Kamis, 02 Juni 2011

lampiran konservasi

Diposting oleh renaex di 20.51 0 komentar
Menghitung Faktor Erosivitas Hujan (R)
Diperoleh data curah hujan untuk lokasi praktek lapang Polewali Mandar untuk tahun 2007 sebagai berikut :
Bulan jan feb Mar apr Mei jun jul ags sep okt nov des
Rata – rata CH/ Bulan 9 16 21 15 21 10 12 19 24 15 10 18
Jumlah Hari 6 11 4 16 12 10 4 2 1 11 11 15
Hujan max 20 27 43 45 40 23 20 26 24 29 17 40

E = f (I, r, v, t, m)
Dimana :
E = Erosi f = topografi I = Iklim v= Vegetasi
Sedangkan indikasi erosi menurut Universal Soil Loss Equation (USLE), dikenal dengan adanya persamaan:
A = R X K X LS X C X P
Dimana :
A : banyaknya tanah yang tererosi
B : Faktor Erosivitas hujan
K : faktor erodibilitas tanah
L : Faktor panjang lereng
S : Faktor panjang lereng
C : Faktor vegetasi penutup tanah
P : Faktor tindakan konservasi
a. Faktor Erosivitas Hujan (R)

R = ∑n = 1 E I30 E I30 = E ( I 30 10-2)

Atau dengan digunakan berbagai formula atau persamaan untuk memperoleh nilai R, diantaranya rumus pendugaan EI 30 menurut Bols (1978), yaitu :

E I 30 = 6.119 (R)1,21 (H) -0,47 ( RM)0,53
Dimana
E I30 = Indeks erosiviotas hujan bulanan rata – rata
R = Curah hujan rata – rata bulanan (cm)
H = jumlah hari hujan rata – rata bulanan ( hari )
RM = Curah hujan maksimum 24 jam bulanan (cm)

(Jan) E1I30 = 6.119 (9)1,21 (6) -0,47 (20)0,53
= 6.119 X 14,27 X 0,43 X 4,89
= 183.603, 83

(Feb) E2 I30 = 6.119 ( 15) 1,21 (16) -0,47 ( 45 )0,53
= 6.119 X 28,64 X 0,32 X 5,74
= 321895,82

(Maret) E3 I30 = 6.119 (21) 1,21 (4 ) -0,47 (43) 0,53
= 6.119 X 26,49 X 0,27 X 7,52
= 329.112,23

(April) E4 I30 = 6.119 (15) 1,21 (16) – 0,47 (45) 0,53
= 6.119 X 26,49 X 0,27 X 7,52
= 329.112,23

(Mei) E5I30 = 6.119 (21) 1,21 (12) -0,47 (40) 0,53
= 6.119 X 39,80 X 0,31 X 7,06
= 533.003,33

(Juni) E6 I30 = 6.119 (10 ) 1,21 (10) -0,47 (23) 0,53
= 6.119 X 16,22 X 0,34 X 5,27
= 177.836,47

(Juli) E7 I30 = 6.119 (12) 1,21 (4) -0,47 (20) 0,53
= 6.119 X 20,22 X 0,52 X 4,89
= 314.610,93

(Agustus) E8 I30 = 6.119 (19)1,21 (2) -0,47 (24) 0,53
= 6.119 X 35,26 X 0,72 X 5,62
= 873.034,84

(September) E9 I 30 = 6.119 (24) 1,21 (1) -0,47 (24) 0,53
= 6.119 X 46,78 X 1 X 5,39
= 1542.870,36

(Oktober) E10 I30 = 6.119 (15) 1,21 (11) -0,47 (29) 0,53
= 6.119 X 26,49 X 0,32 X 5,96
= 309.142,45

(November) E11 I30 = 6.119 (10) 1,21 (11) -0,47 (17) 0,53
= 6.119 X 16,22 X 0,32 X 4,49
= 142.602,66


(Desember) E12 I30 = 6.119 (18) 1,21 (15) -0,47 (40) 0,53
= 6.119 X 33,03 X 0,28 X 7,06
= 399.532,17

R = ∑n=12 I = I E1 + E2 + E3+ E4 + E5 + E6 + E8 + E9 + E10 + E11 + E12
= 183.603, 83 + 321.895,82 + 329.112,23 + 329.112,23 + 533.003,33 + 177.836,47 + 314.610,93 + 873.034,84 + 1.542.870,36 + 309.142,45 + 142.602,66 + 399.532,17
= 6.056.774,057
Menghitung faktor Erodibilitas Tanah (K)
Erodibilitas tanah (K) adalah kepekaan tanah terhadap erosi. Erodibilitas tanah dapat diduga dengan menggunakan nomograf (Wischmeier, 1971 ) atau menggunakan rumus Hammer (1978), dalam utomo (1989), sebagai berikut :
K = 2,713 M 1,14 (10- 4) (12 - a) + 3,25 (b- 2) + 2,5 (c- 3)
100
Dimana :
M = Persen pasir sangat halus + persen debu X ( 100 - % liat )
a = kandungan bahan organic (% C x 1,724) = 0,008 gram
b = harkat struktur tanah = 0,07 cm/jam
c = harkat permeabilitas tanah = 0,4 cm/jam
M = Persen pasir sangat halus + persen debu x (100 - % liat)
= 44,31 % + 7,38 % x (100 – 48,29 )
= 51,69 x 51,71
= 2.672,89 %
K = 2,713 X (2.672,89) 1,14 (10- 4) (12 – 0,008) + 3,25 (0,07- 2) + 2,5 (0,4 - 3)
100
= 2,713 (8067,86 ) (0,0001) (11,99) + 3,25 (- 1,93) + 2,5 (-2,6)
100
= 21.888,10 X 0,0011 + (– 6, 27 – 6,5)
100
= 24.07 – 12,77
100
= 11,3
100
= 0.113
1. Metode Penetapan Tekstur di Laboratorium
Menghitung berat debu dan liat dengan menggunakan persamaan dibawah ini :
Berat debu dan liat = [ H¬1 + 0,3 (t1 – 19,8)] – 0,5………………..(a)
2
Berat liat = [ H¬2 + 0,3 (t2 – 19,8)] – 0,5……………...(b)
2
Berat debu = berat (debu + liat ) – berat liat ………….. (c)

Menghitung persentase pasir, debu dan liat dengan persamaan

% pasir = C x 100
a+ c

% debu = (a - b) x 100
a+ c

% liat = b x 100
a+ c

dik H1 = 8 T1 = 29

H2 = 7 T2 = 28 C = 3,9

Penyeselesaian :

Berat debu dan liat = [ H¬1 + 0,3 (t1 – 19,8) ]– 0,5………………..(a)
2
= [ 8 + 0,3 (29 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 8 + 0,3 (29 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 8 + 8,7 – 5,9] – 0,5
2
= 10,8 – 0,5
2
= 5,4 – 0,5
= 4,9 ………..(a)
Berat liat = [ H¬2 + 0,3 (t2 – 19,8)] – 0,5……………...(b)
2
= [ 7 + 0,3 (28 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 7 + 0,3 (29 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 7 + 8,4 – 5,9] – 0,5
2
= 7 + 2,5 – 0,5
2
= 4,75 – 0,5
= 4,25 ………..(b)
Berat debu = berat (debu + liat) – berat liat
= 4,9 – 4,25
= 0,65……………..(c)
% pasir = C x 100
a+ c

= 3,9 x 100 %
4,9 + 3,9

= 3,9 x 100 %
8,8
= 44,31 %


% debu = (a - b) x 100
a+ c

= (4,9 – 4,25 ) x 100 %
4,9 + 3,9

= 0,65 x 100 %
8,8

= 7,38 %


% liat = b x 100
a+ c

= 4,25 x 100 %
4,9 + 3,9

= 4,25 x 100 %
8,8

= 48,29 %

2. Metode Penetapan Bahan organik

% C = (ml B – ml t) N x 3 x 1,33
Mg contoh tanah tanpa air

Dimana

ml b = 32,9 gram
ml t = 22,6 gram
N = 0,2
Mg contoh tanah tanpa air = 1000 gram

% C = (32,9- 22,6) 0,2 X 3 X 1,33
1000

= (10,3) (0,2 X 3,99)
1000

= 8,219
1000

= 0,008 %

% bahan organik = 0,008 X 1,724

= 0,014 %

3. Metode penentuan permeabilitas

K = Q x L x 1
t h A
K = 400


Dimana

K = Permeabilitas (cm/ jam)

Q = banyak air yang mengalir pada setiap pengukur (ml) = 400 mL

L = Tebal contoh tanah (cm) (tinggi ring sampel) =

A = Luas contoh tanah (cm) (luas permukaan tanah )

t = waktu pengukuran (jam) = 1 jam

h : tinggi permukaan air dari permukaan contoh tanah (cm) (konstan 4 cm)


K = 0,4 cm/ jam sangat lambat


b. Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS)

Faktor panjang dan kemiringan lereng dihitung menggunakan rumus Morgan (1979)

Menggunakan nomografi nilai faktor LS (Arsyad,2006 ) dengan persemaan :

LS = L (1,38 + 0,965 S + 0,138 S2)
100


Dimana :

LS = Faktor lereng

L = Panjang lereng = 200 m

S = Persen kemiringan lahan = 60 %

= 200 (1,38 + 0,965 (60 %) + 0,138 (60 %) 2 )
100

= 14,14 (1,38 + 57,9 + 0,138 (3600))
100

= 0,14 ( 59,28 + 496,8)

= 0,14 (556,08)

= 77,85

c. Faktor vegetasi penutup tanah (C)

Kondisi tutupan lahan berdasarkan jenis penggunaan lahan untuk mengetahui nilai indeks tutupan vegetasi di lokasi praktek. Dan nilai C dapat dihitung dengan persamaan :
C = A C = 1,0
R x K x LS x P


Dimana :
A = Banyaknya tanah yang tererosi
B = Faktor Erosivitas hujan
K = Faktor E rodibilitas tanah
L = Faktor panjang lereng
S = Faktor kemiringan lereng
C = Faktor vegetasi penutup tanah
P = Faktor tindakan konservasi tanah
d. Faktor tindakan konservasi (P)
Nilai faktor tindakan manusia dalam konservasi tanah (P) adalah nisbah antara besarnya erosi dari lahan dengan suatu tindakan konservasi tertentu terhadap besarnya erosi pada lahan tanpa tindakan konservasi (supirin, 2001). Nilai P adalah 1,0 yang diberikan untu lahan adanya tindakan pengendalian erosi. Menurut USLE
Persamaan umum untuk nilai P yaitu sebagai berikut :
P = A
R x K x L x S x C
P = 1,0


A = R x K x LS x C x P

= 6.056.774,057 x 0,4 cm/ jam x 77,85 x 1,0 x 1,0

= 188.607.944,1

jurnal konservasi

Diposting oleh renaex di 20.49 0 komentar
ABSTRAK
Konservasi tanah dan air merupakan upaya meningkatkan fungsi lahan untuk berproduksi secara lestari. konservasi tanah dan air diharapkankan dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan sehingga masyarakat dapat terhindar dari dampak dari erosi yang memerlukan dana yang cukup besar dalam penanganan dampak erosi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui usaha konservasi tanah dan air sebagai alternatif upaya peningkatan pendapatan petani di agroekosistem lahan kering. Penelitian telah dilakukan di polewali mandar.
Kata kunci : Tanah, air, konservasi, erosi, tanaman, pelestarian
PENDAHULUAN
Kegiatan konservasi di lahan kering merupakan langkah konstruktif, dapat meningkatkan fungsi lahan untuk berproduksi secara lestari, sehingga potensinya dapat dioptimalkan sebagai sumber pendapatan keluarga tani di pedesaan. Menurut Notohadiprawiro (1988), lahan kering marginal yang berstatus kritis dicirikan oleh solum tanah yang dangkal, kemiringan lereng curam, tingkat erosi telah lanjut, kandungan bahan organik sangat rendah, serta banyak singkapan batuan di permukaan.
Kondisi demikian umumnya terdapat di wilayah desa tertinggal dan sebagian besar dikelola oleh petani miskin yang tidak mampu melaksanakan upaya-upaya konservasi, sehingga kondisinya makin lama makin memburuk (Karama dan Abdurrachman, 1995). Kondisi tersebut lebih diperparah lagi oleh pola usahatani yang orientasinya subsisten, sehingga mempercepat terbentuknya lahan kritis (Suyana, 2005).
Dalam hubungannya dengan erosi yang menyebabkan degradasi lahan serta langkah-langkah penanganannya di lahan marginal telah banyak dibahas pakar antara lain Scwab et.al (1981), Arsyad (1989), Agus dan Widianto (2004). Pada prinsipnya, kejadian erosi erat kaitannya dengan erosivitas hujan, erodibilitas tanah serta panjang dan kemiringan lereng. Sementara itu pendekatan yang ditempuh untuk pengendalian erosi dilakukan melalui beragam cara.
Scwab et.al (1981) menekankan pendekatan dari segi rekayasa (engineering), sementara itu Arsyad (1989) melakukannya melalui pendekatan vegetatif, mekanik dan kimia sedangkan Agus dan Widianto (2004) dengan pendekatan teknis dan vegetatif. Tulisan ini tidak bermaksud membahas satu persatu pendekatan pengendalian erosi dalam rangka konservasi tanah dan air, akan tetapi lebih difokuskan pada beberapa pertanyaan berikut. Metode konservasi apa yang sesuai dengan agroekosistem lahan kering, dan sejauhmana petani memahami kegiatan konservasi tanah dan air ini hubungannya dengan peningkatan pendapatan petani.
Sehubungan dengan permasalahan itu, makalah bertujuan membahas pendekatan metode konservasi tanah dan air yang dilakukan petani di lahan kering, dan mengungkap dampak potensial kegiatan konservasi tanah dan air terhadap perbaikan dan pelestarian tanah dan air serta tanaman yang tumbuh diatasnya.
METODE PENELITIAN
Praktek lapangan di Kabupaten polewali mandar Propinsi Sulawesi Barat Tahun 2011. Penentuan lokasi didasarkan pada pertimbangan praktek-praktek usaha konservasi tanah dan air serta merupakan areal percontohan usaha konservasi oleh Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah dan pelestarian lingkungan oleh masyarakat setempat. Dan metodenya dilakukan secara observasi dan sumber bahasan utama didasarkan atas data primer yang dilengkapi data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara anggota kelompok tani. Selain itu melalui observasi langsung di lapangan untuk melihat usaha-usaha konservasi yang telah dilakukan. Data yang dikumpulkan antara lain monograf desa, peta penggunaan lahan, data curah hujan, data kelerengan, dan teknik konsevasi yang di praktekkan oleh masyarakat petani. Kemudian data kualitatif dan kuantitatif yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Adapun metode yang digunakan untuk analisis erosi adalh sebagai berikut :
a. Faktor Erosivitas
Dalam praktikum ini penentuan faktor erosivitas hujan ( R ) yang digunakan adalah EI30 yang merupakan perkalian antara energi kinetik hujan ( E ) dengan menggunakan berbagai formula atau persamaan untuk memperoleh nilai R diantaranya rumus pendugaan EI30 menurut Bols(1978), yaitu :
EI30 = 6.119 ( R )¬1,21 ( H )-0,47 ( RM) 0,53
Dimana :
EI30 = indeks erosivitas hujan bulanan rata – rata
R = curah hujan rata – rata bulanan ( cm )
H = jumlah hari hujan rata – rata bulanan ( hari )
RM = curah hujan maksimum 24 jam bulanan ( cm )


Faktor Erodibilitas Tanah ( K )
Untuk mengetahui tingkat erodibilitas tanah (K), pada praktikum ini menggunakan dengan nomograf ( Wischmeier, 1971 ), atau menggunakan rumus Hammer ( 1978 ) sebagai berikut :
K = 2,713 M 1,14 ( 10 -4 ) ( 12 – a) + 3,25 (b - 2) + 2,5 (c - 3)
100
Dimana :
M = Persen pasir sangat halus + persen debu x (100 - % liat)
A = kandungan bahan organik ( % C x 1,724)
B = harkat struktur tanah
c = harkat permeabilitas tanah.
Dalam penentuan nilai erodibilitas tanah (K), terlebih dahulu harus diketahui nilai analisis ukuran partikel (tekstur tanah), kandungan C- organik dan permeabilitasnya, maka perlu diadakan praktikum sebelumnya, dengan sampel tanah baik utuh maupun terganggu dari lokasi diadakannya praktek lapang terpadu.
Metode Penetapan Tekstur di Laboratorium
1. Menimbang 20 gram tanah kering udara, butir – butir tanah ini berukuran kurang dari 2 mm
2. Memasukkan kedalam erlemeyer atau botol tekstur dan tambahkan 10 ml calgon 0,05% dan air secukupnya
3. Menutup dengan plastik, mengocok dengan mesin pengocok selama 1– 2 jam
4. Menuang secara kualitatif semua isinya ke dalam silinder sedimentasi 500 ml yang diatasnya dipasangi saringan dengan diameter lubang sebesar 0,05 mm dan membersihkan botol tekstur dengan bantuan botol semprot.
5. Menyemprot dengan spayer sambil diaduk – aduk semua suspensi yang masih tinggal pada saringan sehingga semua partikel debu dan liat telah turun ( air saringan telah jernih)
6. Pasir yang tertinggal dipindahkan ke dalam cawan dengan bantuan botol semprot kemudian masukkan dalam oven bersuhu 1050 C selama 2 x 24 jam, selanjutnya masukkan dalam desikator dan menimbang hingga berat pasir diketahui (catat sebagai C gram)
7. Mencukupkan larutan suspensi dalam silinder sedimentasi dengan air destilasi hingga 500 ml
8. Mengangkat selinder sedimentasi, sumbat baik – baik dengan karet lalu kocok dengan membolak – balik tegak lurus 180 o sebanyak 20 kali, atau dapat juga dilakukan dengan memasukkan pengocok ke dalam silinder sedimentasi lalu aduk naik turun selama 1 menit.
9. Dengan cepat tuangkan kira – kira 3 tetes amyl alkohol kepermukaan suspensi untuk menghilangkan gangguan buih yang mungkin timbul.
10. Setelah 15 detik, masukkan hydrometer pertama (H1) dan suhu suspensi (t1)
11. Dengan hati – hati keluarkan hydrometer dari suspensi.
12. Setelah menjelang 8 jam, masukkan hydrometer dan catat pembacaan hydrometer kedua (H2) dan suhu suspensi (t2)
13. Hitung berat debu dan liat dengan menggunakan persamaan di bawah ini :
Berat debu dan liat = [H1 + 0,3 ( t1 – 19,8)] – 0,5............(a)
2
Berat liat = [ H2 + 0,3 (t2 – 19,8) – 0,5.............(b)
2
Berat debu = berat (debu + liat) – berat liat........(a+ b)

14. Hitung persentase pasir, debu dan liat dengan persamaan :
% pasir = C x 100
a+ c

% debu = (a - b) x 100
a+ c

% liat = b x 100
a+ c

Metode penetapan bahan organik
1. Menimbang contoh tanah dengan neraca analitis sebanyak 2 gram
2. Memasukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml
3. Menambahkan dengan teliti 10 ml larutan K2Cr2O7 1 N (pipet) dan reaksikan dengan 10 ml H2SO4 dan biarkan reaksi dapat dilakukan pemanasan suspensi pada suhu 40oC selama 5 menit.
4. Menambahkan aquades kira –kira 50 ml dan 10 ml H3PO4
5. Meneteskan 1 ml indikator dan menambahkan pula larutan F++ yang telah distandarisasi
6. Titik akhir titrasi adalah pada saat terjadi perubahan warna biru kehitaman menjadi hijau.
7. Cara volume titran Fe++ yang digunakan, begitu pula normalitas
8. Menghitung % C organik dan % bahan organik dengan rumus
% C = ( mlB – ml t) N x 3 x 1,33
Mg contoh tanah tanpa air
% Bahan Organik = % C x 1,724

Metode penentuan permeabilitas
1. Menutup salah satu ujung dari ring sample dengan barrier untuk menahan tanah di dalam ring. Untuk itu, dapat menggunakan dua helai kain yang cukup porous tetapi efektif menahan partikel, mengikat dengan karet gelang. (konduktivitas material yang digunakan harus sebesar mungkin, tetapi cukup efektif menahan tanah).
2. Meletakkan sampel, dengan bagian yang tertutup barrier di bagian bawah, ke dalam sebuah tray yang berisi air. Kedalaman air kira- kira setengah dari tinggi sampel. Setelah seluruh permukaan tanah sampel basah, menaikkan permukaan air di dalam tray sehingga rata dengan permukaan tanah. Membiarkan terendam selama sedikitnya 12 jam
3. Selanjutnya sampel tanah utuh dimasukkan ke dalam parameter
4. Kemudian mencatat jumlah air yang mengalir dari sampel tanah ke pipa kapiler kemudian diteruskan ke buret dalam waktu 1 jam
5. Menghitung permeabilitas dengan dasar hukum Darcy (syarief, 1989) :
K = Q x L x 1 cm/ jam
t h A
keterangan :
K : Permeabilitas (cm/ jam)
Q : banyaknya air yang mengalir pada setiap pengukuran (ml)
L : tebal contoh tanah (cm) (tinggi ring sampel)
A : Luas contoh tanah (cm) (luas permukaan tanah)
T : waktu pengukuran (jam)
h : tinggi permukaan air dari permukaan contoh tanah (cm) (konstan 4 cm).
Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS)
Faktor panjang lereng dan kemiringan lereng dihitung menggunakan rumus Morgan (1979), menggunakan nomograf nilai faktor LS (Arsyad, 2006), dengan persamaan :
LS = / L (1,38 + 0,965 S + 0,138 S2 )
100
Dimana :
LS : Faktor lereng
L : Panjang lereng
S : Persen kemiringan lahan
Faktor Vegetasi Penutup Tanah
Kondisi tutupan lahan berdasarkan jenis penggunaan lahan untuk mengetahui nilai indeks tutupan vegetasi di lokasi praktek. Dan nilai C dapat dihitung dengan persamaan :
C = A
R x K x LS x P
Dimana :
A = Banyaknya tanah yang tererosi
R = Faktor Erosivitas hujan
K = Faktor Erodibilitas tanah
L = Faktor panjang lereng
S = Faktor kemiringan lereng
C = Faktor vegetasi penutup tanah
P = Faktor tindakan konservasi tanah.
Faktor tindakan konservasi (P)
Nilai faktor tindakan manusia dalam konservasi tanah (P) adalah nisbah antara besarnya erosi dari lahan dengan suatu tindakan konservasi tertentu terhadap besarnya erosi pada lahan tanpa tindakan konservasi (Suripin, 2001). Nilai P adalah 1,0 yang diberikan untuk lahan tanpa adanya tindakan pengendalian erosi. Menurut USLE persamaan umum nilai P yaitu sebagai berikut :
P = A
R x K x L x S x C
Dimana :
C : nilai faktor pertanaman
R : erosivitas
K : erodibilitas
LS: faktor lereng
P : faktor tindakan konservasi.




HASIL DAN PEMBAHASAN
Menghitung Tingkat Erosi
Diperoleh data curah hujan pada lokasi praktek lapang Polewali Mandar untuk tahun 2007 sebagai berikut :
Bulan Jan feb Mar apr Mei jun jul Ags sep Okt Nov des
Rata – rata CH/ Bulan 9 16 21 15 21 10 12 19 24 15 10 18
Jumlah Hari 6 11 4 16 12 10 4 2 1 11 11 15
Hujan max 20 27 43 45 40 23 20 26 24 29 17 40

E = f (I, r, v, t, m)
Dimana :

E = Erosi f = topografi I = Iklim v= Vegetasi

Sedangkan indikasi erosi menurut Universal Soil Loss Equation (USLE), dikenal dengan adanya persamaan:
A = R X K X LS X C X P
Dimana :
A : banyaknya tanah yang tererosi
B : Faktor Erosivitas hujan
K : faktor erodibilitas tanah
L : Faktor panjang lereng
S : Faktor panjang lereng
C : Faktor vegetasi penutup tanah
P : Faktor tindakan konservasi

A = R x K x LS x C x P

= 6.056.774,057 x 0,4 cm/ jam x 77,85 x 1,0 x 1,0

= 188.607.944,1 cm/ jam

A adalah besarnya erosi yang terjadi (ton/ha/thn), R adalah erosivitas curah hujan, LS adalah indeks panjang lereng, K sama dengan erodibilitas tanah, C adalah faktor pengelolaan tanaman, dan P yaitu faktor konservasi tanah.
Dalam praktikum ini kita mendapatkan hasil bahwa faktor erosivitas hujan sebesar 6.056.774,057 cm/ jam, untuk faktor erodibilitas tanah diperoleh sebesar 0,4 cm/ jam untuk faktor panjang lereng dan kemiringan lereng diperoleh 77,85 m, adapun faktor vegetasi penutup tanah diperoleh 1,0 dan faktor tindakan konservasi tanah sebesar 1,0.
Dari hasil perhitungan diperoleh banyaknya tanah yang tererosi pada lokasi praktek lapang polewali mandar diperoleh 188.607.944,1 cm/jam. Jika kita amati tingkat erosi yang terjadi daerah praktek lapang ini, cukup besar sehingga perlu penanganan yang cukup serius, salah satunya dengan melakukan konservasi baik konservasi tanah maupun konservasi air. Tindakan konservasi yang diupayakan ini kiranya dapat mengurangi pengikisan yang terjadi sebelumnya yang disebabkan oleh beberapa faktor dianataranya curah hujan yang tinggi, selain itu batuan yang mentusun di daerah memilki topografi yang curam.
Melihat besarnya erosi yang terjadi di wilayah itu, akan berpengaruh negatif terhadap produktivitas dan prduksi pertanian. Besarnya erosi berbanding terbalik dengan perolehan produksi. Semakin besar tingkat bahaya erosi, maka semakin rendah produksi pertanian yang diperoleh yang pada akhirnya berpengaruh negatif terhadap pendapatan petani.
Ada 2 metode konservasi yang diterapkan di wilayah tersebut yaitu metode vegetatif dan metode mekanik. Metode vegetatif yang dilakukan meliputi pembuatan hutan rakyat, pembuatan Kebun Bibit Desa (KBD), dan pembuatan Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumber Daya Alam (UP-UPSA). Sementara itu dalam metode mekanik yang dilakukan adalah pembuatan teras bangku, pembuatan saluran pembuatan air (SPA), dan pembangunan pegendali jurang (gully-plug). Uraian berikut menyajikan secara ringkas implementasi dari setiap metode tersebut.
Hutan rakyat adalah hutan yang dimiliki oleh rakyat (bukan hutan alam) baik secara perorangan atau kelompok maupun suatu badan hukum dan berada di luar wilayah hutan negara serta terletak dalam satu kompleks atau lokasi (Duryat, 1979).
Teras berfungsi mengurangi panjang lereng, mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan serta memungkinkan adanya penyerapan air oleh tanah yang lebih besar. Bentuk teras yang dibuat disesuaikan dengan kemiringan lahan, jenis tanah, vegetasi, kondisi penggunaan lahan. Dengan kemiringan lahan 15%-40% teras bangku merupakan jenis teras yang paling sesuai diterapkan. Teras bangku yang ada adalah jenis teras bangku datar, dengan tanaman penguat berupa ubi kayu, selain berfungsi sebagai tanaman penguat teras juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Teras bangku (Land Unit G) di desa Rejosari terbukti mampu mengurangi laju erosi dari sebelumnya sebesar 29,40 ton/ha/thn menjadi 7,90 ton/ha/thn (menurunkan faktor pengelolaan/CP dari 0,03 menjadi 0,008). Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras bangku adalah, tersingkapnya tanah sehingga menjadi tidak subur, untuk itu perlu adanya perbaikan lahan misalnya dengan pemupukan atau penanaman tanaman penguat teras yang mampu menyediakan unsur hara tambahan seperti kacang-kacangan (leguminose) yang mampu menyumbangkan unsur N, kemudian rumput gamal (Gliricida), lamtoro dan turi, yang juga dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Pembuatan teras bangku juga memerlukan tenaga kerja dan biaya yang lebih mahal dibandingkan metode konservasi vegetatif, sehingga pembuatan teras juga harus memperhatikan kemampuan finansial dan ketersediaan masyarakat lokal. Selain itu teras perlu dilengkapi dengan bangunan pelengkap seperti saluran teras, bangunan terjun sehingga teras berfungsi maksimal dalam mengurangi laju aliran permukaan dan erosi akibat energi kinetik curah hujan.
Metode konservasi mekanis dengan gully plug bertujuan untuk mengurangi terjadinya erosi jurang akibat pengaruh kecuraman lereng dan kepekaan tanah. Gully plug sebaiknya dilengkapi bronjong atau bangunan beton untuk mengurangi jumlah erosi dan seimentasi yang terangkut oleh air. Gully plug di Desa Rejosari masih sangat sederhana, terbuat dari tanah dan belum dilengkapi dengan bronjong kawat atau bangunan beton hanya diperkuat dengan rumput.
KESIMPULAN DAN SARAN
• Dari hasil praktikum yang kita lakukan kita dapat mengetahui bahwa faktor erosivitas hujan sebesar 6.056.774,057 cm/ jam, untuk faktor erodibilitas tanah diperoleh sebesar 0,4 cm/ jam untuk faktor panjang lereng dan kemiringan lereng diperoleh 77,85 m, adapun faktor vegetasi penutup tanah diperoleh 1,0 dan faktor tindakan konservasi tanah sebesar 1,0.
• Usaha konservasi tanah dan air di lahan kering yang dilakukan dengan pendekatan vegetatif dan mekanis melalui pembuatan hutan rakyat, kebun bibit desa, Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumber Daya Alam (UP UPSA), pembuatan teras, saluran pembuangan air (SPA), dan gully plug (pengendali jurang) terbukti dapat menurunkan besarnya erosi, merehabilitasi dan meningkatkan fungsi lahan.
• Keberhasilan penerapan konservasi di lahan kering mampu menciptakan kondisi lahan yang kondusif untuk menghasilkan produksi secara lestari dan terpeliharanya produktivitas lahan sehingga pada akhirnya berpengaruh positif pada peningkatan pendapatan petani.
• Keberhasilan konservasi tanah dan air di lahan kering tidak terlepas dari peran aktif masyarakat setempat, oleh karena itu untuk memelihara kelanjutan konservasi diperlukan dorongan dari pihak berwenang menggerakkan partisipasi petani antara lain melalui penyuluhan yang lebih intensif.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, F dan Widianto, 2004. Petunjuk Praktis Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering. World Agroforestry Centre. ICRAF Southeast Asia. Bogor.

Anonim, 1999. Monograf Desa Rejosari Kecamatan Semin Kabupaten Gunungkidul.. Pemerintah Desa Rejosari. Semin. Gunungkidul, Yogyakarta.

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit Institut Pertanian Bogor Press. Bogor.

Duryat, P. W. 1979. Meningkatkan Kegiatan Penyuluhan Dalam Rangka Pembentukan Hutan Rakyat. Seminar dan Reuni III Fak. Kehutanan UGM. Yogyakarta

Karama, A.S dan A. Abdurrachman. 1995. Kebijaksanaan Nasional dalam Penanganan Lahan Kritis di Indonesia. Prosiding Lokakarya dan Ekspose Teknologi Sistem Usahatani Konservasi dan Alat Mesin Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Yogyakarta, 17-19 Januari 1995.

Notohadiprawiro, T. 1988. Pembaharuan Pandangan terhadap Kedudukan Lahan Kering dalam Pembangunan Pertanian Pangan yang Terlanjutkan. Seminar Fak. Pertanian UNISRI. Surakarta

Scwab, et. al. 1981. Soil and Water Conservastion Engineering. 3rd edition. John Wiley and Sons. Inc. Toronto.

Suyana, J. 2005. Berkelanjutan Penerapan Teknologi Konservasi Hedgerows Untuk Menciptakan Sistem Usahatani Lahan Kering. Bahan Mata Kuliah Konservasi. IPB.

Sabtu, 30 April 2011

permeabilitas sel

Diposting oleh renaex di 17.43 0 komentar
I. PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Sel adalah unit terkecil, fungsional, struktural, hereditas, produksi, dan kehidupan yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu membran, sitoplasma, dan inti. Membran atau plasmalemma menyelubingi sel dengan fungsi mengatur keluar mansuknya zat, menyampaikan atau menerima rangsang, dan strukturnya terdiri dari dua lapisan lipoprotein yang diantara molekul terdapat pori.
Peranan membran dalam aktivitas seluler yaitu mengatur keluar masuknya bahan antara sel dengan lingkungannya, antara sel dengan organel-organelnya. Selain itu membran juga berperan dalam metabolisme sel. Organel-organel sel seperti nukleus, kloroplas, mitokondria, dan retikulum endoplasma juga diselubungi membran. Berdasarkan dari komposisi kimia membran dan pemeabilitasnya terhadap solut maka dapat disimpulkan bahwa membran sel terdiri atas lipid dan protein. Pada membran terdapat lapisan ganda dan molekul-molekul posfolipid yang letaknya teratur sedemikian rupa sehingga ujung karbon yang hidropobik terbungkus sedemikian rupa di dalam sebuah lapisan amorf dalam senyawa lipid. Komponen protein membran digambarkan sebagai suatu selaput yang menutupi kedua belah permukaan dan lapisa biomolekul posfolipid.

Membran plasma merupakan batas kehidupan, batas yang memisahkan sel hidup dari sekelilingnya yang mati. Lapisan tipis yang luar biasanya ini tebalnya kira-kira hanya 8 nm dibutuhkan lebih dari 8000 membran plasma mengontrol lalu lintas ke dalam dan ke luar sel yang dikelilinginya.
1.2.Tujuan praktikum
Tujuan dari praktikum permeabilitas dinding sel yaitu untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap permeabilitas sel pada buah hortikultura

1.1 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari praktikum permeabilitas sel antara lain :
a) Bagaimana permeabilitas dinding sel terhadap buah mangga.
b) Bagaimana mengatasi permeabilitas dinding sel pada setiap tanaman hortikultura.
c) Faktor-faktor apa yang mempengaruhi permeabilitas sel pada tanaman hortikultura.








II.TINJAUAN PUSTAKA
Tujuan fraksionasi sel ialah untuk memisahkan sel menjadi bagian-bagian, memisahkan organel-organel utama sehingga fungsinya masing-masing dapat dipelajari. Ada beberapa perbedaan besar antara karakter permeabilitas pada tanaman yang berbeda tetapi mempunyai prinsip umum yang sama. Salah satu faktanya adalah komposisi relatif dari daerah lipid dan area penjaringan terhadap permeabilitas yang berbeda dari tiap tanaman. Pada Chara, permeabilitas diatur oleh solubilitas lipid pada penyerapan larutan. Sedangkan pada Beggiataa, ukuran merupakan penentu paling utama. Pada tumbuhan tingkat tinggi yang memiliki sifat permeabilitas yang sama dengan Chara, solubilitas lipid merupakan faktor dominan penyerapan walaupun perbedaan kuantitatif dapat diperhitungkan pada angka penyerapan. (Kimball, 2000).
Beberapa teori-teori klasik tentang permeabilitas mempunyai kesulitan dalam menjelaskan gejala-gejala yang teramati. Seperti peleburan zat terlarut pada membran oleh pelarut. Semua perrcobaan permeabilitas membran melibatkan sistem yang tidak seimbang yang berubah sepanjang lintasan tidak baik apabila beberapa molekul yang tidak dapat menemdus lubang batas itu. Bermuatan pada membran akan terjadi potensial, untuk potensial ini dinamakan potensial dominan. Dalam hal ini konsentrasi keseimbangan ion dari dua belah sisi membran berbeda. Proses tercapainya keseimbangan dari berbagai keadaan tidak seimbang merupakan contoh termodinamika larutan balik yang terjadi pada sistem biologi. Membran mempunyai dua fungsi yaitu memberikan kerangka luar dari proses kehidupan dan pemisahan sitoplasma menjadi bahang. Membran memisahkan protoplasma menjadi bagian-bagian tetapi pemisahan itu selektif. (Lovelles, 1991)
. Untuk melakukan hal seperti itu, bagian hidrofilik molekul tersebut harus melewati inti hidrofobik membranya. (Campbell, dkk, 2002).
Suatu membran tetap berwujud fluida begitu suhu turun, hingga akhirnya pada beberapa suhu kritis, fosfolipid mengendap dalam suatu susunan yang rapat dan membrannya membeku, tak ubahnya seperti minyak babi yang membentuk kerak lemak ketika lemaknya mendingin. Suhu beku membran tergantung pada komposisi lipidnya. Membran tetap berwujud fluida pada suhu yang lebih rendah jika membran itu mengandung banyak fosfolipid dengan ekor hidrokarbon tak jenuh. Karena adanya kekusutan di tempat ikatan gandanya, hidrokarbon tak jenuh tidak tersusun serapat hidrokarbon. (Campbell, dkk, 2002).
Membran haruslah bersifat fluida agar dapat bekerja dengan baik, membran itu biasanya sekental minyak salad. Apabila membran membeku, permeabilitasnya berubah, dan protein enzimatik di dalamnya mungkin menjadi inaktif. Suatu sel dapat mengubah komposisi lipid membrannya dalam tingkatan tertentu sebagai penyesuaian terhadap suhu yang berubah. Misalnya, dalam banyak tumbuhan yang dapat bertahan pada kondisi yang sangat dingin, persentase fosfolipid tak jenuh meningkat dalam musim gugur, suatu adaptasi yang menghalangi pembekuan membran selama musim dingin. (Campbell, dkk, 2002).
Terdapat dua populasi utama protein membran. Protein integral umumnya merupakan protein transmembran, dengan daerah hidrofobik yang seluruhnya membentang sepanjang interior hidrofobik membran tersebut. Daerah hidrofobik protein integral terdiri atas satau atau lebih rentangan asam amino nonpolar. Protein periferal sama sekali tidak tertanam dalam bilayer lipid, protein ini merupakan anggota yang terikat secrara longgar pada permukaan membran, sering juga pada bagian integral yang dibiarkan terpapar. (Campbell, dkk, 2002).
Membran sangat beragam, tapi osmosis terjadi tanpa menghiraukan bagaimana fungsi membran, sepanjang pergerakan pergerakan linarut lebih dibatasi dibandingkan dengan pergerakan air. Membran bisa berupa satu lapis bahan yang lebih mampu melarutkan pelarut daripada partikel linarut, sehingga melewatkan lebih banyak molekul pelarut daripada partikel linarut. Selapis udara diantara dua larutan air merupakan pembatas yang menahan sama sekalim perpindahan linarut yang tidak menguap, yang ketiga berupa saringan (tapis) dengan sejumlah lubang berukuran tertentu sehingga molekul air dapat melaluinya, (Salisbury dan Ross, 1995).
Pergerakan air yang cepat melintasi antar permukaan ke dalam larutan akan menciptakan tegangan dalam air yang tertinggal di pori, dan akan menarik air bersamanya dalam bentuk aliran massa. Mekanisme membran ini menggambarkan kerumitan alam . (Salisbury dan Ross, 1995).
Ada beberapa perbedaan besar antara karakter permeabilitas pada tanaman yang berbeda tetapi mempunyai prinsip umum yang sama. Salah satu faktanya adalah komposisi relatif dari daerah lipid dan area penjaringan terhadap permeabilitas yang berbeda dari tiap tanaman. Pada Chara, permeabilitas diatur oleh solubilitas lipid pada penyerapan larutan. Sedangkan pada Beggiataa, ukuran merupakan penentu paling utama. Pada tumbuhan tingkat tinggi yang memiliki sifat permeabilitas yang sama dengan Chara, solubilitas lipid merupakan faktor dominan penyerapan walaupun perbedaan kuantitatif dapat diperhitungkan pada angka penyerapan. (Kimball, 2000).
Model membran uap merupakan contoh membran semipermeabel yang sejati, padahal semua membran pada tumbuhan harus dapat melewatkan linarut tertentu saja. Membran seperti itu dikatakan bersifat permeabel diferensial, tidak lagi disebut semi permeabel sejati. Meskipun membran hidup bersifat permeabel terhadap pelarut maupun linarut, tapi umumnya jauh lebih permeabel terhadap pelarut (Salisbury dan Ross, 1995).

III. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum mengenai pelilinan pada buah dilaksanakan pada hari rabu, 27 April 2011 bertempat di Laboratorium agronomi I, jurusan Budidaya pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum pelilinan pada buah yaitu timbangan.
Bahan yang digunakan pada praktikum pelilinan pada buah yaitu, buah mangga, cawan, dan air.

3.3 Prosedur Kerja
Adapun prosedur percobaan dari praktikum pelilinan pada buah antara lain :
1. Siapkan bahan yang akan dijadikan objek praktikum permeabilitas dinding sel.
2. Kemudian ambil satu sampel, buah di cuci, lalu dikeringkan.
3. Setelah di keringkan, buah tersebut ditimbang berat awalnya (utuh).
4. Sesudah ditimbang, kemudian diiris melintang 1 cm.
5. Setelah itu, buah ditimbang, lalu direndam selama 15 menit. Kemudian potongan buah tersebut diangkat dan ditimbang lagi, sampai mencapai berat konstan.

II. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. HASIL
Adapun hasil yang kita peroleh pada percobaan permeabilitas dinding sel pada buah mangga yaitu sebagai berikut :
Tabel 6. hasil pengamatan buah mangga.
Buah Berat potongan mangga 1 cm Perlakuan direndam selama 15 menit Berat (gr)
Buah mangga
(berat awal (utuh) = 65 gr)
10 gr I 15
II 18
III 20
IV 20

4.2.Pembahasan
Berdasarkan hasil yang kita peroleh maka kita dapat mengetahui bahwa semakin lama buah disimpan maka kentahanan permeabilitas dinding sel jaringan buah mangga akan semakin rendah , hal ini dipengaruhi beberapa faktor , adapun faktor yang mempengaruhi yaitu masuknya air pada dinding sel yang ketahanannya sangat rendah , selain itu suhu juga sangat mempengaruhi .Hal ini sesuia dengan pendapat Salisbury dan Ross, 1995 yang menyatakan Pergerakan air yang cepat melintasi antar permukaan ke dalam larutan akan menciptakan tegangan dalam air yang tertinggal di pori, dan akan menarik air bersamanya dalam bentuk aliran massa.

V. PENUTUP
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa sifat permeabilitas dinding sel pada khususnya buah mangga dipengaruhi oleh faktor ketahanan struktur jaringan buah, lama penyimpanan , dan suhu lingkungan.
5.2.Saran
Adapun saran untuk praktikum ini yaitu hendaknya semua praktikan dapat aktif dalam melakukan percobaan sehingga dalam praktikum ini keaktifan tiap praktikan itu sangat penting.






DAFTAR PUSTAKA
Albert ang Gwen V Childs. 1994. Molecular Biology Of The Cell. Garland publishing: New York.

Becker, W. M.. Lewis J.K., Jeff H. 2000. The World of the Cell. Addison Wesley Longman, Inc: San Fransisco.

Bima. 2008. PERMEABILITAS MEMBRAN SEL: Pengaruh Suhu dan Pelarut.http://bima.ipb.ac.id/~tpbipb/materi/prak_biologi/PERMEABILITAS%20MEMBRAN%20SEL.pdf. Tanggal Akses 13 November 2008.

Campbell, Neil. A., Jane B. Reece, Lawrence G. Mitchel. 2002. Biologi Edisi kelima Jilid II. Penerbit Erlangga: Jakarta.

Utmb. 2008. Membran Strukture and Function. http://cellbio.utmb.edu/cellbio…….basic arsitecture.htm. Tanggal akses 13 November 2008.

Minggu, 13 Maret 2011

keikhlasan cinta

Diposting oleh renaex di 07.10 0 komentar

problema demi problema skarng ku hdpi entah bgmn hrz mnyelesaikan smwx tak tahu hrz bagmn lgi untk menyelesaikan ini

di suatu sisi takkan ada yang blh tersakiti tak ada yg blh dikecewakan
tapi aku harz memilih dia atau kw

dan hingga akhrnya kt harz menerima smw ini
baik tak baik untuk kta smw hrz kt terima

yakin sj Allah akan menunjukan jlan yang terbaik
walaupn bgi2 brt kt trma namun ini memang sbuah
knytaan pahit atau maniz tetp kt hadapi n terima dgn iklhs

Jumat, 04 Februari 2011

kangen

Diposting oleh renaex di 06.03 0 komentar
malam ini kuteringat dengan dia yang jauh di sana apakah dia , kangen sekali ma dia ...ingin rasanya kembali saat - saat bersama dia ....rasanya mau terus di masa itu bersama dia selalu melewati waktu bersama dia melepaskan semua rasa gundah dan piluh yang ada dia dalam diriku...
kapan dia datang menjemputku di sini ...ku akan setia menunggunya di sini dan akan tetap setia menunggunya selalu....

tetap berusaha jadi yang terbaik

Diposting oleh renaex di 05.35 1 komentar

mungkin pepatah yang cocok untuk menggambarkan keadaan ku sekarang itu semakin tinggi pohon semakin keras pula angin yang menerpahnya....
yach walaupun begitu saya akan tetap berusaha untuk mengokohkan diri walaupun begitu sulit untuk menghadangnya tapi dengan segala semangat ku akan selalu tegar hadapinya..

satu pelajaran yang ku dapatkan dari ini yaitu jangan merasa jadi yang terbaik jika kamu tidak pernah mau menerima kritikan orang...

Rabu, 08 Desember 2010

Diposting oleh renaex di 03.37 0 komentar
 

ernawati djaya Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez