lain pertanian yang bisa dilaksanakan saat ini, saat yang akan datang dan menjadi warisan yang berharga bagi anak cucu kita. Menurut Gips, suatu sistem pertanian itu bisa disebut berkelanjutan jika memiliki sifat-sifat sbb:
Mampertahankan fungsi ekologis, artinya tidak merusak ekologi pertanian itu sendiri
Berlanjut secara ekonomis artinya mampu memberikan nilai yang layak bagi pelaksana pertanian itu dan tidak ada pihak yang diekploitasi. Masing-masing pihak mendapatkan hak sesuai dengan partisipasinya.
Adil berarti setiap pelaku pelaksanan pertanian mendapatkan hak-haknya tanpa dibatasi dan dibelunggu dan tidak melanggar hal yang lain.
Manusiawi artinya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dimana harkat dan martabat manusia dijunjung tinggi termasuk budaya yang telah ada.
Luwes yang berarri mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini, dengan demikian pertanian berkelanjutan tidak statis tetapi dinamis bisa mengakomodir keinginan konsumen maupun produsen.
Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources), untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin. Keberlanjutan yang dimaksud meliputi : penggunaan sumberdaya, kualitas dan kuantitas produksi, serta lingkungannya. Proses produksi pertanian yang berkelanjutan akan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap lingkungan.
Pertanian organik merupakan salah satu bagian pendekatan pertanian berkelanjutan, yang di dalamnya meliputi berbagai teknik sistem pertanian, seperti tumpangsari (intercropping), penggunaan mulsa, penanganan tanaman dan pasca panen. Pertanian organik memiliki ciri khas dalam hukum dan sertifikasi, larangan penggunaan bahan sintetik, serta pemeliharaan produktivitas tanah. The International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM) menyatakan bahwa pertanian organik bertujuan untuk:
a) menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dengan kuantitas memadai,
b) membudidayakan tanaman secara alami,
c) mendorong dan meningkatkan siklus hidup biologis dalam ekosistem pertanian,
d) memelihara dan meningkatkan kesuburan tanah jangka panjang,
e) menghindarkan seluruh bentuk cemaran yang diakibatkan penerapan teknik pertanian,
f) memelihara keragaman genetik sistem pertanian dan sekitarnya, serta
g) mempertimbangkan dampak sosial dan ekologis yang lebih luas dalam sistem usaha tani.
Beberapa kegiatan yang diharapkan dapat menunjang dan memberikan kontribusi dalam meningkatkan keuntungan harmonisasai produktivitas pertanian dalam jangka panjang, meningkatkan kualitas lingkungan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat tani adalah sebagai berikut: (1) pengendalian hama terpadu, (2) aplikasi sistem rotasi dan budidaya rumput, (3) konservasi lahan, (4) menjaga kualitas air/lahan basah, (5) aplikasi tanaman pelindung, (6) diversifikasi lahan dan tanaman, (7) pengelolaan nutrisi tanaman, (8) agroforestri (wana tani), (9) manajemen pemasaran, dan (10) audit dan evaluasi manajemen pertanian secara terpadu dan holistik.
Berdasarkan penjabaran yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa pertanian organik merupakan salah satu teknologi alternatif pertanian yang memberikan berbagai hal positif, yang dapat diterapkan pada usaha tani, sehingga produk-produk hasil pertanian dapat bernilai komersial tinggi, menjamin pemenuhan kebutuhan pangan dan keamanan pangan, dan dapat memberikan kesadaran masyarakat dan petani khususnya dalam melestarikan ekosistem lingkungan. Oleh karena itu, untuk menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan yang harmonis dan berkelanjutan, perlu dilakukan upaya antara lain : (1) sosialisasi pemasyarakatan mengenai pentingnya pertanian yang ramah lingkungan, (2) penggalakkan konsumsi produk hasil pertanian organik, (3) diperlukan lebih banyak kajian/penelitian untuk mendapatkan produk organik yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu perlu ditekankan bahwa usaha tani yang berorientasi pasar global perlu menekankan aspek kualitas, keamanan, kuantitas dan harga yang bersaing.
Salah satu alasan mengapa harus berlanjut adalah pengalaman selama ini dimana input tinggi telah menyebabkan degradasi lahan secara nyata. Sebagai contoh penggunaan pestisida yang berlebihan menyebabkan resurgensi, resistensi dan munculnya hama penyakit sekunder.
Penggunaan pupuk yang berlebihan malah menyebabkan pertemubuhan vegetatif yang tak diinginkan dan di daerah hilir menyebabkan eutrifikasi (suburnya perairan akibat akumulai hara oleh aliran air). Lahan sebagai penopang utama telah rusak, maka akan sangat mahal biaya yang harus dikeluarkan dan dimasa yang akan datang anak cucu hanya ditinggali barang sisa kurang bermutu. Pada hal harapakn kita semua generasi yang akan datang harus lebih baik daripada generasi saat ini. Langkah yang bisa ditempuh adalah pertama meningkatkan kesadaran pertanian berkelanjutan. Kedua setiap pihak yang berkait dengan pertanian melaksanakan prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan. Ketiga dukungan konsumen yang tidak mengkonsumsi produk pertanian yang tidak ramah lingkungan. Langkah operasional yang bisa dilaksanakan adalah : melaksanakan pengolahan tanam minimal, sebanyak mungkin menggunakan pupuk organik, melaksanakan pengendalian hama penyakit dengan bahan yang ramah lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1991. Toward sustainability. Soil and water research priorities for developing countries. National Academy press. Washington ,D.C. x +65h.
Brown, L.R. 1995. Nature’s limits. Dalam : State of the World. W.W. Narton & Company New York. H 3-20
Gardner, G. 1996. Presserving agricultural resources. Dalam : State of the World. W.W narton & Company. New York. H 78-94
Browse > Home / Daulat Pangan / Refleksi Pengembangan Kapasitas Petani Melalui Penerapan Sistem Pertanian Berkelanjutan
MIKROBIOLOGI PERTANIAN , NEMATODA
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanah yang kita injak, di dalamnya terdapat berbagai macam makhluk hidup. Kita ambil tanah kemudian kita pisahkan jasad hidup dengan air, maka di antara jasad renik yang ada terdapat binatang yang memanjang seperti cacing, itulah nematoda.
Menurut Dropkin (1991), nematoda (nama tersebut berasal dari kata Yunani, yang artinya benang) berbentuk memanjang, seperti tabung, kadang- kadang seperti kumparan, yang dapat bergerak seperti ular. Mereka hidup di dalam air, baik air laut maupun air tawar, di dalam film air, di dalam tanah, di dalam jaringan jasad hidup berair. Filum nematoda merupakan kelompok besar kedua setelah serangga apabila didasarkan atas keaneka-ragaman jenisnya. Nematoda telah dikenal sejak zaman purba sebagai parasit pada manusia. Namun ketika mikroskop yang lebih baik ditemukan dan para ahli hewan abad kesembilan belas mengeksplorasikan makhluk hidup dalam lingkup yang luas, maka nematoda dilupakan.
Pracaya (2008), Nematoda berbentuk seperti cacing kecil. Panjangnya sekitar 200-1.000 mikron ( 1.000 mikron = 1 mm). Namun, ada beberapa yang panjangnya sekitar 1 cm. nematoda biasa hidup di dalam atau di atas tanah. Umumnya nematoda yang hidup di atas tanah sering terdapat di dalam tanah terdapat di dalam jaringan tanaman atau di antara daun-daun yang melipat, di tunas daun, di dalam buah, di batang, atau di bagian tanaman lainnya. Nematoda juga ada yang hidup di dalam tanaman (endoparasit) dan ada juga yang di luar tanaman (ektoparasit).
Jenis nematoda yang saprofit sangat menguntungkan Karena mempercepat proses tanaman yang telah mati menjadi tanah. Ada juga nematode yang menjadi parasit, khususnya parasit pada tumbuhan (Bridge et al.,1995).
Agrios (1996) menyatakan bahwaM eloi dogyne spp. Merupakan salah satu nematoda parasit pada tanaman. Nematoda ini memiliki jangkauan inang yang sangat beragam, sehingga dapat ditemukan pada beberapa tanaman penting
pertanian. Kerugian yang telah ditimbulkan oleh nematoda ini sangat besar, banyak hasil tanaman pertanian rusak, mati, dan hasil panen menurun drastis. Untuk mengurangi dan menaggulangi kerusakan yang ditimbulkan oleh nematoda ini, diperlukan penelitian tentang morfologi dan anatomi tubuh, siklus hidupnya, musuh alami, dan lain-lain untuk penanggulangannya di waktu mendatang.
TujuanPraktikum ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi proses
tahapan siklus hidup nematoda khususnyaM eloi dogyne spp. parasit di dalam akar
tanaman pertanian.
BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Praktikum ini menggunakan alat dan bahan yaitu akar tanaman yang terserang nematoda dengan ciri-ciri terdapat puru akar, mikroskopcompound, cawan sirakus, 4 gelas preparat, pipet, dan acid fuksin 0,05%.
MetodeMetode yang digunakan pada praktikum kali ini adalah dengan fiksasi atau
pewarnaan jaringan tanaman. Bridge et al.(1995) menyatakan bahwa fiksasi ini
dapat melunakan jaringan dan secara khusus membantu unutk mendapat
Meloidogyne spp. dari jaringan tanaman. Pada awalnya bahan tanaman yaitu akar
yang muda dengan hati-hati dicuci sampai bersih dari tanah atau dari sisa-sisa kotoran dan bagian bahan yang tebal dipotong tipis-tipis sebelum diwarnai. Bahan yang terinfeksi kemudian diletakan di dalam cawan sirakus, akar diambil kecil dan sedikit saja sesuai voluime cawan sirakus. Acid fuksin dipipet kemudian dituangkan ke dalam cawan sirakus, tunggu sekitar tiga menit. Setelah selesai, acid fuksin akan meresap ke dalam akar tanaman, buang cairan acid fuksin, nematoda yang ada di dalam akar akan mati.
Gelas preparat disiapkan. Beberapa akar terinfeksi yang berukuran kecil pada cawan sirakus kemudian diketakan di atas gelas preparat. Gelas preparat tersebut ditutup dengan gelas preparat yang lain, peletakan ini dilakukan dengan hati-hati agar namatoda yang ada di dalam akar tidak hancur atau pecah. Preparat diamati dengan menggunakan perbesaran yang dinginkan, pengamatan ini dilakukan dengan hati-hati dan teliti karena akar tanaman yang berwarna merah yang transparan dan nematoda yang berukuran kecil terkadang sulit untuk diamati. Pengamatan ini dilakukan untuk mencari bentuk-bentukM eloidogyne spp. pada tahap-tahap siklus hidup yang berbeda mulai dari telur hingga fase dewasa.
Pembahasan
Dari hasil praktikum, dapat terlihat bahwaM eloi dogyne spp. mempunyai bentuk-bentuk yang berbeda untuk menjadi dewasa.M eloi dogyne spp. merupakan jenis nematoda parasit tanaman yang terpenting di dunia. Nama “nematoda puru
akar” (root-knot nematodes) berasal dari puru yang karakteristik berasosiasi
dengan nematoda tersebut. Tanaman inangM eloidogyne spp. meliputi sayur- sayuran, tanaman berjajar, pohon buah-bauhan, dan gulma. Marga tersebut sangat penting terutama unutk pertanian di daerah tropik.
Menurut Dropkin (1991), endoparasitik yang bersifat obligat tersebut tersebar luas baik di daerah iklim tropis maupun iklim sedang. Pembiakan tanpa jantan merupakan kebiasaan pada banyak jenis, tetapi pada jenis lain kedua jenis kelamin masih diperlukan dalam reproduksi. Peran jantan yang interseks belum diketahui. Telur-telurnya diletakkan di dalam kantung telur yang gelatinus yang mungkin untuk melindungi telur tersebut dari kekeringan dan jasad renik perusak telur. Pada sebagian besar interaksi antar inang dan parasit puru tersebut muncul kantung puru. Kantung telur yang baru terbentuk biasanya tidak berwarna dan menjadi cokelat setelah tua. Telur-telur mengandung zigot sel tunggal apabila baru diletakkan. Embrio berkembang menjadi larva yang mengalami perganitian kulit pertama (juvenile I) di dalam telur tersebut. Larva pada stadium kedua muncul pada suhu dan kelembapan yang sesuai serta bergerak di dalam tanah menuju ke ujung akar yang sedang tumbuh. Mereka menerobos masuk, biasanya di daerah akar yang sedang memanjang, merusak sel-sel dengan mematukkan stiletnya berulang-ulang. Setelah masuk ke dalam akar, larva bergerak di antara sel-sel sampai tiba di dekat silinder pusat, sering kali berada di daerah pertumbuhan akar samping. Di tempat tersebut larva menetap, dan menyebabkan pertumbuhan sel-sel yang akan menjadi makanannya. Larva menggelembung, dan kelakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedua Juvenile II dan ketiga Juvenile III kalinya tanpa makan, selanjutnya menjadi jantan atau betina dewasa. Nematoda jantan dewasa berbentuk memanjang di dalam kutikula stadium larva keempat juvenile IV dan muncul dari jaringan akar. Beberapa nematoda jantan masih mengelompok di dalam kantung telur. Sedang nematoda betina dewasa tetap tertambat pada daerah tempat makanannya di dalam stele dengan bagian
posterior tubuhnya berada di permukaan akar. Nematoda betina tersebut terus menerus menghasilkan telur selama hidupnya. Kadang-kadang mencapai jumlah 1.000 telur. Lama daur hidupnya bervariasi tergantung pada inang dan suhu. Mungkin paling cepat 3 minggu dan paling lama beberapa bulan. Perbandingan jenis kelamin dipengaruhi oleh lingkungan. Yang jantan akan lebih banyak jika akar terserang berat dan zat makanan tidak cukup. Meloidogyne spp. betina dewasa akan tetap berada dalam ukuran membengkak sedangkan jantan dewasa dari ukuran membengkak akan kembali ke uuran semula. Walaupun eksudat akar mampu meningkatkan penetasan, tetapi senyawa tersebut tidak diperlukan unutk keberhasilan daur hidupnya.
Larva yang terinfektif menyimpan sejumlah besar lipida. Selama nematoda tersebut kekurangan pangan, lipida tersebut diperlukan dan sebagaimana diketahui melalui mikroskopcompound, ususnya tampak melipat. Sel-sel yang terisi lipida terlihat kabur sedang lain jelas, karena kehilangan timbunan lipida. Selama berpindah melalui tanah, larva mempergunakan cadangan makanannya dan akhirnya mati setelah beberapa bulan tanpa tanaman inang. Walaupun demikian, lahan tanpa tanaman inang masih mengandung larva sampai selama satu tahun. Beberapa nematoda mungkin menemukan relung tempat untuk bertahan hidup untuk dengan tingkat metabolisme yang rendah. Mungkin relung-relung tersebut berada di remah-remah tanah dan nematoda terlindung dari kekeringan serta tinggal inaktif di dalam ruang dengan tekanan oksigen yang rendah
JenisM eloidogyne spp. Mempunyai kisaran inang ynag sanngat luas, meliputi gulma dan berbagai tanaman yang dibudidayakan. Sebagai mana jenis fitonematoda yang telah dikaji secara seksama, tedapat populasi subspesifik yang jelas dan dapat dibedakan kisaran inangnya.
KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
Meloidogyne spp. melakukan siklus hidupnya mulai dari telur hingga masa
dewasa.M eloidogyne spp. dimulai dari fase telur, fase telur ini mengalami pergantian kulit jadi juvenile I. Setelah itu, lelur menetas, ganti kulit kedua jadi memasuki fase juvenile II. Kemudian bekembang anti kulit ketiga lagi masuk ke fase juvenile III, tumbuh masuk fase juvenile IV setelah ganti kulit keempat.Dari fase juvenile IV memasuki fase dewasa jantan dan betina.M eloidogyne spp. jantan dan betina dewasa kemudian membengkak tubuhnya sehingga aktivitas geraknya terbatasi, betina akan mengandung teluryang jumlanya banyak,ukran tubuh betina akan tetap membengkak terus, tetapi jantan dewasa akan kembali ke ukuran ramping semula lagi.
http://titinrahayu08.student.ipb.ac.id/2010/06/19/siklus-hidup-nematoda-parasit-tumbuhan-meloidogyne-spp/
http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:zmXJ5FhpMOUJ:repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1111/1/hptlisnawita.pdf+sifat+meloidogyne+incognita+pada+tanaman+kedelai&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEEShd8AYpEj2qJrbFUZmJ0KJgiusPlZW7AOmnIWD_GTJHgnoX7TNSzzM35xWcCBUoAbd8EkgROdQH6y37EUVdb1LzG_vlklwdGrdschSAefXZ9KdzzSa5CCzUWCYCjrSVH67yxVy&sig=AHIEtbS-6s2Fei_5HfpDwkM5K-6JempCfg
posterior tubuhnya berada di permukaan akar. Nematoda betina tersebut terus menerus menghasilkan telur selama hidupnya. Kadang-kadang mencapai jumlah 1.000 telur. Lama daur hidupnya bervariasi tergantung pada inang dan suhu. Mungkin paling cepat 3 minggu dan paling lama beberapa bulan. Perbandingan jenis kelamin dipengaruhi oleh lingkungan. Yang jantan akan lebih banyak jika akar terserang berat dan zat makanan tidak cukup. Meloidogyne spp. betina dewasa akan tetap berada dalam ukuran membengkak sedangkan jantan dewasa dari ukuran membengkak akan kembali ke uuran semula. Walaupun eksudat akar mampu meningkatkan penetasan, tetapi senyawa tersebut tidak diperlukan unutk keberhasilan daur hidupnya.
Larva yang terinfektif menyimpan sejumlah besar lipida. Selama nematoda tersebut kekurangan pangan, lipida tersebut diperlukan dan sebagaimana diketahui melalui mikroskopcompound, ususnya tampak melipat. Sel-sel yang terisi lipida terlihat kabur sedang lain jelas, karena kehilangan timbunan lipida. Selama berpindah melalui tanah, larva mempergunakan cadangan makanannya dan akhirnya mati setelah beberapa bulan tanpa tanaman inang. Walaupun demikian, lahan tanpa tanaman inang masih mengandung larva sampai selama satu tahun. Beberapa nematoda mungkin menemukan relung tempat untuk bertahan hidup untuk dengan tingkat metabolisme yang rendah. Mungkin relung-relung tersebut berada di remah-remah tanah dan nematoda terlindung dari kekeringan serta tinggal inaktif di dalam ruang dengan tekanan oksigen yang rendah
JenisM eloidogyne spp. Mempunyai kisaran inang ynag sanngat luas, meliputi gulma dan berbagai tanaman yang dibudidayakan. Sebagai mana jenis fitonematoda yang telah dikaji secara seksama, tedapat populasi subspesifik yang jelas dan dapat dibedakan kisaran inangnya.
KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
Meloidogyne spp. melakukan siklus hidupnya mulai dari telur hingga masa
dewasa.M eloidogyne spp. dimulai dari fase telur, fase telur ini mengalami pergantian kulit jadi juvenile I. Setelah itu, lelur menetas, ganti kulit kedua jadi memasuki fase juvenile II. Kemudian bekembang anti kulit ketiga lagi masuk ke fase juvenile III, tumbuh masuk fase juvenile IV setelah ganti kulit keempat.Dari fase juvenile IV memasuki fase dewasa jantan dan betina.M eloidogyne spp. jantan dan betina dewasa kemudian membengkak tubuhnya sehingga aktivitas geraknya terbatasi, betina akan mengandung teluryang jumlanya banyak,ukran tubuh betina akan tetap membengkak terus, tetapi jantan dewasa akan kembali ke ukuran ramping semula lagi.
Latar Belakang
Tanah yang kita injak, di dalamnya terdapat berbagai macam makhluk hidup. Kita ambil tanah kemudian kita pisahkan jasad hidup dengan air, maka di antara jasad renik yang ada terdapat binatang yang memanjang seperti cacing, itulah nematoda.
Menurut Dropkin (1991), nematoda (nama tersebut berasal dari kata Yunani, yang artinya benang) berbentuk memanjang, seperti tabung, kadang- kadang seperti kumparan, yang dapat bergerak seperti ular. Mereka hidup di dalam air, baik air laut maupun air tawar, di dalam film air, di dalam tanah, di dalam jaringan jasad hidup berair. Filum nematoda merupakan kelompok besar kedua setelah serangga apabila didasarkan atas keaneka-ragaman jenisnya. Nematoda telah dikenal sejak zaman purba sebagai parasit pada manusia. Namun ketika mikroskop yang lebih baik ditemukan dan para ahli hewan abad kesembilan belas mengeksplorasikan makhluk hidup dalam lingkup yang luas, maka nematoda dilupakan.
Pracaya (2008), Nematoda berbentuk seperti cacing kecil. Panjangnya sekitar 200-1.000 mikron ( 1.000 mikron = 1 mm). Namun, ada beberapa yang panjangnya sekitar 1 cm. nematoda biasa hidup di dalam atau di atas tanah. Umumnya nematoda yang hidup di atas tanah sering terdapat di dalam tanah terdapat di dalam jaringan tanaman atau di antara daun-daun yang melipat, di tunas daun, di dalam buah, di batang, atau di bagian tanaman lainnya. Nematoda juga ada yang hidup di dalam tanaman (endoparasit) dan ada juga yang di luar tanaman (ektoparasit).
Jenis nematoda yang saprofit sangat menguntungkan Karena mempercepat proses tanaman yang telah mati menjadi tanah. Ada juga nematode yang menjadi parasit, khususnya parasit pada tumbuhan (Bridge et al.,1995).
Agrios (1996) menyatakan bahwaM eloi dogyne spp. Merupakan salah satu nematoda parasit pada tanaman. Nematoda ini memiliki jangkauan inang yang sangat beragam, sehingga dapat ditemukan pada beberapa tanaman penting
pertanian. Kerugian yang telah ditimbulkan oleh nematoda ini sangat besar, banyak hasil tanaman pertanian rusak, mati, dan hasil panen menurun drastis. Untuk mengurangi dan menaggulangi kerusakan yang ditimbulkan oleh nematoda ini, diperlukan penelitian tentang morfologi dan anatomi tubuh, siklus hidupnya, musuh alami, dan lain-lain untuk penanggulangannya di waktu mendatang.
TujuanPraktikum ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi proses
tahapan siklus hidup nematoda khususnyaM eloi dogyne spp. parasit di dalam akar
tanaman pertanian.
BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Praktikum ini menggunakan alat dan bahan yaitu akar tanaman yang terserang nematoda dengan ciri-ciri terdapat puru akar, mikroskopcompound, cawan sirakus, 4 gelas preparat, pipet, dan acid fuksin 0,05%.
MetodeMetode yang digunakan pada praktikum kali ini adalah dengan fiksasi atau
pewarnaan jaringan tanaman. Bridge et al.(1995) menyatakan bahwa fiksasi ini
dapat melunakan jaringan dan secara khusus membantu unutk mendapat
Meloidogyne spp. dari jaringan tanaman. Pada awalnya bahan tanaman yaitu akar
yang muda dengan hati-hati dicuci sampai bersih dari tanah atau dari sisa-sisa kotoran dan bagian bahan yang tebal dipotong tipis-tipis sebelum diwarnai. Bahan yang terinfeksi kemudian diletakan di dalam cawan sirakus, akar diambil kecil dan sedikit saja sesuai voluime cawan sirakus. Acid fuksin dipipet kemudian dituangkan ke dalam cawan sirakus, tunggu sekitar tiga menit. Setelah selesai, acid fuksin akan meresap ke dalam akar tanaman, buang cairan acid fuksin, nematoda yang ada di dalam akar akan mati.
Gelas preparat disiapkan. Beberapa akar terinfeksi yang berukuran kecil pada cawan sirakus kemudian diketakan di atas gelas preparat. Gelas preparat tersebut ditutup dengan gelas preparat yang lain, peletakan ini dilakukan dengan hati-hati agar namatoda yang ada di dalam akar tidak hancur atau pecah. Preparat diamati dengan menggunakan perbesaran yang dinginkan, pengamatan ini dilakukan dengan hati-hati dan teliti karena akar tanaman yang berwarna merah yang transparan dan nematoda yang berukuran kecil terkadang sulit untuk diamati. Pengamatan ini dilakukan untuk mencari bentuk-bentukM eloidogyne spp. pada tahap-tahap siklus hidup yang berbeda mulai dari telur hingga fase dewasa.
Pembahasan
Dari hasil praktikum, dapat terlihat bahwaM eloi dogyne spp. mempunyai bentuk-bentuk yang berbeda untuk menjadi dewasa.M eloi dogyne spp. merupakan jenis nematoda parasit tanaman yang terpenting di dunia. Nama “nematoda puru
akar” (root-knot nematodes) berasal dari puru yang karakteristik berasosiasi
dengan nematoda tersebut. Tanaman inangM eloidogyne spp. meliputi sayur- sayuran, tanaman berjajar, pohon buah-bauhan, dan gulma. Marga tersebut sangat penting terutama unutk pertanian di daerah tropik.
Menurut Dropkin (1991), endoparasitik yang bersifat obligat tersebut tersebar luas baik di daerah iklim tropis maupun iklim sedang. Pembiakan tanpa jantan merupakan kebiasaan pada banyak jenis, tetapi pada jenis lain kedua jenis kelamin masih diperlukan dalam reproduksi. Peran jantan yang interseks belum diketahui. Telur-telurnya diletakkan di dalam kantung telur yang gelatinus yang mungkin untuk melindungi telur tersebut dari kekeringan dan jasad renik perusak telur. Pada sebagian besar interaksi antar inang dan parasit puru tersebut muncul kantung puru. Kantung telur yang baru terbentuk biasanya tidak berwarna dan menjadi cokelat setelah tua. Telur-telur mengandung zigot sel tunggal apabila baru diletakkan. Embrio berkembang menjadi larva yang mengalami perganitian kulit pertama (juvenile I) di dalam telur tersebut. Larva pada stadium kedua muncul pada suhu dan kelembapan yang sesuai serta bergerak di dalam tanah menuju ke ujung akar yang sedang tumbuh. Mereka menerobos masuk, biasanya di daerah akar yang sedang memanjang, merusak sel-sel dengan mematukkan stiletnya berulang-ulang. Setelah masuk ke dalam akar, larva bergerak di antara sel-sel sampai tiba di dekat silinder pusat, sering kali berada di daerah pertumbuhan akar samping. Di tempat tersebut larva menetap, dan menyebabkan pertumbuhan sel-sel yang akan menjadi makanannya. Larva menggelembung, dan kelakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedua Juvenile II dan ketiga Juvenile III kalinya tanpa makan, selanjutnya menjadi jantan atau betina dewasa. Nematoda jantan dewasa berbentuk memanjang di dalam kutikula stadium larva keempat juvenile IV dan muncul dari jaringan akar. Beberapa nematoda jantan masih mengelompok di dalam kantung telur. Sedang nematoda betina dewasa tetap tertambat pada daerah tempat makanannya di dalam stele dengan bagian
posterior tubuhnya berada di permukaan akar. Nematoda betina tersebut terus menerus menghasilkan telur selama hidupnya. Kadang-kadang mencapai jumlah 1.000 telur. Lama daur hidupnya bervariasi tergantung pada inang dan suhu. Mungkin paling cepat 3 minggu dan paling lama beberapa bulan. Perbandingan jenis kelamin dipengaruhi oleh lingkungan. Yang jantan akan lebih banyak jika akar terserang berat dan zat makanan tidak cukup. Meloidogyne spp. betina dewasa akan tetap berada dalam ukuran membengkak sedangkan jantan dewasa dari ukuran membengkak akan kembali ke uuran semula. Walaupun eksudat akar mampu meningkatkan penetasan, tetapi senyawa tersebut tidak diperlukan unutk keberhasilan daur hidupnya.
Larva yang terinfektif menyimpan sejumlah besar lipida. Selama nematoda tersebut kekurangan pangan, lipida tersebut diperlukan dan sebagaimana diketahui melalui mikroskopcompound, ususnya tampak melipat. Sel-sel yang terisi lipida terlihat kabur sedang lain jelas, karena kehilangan timbunan lipida. Selama berpindah melalui tanah, larva mempergunakan cadangan makanannya dan akhirnya mati setelah beberapa bulan tanpa tanaman inang. Walaupun demikian, lahan tanpa tanaman inang masih mengandung larva sampai selama satu tahun. Beberapa nematoda mungkin menemukan relung tempat untuk bertahan hidup untuk dengan tingkat metabolisme yang rendah. Mungkin relung-relung tersebut berada di remah-remah tanah dan nematoda terlindung dari kekeringan serta tinggal inaktif di dalam ruang dengan tekanan oksigen yang rendah
JenisM eloidogyne spp. Mempunyai kisaran inang ynag sanngat luas, meliputi gulma dan berbagai tanaman yang dibudidayakan. Sebagai mana jenis fitonematoda yang telah dikaji secara seksama, tedapat populasi subspesifik yang jelas dan dapat dibedakan kisaran inangnya.
KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
Meloidogyne spp. melakukan siklus hidupnya mulai dari telur hingga masa
dewasa.M eloidogyne spp. dimulai dari fase telur, fase telur ini mengalami pergantian kulit jadi juvenile I. Setelah itu, lelur menetas, ganti kulit kedua jadi memasuki fase juvenile II. Kemudian bekembang anti kulit ketiga lagi masuk ke fase juvenile III, tumbuh masuk fase juvenile IV setelah ganti kulit keempat.Dari fase juvenile IV memasuki fase dewasa jantan dan betina.M eloidogyne spp. jantan dan betina dewasa kemudian membengkak tubuhnya sehingga aktivitas geraknya terbatasi, betina akan mengandung teluryang jumlanya banyak,ukran tubuh betina akan tetap membengkak terus, tetapi jantan dewasa akan kembali ke ukuran ramping semula lagi.
http://titinrahayu08.student.ipb.ac.id/2010/06/19/siklus-hidup-nematoda-parasit-tumbuhan-meloidogyne-spp/
http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:zmXJ5FhpMOUJ:repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1111/1/hptlisnawita.pdf+sifat+meloidogyne+incognita+pada+tanaman+kedelai&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEEShd8AYpEj2qJrbFUZmJ0KJgiusPlZW7AOmnIWD_GTJHgnoX7TNSzzM35xWcCBUoAbd8EkgROdQH6y37EUVdb1LzG_vlklwdGrdschSAefXZ9KdzzSa5CCzUWCYCjrSVH67yxVy&sig=AHIEtbS-6s2Fei_5HfpDwkM5K-6JempCfg
posterior tubuhnya berada di permukaan akar. Nematoda betina tersebut terus menerus menghasilkan telur selama hidupnya. Kadang-kadang mencapai jumlah 1.000 telur. Lama daur hidupnya bervariasi tergantung pada inang dan suhu. Mungkin paling cepat 3 minggu dan paling lama beberapa bulan. Perbandingan jenis kelamin dipengaruhi oleh lingkungan. Yang jantan akan lebih banyak jika akar terserang berat dan zat makanan tidak cukup. Meloidogyne spp. betina dewasa akan tetap berada dalam ukuran membengkak sedangkan jantan dewasa dari ukuran membengkak akan kembali ke uuran semula. Walaupun eksudat akar mampu meningkatkan penetasan, tetapi senyawa tersebut tidak diperlukan unutk keberhasilan daur hidupnya.
Larva yang terinfektif menyimpan sejumlah besar lipida. Selama nematoda tersebut kekurangan pangan, lipida tersebut diperlukan dan sebagaimana diketahui melalui mikroskopcompound, ususnya tampak melipat. Sel-sel yang terisi lipida terlihat kabur sedang lain jelas, karena kehilangan timbunan lipida. Selama berpindah melalui tanah, larva mempergunakan cadangan makanannya dan akhirnya mati setelah beberapa bulan tanpa tanaman inang. Walaupun demikian, lahan tanpa tanaman inang masih mengandung larva sampai selama satu tahun. Beberapa nematoda mungkin menemukan relung tempat untuk bertahan hidup untuk dengan tingkat metabolisme yang rendah. Mungkin relung-relung tersebut berada di remah-remah tanah dan nematoda terlindung dari kekeringan serta tinggal inaktif di dalam ruang dengan tekanan oksigen yang rendah
JenisM eloidogyne spp. Mempunyai kisaran inang ynag sanngat luas, meliputi gulma dan berbagai tanaman yang dibudidayakan. Sebagai mana jenis fitonematoda yang telah dikaji secara seksama, tedapat populasi subspesifik yang jelas dan dapat dibedakan kisaran inangnya.
KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
Meloidogyne spp. melakukan siklus hidupnya mulai dari telur hingga masa
dewasa.M eloidogyne spp. dimulai dari fase telur, fase telur ini mengalami pergantian kulit jadi juvenile I. Setelah itu, lelur menetas, ganti kulit kedua jadi memasuki fase juvenile II. Kemudian bekembang anti kulit ketiga lagi masuk ke fase juvenile III, tumbuh masuk fase juvenile IV setelah ganti kulit keempat.Dari fase juvenile IV memasuki fase dewasa jantan dan betina.M eloidogyne spp. jantan dan betina dewasa kemudian membengkak tubuhnya sehingga aktivitas geraknya terbatasi, betina akan mengandung teluryang jumlanya banyak,ukran tubuh betina akan tetap membengkak terus, tetapi jantan dewasa akan kembali ke ukuran ramping semula lagi.
Rabu, 22 Juni 2011
budidaya tanaman mangga
M A N G G A
( Mangifera spp. )
Mangga (Mangifera indica L.) adalah pohon berakar dalam yang hijau sepanjang masa. Tinggi pohon mangga dapat mencapai 15 - 20 m. Daun mangga berbentuk bulat panjang (elips) dan merupakan daun tunggal, agak panjang (8 - 40 cm), agak kasar dan sempit (2 - 10 cm). Daun muda ditumbuhkan bebas dan berwarna merah muda atau kadang-kadang kuning, dan kemudian tumbuh berwarna hijau tua mengkilat. Kulit pohon mengandung saluran-saluran resin yang bergetah berwarna putih.
Bunga mangga yang berjumlah banyak tumbuh dari tangkai bunga yang terbentuk sebagai panikel akhir. Bunga berwarna-warni. putih, merah muda, dan merah (500 - 10.000 bunga/panikel; 2.000 - 3.000 panikel/pohon). Hanya sebagian kecil (2 - 20%) dari bunga-bunga merupakan bunga sempurna dengan bagian jantan dan betina yang berfungsi. Bagian terbesar merupakan bunga jantan.
Jumlah bunga dan panikel serta perbandingan bunga sempurna bervariasi menurut varietas mangga, musim dan kondisi cuaca. Semua faktor ini menyebabkan produksi buah yang tidak teratur yang merupakan ciri khas pohon mangga. Musim berbunga meliputi periode dua sampai tiga minggu dalam bulan Juni - Agustus.
Penyerbukan dilakukan oleh serangga, terutama oleh sejenis ulat kayu (thrips) dan lalat. Lebah tidak mencari madu di bunga mangga. Angin, hujan, dan suhu di bawah 15 - 16C sangat menghambat penyerbukan, tegarnya serbuk sari, pertumbuhan tabung serbuk sari, dan tumbuhnya buah.
Jangka waktu antara tumbuhnya buah dan masaknya buah dapat mencapai
lima bulan, bergantung pada varietas mangga dan suhu. Daging (mesokarp) buah mangga yang aromatis berwarna putih sampai kuning merupakan bagian yang dapat dimakan, walaupun di beberapa tempat di Indonesia juga biji mangga dimakan.
2. Persyaratan yang Berhubungan dengan Iklim dan Pertumbuhan
Salah satu ciri khas mangga ialah kemampuannya untuk berfungsi baik di daerah-daerah yang kering (curah hujan kurang dari 750 mm/tahun), walaupun pohon mangga hidup lebih baik didaerah tropik dan sub-tropik dengan curah hujan 1200 - 1500 mm/tahun. Musim kemarau yang nyata merupakan syarat mutlak untuk produksi buah yang memuaskan. Hujan waktu musim berkembang akan sangat mengurangi penyerbukan dan dengan demikian juga mengurangi produksi buah.
Suhu optimal untuk pertumbuhan berkisar antara 22 C dan 27 C pada ketinggian maksimal 1250 m atas muka laut. Perkebunan mangga yang baik terdapat pada ketinggian 600 - 700 m atas muka laut.Masa dingin yang berkepanjangan seperti yang terdapat di ketinggian- ketinggian yang tinggi di daerah tropik, sangat menghambat pertumbuhan pohon.
3. HAMA DAN PENYAKIT
3.1. Hama
1) Kepik mangga (Cryptorrhynoccus gravis)
Menyerang buah dan masuk ke dalamnya. Pengendalian: dengan semut merah
yang menyebabkan kepik tidak bertelur.
2) Bubuk buah mangga
Menyerang buah sampai tunas muda. Kulit buah kelihatan normal, bila dibelah
terlihat bagian dalamnya dimakan hama ini. Pengendalian: memusnahkan buah
mangga yang jatuh akibat hama ini, menggunakan pupuk kandang halus,
mencangkul tanah di sekitar batang pohon dan menyemprotkan insektisida ke
tanah yang telah dicangkul.
3) Bisul daun(Procontarinia matteiana.)
Gejala: daun menjadi berbisul dan daun menjadi berwarna coklat, hijau dan
kemerahan. Pengendalian: penyemprotan buah dan daun dengan Ripcord,
Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam seminggu, membakar daun yang
terserang, menggemburkan tanah untuk mengeluarkan kepompong dan
memperbaiki aerasi.
4) Lalat buah
Gejala: buah busuk, jatuh dan menurunkan produktivitas. Pengendalian: dengan
memusnahkan buah yang rusak, memberi umpan berupa larutan sabun atau metil
eugenol di dalam wadah dan insektisida.
5) Wereng ( Idiocerus clypealis, I. Niveosparsus, I. Atkinsoni)
Jenis wereng ini berbeda dengan yang menyerang padi. Wereng ini menyerang
daun, rangkaian bunga dan ranting sambil mengeluarkan cairan manis sehingga
mengundang semut api untuk memakan tunas atau kuncup. Cairan yang
membeku menimbulkan jamur kerak hitam. Pengendalian dengan insektisida
Diazinon dan pengasapan seminggu empat kali.
6) Tungau (Paratetranychus yothersi, Hemitarsonemus latus)
Tungau pertama menyerang daun mangga yang masih muda sedangkan yang
kedua menyerang permukaan daun mangga bagian bawah. Keduanya menyerang
rangkaian bunga. Pengendalian dengan menyemprotkan tepung belerang,
insektisida Diazinon atau Basudin.
7) Codot
Memakan buah mangga di malam hari. Pengendalian: dengan membiarkan
semut kerangkeng hidup di sela daun mangga, memasang kitiran angin berpeluit
dan melindungi pohon dengan jaring.
7.2. Penyakit
1) Penyakit mangga
Penyebab: jamur Gloeosporium mangifera. Jamur ini menyebabkan bunga
menjadi layu, buah busuk, daun berbintik-bintik hitam dan menggulung.
Pengendalian: fungisida Bubur Bordeaux.
2) Penyakit diplodia
Penyebab: jamur Diplodia sp. Tumbuh di luka tanaman muda hasil okulasi.
Pengendalian: dengan bubur bordeaux. Luka diolesi/ditutup parafin-carbolineum.
3) Cendawan jelaga
Penyebab: virus Meliola mangifera atau jamur Capmodium mangiferum. Daun
mangga yang diserang berwarna hitam seperti beledu. Warna hitam disebabkan
oleh jamur yang hidup di cairan manis. Pengendalian: dengan memberantas
serangga yang menghasilkan cairan manis dengan insektisida atau tepung
belerang.
4) Bercak karat merah
Penyebab: jamur Colletotrichum gloeosporiodes. Menyerang daun, ranting, bunga
dan tunas sehingga terbentuk bercak yang berwarna merah. Penyakit ini sangat
mempengaruhi proses pembuahan. Pengendalian: pemangkasan dahan, cabang,
ranting, menyemprotkan fungisida bubuk bordeaux atau sulfat tembaga.
5) Kudis buah
Menyerang tangkai bunga, bunga, ranting dan daun. Gejala: adanya bercak
kuning yang akan berubah menjadi abu-abu. Pembuahan tidak terjadi, bunga
berjatuhan. Pengendalian: fungisida Dithane M-45, Manzate atau Pigone tiga kali
seminggu dan memangkas tangkai bunga yang terserang.
6) Penyakit Blendok
Penyebab: jamur Diplodia recifensis yang hidup di dalam lubang yang dibuat oleh
kumbang Xyleborus affinis). Lubang mengeluarkan getah yang akan berubah warna menjadi coklat atau hitam. Pengendalian: memotong bagian yang sakit,
lubang ditutupi dengan kapas yang telah dicelupkan ke dalam insektisida dan
menyemprot pohon dengan bubur bordeaux.
7.3. Gulma
Benalu memberikan kerusakan dalam waktu pendek karena menyebabkan makanan
tidak diserap tanaman secara sempurna. Pengendalian dengan memotong cabang
yang terserang, menebang tanaman yang diserang benalu dengan berat.
4. PANEN
4.1. Ciri dan Umur Panen
Mangga cangkokan mulai berbuah pada umur 4 tahun, mangga okulasi pada umur
5-6 tahun. Banyaknya buah panen pertama hanya 10-15 buah, pada tahun ke 10
jumlah buah dapat mencapai 300-500 buah/pohon. Panen besar biasanya jatuh di
bulan September-Oktober.
Tanda buah sudah dapat dipanen adalah adanya buah yang jatuh karena matang
sedikitnya 1 buah/pohon, warna buah arumanis/manalagi berubah menjadi hijau tua
kebiruan, warna buah mangga golek/gedok berubah menjadi kuning/merah Buah
yang dipetik harus masih keras.
4.2. Cara Panen
Pada saat pemetikan, buah jangan sampai terpotong, tercongkel atau jatuh sampai
memar. Buah dipetik di sore hari dengan menggunakan pisau tajam atau dengan
galah yang diujungnya terdapat pisau dan keranjang penampung buah.
4.3. Periode Panen
Di Indonesia pohon mangga berbunga satu tahun sekali sehingga panen dilakukan
satu periode dalam satu tahun. Dari satu pohon, buah tidak akan masak bersamaan
sehingga dilakukan beberapa kali panen.
4.4. Perkiraan Produksi
Pohon muda okulasi menghasilkan 50-100 buah/tahun, meningkat sampai 300-500
buah pada umur 10 tahun, 1.000 buah pada umur 15 tahun dan 2.000 buah pada
waktu produksi maksimum di umur 20 tahun.
5. PASCAPANEN
5.1. Pengumpulan
Buah hasil panen dikumpulkan di tempat yang teduh.
5.2. Penyortiran dan Penggolongan
Mangga yang rusak dipisahkan dengan mangga yang mulus. Setelah sortasi buah
mangga dilap untuk menghilangkan getah yang dapat menurunkan mutu terutama
jika buah akan dipasarkan ke pasar swalayan atau luar negeri.
Buah yang akan dipasarkan di dalam negeri dapat diperam untuk mempercepat
pemasakan. Sortasi didasarkan berat buah atau ukuran buah. Kelas berdasarkan
berat buah antara lain:
a) Kelas I: > 320 gram/buah
b) Kelas II: 270 - 320 gram/buah
c) Kelas III: 200 - 270 gram/buah
Sedangkan berdasarkan ukuran buah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a) Klasifikasi Besar: arum manis > 17,5 cm, golek > 20 cm
b) Klasifikasi Sedang: arum manis 15 - 17,5 cm, golek 17,5 - 20 cm
c) Klasifikasi Kecil: arum manis < 15 cm, golek < 17,5 cm
5.3. Penyimpanan
Buah mangga yang telah dipetik disimpan ditempat yang kering, teduh dan sejuk.
6.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Di dalam negeri mangga tetap menjadi buah favorit pada saat musimnya. Buah yang
berkualitas tetap memiliki harga yang jauh lebih baik dan dapat menembus pasar
untuk kalangan menengah atas. Di luar negeri mangga adalah buah eksotik yang
banyak penggemarnya dan termasuk buah impor yang mahal. Potensi Indonesia
untuk mengekspor mangga begitu besar, tetapi pemanfaatannya tidak maksimal.
Untuk mensuplai kebutuhan mangga luar negeri yang harus kontinyu dan standard
mutu tidak berubah, diperlukan pengembangan agribisnis mangga yang mencakup
areal tanam luas dengan kultur teknis dan pasca panen yang terkendali.
7. STANDAR PRODUKSI
7.1.Ruang Lingkup
Standar produksi ini meliputi: klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara
uji, syarat penandaan dan pengemasan.
7.2.Diskripsi
Standar mutu mangga tercantum dalam standar Nasional Indonesia SNI 01-3164-
1992.
7.3.Klasifikasi dan Standar Mutu
Mangga digolongkan dalam 4 ukuran menurut kultifarnya yaitu besar sedang kecil
dan sangat kecil yang masing-masing digolongkan dalam 2 jenis mutu yaitu mutu I
dan mutu II
a) Arum manis: besar>400 gram, sedang 350-400 gram, kecil 300-349 gram, sangat
kecil 250-299 gram
b) Golek: besar>500 gram, sedang 450-500 gram, kecil 400-449 gram, sangat kecil
350-399 gram
c) Gedog: besar>250 gram, sedang 200-250 gram, kecil 150-199 gram, sangat kecil
100-149 gram
d) Manalagi: besar>400 gram, sedang 350-400 gram, kecil 300-349 gram, sangat
kecil 250-299 gram
Syarat mutu yang diterapkan untuk keempat golongan tersebut:
a. Karakteristik keasaman sifat varietas: mutu I seragam; mutu II seragam
b. Karakteristik tingkat ketuaan: mutu I tua tapi tidak terlalu matang; mutu II tua tapi
tidak terlalu matang
c. Karakteristik kekerasan: mutu I=keras; mutu II=cukup keras
d. Karakteristik ukuran: mutu I=seragam; mutu II=kurang seragam
e. Karakteristik kotoran: mutu I=bebas; mutu II=bebas
f. Karakteristik kerusakan: mutu I=5%; mutu II=10 %
g. Karakteristik busuk : mutu I=1%; mutu II=1%
7.4.Pengambilan Contoh
Satu partai/lot mangga terdiri dari maksimum 1000 kemasan. Contoh diambil secara
acak dari jumlah kemasan dalam 1 partai/lot seperti terlihat dibawah ini:
a) Jumlah kemasan dalam 1 partai/lot sampai dengan 100 : contoh yang diambil 5.
b) Jumlah kemasan dalam 1 partai/lot 101 – 300: contoh yang diambil 7.
c) Jumlah kemasan dalam 1 partai/lot 301 – 500: contoh yang diambil 9.
d) Jumlah kemasan dalam 1 partai/lot 501 – 1000: contoh yang diambil 10.
7.5.Pengemasan
Pengemasan buah manga dalam peti kayu, berat bersih setiap peti kayu maksimum
25 kg, susunan buah dalam peti kayu kompak dengan setiap buah yang diberi
pembungkus/ penyekat, atau kotak kotoran diberi penyekat dan lobang udara,
susunan buah dalam kotak karton satu lapis dengan berat bersih kotak karton
maksimum 10 kg.
( Mangifera spp. )
Mangga (Mangifera indica L.) adalah pohon berakar dalam yang hijau sepanjang masa. Tinggi pohon mangga dapat mencapai 15 - 20 m. Daun mangga berbentuk bulat panjang (elips) dan merupakan daun tunggal, agak panjang (8 - 40 cm), agak kasar dan sempit (2 - 10 cm). Daun muda ditumbuhkan bebas dan berwarna merah muda atau kadang-kadang kuning, dan kemudian tumbuh berwarna hijau tua mengkilat. Kulit pohon mengandung saluran-saluran resin yang bergetah berwarna putih.
Bunga mangga yang berjumlah banyak tumbuh dari tangkai bunga yang terbentuk sebagai panikel akhir. Bunga berwarna-warni. putih, merah muda, dan merah (500 - 10.000 bunga/panikel; 2.000 - 3.000 panikel/pohon). Hanya sebagian kecil (2 - 20%) dari bunga-bunga merupakan bunga sempurna dengan bagian jantan dan betina yang berfungsi. Bagian terbesar merupakan bunga jantan.
Jumlah bunga dan panikel serta perbandingan bunga sempurna bervariasi menurut varietas mangga, musim dan kondisi cuaca. Semua faktor ini menyebabkan produksi buah yang tidak teratur yang merupakan ciri khas pohon mangga. Musim berbunga meliputi periode dua sampai tiga minggu dalam bulan Juni - Agustus.
Penyerbukan dilakukan oleh serangga, terutama oleh sejenis ulat kayu (thrips) dan lalat. Lebah tidak mencari madu di bunga mangga. Angin, hujan, dan suhu di bawah 15 - 16C sangat menghambat penyerbukan, tegarnya serbuk sari, pertumbuhan tabung serbuk sari, dan tumbuhnya buah.
Jangka waktu antara tumbuhnya buah dan masaknya buah dapat mencapai
lima bulan, bergantung pada varietas mangga dan suhu. Daging (mesokarp) buah mangga yang aromatis berwarna putih sampai kuning merupakan bagian yang dapat dimakan, walaupun di beberapa tempat di Indonesia juga biji mangga dimakan.
2. Persyaratan yang Berhubungan dengan Iklim dan Pertumbuhan
Salah satu ciri khas mangga ialah kemampuannya untuk berfungsi baik di daerah-daerah yang kering (curah hujan kurang dari 750 mm/tahun), walaupun pohon mangga hidup lebih baik didaerah tropik dan sub-tropik dengan curah hujan 1200 - 1500 mm/tahun. Musim kemarau yang nyata merupakan syarat mutlak untuk produksi buah yang memuaskan. Hujan waktu musim berkembang akan sangat mengurangi penyerbukan dan dengan demikian juga mengurangi produksi buah.
Suhu optimal untuk pertumbuhan berkisar antara 22 C dan 27 C pada ketinggian maksimal 1250 m atas muka laut. Perkebunan mangga yang baik terdapat pada ketinggian 600 - 700 m atas muka laut.Masa dingin yang berkepanjangan seperti yang terdapat di ketinggian- ketinggian yang tinggi di daerah tropik, sangat menghambat pertumbuhan pohon.
3. HAMA DAN PENYAKIT
3.1. Hama
1) Kepik mangga (Cryptorrhynoccus gravis)
Menyerang buah dan masuk ke dalamnya. Pengendalian: dengan semut merah
yang menyebabkan kepik tidak bertelur.
2) Bubuk buah mangga
Menyerang buah sampai tunas muda. Kulit buah kelihatan normal, bila dibelah
terlihat bagian dalamnya dimakan hama ini. Pengendalian: memusnahkan buah
mangga yang jatuh akibat hama ini, menggunakan pupuk kandang halus,
mencangkul tanah di sekitar batang pohon dan menyemprotkan insektisida ke
tanah yang telah dicangkul.
3) Bisul daun(Procontarinia matteiana.)
Gejala: daun menjadi berbisul dan daun menjadi berwarna coklat, hijau dan
kemerahan. Pengendalian: penyemprotan buah dan daun dengan Ripcord,
Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam seminggu, membakar daun yang
terserang, menggemburkan tanah untuk mengeluarkan kepompong dan
memperbaiki aerasi.
4) Lalat buah
Gejala: buah busuk, jatuh dan menurunkan produktivitas. Pengendalian: dengan
memusnahkan buah yang rusak, memberi umpan berupa larutan sabun atau metil
eugenol di dalam wadah dan insektisida.
5) Wereng ( Idiocerus clypealis, I. Niveosparsus, I. Atkinsoni)
Jenis wereng ini berbeda dengan yang menyerang padi. Wereng ini menyerang
daun, rangkaian bunga dan ranting sambil mengeluarkan cairan manis sehingga
mengundang semut api untuk memakan tunas atau kuncup. Cairan yang
membeku menimbulkan jamur kerak hitam. Pengendalian dengan insektisida
Diazinon dan pengasapan seminggu empat kali.
6) Tungau (Paratetranychus yothersi, Hemitarsonemus latus)
Tungau pertama menyerang daun mangga yang masih muda sedangkan yang
kedua menyerang permukaan daun mangga bagian bawah. Keduanya menyerang
rangkaian bunga. Pengendalian dengan menyemprotkan tepung belerang,
insektisida Diazinon atau Basudin.
7) Codot
Memakan buah mangga di malam hari. Pengendalian: dengan membiarkan
semut kerangkeng hidup di sela daun mangga, memasang kitiran angin berpeluit
dan melindungi pohon dengan jaring.
7.2. Penyakit
1) Penyakit mangga
Penyebab: jamur Gloeosporium mangifera. Jamur ini menyebabkan bunga
menjadi layu, buah busuk, daun berbintik-bintik hitam dan menggulung.
Pengendalian: fungisida Bubur Bordeaux.
2) Penyakit diplodia
Penyebab: jamur Diplodia sp. Tumbuh di luka tanaman muda hasil okulasi.
Pengendalian: dengan bubur bordeaux. Luka diolesi/ditutup parafin-carbolineum.
3) Cendawan jelaga
Penyebab: virus Meliola mangifera atau jamur Capmodium mangiferum. Daun
mangga yang diserang berwarna hitam seperti beledu. Warna hitam disebabkan
oleh jamur yang hidup di cairan manis. Pengendalian: dengan memberantas
serangga yang menghasilkan cairan manis dengan insektisida atau tepung
belerang.
4) Bercak karat merah
Penyebab: jamur Colletotrichum gloeosporiodes. Menyerang daun, ranting, bunga
dan tunas sehingga terbentuk bercak yang berwarna merah. Penyakit ini sangat
mempengaruhi proses pembuahan. Pengendalian: pemangkasan dahan, cabang,
ranting, menyemprotkan fungisida bubuk bordeaux atau sulfat tembaga.
5) Kudis buah
Menyerang tangkai bunga, bunga, ranting dan daun. Gejala: adanya bercak
kuning yang akan berubah menjadi abu-abu. Pembuahan tidak terjadi, bunga
berjatuhan. Pengendalian: fungisida Dithane M-45, Manzate atau Pigone tiga kali
seminggu dan memangkas tangkai bunga yang terserang.
6) Penyakit Blendok
Penyebab: jamur Diplodia recifensis yang hidup di dalam lubang yang dibuat oleh
kumbang Xyleborus affinis). Lubang mengeluarkan getah yang akan berubah warna menjadi coklat atau hitam. Pengendalian: memotong bagian yang sakit,
lubang ditutupi dengan kapas yang telah dicelupkan ke dalam insektisida dan
menyemprot pohon dengan bubur bordeaux.
7.3. Gulma
Benalu memberikan kerusakan dalam waktu pendek karena menyebabkan makanan
tidak diserap tanaman secara sempurna. Pengendalian dengan memotong cabang
yang terserang, menebang tanaman yang diserang benalu dengan berat.
4. PANEN
4.1. Ciri dan Umur Panen
Mangga cangkokan mulai berbuah pada umur 4 tahun, mangga okulasi pada umur
5-6 tahun. Banyaknya buah panen pertama hanya 10-15 buah, pada tahun ke 10
jumlah buah dapat mencapai 300-500 buah/pohon. Panen besar biasanya jatuh di
bulan September-Oktober.
Tanda buah sudah dapat dipanen adalah adanya buah yang jatuh karena matang
sedikitnya 1 buah/pohon, warna buah arumanis/manalagi berubah menjadi hijau tua
kebiruan, warna buah mangga golek/gedok berubah menjadi kuning/merah Buah
yang dipetik harus masih keras.
4.2. Cara Panen
Pada saat pemetikan, buah jangan sampai terpotong, tercongkel atau jatuh sampai
memar. Buah dipetik di sore hari dengan menggunakan pisau tajam atau dengan
galah yang diujungnya terdapat pisau dan keranjang penampung buah.
4.3. Periode Panen
Di Indonesia pohon mangga berbunga satu tahun sekali sehingga panen dilakukan
satu periode dalam satu tahun. Dari satu pohon, buah tidak akan masak bersamaan
sehingga dilakukan beberapa kali panen.
4.4. Perkiraan Produksi
Pohon muda okulasi menghasilkan 50-100 buah/tahun, meningkat sampai 300-500
buah pada umur 10 tahun, 1.000 buah pada umur 15 tahun dan 2.000 buah pada
waktu produksi maksimum di umur 20 tahun.
5. PASCAPANEN
5.1. Pengumpulan
Buah hasil panen dikumpulkan di tempat yang teduh.
5.2. Penyortiran dan Penggolongan
Mangga yang rusak dipisahkan dengan mangga yang mulus. Setelah sortasi buah
mangga dilap untuk menghilangkan getah yang dapat menurunkan mutu terutama
jika buah akan dipasarkan ke pasar swalayan atau luar negeri.
Buah yang akan dipasarkan di dalam negeri dapat diperam untuk mempercepat
pemasakan. Sortasi didasarkan berat buah atau ukuran buah. Kelas berdasarkan
berat buah antara lain:
a) Kelas I: > 320 gram/buah
b) Kelas II: 270 - 320 gram/buah
c) Kelas III: 200 - 270 gram/buah
Sedangkan berdasarkan ukuran buah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a) Klasifikasi Besar: arum manis > 17,5 cm, golek > 20 cm
b) Klasifikasi Sedang: arum manis 15 - 17,5 cm, golek 17,5 - 20 cm
c) Klasifikasi Kecil: arum manis < 15 cm, golek < 17,5 cm
5.3. Penyimpanan
Buah mangga yang telah dipetik disimpan ditempat yang kering, teduh dan sejuk.
6.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Di dalam negeri mangga tetap menjadi buah favorit pada saat musimnya. Buah yang
berkualitas tetap memiliki harga yang jauh lebih baik dan dapat menembus pasar
untuk kalangan menengah atas. Di luar negeri mangga adalah buah eksotik yang
banyak penggemarnya dan termasuk buah impor yang mahal. Potensi Indonesia
untuk mengekspor mangga begitu besar, tetapi pemanfaatannya tidak maksimal.
Untuk mensuplai kebutuhan mangga luar negeri yang harus kontinyu dan standard
mutu tidak berubah, diperlukan pengembangan agribisnis mangga yang mencakup
areal tanam luas dengan kultur teknis dan pasca panen yang terkendali.
7. STANDAR PRODUKSI
7.1.Ruang Lingkup
Standar produksi ini meliputi: klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara
uji, syarat penandaan dan pengemasan.
7.2.Diskripsi
Standar mutu mangga tercantum dalam standar Nasional Indonesia SNI 01-3164-
1992.
7.3.Klasifikasi dan Standar Mutu
Mangga digolongkan dalam 4 ukuran menurut kultifarnya yaitu besar sedang kecil
dan sangat kecil yang masing-masing digolongkan dalam 2 jenis mutu yaitu mutu I
dan mutu II
a) Arum manis: besar>400 gram, sedang 350-400 gram, kecil 300-349 gram, sangat
kecil 250-299 gram
b) Golek: besar>500 gram, sedang 450-500 gram, kecil 400-449 gram, sangat kecil
350-399 gram
c) Gedog: besar>250 gram, sedang 200-250 gram, kecil 150-199 gram, sangat kecil
100-149 gram
d) Manalagi: besar>400 gram, sedang 350-400 gram, kecil 300-349 gram, sangat
kecil 250-299 gram
Syarat mutu yang diterapkan untuk keempat golongan tersebut:
a. Karakteristik keasaman sifat varietas: mutu I seragam; mutu II seragam
b. Karakteristik tingkat ketuaan: mutu I tua tapi tidak terlalu matang; mutu II tua tapi
tidak terlalu matang
c. Karakteristik kekerasan: mutu I=keras; mutu II=cukup keras
d. Karakteristik ukuran: mutu I=seragam; mutu II=kurang seragam
e. Karakteristik kotoran: mutu I=bebas; mutu II=bebas
f. Karakteristik kerusakan: mutu I=5%; mutu II=10 %
g. Karakteristik busuk : mutu I=1%; mutu II=1%
7.4.Pengambilan Contoh
Satu partai/lot mangga terdiri dari maksimum 1000 kemasan. Contoh diambil secara
acak dari jumlah kemasan dalam 1 partai/lot seperti terlihat dibawah ini:
a) Jumlah kemasan dalam 1 partai/lot sampai dengan 100 : contoh yang diambil 5.
b) Jumlah kemasan dalam 1 partai/lot 101 – 300: contoh yang diambil 7.
c) Jumlah kemasan dalam 1 partai/lot 301 – 500: contoh yang diambil 9.
d) Jumlah kemasan dalam 1 partai/lot 501 – 1000: contoh yang diambil 10.
7.5.Pengemasan
Pengemasan buah manga dalam peti kayu, berat bersih setiap peti kayu maksimum
25 kg, susunan buah dalam peti kayu kompak dengan setiap buah yang diberi
pembungkus/ penyekat, atau kotak kotoran diberi penyekat dan lobang udara,
susunan buah dalam kotak karton satu lapis dengan berat bersih kotak karton
maksimum 10 kg.
Jumat, 10 Juni 2011
kecamatan tinggimoncong
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kecamatan Tinggimoncong merupakan salah satu kecamatan yang tergabung dalam wilayah administrasi Kabupaten Gowa, yang merupakan penyangga utama Kota Makassar adalah salah satu daerah yang istimewa dibanding dengan daerah lainnya. Industri hortikultura, industri perkebunan dan industri agrowisata sudah merambah ke daerah ini, khusus di daerah Malino, Ibukota Kecamatan Tinggimoncong adalah primadona perpariwisataan di Selawesi Selatan. Daerah yang berada diatas ketinggian 1.500 DPL, ini juga pemasok utama tanaman holtikultura ke Kota Makassar dan sekitarnya, bahkan hasil dari perkebunan ini sebahagian sudah di ekspor kebeberapa negara di Asia dan Eropa. Keadaan geografisnya di Kecamatan Tinggimoncong memang indah dan khas.
Kesemuanya ini baik langsung maupun tidak langsung menambah pendapatan penduduk, sehingga penduduk akan sejahtera, disamping itu perpindahan penduduk ke daerah ini meningkat dari tahun ketahun, tapi dibalik itu semua kita juga perlu menyadari akan dampak negatif yang timbul sebagai efek dari geliat ekonomi di daerah ini.
Atas alasan inilah, sehingga kami mengambil daerah kecamatan Tinggimoncong sebagai sampel dari praktek Desain dan Tata Ruang Pertanian, guna untuk menata atau menggali potensi yang bisa dicapai baik dari sektor pertanian itu sendiri ataupun dari perikanan, peternakan, kelautan, kehutanan, dan sebagainya.
1.2. Tujuan Hasil dan Sasaran
Tujuan dilaksanakannya menyusun laporan ini adalah mengetahui mengenai tentang kontur, kelerengan, penggunana lahan, potensi, permasalahan, tipologi pengembangan dan mengkaji kesesuaian lahan dan daya dukung wilayah dalam menentukan kapasitas pengembangan Kawasan Pertanian di Kecamatan Tinggimoncong. Kemudian melakukan inventarisasi data bagi potensi lahan untuk mengetahui luas lahan penggunaan potensial yang ingin dieksploitasi.
Adapun sasaran adalah tersusunnya Neraca Sumberdaya Penggunan Lahan dan basisdata sehingga digambarkan dalam peta wilayah dengan skala 1:50.000, dan skala 1: 1.000.000 dalam bentuk peta Kecamatan Tinggimoncong. Serta seluruh stakeholder pembangunan daerah, baik pemerintah, dunia usaha, dan utamanya adalah masyarakat pelaku usaha pertanian bekerjasama membangun tanah kelahirannya.
II. KEADAAN UMUM LOKASI
2.1. Administrasi Kependudukan dan Aksibilitas Wilayah
2.1.1. Letak Administrasi dan Batas Geografis
Kecamatan Tinggimoncong yang terdiri dari 7 desa yang meliputi Desa Parigi, Desa Bulutana, Desa Bontolerung, Desa Pattapang, Kelurahan Malino, Kelurahan Gantarang dan Desa Garassi.
2.1.2. Kependudukan
Penduduk yang tersedia dalam hal kuantitas merupakan potensi yang cukup besar dalam membangun suatu daerah. Kekurangan jumlah penduduk akan mempersulit jalannya suatu proses pembangunan sebab penduduk disamping sebagai obyek pembangunan juga berfungsi sebagai subyek pembangunan. sebagai obyek merupakan faktor yang sangat penting, disamping merupakan uama dalam suatu proses penduduk.
Pangkaan kualitas penduduk adalah hal yang mutlak harus dilakukan, sebab penduduk adalah titik sentral faktor produksi lainnya atau sebagai motor penggerak dari faktor-faktor produksi lainnya.
Upaya-upaya peningkatan produktivitas penduduk senantiasa dilakukan, dalam pengertian kuantitas penduduk diusahakan untuk dibina, diterampilkan agar bisa berproduksi atau mendatangkan manfaat. Yang tentu dengan sendirinya akan menghasilkan kesejahteraan pembangunan.
Pembangunan kependudukan dilaksanakan dengan mempertimbangkan keterkaitannya dengan upaya pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam, penciptaan keserasian antara generasi serta peningkatan kesejahteraan rakyat. Penduduk usia lanjut memiliki pengalaman dan kearifan yang luas sehingga perlu diberikan perhatian untuk berperan didalam pembangunan.
Selanjutnya pengendalian pertumbuhan penduduk juga dilakukan terutama untuk menurunkan angka kelahiran melalui gerakan KB Mandiri. Menurungkan angka kematian ibu dan anak Balita melalui program sayang ibu dan anak.
Pengendalian kuantias penduduk dilakukan dengan langkah yang berhubungan dengan penetapan jumlah, sruktur dan komposisi sera pertumbuhan dan persebaran penduduk yang ideal. Pengarahan mobilitas dan persebaran penduduk harus memperhatikan kemampuan daya dukung alam dan sesuai dengan tata ruang yang diselenggarakan melalui transmigrasi, peningkatan sarana penunjang pertumbuhan ekonomi di wilayah sebaran, serta pemberian intensif bagi tenaga kerja sehingga mampu menggairahkan tenaga terdidik/terlatih untuk mengabdi di wilayah pertumbuhan baru.
2.1.3. Kondisi ekonomi
Kecamatan Tinggimoncong merupakan wilayah dataran tinggi dengan ketinggian kira-kira 1050 mdpl yang sebagian besar wilayahnya berupa lahan pertanian menyebabkan mayoritas penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, baik sebagai petani pemilik lahan, petani penggarap ataupun buruh tani.
Selain sebagai petani, sebagian lainnya bekerja sebagai pedagang, pegawai atau karyawan. Sektor informal yang banyak membantu masyarakat Tinggimoncong dalam memperoleh pekerjaan adalah keberadaan tempat/obyek wisata beragam yang merupakan sumber penghasilan yang cukup memadai.
Dalam bidang pertanian, pemanfaatan pengairan yaitu irigasi sederhana dengan memanfaatkan air dari sungai Jeneberang dan sungai Bulang yang mampu mengairi areal persawahan walaupun pada musim kemarau. Musim panen terutama padi dua kali dalam satu tahun dan hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga satu tahun ke depan diharapkan pemanfaatan sungai tersebut dapat menampung air dengan teknologi yang lebuh canggih dan produksi pertanian terutama padi diharapkan akan semakin meningkat.
Bidang perdagangan dalam satu tahun kedepan diharapkan akan semakin besar konstribusinya terhadap peningkatan perekonomian masyarakat kecamatan Tinggimoncong.
Bidang pariwisata merupakan bidang yang diharapkan dapat meningkatkan tingkat pendapatan penduduk, karena ditunjang dengan beragamnya tempat dan obyek wisata di kecamatan ini seperti air terjun Takapala, lembah biru, air terjun Bulang serta perbaikan akses jalan menuju wilayah ini diharapkan akan lebih baik.
Perkembangan positif dibidang pertanian, perdagangan dan pariwisata di wilayah ini diperkirakan akan menyebabkan perekonomian di wilayah kecamatan Tinggimoncong tahun yang akan datang semakin menjanjikan.
2.1.4. Aksibilitas (Transportasi Darat, Laut, dan Udara)
Transportasi merupakan kebutuhan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam perkembangan interaksi antar daerah dan diharapkan dapat mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan di bidang ekonomi, perdagangan, pariwisata, social budaya, jasa pelayanan dan stabilitas keamanan. Sistem jaringan transportasi yang dimaksud adalah sistem jaringan jalan raya, kapal laut dan kapal udara, berfungsi menghubungkan sentra-sentra produksi ke sentrasentra/ node konsumsi. Dari segi fungsinya jalan raya meliputi jalan lokal, jalan kolektor, dan jalan arteri. Sedangkan dari segi manajemennya jalan raya meliputi jalan desa, jalan kabupaten, jalan provinsi dan jalan negara. Dalam menunjang perkembangan suatu wilayah, sistem transportasi sangat memegang peranan yang penting, sehingga penyediaan/pengembangan sarana dan prasarana perhubungan dalam suatu wilayah harus memadai dalam arti dapat menampung dan menunjang kelancaran aktivitas pergerakan yang ada dalam daerah itu sendiri maupun hubungannya dengan daerah lain. Penentuan Struktur Ruang tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi wilayah. Transportasi wilayah menentukan tingkat aksesibilitas wilayah. Kondisi transportasi darat untuk menghubungkan antar wilayah masih sangat minim, kondisinya juga masih sangat memprihatinkan.
2.2. Kondisi Wilayah
Jenis tanah di Kecamatan Tinggimoncong antara lain Tropodult, Troporthent, dan Tropohumult.
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Fergusson bahwa dikecamatan Tinggimoncong memiliki jumlah rata – rata bulan basah 9 (>100mm) dan rata – rata bulan kering 3(<65mm) termasuk dalam tipe iklim C. Kecamatan Tinggimoncong memiliki curah hujan tertinggi pada bulan Desember, Januari, Februari. Sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus dan September.
Adapun penggunaan lahan di Kecamatan Tinggimoncong pada umumnya didominasi oleh hutan, selain itu juga banyak terdapat belukar, ladang
2.2.1 Topografi
Wilayah Kecamatan Tinggimoncong memiliki topografi yang bervariasi, secara umum mulai dari datar, datar berbukit, datar bergelombang, bergelombang, dan curam.
2.2.2 Penggunaan Lahan
Di Kecamatan Tinggimoncong penggunan wilayah yaitu hutan, ladang, belukar, dan sawah. Pola pembangunan tanah yang sudah ada peruntukannya dan rencana alokasi penggunaan ruang berdasarkan Rencana Tata Ruang. Untuk mewujudkan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang pada skala wilayah dan kawasan, maka pola pemanfaatan ruang di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa terbagi dalam 2 (dua) kawasan, yaitu Kawasan Non-Budidaya dan Kawasan Budidaya. Dengan pola ini, proses penetapan kebijakan, peraturan, serta mekanisme perizinan dapat menjadi alat pengambilan keputusan dalam rangka perwujudan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang secara efektif. Kawasan-kawasan tersebut adalah sebagai berikut: Kawasan Non-Budidaya yaitu Kawasan Lindung, Hutan Suaka Alam dan Cagar Alam, dan Kawasan Perkebunan, Kawasan Budidaya Non-Pertanian yaitu Kawasan Pemukiman, Kawasan Pemukiman Transmigrasi dan Kawasan Pariwisata.
2.3 Perkembangan Sektor Wilayah
2.3.1 Pertanian
Potensi pertanian tanaman pangan yang yakni meliputi areal persawahan dengan potensi Irigasi. Tanaman pangan yang dikembangkan diantaranya padi, jagung, kedelai dan hortikultura yang tersebar pada kawasan potensial. Pada Tahun 2008 produksi padi (sawah dan ladang) mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2007.
Hasil dari tanaman buah-buahan pada umumnya mengalami peningkatan, antara lain Markisa yang mengalami peningkatan dari 1 kw pada tahun 2007 menjadi 37.847 kw pada tahun 2008. Produksi sayur-sayuran bahkan mengalami peningkatan drastis, kacang panjang misalnya, dari 71,2 ton naik menjadi 150 ton pada tahun 2008 atau naik sebesar 110,57%.
2.3.2 Peternakan
Jenis usaha peternakan dibudidayakan di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa dibagi atas dua jenis yakni ternak besar dan kecil meliputi: sapi, kerbau, kuda, dan kambing, sedangkan ternak unggas adalah ternak ayam buras, ayam petelur, ayam pedaging, itik dan manila.
2.3.3 Kehutanan
Berdasarkan data dan informasi dari Dinas Kehutanan Kabupaten Gowa bahwa potensi kehutanan yang ada di kawasan Hutan berupa kayu yaitu Kayu Rimba Campuran, meranti, jati dan kayu indah potensi luas 13500 ha dan potensi produksi 15000 m3, Getah Pinus 80000 ton dan potensi luas 15126 ha (8377 ha di Kec Tinggimoncong) dan Rotan potensi produksi 5000 ton (267 ha di Kec. Tinggimoncong). Disamping itu terdapat juga hasil non kayu lainnya Getah Damar Mata Kucing, Damar Batu, Damar Kopal, Damar Pilan, Damar Rasak, Damar Daging dan damar Gaharu. Hasil lainnya Madu, Gula aren ijuk, Kemiri, Kenari, Asam, sutra dan Kulit kayu manis.
III. METODOLOGI
3.1. Kompilasi Analisa dan Interpretasi Data
Data untuk menyusun rancangan pemetaan Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa yang terdiri dari data statistik merupakan data kondisi (tingkat kerusakan) dari berbagai waktu (minimal dua periode waktu), dan data peta. Data merupakan kondisi yang dianggap terkini. Untuk keperluan ini kedua jenis data tersebut diperoleh berdasarkan kompilasi dari berbagai sumber, terutama dari instansi sektoral terkait yang berwenang dengan masalah. Sehingga diperlukan analisa mengenai fakta wilayah yang menggambaran hasil jenis usaha dan tingkat teknologi di suatu wilayah atau sejauh mana aktivitas manusia dalam memanfaatkan sumber daya yang ada dalam suatu wilayah tertentu untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. Dikaitkan dengan Pemanfaatan Tata Ruang Undang-undang nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, yang sudah diperbaharui menjadi Undang-Undang No 26 tahun 2007 mengharuskan setiap daerah memiliki Tata Ruang yang disepakati dan dikuatkan dengan payung hukum berupa Peraturan Daerah. REVIEW RPJM-D Kabupaten Gowa Tahun 2006-2010 II – 5 Kebijakan tata ruang memiliki fungsi yang sangat penting di dalam mengoptimalkan pengembangan dan pendayagunaan segala potensi yang ada di daerah.
Dengan data Interpretasi Untuk pemetaan Kelerengan Penggunaan Lahan dan Unit Lahan dengan skala 1 : 50.000, merupakan program pemetaan Dasar Nasional yang data primer digunakan adalah Peta Rupabumi Indonesia pada lembar kerja Malino (2010 – 64) berasal dari data tahun 1991 menjadi peta aktiva yaitu peta yang menggambarkan kondisi/keadaan awal sumberdaya penggunan lahan. Peta ini digambarkan secara fotogrametri dari foto udara skala 1 : 100.000 tahun 1981-1982 yang diterbitkan oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) Cibinong BOGOR.
3.2. Pemetaan dan Pembuatan Rencana
Pemetaan merupakan rancangan Tata Ruang dengan langkah Kerja adalah: menggunakan Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1 : 1.000.000 yang dipergunakan dalam inventarisasi dan pemetaan kelerengan, penggunaan lahan dan unit lahan ini adalah melalui pendekatan teknik pemetaan secara manual. Prosedur dalam interpretasi yang dipergunakan mengacu kepada Spesifikasi Teknis Inventarisasi Sumberdaya Alam Untuk penyusunan melalui pendekatan Sistem Informasi Geografis dengan memanfaatkan data-data hasil inventarisasi dan pemetaan. Melakukan Metode Pengumpulan Data Primer dengan penyusunan rancangan sumberdaya alam untuk pemetaan untuk mendapatkan informasi yang lebih detil, terutama dalam rangka pengecekan pada daerah sampel.
Metode Pengumpulan Data Sekunder Untuk melaksanakan pengumpulan data sekunder adalah dengan cara sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi kebutuhan data yang diperlukan. Dari identifikasi data diketahui macam data yang diperlukan yaitu: Data liputan lahan tahun 1991. Data kondisi fisik dan sosial ekonomi dari BPS 2010 Kecamatan Tompobulu. Data kondisi fisik dalam bentuk peta: peta geologi dan peta sistem lahan skala 1: 50.000.
2) Mengadakan data dengan cara mengumpulkannya dari pihak produsen (owner).
Penyusunan pembuatan rencana peta lahan melakukan Studi tentang Rancangan sumberdaya alam secara umum ditujukan untuk melakukan monitoring dan evaluasi dari suatu sumberdaya alam tersebut. Oleh karena itu, pendekatan studi yang dilakukan adalah kajian terintegrasi (integrated study). Kajian terintegrasi ini ditunjukkan dengan proses kegiatan yang dimulai dari penyiapan data (inventarisasi data), penyusunan neraca untuk mengetahui perimbangannya, serta dilengkapi dengan kebutuhan informasi mengenai basisdata.
Selain itu untuk keperluan monitoring dan evaluasi dilakukan melalui penajaman (kajian yang lebih mendalam) yaitu menyangkut analisis aksebilitasi, kelerengan, pemanfaatan lahan dan potensi agronomi dari kondisi terakhir sumberdaya alam tersebut. Pada akhirnya hasil analisis diharapkan dapat memberikan kontribusinya dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat setempat.
IV. SKENARIO DESAIN TATA RUANG KECAMATAN TINGGIMONCONG
4.1. Analisa Aksibilitas
Penggunaan transportasi merupakan kebutuhan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam perkembangan interaksi antar daerah dan diharapkan dapat mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan di bidang ekonomi, perdagangan, pariwisata, social budaya, jasa pelayanan dan stabilitas keamanan. Perancangan dengan pertimbangan analisa untuk memperbaiki infrastruktur jalan. Dengan cara mendesain jalan itu sendiri dengan peningkatan jalan akses meliputi pembangunan jembatan dan jalan dengan persimpangan 1- 4 dengan lebar 6 meter aspal ketebalan fondasi dan aspal akan dihitung untuk kebutuhan kendaraan berat. Hal ini sesuai yang di kemukakan Wijanto (1996) bahwa Penentuan Struktur Ruang tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi wilayah. menentukan tingkat aksesibilitas wilayah.
4.2. Analisa Topografi
Wilayah Kecamatan Tinggimoncong memiliki topografi dari kemiringan lereng yakni :
0 – 3 % ( Datar)
3 – 8 % (Agak Datar)
8 – 15 % (Bergelombang)
15 – 25 % (Agak Curam)
25 – 45 % (Curam)
> 45 % (Sangat Curam)
4.3. Analisa Pemanfaatan Lahan
Di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa Merencanakan penggunan wilayah yaitu hutan, ladang, belukar, dan sawah. Dengan pola ini, proses penetapan kebijakan, peraturan, serta mekanisme perizinan dapat menjadi alat pengambilan keputusan dalam rangka perwujudan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang secara efektif. Pemanfatan Hutan, belukar, ladang dan dan sawah memberikan beragam manfaat bagi kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini sesuai yang di kemukakan Gardner dan Engleman (1999), bahwa secara langsung, hutan dapat menghasilkan kayu industri, kayu bakar, dan hasil hutan non kayu; menyediakan lahan untuk permukiman dan pertanian; dan lain sebagainya. Sementara itu secara tidak langsung, hutan dapat mengatur tata air dialam (hidrologi), menyimpan karbon, melestarikan keanekaragaman hayati dan habitat, pasokan oksigen, dan sebagai obyek pariwisata. Lahan hutan tidak hanya dimanfaatkan untuk dijadikan permukiman dan pertanian, tetapi juga menjadi berbagai macam kegunaan lahan lain yang sesuai dengan keinginan manusia.
4.4. Potensi Agronomi Daerah
Berdasarkan kondisi wilayah, serta mengenai potensi agronomi daerah dilakukan penetapan komoditas unggulan pertanian akan dikembangkan di Kecamatan Tinggi moncong Kabupaten Gowa. Komoditas unggulan yang ditetapkan meliputi komoditas bersifat unggulan secara ekonomi, strategis, dan prospektif. Komoditas unggulan tersebut adalah sebagai berikut: Komoditas Unggulan: merupakan komoditas yang telah berkembang dan memiliki peran besar dalam pembentukan produk domestik regional. Komoditas Strategis adalah tanaman pangan seperti padi, jagung, dan singkong. Selain tanaman pangan, daerah Kecamatan Tinggimoncong juga berpotensi untuk ditanami tanaman hortikultura seperti sayuran (kentang, kubis, daun bawang, tomat, dan lain-lain), dan buah-buahan (markisa, mangga, dan manggis). Merupakan komoditas yang telah berkembang tetapi memiliki peran tidak terlalu besar dalam pembentukan produk domestik regional, namun mempunyai nilai strategis dalam ketahanan pangan dan stabilitas sosial.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No 24 Tahun 1992 Pasal 1 ayat 6 sampai 8, ditetapkan bahwa:
a. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya
b. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.
c. Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
4.5. Skenario Rekomendasi Perencanaan
4.5.1 Rekomendasi Keadaan Umum Lokasi
Dalam perencanaan desain dan tata ruang pertanian pada daerah Kecamatan Tinggimoncong terdapat berbagai macam perencanaan yang signifikan yang membantu didalam proses peningkatan perubahan di daerah Malino tepatnya di Kecamatan Tinggimoncong secara menyeluruh baik didalam proses perubahan prospek pertanian sampai pada pembangunan jalan-jalan pada daerah Kecamatan Tinggimoncong.
Dalam laporan ini, kami sertakan berbagai perencanaan prospek peningkatan pertanian kedepannya dengan meninjau dari berbagai sisi diantaranya kami lampirkan peta kemiringan lereng, peta unit lahan, peta jalan dan sungai serta peta penggunaan lahan.
Selain perencanan peningkatan pertanian, tak kala pentingnya dalam pengembangan wilayah kota yaitu, pelestarian budaya – budaya dan pelestarian hutan lindung sehingga nantinya akan selaras dengan pengembangan wilayah tanpa harus menggeser akan pembangunan dan pengembangan dibidang pertanian.
Kelompok ini merupakan komoditas yang belum berkembang di Kecamatan Tinggi Moncong tetapi memiliki potensi permintaan yang besar, sehingga di masa datang dapat berperan dalam pembentukan produk domestik regional. Komoditas Kearifan Lokal : Markisa dikembangkan. Merekomendasikan Reboisasi terhadap hutan dan pembuatan ruang terbuka hijau dapat dilakukan pada daerah perkotaan sebagai lokasi resapan air. mengoptimalkan lahan perkebunan sebagai daerah pendukung lingkungan. Hal ini sesuai yang di kemukakan Ciptohadijoyo, (1999) bahwa Skenario rekomendasi perencangan daerah dengan system pemetaan harus mempertimbangkan segala aspek mulai dari kondisi geografis, sosial budaya, pertumbuhan ekonomi meliputi (pertanain, perkebunan, perindustrian, peternakan, kehutanan, dan lain-lain) dan melakukan perencanaan manster plan pertanian yang berkelanjutan dengan memanfaatkan Sumber Daya Alam yang tersedia.
Sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang PROPENAS 2000-2004 dalam rangka memberikan pemahaman dan keamanan persepsi bagi semua pihak terkait baik di pusat maupun di Daerah serta mensinergiskan pelaksannanya telah ditetapkan Pedoman Pengembangan KIMBUN sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pertanian No.v392/Kpts/OT.210/06/2002, Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIMBUN) adalah merupakan bentuk pendekatan pembangunan perkebunan yang menggunakan kawasan sebagai pusat pertumbuhan dan pengembangan sistim agribisnis dengan memamfaatkan lmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan dimensi ruang, waktu dan menejemen atas dasar kebersamaan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat secara berkesinambungan.
4.5.2 Rekomendasi Pembangunan Jalan
4.5.3 Rekomendasi penggunaan Lahan
Tanaman Pertanian, perkebunan, kehutanan dan belukar
Pertanian
Potensi pertanian tanaman pangan yang dimiliki oleh Kecamatan Tinggimoncong sangatlah besar, lahan di daerah tersebut masih dapat menghasilkan pendapatan ekonomi bagi warga sekitar di dua bulan berbeda (bulan basah dan bulan kering). Misalnya saja untuk tanaman pangan, untuk bulan basah dapat menanam padi, jagung, sorgum (sereal). Selain itu juga dapat ditanami kacang merah, kapri, buncis, dan mukuna (kacang-kacangan) serta ubi jalar, ubi kayu, talas, dan iles-iles (umbi-umbian). Sedangkan jika memasuki bulan kering, daerah tersebut masih dapat ditanami gandum, sorgum, ubijalar, dan ubi kayu.
Selain itu, pada umumnya Kecamatan Tinggimoncong juga dapat ditanami berbagai macam jenis sayuran baik itu pada bulan kering dan bulan basah. Pada bulan basah daerah ini cocok untuk ditanami kubis, gambas, selendri, selada, kentang, asparagus, brokoli, wortel, tomat, cabai, carica, bit, sawi, lettuce, kailan, petsai. Sedangkan untuk bulan kering cocok untuk ditanami bawang putih, dan daun bawang.
Kecamatan Tinggimoncong juga ternyata dapat ditanami berbagai jenis rempah – rempah, baik pada bulan basah maupun bulan keringnya. Pada bulan basah yang cocok untuk ditanam adalah cengkeh, jarak, kayu manis, kunyit, lengkuas, kapulaga, akar wangi, dan serai wangi. Sedangkan pada bulan kering cocok ditanami kemiri dan jarak.
Perkebunan
Untuk skala perkebunan, Kecamatan Tinggimoncong juga sangat cocok ditanami oleh berbagai jenis buah-buahan dan tanaman perkebunan lainnya baik pada bulan basah maupun pada bulan kering. Pada bulan basah cocok untuk ditanami buah jeruk, klengkeng, nangka, sukun, jambu air, jambu batu, sawo, kedondong, alpukat, kesemek, kina, teh, dan kopi Arabika. Sedangkan pada bulan kering cocok untuk ditanami buah apel, jeruk, alpukat, nangka, sukun, jambu batu, kedondong, klengkeng, kopi Arabika, tembakau, dan markisa.
Kehutanan
Pada Kecamatan Tinggimoncong tanaman hutan yang dapat berkembang dengan baik berdasarkan ketinggian tempatnya yakni Balsa, Jabon, Johar, Kaliandra, Kemiri, Mahoni, Meranti kuning, Sengon, dan tanaman pinus.
Belukar
Pada Kecamatan Tinggimoncong tanaman belukar yang cocok di tanami pada daerah tersebut yaitu Saga, Urang aring, Bayam-bayaman, Pegangan, dan Krokot.
Jenis – jenis penggunaan lahan untuk berbagai jenis tanaman
Hutan lindung
Di daerah Tinggimoncong terdapat beberapa desa yang memiliki huatn lindung dimana keberadaan hutan tersebut tidak dapat diganggu. Oleh karena itu, hutan lindung tersebut harus dapat sebaik mungkin di jaga kelestariannya guna sebagai tempat hidup beraneka ragam Flora dan Fauna. Di daerah hutan lindung tersebut meliputi berbagai desa seperti Bulu Lehaka, Bulu Lewakang, Bulu Batumenteng, Bulu diharelaju, Bulu Malenteng, Bulu Bontolaja, Bulu Bisolong, Bulu Batusipoko, dan sebagian dari daerah Bulu Kabulampoa.
Hutan Produksi
Pada Kecamatan Tinggimoncong terdapat banyak hutan, tetapi hutan tersebut kurang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kami merekomendasikan daerah hutan untuk diubah, dengan meningkatkan levelnya dari hutan biasa menjadi hutan produksi, tetapi tetap mempertahankan fungsi awal dari hutan tersebut. Adapun tanaman hutan yang kami rekomendasikan untuk penanaman adalah Pinus, Kemiri, Mahoni, dan Jabon. Jenis tanaman ini kita pilih dengan mempertimbangkan jenis tanah, ketinggian tempat, dan iklim wilayah setempat.
Adapun daerah yang kami rekomendasikan untuk dijadikan hutan produksi adalah daerah pengunungan pangkaleang, jambu kebo, bulu tanetelange, sebagian dari bulu batuejang, sebagian dari daerah bulu saringan dan sorongan, bulu ruku – ruku, bulu katoba, bulu bilang, dan bulu ganjeng.
Ladang dan Perkebunan
Ladang merupakan salah satu jenis penggunaan lahan terbesaar di Kecamatan Tinggimoncong. Pada kenyataanya memang sudah banyak ladang – ladang yang berproduksi di daerah tersebut. Akan tetapi, kami bermaksud untuk dapat meningkatkan pendapatan ekonomi dari warga sekitar dengan merekomendasikan tanaman ladang atau perkebunan yang sesuai untuk di Tanami pada daerah tersebut, baik di tinjau dari ketinggian tempat, iklim (bulan basah dan bulan kering), jenis tanah, serta beberapa pertimbangan dari berbagai aspek yang ada.
Adapun tanaman ladang yang kami rekomendasikan adalah sebagai berikut
• Kacang – kacangan seperti kacang buncis dan kacang merah
• Serealia seperti jagung dan sorgum.
• Sayuran seperti kubis, seledri, selada, kentang, brokoli, wortel, tomat, daun bawang, cabai, dan sawi
• Buah-buahan seperti jeruk, nangka, alpukat, dan markisa
• Perkebunan seperti the dan kopi arabika
• Obat – obatan dan rempah seperti cengkeh, jarak, kayu manis dan akar wangi.
Adapun daerah – daerah yang akan kami jadikan ladang diantaranya daerah malenteng, bulu pemokemama, bulu rea, bulu malahira, bulu parangkeda, bulu bontoloherang, bulu saleha, dan lekbasa.
Belukar
Pada Kecamatan Tinggimoncong hamper sebagian daerahnya di dominasi oleh hutan belukar. Pada kenyataanya masih banyak hutan belukar yang tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga tidak dapat menambah pendapatan ekonomi masyarakat di daerah tersebut, maka dari itu kami merekomendasikan hutan belukar tersebut dapat berproduksi semaksimal mungkin sehingga dapat menunjang kehidupan masyarakat sekitarnya. Akan tetapi tetap mempertahankan bentuknya sebagai hutan belukar. Salah satu cara dalam meningkatkan hutan belukar tersebut dengan mengganti atau mmperhatikan tanaman yang ada diskitar hutan belukar tersebut. Adapun tanaman yang cocok direkomendasikan dalam hutan belukar antara lain Saga (Abrus Precatorius, Linn), Urang Aring (Eclipta Prostata), Pengagan (Ginko biloba dan Centela Asiatica ), bayam- bayaman (Amarantaceae ), krokot (portulaca oleoraceae).
Adapun daerah persebaran belukar meliputi bulu buntala, sebagian dari bulu batu ejang, bulu karangpuang, bulu halahalaya, dan bulu bululoe.
Persawahan
Pada Kecamatan Tinggimoncong terdapat daerah persawahan antara lain jambu kebo, mandale, batu lapisi luar, langkoa, simbang, tombolo, mangrojai, mamapang, sekitar sungai balangloka dan balangbajang.
Perumahan
Kecamatan Tinggimoncong memilki daerah perumahan seperti patatuku, mamapang, sanggiringang, jaleko, ballacamba, lembangbata, paktekne, pattapang, biringpanting, langkoa, pabbarung, mangrojai, mappadang, mangrojaning, buki 1, buki 2, lapparanamangottong, bolongbuki, lappara, baraya, cengkong, cengkarana, mamangpang, benga, balasuka, lembangteko, sapiriborong, dan balangbolang.
V. KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, dapat disimpulkan Desain dan Tata Ruang Pertanian yang dilakukan pada daerah malino tepatnya kecamatan tinggimoncong yaitu setelah di adakan desain dan tata runag pada daerah malino tepatnya tinggi moncong ternyata daerah tersebut didominasi oleh belukar dan ladang, di prresentasikan daerah tersebut memilki belukar sekitar 45% , ladangnya sekitar 37 %, disusul urutan ketiga kawasan hutan di sekitar kecamatan tinggimoncong diperkirakan sekitar 25 %.
5.2 Saran
Sebaiknya pada praktikum Desain Tata Ruang Pertanian menjelaskan lebih rinci dan tersedia literatur atau materi tentang daerah akan didesain untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai pengolahan data primer dan skunder untuk merancang pembuatan rencana dan merekomendasi rancangan pemetaaan yang dilakukan baik secara manual maupun teknologi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Kaeadaan Geografis dan Perancangan daerah Kecamatan Tompbulu. http://fitoremediasi.blogspot.com/2011/02/kondisi geografis kecamatan Tompobulu html. Diakses pada hari Selasa, 27 Mei 2011: Makassar.
Badan Pusat Statistika Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa 2010.
Ciptohadijoyo, S., 1999. Desain Tata Ruang Pertanian. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.
Gardner, T., Engelman, R. 1999. Forest Futures: Population, Consumption and
Wood Resources. Population Action International. Washington
Nilwan, 2003. Desain Tata Ruang Pertanian. Fakultas Pertanian Hasauddin.Makassar.
Suryadi, 2003. Penggunaan Wilayah, Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar.
Wijanto. 1996. Kondisi Geografis Kecamatan Kabupaten Gowa. PT. Penebar Swadaya : Makassar.
1.1. Latar Belakang
Kecamatan Tinggimoncong merupakan salah satu kecamatan yang tergabung dalam wilayah administrasi Kabupaten Gowa, yang merupakan penyangga utama Kota Makassar adalah salah satu daerah yang istimewa dibanding dengan daerah lainnya. Industri hortikultura, industri perkebunan dan industri agrowisata sudah merambah ke daerah ini, khusus di daerah Malino, Ibukota Kecamatan Tinggimoncong adalah primadona perpariwisataan di Selawesi Selatan. Daerah yang berada diatas ketinggian 1.500 DPL, ini juga pemasok utama tanaman holtikultura ke Kota Makassar dan sekitarnya, bahkan hasil dari perkebunan ini sebahagian sudah di ekspor kebeberapa negara di Asia dan Eropa. Keadaan geografisnya di Kecamatan Tinggimoncong memang indah dan khas.
Kesemuanya ini baik langsung maupun tidak langsung menambah pendapatan penduduk, sehingga penduduk akan sejahtera, disamping itu perpindahan penduduk ke daerah ini meningkat dari tahun ketahun, tapi dibalik itu semua kita juga perlu menyadari akan dampak negatif yang timbul sebagai efek dari geliat ekonomi di daerah ini.
Atas alasan inilah, sehingga kami mengambil daerah kecamatan Tinggimoncong sebagai sampel dari praktek Desain dan Tata Ruang Pertanian, guna untuk menata atau menggali potensi yang bisa dicapai baik dari sektor pertanian itu sendiri ataupun dari perikanan, peternakan, kelautan, kehutanan, dan sebagainya.
1.2. Tujuan Hasil dan Sasaran
Tujuan dilaksanakannya menyusun laporan ini adalah mengetahui mengenai tentang kontur, kelerengan, penggunana lahan, potensi, permasalahan, tipologi pengembangan dan mengkaji kesesuaian lahan dan daya dukung wilayah dalam menentukan kapasitas pengembangan Kawasan Pertanian di Kecamatan Tinggimoncong. Kemudian melakukan inventarisasi data bagi potensi lahan untuk mengetahui luas lahan penggunaan potensial yang ingin dieksploitasi.
Adapun sasaran adalah tersusunnya Neraca Sumberdaya Penggunan Lahan dan basisdata sehingga digambarkan dalam peta wilayah dengan skala 1:50.000, dan skala 1: 1.000.000 dalam bentuk peta Kecamatan Tinggimoncong. Serta seluruh stakeholder pembangunan daerah, baik pemerintah, dunia usaha, dan utamanya adalah masyarakat pelaku usaha pertanian bekerjasama membangun tanah kelahirannya.
II. KEADAAN UMUM LOKASI
2.1. Administrasi Kependudukan dan Aksibilitas Wilayah
2.1.1. Letak Administrasi dan Batas Geografis
Kecamatan Tinggimoncong yang terdiri dari 7 desa yang meliputi Desa Parigi, Desa Bulutana, Desa Bontolerung, Desa Pattapang, Kelurahan Malino, Kelurahan Gantarang dan Desa Garassi.
2.1.2. Kependudukan
Penduduk yang tersedia dalam hal kuantitas merupakan potensi yang cukup besar dalam membangun suatu daerah. Kekurangan jumlah penduduk akan mempersulit jalannya suatu proses pembangunan sebab penduduk disamping sebagai obyek pembangunan juga berfungsi sebagai subyek pembangunan. sebagai obyek merupakan faktor yang sangat penting, disamping merupakan uama dalam suatu proses penduduk.
Pangkaan kualitas penduduk adalah hal yang mutlak harus dilakukan, sebab penduduk adalah titik sentral faktor produksi lainnya atau sebagai motor penggerak dari faktor-faktor produksi lainnya.
Upaya-upaya peningkatan produktivitas penduduk senantiasa dilakukan, dalam pengertian kuantitas penduduk diusahakan untuk dibina, diterampilkan agar bisa berproduksi atau mendatangkan manfaat. Yang tentu dengan sendirinya akan menghasilkan kesejahteraan pembangunan.
Pembangunan kependudukan dilaksanakan dengan mempertimbangkan keterkaitannya dengan upaya pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam, penciptaan keserasian antara generasi serta peningkatan kesejahteraan rakyat. Penduduk usia lanjut memiliki pengalaman dan kearifan yang luas sehingga perlu diberikan perhatian untuk berperan didalam pembangunan.
Selanjutnya pengendalian pertumbuhan penduduk juga dilakukan terutama untuk menurunkan angka kelahiran melalui gerakan KB Mandiri. Menurungkan angka kematian ibu dan anak Balita melalui program sayang ibu dan anak.
Pengendalian kuantias penduduk dilakukan dengan langkah yang berhubungan dengan penetapan jumlah, sruktur dan komposisi sera pertumbuhan dan persebaran penduduk yang ideal. Pengarahan mobilitas dan persebaran penduduk harus memperhatikan kemampuan daya dukung alam dan sesuai dengan tata ruang yang diselenggarakan melalui transmigrasi, peningkatan sarana penunjang pertumbuhan ekonomi di wilayah sebaran, serta pemberian intensif bagi tenaga kerja sehingga mampu menggairahkan tenaga terdidik/terlatih untuk mengabdi di wilayah pertumbuhan baru.
2.1.3. Kondisi ekonomi
Kecamatan Tinggimoncong merupakan wilayah dataran tinggi dengan ketinggian kira-kira 1050 mdpl yang sebagian besar wilayahnya berupa lahan pertanian menyebabkan mayoritas penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, baik sebagai petani pemilik lahan, petani penggarap ataupun buruh tani.
Selain sebagai petani, sebagian lainnya bekerja sebagai pedagang, pegawai atau karyawan. Sektor informal yang banyak membantu masyarakat Tinggimoncong dalam memperoleh pekerjaan adalah keberadaan tempat/obyek wisata beragam yang merupakan sumber penghasilan yang cukup memadai.
Dalam bidang pertanian, pemanfaatan pengairan yaitu irigasi sederhana dengan memanfaatkan air dari sungai Jeneberang dan sungai Bulang yang mampu mengairi areal persawahan walaupun pada musim kemarau. Musim panen terutama padi dua kali dalam satu tahun dan hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga satu tahun ke depan diharapkan pemanfaatan sungai tersebut dapat menampung air dengan teknologi yang lebuh canggih dan produksi pertanian terutama padi diharapkan akan semakin meningkat.
Bidang perdagangan dalam satu tahun kedepan diharapkan akan semakin besar konstribusinya terhadap peningkatan perekonomian masyarakat kecamatan Tinggimoncong.
Bidang pariwisata merupakan bidang yang diharapkan dapat meningkatkan tingkat pendapatan penduduk, karena ditunjang dengan beragamnya tempat dan obyek wisata di kecamatan ini seperti air terjun Takapala, lembah biru, air terjun Bulang serta perbaikan akses jalan menuju wilayah ini diharapkan akan lebih baik.
Perkembangan positif dibidang pertanian, perdagangan dan pariwisata di wilayah ini diperkirakan akan menyebabkan perekonomian di wilayah kecamatan Tinggimoncong tahun yang akan datang semakin menjanjikan.
2.1.4. Aksibilitas (Transportasi Darat, Laut, dan Udara)
Transportasi merupakan kebutuhan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam perkembangan interaksi antar daerah dan diharapkan dapat mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan di bidang ekonomi, perdagangan, pariwisata, social budaya, jasa pelayanan dan stabilitas keamanan. Sistem jaringan transportasi yang dimaksud adalah sistem jaringan jalan raya, kapal laut dan kapal udara, berfungsi menghubungkan sentra-sentra produksi ke sentrasentra/ node konsumsi. Dari segi fungsinya jalan raya meliputi jalan lokal, jalan kolektor, dan jalan arteri. Sedangkan dari segi manajemennya jalan raya meliputi jalan desa, jalan kabupaten, jalan provinsi dan jalan negara. Dalam menunjang perkembangan suatu wilayah, sistem transportasi sangat memegang peranan yang penting, sehingga penyediaan/pengembangan sarana dan prasarana perhubungan dalam suatu wilayah harus memadai dalam arti dapat menampung dan menunjang kelancaran aktivitas pergerakan yang ada dalam daerah itu sendiri maupun hubungannya dengan daerah lain. Penentuan Struktur Ruang tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi wilayah. Transportasi wilayah menentukan tingkat aksesibilitas wilayah. Kondisi transportasi darat untuk menghubungkan antar wilayah masih sangat minim, kondisinya juga masih sangat memprihatinkan.
2.2. Kondisi Wilayah
Jenis tanah di Kecamatan Tinggimoncong antara lain Tropodult, Troporthent, dan Tropohumult.
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Fergusson bahwa dikecamatan Tinggimoncong memiliki jumlah rata – rata bulan basah 9 (>100mm) dan rata – rata bulan kering 3(<65mm) termasuk dalam tipe iklim C. Kecamatan Tinggimoncong memiliki curah hujan tertinggi pada bulan Desember, Januari, Februari. Sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus dan September.
Adapun penggunaan lahan di Kecamatan Tinggimoncong pada umumnya didominasi oleh hutan, selain itu juga banyak terdapat belukar, ladang
2.2.1 Topografi
Wilayah Kecamatan Tinggimoncong memiliki topografi yang bervariasi, secara umum mulai dari datar, datar berbukit, datar bergelombang, bergelombang, dan curam.
2.2.2 Penggunaan Lahan
Di Kecamatan Tinggimoncong penggunan wilayah yaitu hutan, ladang, belukar, dan sawah. Pola pembangunan tanah yang sudah ada peruntukannya dan rencana alokasi penggunaan ruang berdasarkan Rencana Tata Ruang. Untuk mewujudkan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang pada skala wilayah dan kawasan, maka pola pemanfaatan ruang di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa terbagi dalam 2 (dua) kawasan, yaitu Kawasan Non-Budidaya dan Kawasan Budidaya. Dengan pola ini, proses penetapan kebijakan, peraturan, serta mekanisme perizinan dapat menjadi alat pengambilan keputusan dalam rangka perwujudan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang secara efektif. Kawasan-kawasan tersebut adalah sebagai berikut: Kawasan Non-Budidaya yaitu Kawasan Lindung, Hutan Suaka Alam dan Cagar Alam, dan Kawasan Perkebunan, Kawasan Budidaya Non-Pertanian yaitu Kawasan Pemukiman, Kawasan Pemukiman Transmigrasi dan Kawasan Pariwisata.
2.3 Perkembangan Sektor Wilayah
2.3.1 Pertanian
Potensi pertanian tanaman pangan yang yakni meliputi areal persawahan dengan potensi Irigasi. Tanaman pangan yang dikembangkan diantaranya padi, jagung, kedelai dan hortikultura yang tersebar pada kawasan potensial. Pada Tahun 2008 produksi padi (sawah dan ladang) mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2007.
Hasil dari tanaman buah-buahan pada umumnya mengalami peningkatan, antara lain Markisa yang mengalami peningkatan dari 1 kw pada tahun 2007 menjadi 37.847 kw pada tahun 2008. Produksi sayur-sayuran bahkan mengalami peningkatan drastis, kacang panjang misalnya, dari 71,2 ton naik menjadi 150 ton pada tahun 2008 atau naik sebesar 110,57%.
2.3.2 Peternakan
Jenis usaha peternakan dibudidayakan di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa dibagi atas dua jenis yakni ternak besar dan kecil meliputi: sapi, kerbau, kuda, dan kambing, sedangkan ternak unggas adalah ternak ayam buras, ayam petelur, ayam pedaging, itik dan manila.
2.3.3 Kehutanan
Berdasarkan data dan informasi dari Dinas Kehutanan Kabupaten Gowa bahwa potensi kehutanan yang ada di kawasan Hutan berupa kayu yaitu Kayu Rimba Campuran, meranti, jati dan kayu indah potensi luas 13500 ha dan potensi produksi 15000 m3, Getah Pinus 80000 ton dan potensi luas 15126 ha (8377 ha di Kec Tinggimoncong) dan Rotan potensi produksi 5000 ton (267 ha di Kec. Tinggimoncong). Disamping itu terdapat juga hasil non kayu lainnya Getah Damar Mata Kucing, Damar Batu, Damar Kopal, Damar Pilan, Damar Rasak, Damar Daging dan damar Gaharu. Hasil lainnya Madu, Gula aren ijuk, Kemiri, Kenari, Asam, sutra dan Kulit kayu manis.
III. METODOLOGI
3.1. Kompilasi Analisa dan Interpretasi Data
Data untuk menyusun rancangan pemetaan Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa yang terdiri dari data statistik merupakan data kondisi (tingkat kerusakan) dari berbagai waktu (minimal dua periode waktu), dan data peta. Data merupakan kondisi yang dianggap terkini. Untuk keperluan ini kedua jenis data tersebut diperoleh berdasarkan kompilasi dari berbagai sumber, terutama dari instansi sektoral terkait yang berwenang dengan masalah. Sehingga diperlukan analisa mengenai fakta wilayah yang menggambaran hasil jenis usaha dan tingkat teknologi di suatu wilayah atau sejauh mana aktivitas manusia dalam memanfaatkan sumber daya yang ada dalam suatu wilayah tertentu untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. Dikaitkan dengan Pemanfaatan Tata Ruang Undang-undang nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, yang sudah diperbaharui menjadi Undang-Undang No 26 tahun 2007 mengharuskan setiap daerah memiliki Tata Ruang yang disepakati dan dikuatkan dengan payung hukum berupa Peraturan Daerah. REVIEW RPJM-D Kabupaten Gowa Tahun 2006-2010 II – 5 Kebijakan tata ruang memiliki fungsi yang sangat penting di dalam mengoptimalkan pengembangan dan pendayagunaan segala potensi yang ada di daerah.
Dengan data Interpretasi Untuk pemetaan Kelerengan Penggunaan Lahan dan Unit Lahan dengan skala 1 : 50.000, merupakan program pemetaan Dasar Nasional yang data primer digunakan adalah Peta Rupabumi Indonesia pada lembar kerja Malino (2010 – 64) berasal dari data tahun 1991 menjadi peta aktiva yaitu peta yang menggambarkan kondisi/keadaan awal sumberdaya penggunan lahan. Peta ini digambarkan secara fotogrametri dari foto udara skala 1 : 100.000 tahun 1981-1982 yang diterbitkan oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) Cibinong BOGOR.
3.2. Pemetaan dan Pembuatan Rencana
Pemetaan merupakan rancangan Tata Ruang dengan langkah Kerja adalah: menggunakan Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1 : 1.000.000 yang dipergunakan dalam inventarisasi dan pemetaan kelerengan, penggunaan lahan dan unit lahan ini adalah melalui pendekatan teknik pemetaan secara manual. Prosedur dalam interpretasi yang dipergunakan mengacu kepada Spesifikasi Teknis Inventarisasi Sumberdaya Alam Untuk penyusunan melalui pendekatan Sistem Informasi Geografis dengan memanfaatkan data-data hasil inventarisasi dan pemetaan. Melakukan Metode Pengumpulan Data Primer dengan penyusunan rancangan sumberdaya alam untuk pemetaan untuk mendapatkan informasi yang lebih detil, terutama dalam rangka pengecekan pada daerah sampel.
Metode Pengumpulan Data Sekunder Untuk melaksanakan pengumpulan data sekunder adalah dengan cara sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi kebutuhan data yang diperlukan. Dari identifikasi data diketahui macam data yang diperlukan yaitu: Data liputan lahan tahun 1991. Data kondisi fisik dan sosial ekonomi dari BPS 2010 Kecamatan Tompobulu. Data kondisi fisik dalam bentuk peta: peta geologi dan peta sistem lahan skala 1: 50.000.
2) Mengadakan data dengan cara mengumpulkannya dari pihak produsen (owner).
Penyusunan pembuatan rencana peta lahan melakukan Studi tentang Rancangan sumberdaya alam secara umum ditujukan untuk melakukan monitoring dan evaluasi dari suatu sumberdaya alam tersebut. Oleh karena itu, pendekatan studi yang dilakukan adalah kajian terintegrasi (integrated study). Kajian terintegrasi ini ditunjukkan dengan proses kegiatan yang dimulai dari penyiapan data (inventarisasi data), penyusunan neraca untuk mengetahui perimbangannya, serta dilengkapi dengan kebutuhan informasi mengenai basisdata.
Selain itu untuk keperluan monitoring dan evaluasi dilakukan melalui penajaman (kajian yang lebih mendalam) yaitu menyangkut analisis aksebilitasi, kelerengan, pemanfaatan lahan dan potensi agronomi dari kondisi terakhir sumberdaya alam tersebut. Pada akhirnya hasil analisis diharapkan dapat memberikan kontribusinya dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat setempat.
IV. SKENARIO DESAIN TATA RUANG KECAMATAN TINGGIMONCONG
4.1. Analisa Aksibilitas
Penggunaan transportasi merupakan kebutuhan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam perkembangan interaksi antar daerah dan diharapkan dapat mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan di bidang ekonomi, perdagangan, pariwisata, social budaya, jasa pelayanan dan stabilitas keamanan. Perancangan dengan pertimbangan analisa untuk memperbaiki infrastruktur jalan. Dengan cara mendesain jalan itu sendiri dengan peningkatan jalan akses meliputi pembangunan jembatan dan jalan dengan persimpangan 1- 4 dengan lebar 6 meter aspal ketebalan fondasi dan aspal akan dihitung untuk kebutuhan kendaraan berat. Hal ini sesuai yang di kemukakan Wijanto (1996) bahwa Penentuan Struktur Ruang tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi wilayah. menentukan tingkat aksesibilitas wilayah.
4.2. Analisa Topografi
Wilayah Kecamatan Tinggimoncong memiliki topografi dari kemiringan lereng yakni :
0 – 3 % ( Datar)
3 – 8 % (Agak Datar)
8 – 15 % (Bergelombang)
15 – 25 % (Agak Curam)
25 – 45 % (Curam)
> 45 % (Sangat Curam)
4.3. Analisa Pemanfaatan Lahan
Di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa Merencanakan penggunan wilayah yaitu hutan, ladang, belukar, dan sawah. Dengan pola ini, proses penetapan kebijakan, peraturan, serta mekanisme perizinan dapat menjadi alat pengambilan keputusan dalam rangka perwujudan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang secara efektif. Pemanfatan Hutan, belukar, ladang dan dan sawah memberikan beragam manfaat bagi kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini sesuai yang di kemukakan Gardner dan Engleman (1999), bahwa secara langsung, hutan dapat menghasilkan kayu industri, kayu bakar, dan hasil hutan non kayu; menyediakan lahan untuk permukiman dan pertanian; dan lain sebagainya. Sementara itu secara tidak langsung, hutan dapat mengatur tata air dialam (hidrologi), menyimpan karbon, melestarikan keanekaragaman hayati dan habitat, pasokan oksigen, dan sebagai obyek pariwisata. Lahan hutan tidak hanya dimanfaatkan untuk dijadikan permukiman dan pertanian, tetapi juga menjadi berbagai macam kegunaan lahan lain yang sesuai dengan keinginan manusia.
4.4. Potensi Agronomi Daerah
Berdasarkan kondisi wilayah, serta mengenai potensi agronomi daerah dilakukan penetapan komoditas unggulan pertanian akan dikembangkan di Kecamatan Tinggi moncong Kabupaten Gowa. Komoditas unggulan yang ditetapkan meliputi komoditas bersifat unggulan secara ekonomi, strategis, dan prospektif. Komoditas unggulan tersebut adalah sebagai berikut: Komoditas Unggulan: merupakan komoditas yang telah berkembang dan memiliki peran besar dalam pembentukan produk domestik regional. Komoditas Strategis adalah tanaman pangan seperti padi, jagung, dan singkong. Selain tanaman pangan, daerah Kecamatan Tinggimoncong juga berpotensi untuk ditanami tanaman hortikultura seperti sayuran (kentang, kubis, daun bawang, tomat, dan lain-lain), dan buah-buahan (markisa, mangga, dan manggis). Merupakan komoditas yang telah berkembang tetapi memiliki peran tidak terlalu besar dalam pembentukan produk domestik regional, namun mempunyai nilai strategis dalam ketahanan pangan dan stabilitas sosial.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No 24 Tahun 1992 Pasal 1 ayat 6 sampai 8, ditetapkan bahwa:
a. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya
b. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.
c. Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
4.5. Skenario Rekomendasi Perencanaan
4.5.1 Rekomendasi Keadaan Umum Lokasi
Dalam perencanaan desain dan tata ruang pertanian pada daerah Kecamatan Tinggimoncong terdapat berbagai macam perencanaan yang signifikan yang membantu didalam proses peningkatan perubahan di daerah Malino tepatnya di Kecamatan Tinggimoncong secara menyeluruh baik didalam proses perubahan prospek pertanian sampai pada pembangunan jalan-jalan pada daerah Kecamatan Tinggimoncong.
Dalam laporan ini, kami sertakan berbagai perencanaan prospek peningkatan pertanian kedepannya dengan meninjau dari berbagai sisi diantaranya kami lampirkan peta kemiringan lereng, peta unit lahan, peta jalan dan sungai serta peta penggunaan lahan.
Selain perencanan peningkatan pertanian, tak kala pentingnya dalam pengembangan wilayah kota yaitu, pelestarian budaya – budaya dan pelestarian hutan lindung sehingga nantinya akan selaras dengan pengembangan wilayah tanpa harus menggeser akan pembangunan dan pengembangan dibidang pertanian.
Kelompok ini merupakan komoditas yang belum berkembang di Kecamatan Tinggi Moncong tetapi memiliki potensi permintaan yang besar, sehingga di masa datang dapat berperan dalam pembentukan produk domestik regional. Komoditas Kearifan Lokal : Markisa dikembangkan. Merekomendasikan Reboisasi terhadap hutan dan pembuatan ruang terbuka hijau dapat dilakukan pada daerah perkotaan sebagai lokasi resapan air. mengoptimalkan lahan perkebunan sebagai daerah pendukung lingkungan. Hal ini sesuai yang di kemukakan Ciptohadijoyo, (1999) bahwa Skenario rekomendasi perencangan daerah dengan system pemetaan harus mempertimbangkan segala aspek mulai dari kondisi geografis, sosial budaya, pertumbuhan ekonomi meliputi (pertanain, perkebunan, perindustrian, peternakan, kehutanan, dan lain-lain) dan melakukan perencanaan manster plan pertanian yang berkelanjutan dengan memanfaatkan Sumber Daya Alam yang tersedia.
Sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang PROPENAS 2000-2004 dalam rangka memberikan pemahaman dan keamanan persepsi bagi semua pihak terkait baik di pusat maupun di Daerah serta mensinergiskan pelaksannanya telah ditetapkan Pedoman Pengembangan KIMBUN sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pertanian No.v392/Kpts/OT.210/06/2002, Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIMBUN) adalah merupakan bentuk pendekatan pembangunan perkebunan yang menggunakan kawasan sebagai pusat pertumbuhan dan pengembangan sistim agribisnis dengan memamfaatkan lmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan dimensi ruang, waktu dan menejemen atas dasar kebersamaan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat secara berkesinambungan.
4.5.2 Rekomendasi Pembangunan Jalan
4.5.3 Rekomendasi penggunaan Lahan
Tanaman Pertanian, perkebunan, kehutanan dan belukar
Pertanian
Potensi pertanian tanaman pangan yang dimiliki oleh Kecamatan Tinggimoncong sangatlah besar, lahan di daerah tersebut masih dapat menghasilkan pendapatan ekonomi bagi warga sekitar di dua bulan berbeda (bulan basah dan bulan kering). Misalnya saja untuk tanaman pangan, untuk bulan basah dapat menanam padi, jagung, sorgum (sereal). Selain itu juga dapat ditanami kacang merah, kapri, buncis, dan mukuna (kacang-kacangan) serta ubi jalar, ubi kayu, talas, dan iles-iles (umbi-umbian). Sedangkan jika memasuki bulan kering, daerah tersebut masih dapat ditanami gandum, sorgum, ubijalar, dan ubi kayu.
Selain itu, pada umumnya Kecamatan Tinggimoncong juga dapat ditanami berbagai macam jenis sayuran baik itu pada bulan kering dan bulan basah. Pada bulan basah daerah ini cocok untuk ditanami kubis, gambas, selendri, selada, kentang, asparagus, brokoli, wortel, tomat, cabai, carica, bit, sawi, lettuce, kailan, petsai. Sedangkan untuk bulan kering cocok untuk ditanami bawang putih, dan daun bawang.
Kecamatan Tinggimoncong juga ternyata dapat ditanami berbagai jenis rempah – rempah, baik pada bulan basah maupun bulan keringnya. Pada bulan basah yang cocok untuk ditanam adalah cengkeh, jarak, kayu manis, kunyit, lengkuas, kapulaga, akar wangi, dan serai wangi. Sedangkan pada bulan kering cocok ditanami kemiri dan jarak.
Perkebunan
Untuk skala perkebunan, Kecamatan Tinggimoncong juga sangat cocok ditanami oleh berbagai jenis buah-buahan dan tanaman perkebunan lainnya baik pada bulan basah maupun pada bulan kering. Pada bulan basah cocok untuk ditanami buah jeruk, klengkeng, nangka, sukun, jambu air, jambu batu, sawo, kedondong, alpukat, kesemek, kina, teh, dan kopi Arabika. Sedangkan pada bulan kering cocok untuk ditanami buah apel, jeruk, alpukat, nangka, sukun, jambu batu, kedondong, klengkeng, kopi Arabika, tembakau, dan markisa.
Kehutanan
Pada Kecamatan Tinggimoncong tanaman hutan yang dapat berkembang dengan baik berdasarkan ketinggian tempatnya yakni Balsa, Jabon, Johar, Kaliandra, Kemiri, Mahoni, Meranti kuning, Sengon, dan tanaman pinus.
Belukar
Pada Kecamatan Tinggimoncong tanaman belukar yang cocok di tanami pada daerah tersebut yaitu Saga, Urang aring, Bayam-bayaman, Pegangan, dan Krokot.
Jenis – jenis penggunaan lahan untuk berbagai jenis tanaman
Hutan lindung
Di daerah Tinggimoncong terdapat beberapa desa yang memiliki huatn lindung dimana keberadaan hutan tersebut tidak dapat diganggu. Oleh karena itu, hutan lindung tersebut harus dapat sebaik mungkin di jaga kelestariannya guna sebagai tempat hidup beraneka ragam Flora dan Fauna. Di daerah hutan lindung tersebut meliputi berbagai desa seperti Bulu Lehaka, Bulu Lewakang, Bulu Batumenteng, Bulu diharelaju, Bulu Malenteng, Bulu Bontolaja, Bulu Bisolong, Bulu Batusipoko, dan sebagian dari daerah Bulu Kabulampoa.
Hutan Produksi
Pada Kecamatan Tinggimoncong terdapat banyak hutan, tetapi hutan tersebut kurang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kami merekomendasikan daerah hutan untuk diubah, dengan meningkatkan levelnya dari hutan biasa menjadi hutan produksi, tetapi tetap mempertahankan fungsi awal dari hutan tersebut. Adapun tanaman hutan yang kami rekomendasikan untuk penanaman adalah Pinus, Kemiri, Mahoni, dan Jabon. Jenis tanaman ini kita pilih dengan mempertimbangkan jenis tanah, ketinggian tempat, dan iklim wilayah setempat.
Adapun daerah yang kami rekomendasikan untuk dijadikan hutan produksi adalah daerah pengunungan pangkaleang, jambu kebo, bulu tanetelange, sebagian dari bulu batuejang, sebagian dari daerah bulu saringan dan sorongan, bulu ruku – ruku, bulu katoba, bulu bilang, dan bulu ganjeng.
Ladang dan Perkebunan
Ladang merupakan salah satu jenis penggunaan lahan terbesaar di Kecamatan Tinggimoncong. Pada kenyataanya memang sudah banyak ladang – ladang yang berproduksi di daerah tersebut. Akan tetapi, kami bermaksud untuk dapat meningkatkan pendapatan ekonomi dari warga sekitar dengan merekomendasikan tanaman ladang atau perkebunan yang sesuai untuk di Tanami pada daerah tersebut, baik di tinjau dari ketinggian tempat, iklim (bulan basah dan bulan kering), jenis tanah, serta beberapa pertimbangan dari berbagai aspek yang ada.
Adapun tanaman ladang yang kami rekomendasikan adalah sebagai berikut
• Kacang – kacangan seperti kacang buncis dan kacang merah
• Serealia seperti jagung dan sorgum.
• Sayuran seperti kubis, seledri, selada, kentang, brokoli, wortel, tomat, daun bawang, cabai, dan sawi
• Buah-buahan seperti jeruk, nangka, alpukat, dan markisa
• Perkebunan seperti the dan kopi arabika
• Obat – obatan dan rempah seperti cengkeh, jarak, kayu manis dan akar wangi.
Adapun daerah – daerah yang akan kami jadikan ladang diantaranya daerah malenteng, bulu pemokemama, bulu rea, bulu malahira, bulu parangkeda, bulu bontoloherang, bulu saleha, dan lekbasa.
Belukar
Pada Kecamatan Tinggimoncong hamper sebagian daerahnya di dominasi oleh hutan belukar. Pada kenyataanya masih banyak hutan belukar yang tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga tidak dapat menambah pendapatan ekonomi masyarakat di daerah tersebut, maka dari itu kami merekomendasikan hutan belukar tersebut dapat berproduksi semaksimal mungkin sehingga dapat menunjang kehidupan masyarakat sekitarnya. Akan tetapi tetap mempertahankan bentuknya sebagai hutan belukar. Salah satu cara dalam meningkatkan hutan belukar tersebut dengan mengganti atau mmperhatikan tanaman yang ada diskitar hutan belukar tersebut. Adapun tanaman yang cocok direkomendasikan dalam hutan belukar antara lain Saga (Abrus Precatorius, Linn), Urang Aring (Eclipta Prostata), Pengagan (Ginko biloba dan Centela Asiatica ), bayam- bayaman (Amarantaceae ), krokot (portulaca oleoraceae).
Adapun daerah persebaran belukar meliputi bulu buntala, sebagian dari bulu batu ejang, bulu karangpuang, bulu halahalaya, dan bulu bululoe.
Persawahan
Pada Kecamatan Tinggimoncong terdapat daerah persawahan antara lain jambu kebo, mandale, batu lapisi luar, langkoa, simbang, tombolo, mangrojai, mamapang, sekitar sungai balangloka dan balangbajang.
Perumahan
Kecamatan Tinggimoncong memilki daerah perumahan seperti patatuku, mamapang, sanggiringang, jaleko, ballacamba, lembangbata, paktekne, pattapang, biringpanting, langkoa, pabbarung, mangrojai, mappadang, mangrojaning, buki 1, buki 2, lapparanamangottong, bolongbuki, lappara, baraya, cengkong, cengkarana, mamangpang, benga, balasuka, lembangteko, sapiriborong, dan balangbolang.
V. KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, dapat disimpulkan Desain dan Tata Ruang Pertanian yang dilakukan pada daerah malino tepatnya kecamatan tinggimoncong yaitu setelah di adakan desain dan tata runag pada daerah malino tepatnya tinggi moncong ternyata daerah tersebut didominasi oleh belukar dan ladang, di prresentasikan daerah tersebut memilki belukar sekitar 45% , ladangnya sekitar 37 %, disusul urutan ketiga kawasan hutan di sekitar kecamatan tinggimoncong diperkirakan sekitar 25 %.
5.2 Saran
Sebaiknya pada praktikum Desain Tata Ruang Pertanian menjelaskan lebih rinci dan tersedia literatur atau materi tentang daerah akan didesain untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai pengolahan data primer dan skunder untuk merancang pembuatan rencana dan merekomendasi rancangan pemetaaan yang dilakukan baik secara manual maupun teknologi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Kaeadaan Geografis dan Perancangan daerah Kecamatan Tompbulu. http://fitoremediasi.blogspot.com/2011/02/kondisi geografis kecamatan Tompobulu html. Diakses pada hari Selasa, 27 Mei 2011: Makassar.
Badan Pusat Statistika Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa 2010.
Ciptohadijoyo, S., 1999. Desain Tata Ruang Pertanian. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.
Gardner, T., Engelman, R. 1999. Forest Futures: Population, Consumption and
Wood Resources. Population Action International. Washington
Nilwan, 2003. Desain Tata Ruang Pertanian. Fakultas Pertanian Hasauddin.Makassar.
Suryadi, 2003. Penggunaan Wilayah, Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar.
Wijanto. 1996. Kondisi Geografis Kecamatan Kabupaten Gowa. PT. Penebar Swadaya : Makassar.
Langganan:
Postingan (Atom)