I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Traktor tangan adalah mesin pertanian yang dapat dipergunakan untuk mengolah tanah dan lain-lain pada pekerjaan pertanian dengan alat pengolah tanahnya digandengkan atau dipasang dibagian belakang mesin. Mesin ini mempunyai efisiensi tinggi karena pembalikan dan pemotongan tanah dapat dikerjakan dalam waktu yang bersamaan.
Traktor tangan merupakan mesin serba guna karena dapat juga berfungsi sebagai tenaga penggerak untuk alat-alat lain seperti pompa air, alat prosesing, gandengan (trailer) dan lain-lain. Pada dasarnya traktor tangan sangat penting digunakan untuk memudahkan dalam pengolahan tanah baik dalam penggunaan pengolahan tanah primer maupun sekunder. Pada dasarnya traktor tangan ini biasanya digandengkan dengan garu, atau bajak sehingga dapat memudahkan dalam pengerjaan pengolahan lahan.
Traktor dapat bekerja pada lahan dengan topografi yang terbatas. Untuk traktor tangan sebaiknya jangan melebihi 30°. Apabila lahan terlalu miring, traktor bisa terguling. Lahan yang bergelombang juga akan berpengaruh terhadap hasil pengolahan. Sebaiknya lahan yang demikian dibuat berteras sehingga lahan bias memenuhi syarat untuk diolah secara mekanis. Selain itu, traktor sebagai kendaraan beroda, memerlukan jalan dan jembatan untuk memasuki lahan yang akan diolah.
Olah karena itu berdasarkan uraian tersebut di atas maka perlu diadakan praktikum mengenai pengenalan traktor tangan untuk mengetahui bagian-bagian dari traktor tangan tersebut beserta fungsi dari bagian traktor tersebut.
I.2 Tujuan dan Kegunaan
Praktikum Pengenalan Traktor Tangan bertujuan agar mahasiswa dapat mengetahui bagian-bagian dan fungsi dari traktor tangan serta dapat mengoperasikan traktor tangan tersebut.
Kegunaan dari praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat mengetahui fungsi dan kegunaan serta aplikasi yang digunakan pada traktor tangan.
II.TINJAUAN PUSTAKA
Traktor tangan (hand tractor) merupakan sumber penggerak dari implemen (peralatan) pertanian. Biasanya traktor tangan digunakan untuk mengolah tanah. Namun sebenarnya traktor tangan ini merupakan mesin yang serba guna, karena dapat digunakan untuk tenaga penggerak implemen yang lain, seperti pada pompa air, alat prosesing, trailer, dan lain-lain (Anonima, 2011).
Menurut (Anonimb, 2011), berdasarkan jenis bahan bakar yang digunakan traktor tangan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Traktor tangan berbahan bakar Solar
2. Traktor tangan berbahan bakar bensin
3. Traktor tangan berbahan bakar minyak tanah (kerosin)
Menurut (Anonimc, 2011), berdasarkan besarnya daya motor, traktor tangan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Traktor tangan berukuran kecil, tenaga penggeraknya >5 HP.
2. Traktor tangan berukuran sedang, tenaga penggerakn antara 5 - 7 HP.
3. Traktor tangan berukuran besar, tenaga penggeraknya antara 7–12 HP.
Traktor dengan bahan bakar bensin dan minyak tanah biasanya berukuran kurang dari 7 hp. Jenis motor yang paling banyak digunakan traktor tangan di Indonesia adalah motor berbahan bakar solar (Anonimb, 2011).
Langkah pertama yang harus dipelajari oleh calon operator untuk dapat mengoperasikan traktor tangan adalah mengenal traktor tangan itu sendiri dan mengetahui bagian-bagian dari traktor tangan tersebut.
Menurut Anonima, (2011), bagian-bagian utama traktor tangan dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu:
1. Tenaga penggerak motor.
2. Kerangka dan transmisi (penerus tenaga).
3. Tuas kendali.
Jenis tenaga penggerak yang sering dipakai adalah motor diesel, tetapi ada juga yang menggunakan motor bensin atau minyak tanah (kerosin). Daya yang dihasilkan kurang dari 12 Hp, dengan menggunakan satu silinder. Motor penggerak dipasang pada kerangka dengan empat buah baut pengencang. Lubang baut pada kerangka dibuat memanjang agar posisi motor dapat digerakkan maju mundur (Anonima, 2011).
Tujuannya untuk memperoleh keseimbangan traktor dan untuk menyesuaikan ukuran v-belt yang digunakan. Traktor akan lebih berat ke depan apabila posisi motor digeser maju, begitu juga sebaliknya. Untuk menghidupkan motor diesel digunakan engkol, sedangkan untuk motor bensin dan minyak tanah menggunakan tali starter (Anonima, 2011).
Sebagian besar traktor menggunakan motor diesel. Penggunaan motor diesel umumnya lebih murah baik pada saat pengoperasiannya maupun perawatannya. Motor diesel lebih awet dibanding motor jenis lain, asal perawatannya dilakukan dengan baik dan benar sejak awal (Anonimb, 2011).
Kerangka berfungsi sebagai tempat kedudukan motor penggerak, transmisi dan bagian traktor lainnya. Bagian traktor dikaitkan dengan kerangka dengan menggunakan beberapa buah baut pengencang. Mengoperasikan Tarktor Roda Dua 12 Transmisi berfungsi memindahkan tenaga/putaran dari motor penggerak ke alat lain yang bergerak. Jenis transmisi yang digunakan ada beberapa macam, seperti pully, belt, kopling, gigi persneleng, rantai dan sebagainya (Anonimb, 2011).
Tenaga dari motor berupa putaran poros disalurkan melalui pully dan vbelt ke kopling utama. Kopling utama meneruskan tenaga tersebut ke gigi persneleng untuk menggerakkan poros roda dan poros PTO. Selain untuk menyalurkan tenaga, gigi persneleng juga berfungsi sebagai pengatur kecepatan putaran poros roda dan poros PTO. Dari PTO tenaga dasalurkan lewat gigi dan rantai ke mesin rotary. Kopling utama dioperasikan dari tuas kopling utama. Bila tuas ditarik ke posisi netral, maka tenaga motor tidak disalurkan ke gigi persneleng. Akibatnya traktor akan berhenti, meskipun kondisi motor penggerak dihidupkan (Anonimb, 2011).
Di samping kopling utama, ada dua kopling kemudi. Kopling kemudi terletak di bawah gigi persneleng, di pangkal poros kedua roda. Kopling kemudi dioperasikan melalui tuas kemudi kanan dan kiri. Apabila kopling kemudi kanan ditekan, maka putaran gigi persneleng tidak tersambung dengan poros roda kanan. Sehingga roda kanan akan berhenti, dan traktor akan berbelok ke kiri. Begitu juga sebaliknya apabila kopling kiri ditekan. Sebuah traktor tangan dapat bergerak maju-mundur dengan kecepatan tertentu karena putaran poros motor penggerak disalurkan sampai ke roda. Ada tiga jenis roda yang digunakan pada traktor tangan, yaitu; roda ban, roda besi, roda apung (roda sangkar/cage wheell) (Anonima, 2011).
Roda ban berfungsi untuk transportasi.dan mengolah tanah kering. Bentuk permukaan roda ban beralur agak dalam untuk mencegah slip. Roda ban dapat meredam getaran, sehingga tidak merusak jalan. Roda besi digunakan untuk pembajakan di lahan kering. Sirip pada roda besi akan menancap ke tanah, sehingga akan mengurangi terjadinya slip pada saat menarik beban berat. Roda apung digunakan pada saat pengolahan tanah basah. Roda apung ini ada yang lebar, ada juga yang diameternya besar, sehingga dapat menahan beban traktor agar tidak tenggelam dalam lumpur. Ukuran roda disesuaikan dengan spesifikasi traktor. Besar kecilnya roda akan berpengaruh terhadap lajunya traktor (Anonima, 2011).
Setiap traktor tangan biasanya dilengkapi dengan standar depan dan standar samping. Standar samping khusus digunakan untuk pemasangan roda. Pemasangan roda dilakukan satu persatu. Pelepasan roda dari poros dilakukan dengan cara melepas mur-baut dan atau pena penyambung. Setelah roda dilepas, baru dipasang roda pengganti yang sesuai. Pemasangan roda ini tidak boleh terbalik (Anonimb, 2011).
Untuk roda ban, pada sisi atas ban, arah panah harus ke depan. Untuk roda besi, sisi roda bawah harus menancap ke tanah. Untuk roda apung, sisi roda bawah tidak boleh menancap ke tanah. Sehingga pemasangan roda tidak boleh terbalik antararoda kiri dan kanan. Poros roda traktor biasanya cukup panjang dan dilengkapi dengan beberapa lubang. Poros yang panjang ini dimaksudkan untuk menyesuaikan lebar olah implement (Anonimb, 2011).
Pemasangan roda yang cukup lebar juga akan menjaga keseimbangan traktor, terutama apabila digunakan pada lahan yang miring. Sedang lubang yang ada di poros digunakan untuk tempat pena, sehingga menjamin roda tidak akan slip atau lepas pada saat pengoperasian (Anonimb, 2011).
Tuas kendali adalah tuas-tuas yang digunakan untuk mengendalikan jalannya traktor. Untuk mempermudah jalannya operasional, traktor tangan ada banyak tuas kendali. Namun begitu banyaknya tuas kendali ini akan mengakibatkan traktor menjadi lebih berat, dan harganya lebih mahal. Untuk itu sekarang banyak diproduksi traktor yang hanya dilengkapi dengan beberap tuas kendali. Tujuannya agar traktor menjadi ringan, dan harganya menjadi lebih murah (Anonima, 2011).
Tuas persneleng utama berfungsi untuk memindah susunan gigi pada persneleng, sehingga perbandingan kecepatan putar poros motor penggerak dan poros roda dapat diatur.Traktor tangan yang lengkap biasanya mempunyai 6 kecepatan maju dan 2 kecepatan mundur. Kecepatan ini dapat dipilih sesuai dengan jenis pekerjaan yang sedang dilaksanakan (Anonimb, 2011).
Menurut Anonimb, (2011), Sebagai patokan awal dapat digunakan sebagai berikut:
1. Kecepatan satu untuk membajak tanah dengan mesin rotary
2. Kecepatan dua untuk membajak tanah dengan bajak singkal/piringan
3. Kecepatan tiga untuk membajak tanah sawah yang tergenang
4. Kecepatan empat untuk berjalan di jalan biasa
5. Kecepatan lima dan enam untuk menarik trailer/gerobak
6. Mundur satu digunakan pada saat operator berjalan
7. Mundur dua digunakan pada saat operator naik di trailer/gerobak
Tuas ini tidak selalu ada. Apabila tuas persneleng utama hanya terdiri dari 3 kecepatan maju dan 1 kecepatan mundur, biasanya traktor tangan dilengkapi dengan tuas persneleng cepat lambat. Fungsi perneleng ini untuk memisahkan antara pekerjaan mengolah tanah dengan pekerjaan transportasi (berjalan dan menarik trailer/gerobak). Dengan adanya tuas cepat lambat, kemungkinan salah dalam memilih posisi persneleng bisa dikurangi (Anonima, 2011).
Tuas kopling utama berfungsi untuk mengoperasikan kopling utama. Bila tuas dilepas pada posisi pasang/ON, maka tenaga motor akan tersambung ke gigi persneleng. Sebaliknya apabila ditarik ke posisi netral/bebas/OFF, maka tenaga motor tidak disalurkan ke gigi persneleng. Apabila ditarik lagi maka tuas kopling utama akan tersambung dengan rem yang berada pada rumah kopling utama (Anonimb, 2011).
Tuas persneleng mesin rotary berfungsi sebagai pengatur kecepatan putar poros PTO. Biasanya ada dua macam kecepatan dan satu netral. Apabila hasil pengolahan yang diharapkan halus dan gembur, maka tempatkan posisi tuas persneleng mesin rotary pada posisi cepat. Begitu juga sebaliknya. (Kecepatan putar pisau rotary dapat juga diatur dari posisi pemasangan rantai penghubung) (Anonimb, 2011).
Ada dua buah tuas kopling kemudi pada setiap traktor tangan, masing-masing ada di sebelah kanan dan kiri. Tuas ini digunakan untuk mengoperasikan kopling kemudi (kanan dan kiri). Apabila tuas kopling kemudi kanan ditekan, maka putaran gigi persneleng tidak tersambung dengan poros roda kanan. Sehingga roda kanan akan berhenti, dan traktor akan berbelok ke kiri dan begitu juga sebaliknya apabila kopling kiri ditekan (Anonimb, 2011).
Stang kemudi merupakan bagian traktor yang digunakan untuk berpegangnya operator. Stang kemudi digunakan untuk membantu membelokan raktor. Meskipun sudah ada tuas kopling kemudi, namun agar berbeloknya traktor dapat lebih tajam, perlu dibantu dengan stang kemudi. Stang kemudi juga digunakan untuk mengangkat implemen pada saat pengoperasian. Kemudi pembantu digunakan untuk tempat bertumpu bahu operator. Maksudnya agar menambah beban bagian belakang traktor, sehingga hasil pengolahan tanah bisa lebih dalam (Anonimb, 2011).
Tuas gas traktor dihubungkan dengan tuas gas pada motor penggerak. Tuas ini digunakan untuk mengubah kecepatan putaran poros motor penggerak yang sesuai dengan tenaga yang dibutuhkan. Tuas ini juga berfungsi untuk mematikan motor traktor, apabila posisinya ditempatkan pada posisi “STOP” (Anonimb, 2011).
Kadang-kadang traktor digunakan pada waktu malam hari, sehingga diperlukan penerangan. Tombol bel diperlukan apabila traktor dijalankan di jalan raya. Dengan adanya tombol lampu dan bel ini, motor traktor harus dilengkapi dengan kumparan sebagai sumber arus listrik (Anonim 1, 2011).
Tuas ini dihubungkan dengan penyangga depan. Tuas ini akan menggerakkan penyangga depan. Apabila tuas didorong akan mendorong penyangga depan turun untuk menyangga traktor. Traktor tangan hanya mempunyai dua roda. Apabila traktor dalam keadaan berhenti (ditinggal operator), maka untuk menegakkan traktor diperlukan penyangga agar dapat memudahkan untuk menyangga traktor saat tidak difungsikan (Anonimb, 2011).
Pemeriksaan Traktor tangan merupakan bagian dari persiapan traktor sebelum dioperasikan. Pemeriksaan traktor sebelum operasi sangat penting. Diharapkan dengan adanya pemeriksaan ini kondisi traktor dapat diketahui sejak dini, sehingga penanganannya tidak terlalu sulit (Anonimb, 2011).
Menurut Hardjosentono, dkk, (2002), prinsip kontruksi traktor kecil ini terdiri atas :
a. Tenaga penggerak/motor penggerak.
b. Landasan/chasis dan badan
c. Komponen penerus tenaga.
d. Roda-roda/ban
e. Implements/peralatan pengolah tanah
Adapun persiapan dalam penggunaan traktor tangan sebelum pengoperasiannya supaya traktor ini dapat bekerja dengan lancer dan ekonomis, yaitu menyiapkan pakaian operator, mengadakan pemeriksaan, memeriksa kopling, traktor harus berjalan lurus, memeriksa tekanan ban, memeriksa bagian-bagian yang perlu dilumasi (Hardjosentono, dkk, 2002).
III. METEDOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum mengenai pengenalan traktor tangan dilaksanakan pada hari Kamis, 14 April 2011 mulai pukul 09.00 – 11.00 WITA di Laboratorium Perbengkelan Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar, 2011.
3.2 Alat dan Bahan
Pada praktikum Pengenalan Traktor Tangan, alat yang digunakan yaitu Traktor tangan dan Kamera digital. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu alat tulis-menulis.
3.3 Prosedur Kerja
A. Menghidupkan Traktor Tangan
1. memposisikan As kopling utama dalam kondisi “OFF” atau “rem” sehingga traktor tidak berjalan pada saat dihidupkan.
2. memposisikan, semua tuas perseneling pada kondisi netral untuk keamanan.
3. Membuka kran bahan bakar, sehingga terjadi aliran bahan bakar ke ruang pembakaran.
4. Gas dibesarkan pada posisi “start”, sehingga ada aliran bahan bakar (solar) yang cukup banyak di ruang pembakaran.
5. Menarik tuas dekompresi dengan tangan kiri untuk menghilangkan tekanan di ruang pembakaran pada saat engkol diputar.
6. Memasukkan engkol ke poros engkol, lalu memutar engkol searah jarum jam beberapa kali agar oli pelumas dapat mengalir ke atas melumasi bagian-bagian traktor. Biasanya dilengkapi dengan indikator, untuk menunjukkan adanya aliran pelumas.
7. Mempercepat putaran engkol, sehingga akan menghasilkan cukup tenaga untuk menghidupkan motor.
8. Melepaskan tuas dekompresi, untuk menghasilkan tekanan, sementara engkol masih tetap diputar sampai motor hidup.
9. Setelah motor hidup, engkol akan terlepas sendiri dari poros engkol. Hal ini disebabkan bentuk pengait engkol yang miring.
10. Menggeser posisi tuas gas pada posisi “idle” atau stasioner
11. Menghidupkan motor tanpa beban kurang lebih selama 2-3 menit, agar proses pelumasan dapat berjalan dengan baik.
12. Traktor siap untuk dioperasikan
B. Mematikan traktor tangan:
1. Melepaskan beban motor.
2. Mengecilkan gas pada posisi “idle” atau stasioner, sehingga putaran mesin akan pelan, selama 2-3 menit.
3. Menggeser tuas gas pada posisi “stop”, hingga motor mati karena tidak ada aliran bahan bakar ke ruang pembakaran.
4. Menutup kran bahan bakar
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Gambar Spesifikasi Kegunaan
Model KB 85 Serial No.9885003 MFG By PT Agrindo. Untuk mengolah tanah primer dan tanah sekunder
Sumber Data Primer setelah diolah, 2011
4.2 Pembahasan
Dari hasil praktikum yang telah kami laksanakan, jelas bahwa pada penggunaan traktor tangan memerlukan keahlian dan keterampilan dalam pengoperasiannya. Dimana kami sebagai praktikan, dituntut untuk dapat memahami mulai dari materi yang akan dilaksanakan, pada saat pengoperasian alat mesin traktor tangan, sampai pada prakteknya di lapangan. Dari penggunaan traktor yang kami telah laksanakan banyak hal yang perlu kami perhatikan misalnya, bagian-bagian dari traktor tangan tersebut serta fungsinya.
Bajak singkal (mold moard plow), bajak ini menggunakan hewan ternak, bajak ini digunakan untuk pengelolahan tanah primer/pertama. Sistem kerja : memotong, mengangkat dan melempar/membalik tanah. kelebihannya yaitu hasil pembajakan seragam sedangkan kekurangannya yaitu kontuksinya lebih rumit.
Adapun bajak putar (Rotary plow), bajak ini pisau bajaknya terpasang pada as traktor, Sistem kerja : berputarnya poros as mengakibatkan berputarnya pisau bajak sehingga tanah akan tercacah. Semakin cepat berputar, semakin sempurna pemotongannya (tdk terdapat pembalikan dan pelemparan tanah). Bajak rotary digunakan juga untuk pengelolahan tanah primer/pertama.
Adapun keuntungan yang kami peroleh dari adanya praktikum Pengenalan dan Penggunaan Traktor Tangan, yaitu untuk mempermudah dalam pengolahan tanah baik itu untuk pengolahan tanah primer maupun sekunder pada lahan pertanian dan perkebunan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Anonima, 2011), bahwa traktor tangan (hand tractor) merupakan sumber penggerak dari implemen (peralatan) pertanian. Biasanya traktor tangan digunakan untuk mengolah tanah. Namun sebenarnya traktor tangan ini merupakan mesin yang serba guna, karena dapat digunakan untuk tenaga penggerak implemen yang lain, seperti pada pompa air, alat prosesing, trailer, dan lain-lain.
Adapun kendala-kendala yang kami hadapi dalam penggunan traktor tangan yaitu alat traktor tangan berat, perlu adanya tenaga yang besar sehingga terjadi keseimbangan dalam penggunaan traktor tangan tersebut. Ban pada traktor tangan tersebut memiliki tekanan angin yang tidak sesuai dengan kebutuhan (kemps) sehingga tidak memudahkan dalam pengoperasian sehingga perlunya persiapan dalam pengoperasian. Hal ini sesuai dengan pendapat (Hardjosentono, dkk, 2002) yaitu adapun persiapan dalam penggunaan traktor tangan sebelum pengoperasiannya supaya traktor ini dapat bekerja dengan lancar dan ekonomis, yaitu menyiapkan pakaian operator, mengadakan pemeriksaan, memeriksa kopling, traktor harus berjalan lurus, memeriksa tekanan ban, memeriksa bagian-bagian yang perlu dilumasi.
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum “Pengenalan Traktor Tangan” kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut :
a. Bagian-bagian dari traktor tangan dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu tenaga penggerak motor, kerangka dan transmisi (penerus tenaga) serta tuas kendali.
b. Traktor tangan merupakan salah satu alat pra panen yang digunakn untuk mengolah lahan pada tanah primer dan sekunder.
c. Traktor tangan digunakan para petani yang digandengkan dengan bajak atau garu untuk mempermudahkan dalam pengolahan.
5.2 Saran
Saran untuk laboratorium, sebaiknya mesin traktor tangan dirawat agar pada praktikum selanjutnya masih dapat digunakan.
Saran untuk asisten, agar lebih detail lagi dalam menjelaskan tentang bagian-bagian traktor tangan serta cara peggunaan traktor tangan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonima, 2011. Traktor Tangan. Diakses tanggal 14 April 2011. Makassar
Anonimb, 2011. http://google/Bahan Bakar Traktor.org.co.id/ Diakses tanggal
14 April 2011. Makassar
Anonimc, 2011. http://wikipedia.org/Bagian-Bagian Traktor.co.id/ Diakses tanggal 14 April 2011. Makassar
Dahono dkk, 1997, Pengolahan Tanah Dengan Traktor Tangan, Bagian
Proyek Pendidikan Kejuruan Teknik IV: Jakarta
Hardjosentono, dkk., 2002. Mesin-Mesin Pertanian. Bumi Aksara:Jakarta
Mulyoto H dkk, 1996, Mesin-Mesin Pertanian, Bumi Aksara, Jakarta
Jumat, 10 Juni 2011
pengenalan alat dan mesin pertanian
Laporan Praktikum
Dasar – Dasar Teknologi dan Mekanisasi Pertanian
PENGENALAN MESIN PRA
DAN PASCA PANEN
Disusun oleh
NAMA : ernawati djaya
NIM : (G 111 09 276)
KELOMPOK : 5
ASISTEN : : nurshadrina
anjas anwar
LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
I.PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang sudah sejak dahulu menjadikan sektor pertanian sebagai penopang perekonomian negara. Sampai saat ini pun sektor pertanian masih tetap menyumbang devisa yang cukup besar bagi perekonomian negara. Bahkan pada saat Indonesia dilanda krisis ekonomi yang menghancurkan perekonomian negara, sektor pertanian melalui agribisnis dan agroindustri justru dapat terus berkembang menjadi penyelamat perekonomian negara. Namun, dengan sumber daya yang melimpah, proses perkembangan dan modernisasi sektor pertanian Indonesia berjalan sangat lambat. Salah satu indikatornya yaitu produktivitas pertanian yang cenderung menurun dan petani sebagai ujung tombaknya sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan . Penyebabnya antara lain penerapan teknologi disektor pertanian yang masih rendah.
Teknologi dalam pertanian adalah segala sesuatu yang dapat memudahkan pekerjaan dan menghasilkan output yang lebih baik. Pembangunan pertanian tanpa teknologi ialah hal yang mustahil. Keduanya berjalan secara beriringan saling mengikat . Dalam pembangunan pertanian tentu akan sangat berbeda dalam segi kepraktisan maupun hasil tani apabila petani tersebut mengadopsi teknologi dibandingkan ia memakai cara tradisional.
Teknik pertanian meliputi usaha tani (teknik penanaman, pemupukan, pengairan perlindungan tanaman secara terpadu ) dan pasca panen (pengolahan hasil pengenalan alat perontol yang dapat menekan kehilangan hasil, penyimpanan hasil pertanian yang dapat meningkatkan kualitas produk pertanian ) dan teknologi yang digunakan dalam pertanian, seperti mesin – mesin.
Berdasarkan pernyataan diatas maka kita sebagai mahasiswa pertanian, harus mempelajari tentang teknologi pertanian ini karena negara kita Indonesia merupakan negara agraris yang sudah sejak dahulu menjadi sektor pertanian sebagai penopang perekonomian negara.
I.2.Tujuan dan Kegunaan
a. Tujuan
1. Untuk mengetahui nama – nama alat yang menggunakan motor bakar yang digunakan dalam bidang pertanian
2. Dapat membedakan antara mesin pra panen dan pesin pasca panen mesin alat hidrolik dan mesin drainase
3. Dan untuk mengetahui spesifikasi dari alat – alat mesin pertanian yang ada di dalam Laboratorium Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin.
b. Kegunaan
1. Agar mengetahui fungsi berbagai mesin yang ada dalam Laboratorium Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin dan,
2. Mampu menggunakan mesin mesin tersebut sesuai dengan kegunaannya.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Mekanisasi Pertanian
Mekanisasi pertanian diartikan secara bervariasi oleh beberapa orang. Mekanisasi pertanian diartikan sebagai pengenalan dan penggunaan dari setiap bantuan yang bersifat mekanis untuk melangsungkan operasi pertanian. Bantuan yang bersifat mekanis tersebut termasuk semua jenis alat atau perlengkapan yang digerakkan oleh tenaga manusia, hewan, motor bakar, motor listrik, angin, air, dan sumber energi lainnya. Secara umum mekanisasi pertanian dapat juga diartikan sebagi penerapan ilmu teknik untuk mengembangkan, mengorganisasi, dan mengendalikan operasi di dalam produksi pertanian (Robbins,2005).
Ruang lingkup mekanisasi pertanian juga berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan modernisasi pertanian. Ada pula yang mengartikan bahwa pada saat ini teknologi mekanisasi yang digunakan dalam proses produksi sampai pasca panen (penanganan dan pengolahan hasil) bukan lagi hanya teknologi yang didasarkan pada energi mekanis, namun sudah mulai menggunakan teknologi elektronika atau sensor, nuklir, image processing, bahkan sampai teknologi robotik. Dan digunakan baik untuk proses produksi, pemanenan, dan penanganan atau pengolahan hasil pertanian (Mugniesyah, 2006).
Mekanisasi pertanian dalam arti luas bertujuan untuk meningkatkan produktifitas tenaga kerja, meningkatkan produktifitas lahan, dan menurunkan ongkos produksi. Penggunaan alat dan mesin pada proses produksi dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, produktifitas, kualitas hasil, dan mengurangi beban kerja petani. Pengalaman dari negara-negara tetangga Asia menunjukkan bahwa perkembangan mekanisasi pertanian diawali dengan penataan lahan (konsolidasi lahan), keberhasilan dalam pengendalian air, masukan teknologi biologis, dan teknologi kimia. Penerapan teknologi mekanisasi pertanian yang gagal telah terjadi di Srilangka yang disebabkan kecerobohan akibat penerapan mesin-mesin impor secara langsung tanpa disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik pertaniannya. Berbeda halnya dengan Jepang yang melakukan modifikasi sesuai dengan kondisi lokal, kemudian baru memproduksi sendiri untuk digunakan oleh petani mereka ( Hamilton dkk,1996).
Suatu hal yang paling mendasar yang masih belum diperhatikan dalam pengembangan teknologi pertanian di Indonesia hingga kini adalah kurang memadainya dukungan prasarana pertanian. Prasarana pertanian kita belum dikelola secara baik, sehingga masih agak sulit atau lambat dalam melakukan introduksi mesin-mesin pertanian (Robbins,2005).
Pengelolaan lahan, pengaturan dan manejemen pengairan yang meliputi irigasi dan drainase, serta pembuatan jalan-jalan transportasi daerah pertanian, dan masih banyak lagi aspek lainnya yang belum disentuh secara sungguh-sungguh dan profesional.
Relevansinya dengan hal tersebut, beberapa hal penting yang harus dilaksanakan antara lain adalah merencanakan atau memperbaiki kondisi lahan (konsolidasi lahan). Selain itu juga mendatangkan dan mengupayakan agar prasarana dan sarana pertanian sampai dan tersedia di lapangan tepat waktu sehingga dapat mengakselerasi pencapaian visi dan misi pertanian modern (Anonim, 2011).
Pengembangan teknologi pertanian diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat kita umumnya dan petani khususnya. Dapat dipastikan bahwa jika teknologi pertanian yang cocok tersebut telah berhasil dikembangkan dan diterapkan di negara kita, maka ketahanan pangan atau swasembada pangan pasti akan tercapai sehingga kemandirian dalam hal ekonomi dan politik dapat kita wujudkan (Siahan,2001).
Pada akhirnya kita punya modal kemandirian minimal dalam satu aspek pangan dan beberapa aspek lainnya misalnya keutuhan bangsa dan semangat untuk berkompetesi demi kemajuan bangsa yang berdaulat dan bermartabat (Siahan,2001).
Pembangunan pertanian akan bergerak dengan baik apabila mengandung 5 (lima) syarat pokok seperti , teknologi yang selalu berubah pasar bagi hasil –hasil usaha tani tersedianya saprotan secara local perangsang bagi petani transpotasi selain syarat pokok tersebut juga terdapat syarat pelancar yaitu pendidikan pembangunan kredit produksi, kegiatan bersama atau kelompok oleh petani perbaikan dan perluasan areal lahan perencanaan nasional pembangunan pertanian (Mugniesyah, 2006).
2.2 Mesin Pra Panen
Mesin pra panen untuk pertanian adalah mesin yang digunakan untuk mengelolah lahan dari lahan primer hingga pengelolahan lahan sekunder. Adapun mesin pra pertanian yang dirancang khusus untuk penanaman hingga pemeliharaan tanaman yang biasa disebut dengan mesin alat tanam (Wijanto,2002).
Traktor tangan merupakan (hand tractor) merupakan sumber penggerek dari implement (peralatan) pertanian. Biasanya traktor tangan digunakan untuk mengolah tanah. Namun sebenarnya traktor tangan ini merupakan mesin yang serba guna , karena dapat digunakan untuk tenaga penggerek implement yang lain, seperti pompa air, alat prosesing, trailer, dan lain – lain (Anonim, 2011).
Selain kopling utama, ada dua kopling kemudi. Kopling kemudian terletak di bawah gigi persneleng, di pangkal poros kedua roda. Kopling kemudian dioperasikan melalui tunas kemudi kiri dan kanan. Apabila kopling kemudi kanan ditekan , maka putaran gigi persneleng tidak tersambung dengan poros roda kanan . Sehingga roda kanan akan berhenti , dan traktor tangan dapat bergerak maju mundur dengan kecepatan tertentu karena putaran poros motor penggerek disalurkan di samping roda . Ada tiga jenis roda yang digunakan pada traktor tangan, yaitu roda ban, roda besi, roda apung (roda sangkar / cage whell) . Roda ban berfungsi untuk transportasi dan mengolah tanah kering.Bentuk permukaan roda ban beralur agak dalam untuk mencegah slip . Roda ban dapat meredam getaran , sehingga tidak merusak jalan – jalan .Roda besi digunakan untuk pembajakan di lahan kering. Sirip pada roda besi akan menancap ke tanah, sehingga akan mengurangi terjadinya slip pada saat menarik bebab berat. Roda apung digunakan pada saat pengolahan tanah basah (Mugniesyah, 2006) .
Roda apung ini ada yang lebar. Ukuran roda disesuiakan dengan spesifikasi traktor .Besar kecilnya roda akan berpengaruh terhadap lajunya traktor. Poros roda traktor biasanya cukup panjang dan dilengkapi dengan beberapa lubang. Poros yang panjang ini dimaksudkan untuk menyesuaikan lebar oleh implement. Pemasangan roda yang cukup lebar juga aka menjaga keseimbangan traktor.Pemanasan roda yang cukup lebar juga menjaga keseimbangan traktor. Aplikasinya dari alat dan mesin pertanian sangat dipergunakan untuk memudahkan dalam pengerjaannya, khususnya dalam bidang pertanian. Berkembangnya teknologi sekarang ini, menyebabkan tingkat produksi dalam pemakaiannya alsintan juga dilakukan secara modern, sehingga dapat memudahkan dalam kehidupan. Tujuan dari penggunaan alat dan mesin ini sangat diperlukan karena sangat mendukung dalam meningkatkan produktivitas pada pertanian(Anonim, 2011).
Untuk melaksanakan tugas dengan baik perlu peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia yang merupakan ujung tombak transfer teknologi kepada petani tersebut. Dari hasil evaluasi Program Pendidikan dan Latihan jarak jauh terhadap para PPL dilaporkan terdapat perkembangan yang positif dalam wawasan pengetahuan , keterampilan serta peningkatan kemampuan pengelolahan usaha pertanian masyarakat (Siahan,2001).
Penerapan mekanisasi sangat berhubungan dengan kemajuan – kemajuan bidang lain dari “Agricultural Engenering” dan berbentuk dalam satu atau lebih kombinasi dari bidang – bidang tersebut. Agricultural Engenering meliputi bidang – bidang Teknik Mesin Budidya Pertanian (Farm Power and Machinery), Teknik Tanah dan Air (Soil and Water Engenering), Teknik Bangunan Pertanian (Farm Structures), Teknik Pengolahan Hasil Pertanian (Agricultural Product Procesing Engenering), Teknik Pelistrikan Pertanian (Farm Electrification), dan Teknik Pengolahan Pangan (Food Engenering) (Siahan,2001).
2.2. Mesin Pasca Panen
Pasca panen (kegiatan setelah panen) merupakan ruas kegiatan usaha tani yang paling kritis, bukan hanya curahan tenaga kerja namun juga faktor kritis yang menyangkut masalah susut. Data BPS pada musim tanam 1986/1987 menunjukkan angka susut yang cukup besar yaitu 21,3% dari seluruh kegiatan (panen sampai penggilingan). Angka susut memang berbeda beda, namun angka nasional yang ditunjukkan oleh data BPS dapat dipakai sebagai acuan resmi nasional ( Hamilton dkk,1996).
Mesin pasca panen adalah mesin yang digunakan untuk mengelolah hasil pertanian yang biasanya dirancang sesuai dengan hasil pertanian yang ada. Mesin pasca panen ini biasanya lebih mengarah kepembuatan produk yang ingin dihasilkan. Contohnya mesin penghasil sari buah, mesin pembuat bubuk coklat, mesin pembuat mie, dan sebagainya (Hamilton dkk,1996)
Alat dan mesin yang digunakan dalam pra penen dan pasca panen sangat membantu di dalam proses pertanian mulai dari pengolahan tanah sampai pada produksi pertanian. Dengan bertambahnya alat dan mesin yang canggih dapat meningkatkan produksi pertanian untuk kebutuhan konsumen yang semakin meningkat. Hal ini di pengaruhi oleh bertambahnya jumlah penduduk di dunia, sehingga peningkatan produksi terutama tanaman pangan mendorong para ahli untuk membuat alat yang modern,agar dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia (Siahan,2001).
Teknologi Industri Pertanian didefinisikan sebagai disiplin ilmu terapan yang menitikberatkan pada perencanaan, perancangan, pengembangan, evaluasi suatu sistem terpadu (meliputi manusia, bahan, informasi, peralatan dan energi) pada kegiatan agroindustri untuk mencapai kinerja (efisiensi dan efektivitas) yang optimal. Disiplin ini menerapkan matematika, fisika, kimia/biokimia, ilmu-ilmu sosial ekonomi, prinsip-prinsip dan metodologi dalam menganalisis dan merancang agar mampu memperkirakan dan mengevaluasi hasil yang diperoleh dari sistem terpadu agroindustri. Sebagai paduan dari dua disiplin, teknik proses dan teknik industri dengan objek formalnya adalah pendayagunaan hasil pertanian (Wijanto,2002).
Kemajuan para petani ini ditandai oleh banyaknya petani kita yang telah menggunakan saran-saran para penyuluh dari bidang pertanian tentang bagaimana cara menggunakan mesin perontok gabah yang baik sehingga menghasilkan hasil komoditi yang sangat baik. Jika dahulunya perontokan dilakukan dengan cara dibanting dan diijak-injak, sekarang mereka telah beralih menggunakan power tresher atau biasa kita sebut dengan mesin perontok gabah. Hal ini membuat pekerjaan mereka lebih mudah dan dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Pengolahan gabah merupakan tahap yang penting dalam pengolahan padi sebelum dikonsumsi karena perdagangan padi dalam partai besar dilakukan dalam bentuk gabah (Robbin, 2005).
Perontokan dan pengeringan. Perontokan adalah proses memisahkan gabah dari merang sedangkan pengeringan adalah proses mengurangi kadar air gabah hasil panen untuk keperluan simpan atau giling, urutan 2 proses ini dapat dibolak-balik. Pada padi hibrida umumnya dirontokkan dulu lalu dikeringkan/dijemur sedangkan padi varietas local umumnya dikeringkan lalu dirontokkan( Wijanto, 2002).
Setelah dirontokkan,gabah dimasukkan ke mesin pemecah kulit. Proses ini mengelupaskan sekam dari gabah. Hasil biji beras yang dikenal dengan Beras Pecah Kulit atau Brown Rice. Biji beras masih memiliki kulit ari (aleurone dan pericarp). Lapisan kulit ari ini umumnya dikenal dengan istilah bekatul. Aleurone adalah lapisan protein. Pada saat benih berkecambah, sel aleurone akan memecah menjadi asam amino. Dipicu oleh hormon yang dipecahkan oleh embrio aleuron akan mensintesis enzim yang berguna untuk memacu perkecambahan. Pericarp adalah jaringan yang mengelilingi biji, sebagai pelindung embrio (Robbin, 2005).
Berbagai penelitian membuktikan bahwa lapisan kulit ari kaya akan kandungan protein, vitamin, mineral, lemak dan serat. Oleh karena itu, membiasakan mengkonsumsi beras pecah kulit menjadi lebih sehat dan lebih baik. Akan tetapi, umumnya orang enggan memakannya karena nasi dari beras pacah kulit lebih keras, walaupun sudah lama dimask sehingga, sulit dikunyah (Wijanto,2002).
Proses mengelupas kulit ari sehingga diperoleh beras putih bersih. Biji beras yang putih bersih ini sebagian besar terdiri dari pati. Petani yang menggunakan teknologi di bidang pertanian khususnya yang menggunakan mesin pertanian haruslah mampu mengetahui biaya-biaya yang ia akan keluarkan dalam pengolahan lahannya. Seperti pengeluaran untuk bahan bakar mesin,biaya perawatan mesin,biaya perawatan tanamannya, sampai upah pekerja jika ia menggunakan jasa pekerja. Hal ini sangatlah penting karena dengan mengetahui seluruh biaya pengeluaran yang telah dikeluarkan selama pengolahan lahan, maka para petani dapat mengetahui keuntungan yang akan diperolehnya nanti (Robbin,2005).
Mesin evaporator vakum adalah mesin yang biasa dipakai untuk mengurangi kadar air suatu bahan yang berbentuk cair. Prinsip kerja dari mesin ini adalah tanpa pemanasan langsung, suhu biasa diatur sesuai dengan keinginan. Penggunaan suhu rendah disertai dengan vakum, akan menjaga nutrisi/gizi produk tidak hilang atau rusak. Mesin separator sentrifugal (sentrifus) berfungsi untuk memisahkan cairan dari cairan yang berbeda, seperti air dan minyak pada proses pembuatan VCO (Wijanto,2002).
Beberapa kasus pada pengolahan kakao dan kopi, juga memberikan indikasi, bahwa penggunaan alat dan mesin untuk sortasi, pengeringan, dan penanganan primer hasil kakao dan kopi mampu meningkatkan kualitas 10 hasil dan pada akhirnya mengangkat nilai tambah hasil pertanian Dalam sistem agribisnis yang terbagi dalam empat sub sistem yaitu sub sistem agribisnis hulu sampai pada sub sistem agribisnis hilir (pengolahan dan pemasaran), peran alat dan mesin pertanian diperlukan(Anonim,2011).
Faktor – faktor pra panen yang diketahui berdampak pada cita rasa produk hortikultura termasuk lingkungan , praktek budaya , bahan kimia yang digunkan serta faktor unsure hara . Pengaruh iklim terhadap cita rasa buah dan sayur juga telah banyak dilaporkan. Diketahui bahwa musim berpengaruh besar terhadap tinngkat kepedesaan pad bawang merah ( Hamilton dkk,1996)
Terdapat banyak faktor pra – panen yang dapat mempengaruhi mutu pasca panen buah dan sayur, terutama pengaruhnya terhadap penampakan , kekerasan dan cita rasa. Faktor-faktor biologi , fisilologi , lingkungan , dan budidaya. Kerusakan – kerusakan yang terjadi selama proses produksi , benda – benda asing yang tidak diinginkan yang tercampur pada produk hortikultura dan residu bahan kimia serta variasi genetic (Anonim, 2011).
Untuk tanaman pangan (padi, jagung dan kedelai) teknologi mekanisasi yang ada di pasar sebenarnya sudah tersedia cukup dengan suplai yang cukup. Namun demikian, masalah manajemen sistem mekanisasi menjadi faktor kendala yang perlu diperhatikan, bidang ini tidak banyak mendapat perhatian sebagai bidang sains dan perekayasaan. Pada masa sekarang dengan keinginan dan keutuhan untuk menuju ke produktivitas, efisiensi, kualitas dan nilai tambah, sistem manajemen/sistem enjinering mekanisasi pertanian perlu mendapatkan perhatian bagi peneliti/perekayasa mekanisasi, penyuluh dan praktisi yang bergerak di bidang mekanisasi (Mugniesyah, 2006).
Sebagai contoh dalam tahap penanganan dan pengolahan hasil pertanian, masalah hasil samping dan limbah perlu mendapat perhatian lebih banyak. Komoditi pertanian mempunyai prospek baik serta bersifat renewable. Sebagai contoh adalah sabut kelapa dan cangkang sawit dan sekam padi yang umumnya hanya dibakar. Teknologi pirolis dapat menambah nilai uang limbah dan dikembalikan lagi kepada usaha tani dalam bentuk yang
lain (Anonim,2011).
III.METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengenalan alat pra dan pasca panen dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 11 April 2011 pukul 12.00 WITA sampai selesai, di Laboratorium Mekanisasi dan Teknologi Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian,Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.2. Alat
Pada praktikum Pengenalan alat pra dan pasca panen ini , alat yang digunakan yaitu kamera dan alat tulis menulis.
3.3.Prosedur Percobaan
Dalam praktikum pengenalan mesin pra panen dan pasca panen, kita telah diperkenalkan beberapa mesin, adapun prosedur percobaan dari praktikum ini yaitu :
1. Dijelaskan tentang alat pra dan pasca panen
2. Dijelaskan tentang spesifikasi alat dan mesin pertanian untuk jenis mesin pra panen
3. Dijelaskan tentang spesifikasi alat dan mesin pertanian untuk jenis mesin pasca panen.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Dalam praktikum ini kita dikenalkan berbagai mesin dan alat pra dan pasca panen , adapun spesifikasi, fungsi dan kegunaannya dapat kita lihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1. Alat Pengolahan Pra Panen
No Nama alat Spesifikasi Fungsi dan kegunaan
1. Bajak piring
Model : DP50 Lembar piringan : 2 buah Lebar kerja : 0,70 meter ;
Kedalaman kerja : 0,30 m Diameter
piringan : 0,55 m;
Berat bajak piring : 200 kg; Daya untuk menarik : 15 - 35 HP Kecepatan kerja rata-rata adalah 5,77
km/jam, dengan
lebar pembajakan
rata-rata 580 mm. Daya minimum yang diperlukan adalah 5,7 jam/Ha dengan
efisiensi waktu
pengolahan 25%
Kegunaan : Sebagai pengolah tanah pertama untuk
perbaikan struktur butir-butir tanah,
memperbesar persediaan air
,memperbaiki peresapan air dan aerasi tata udara tanah, mengurangi evaporasi tanah,
Fungsi : untuk mengolah kebun seluas 2,5 - 5 Ha; Sangat cocok untuk usaha tani lahan kering seperti tanaman hortikultura dan palawija;Dapat digandengkan dgn traktor mini bertenaga min 15 HP; Lebar pengolahan, kedalamanpembajakan dan kemiringan bajak dapat diatur sesuai kebutuhan.
2
Mesin penanam jagung dan pemupukan
1. Model : GS–JP-FL/01
2. Penarik : Traktor roda 2
3. Traktor roda 4 30 /40/ 50 HP
4. Bijian yang sesuai : Jagung dan Kedele
5.Kap. Hopper : 5 kg /unit
6. Kecepatan penanaman : 1,5- 2,0 km/jam
7. Jarak tanam dalam alur : 30 – 40 cm
8. Jarak tanam antara alur : Dapat diatur (30–80) cm
9. Kedalaman penanaman : 5 – 7 cm
10. Berat (1 unit penanam) : 20 kg.
11. Penakar benih : Tipe priringan datar menyudut
12. Pembuka alur :Piringanganda
13. Dimensi ( 1 unit/ 1 baris)
Kegunaan :
Mesin ini berguna sebagai alat penanam jagung sekaligus alat untuk pemupukan yang bekerja sangat cepat sehingga waktu yang digunakan sangat efisien.
fungsi:
berfungsi sebagai alat tanam jagung yang dapat diatur : 4 alur utk jagung, 6 alur untuk kedele, dan 10 alur utk padi didesain untuk mampu dipakai di hasil pengolahan tanah yang bergelombang (tidak rata), karena dilengkapi dengan pegas horisontal maupun vertical.
Dapat menanam dengan kecepatan maju 2–2,5 km/jam, akan diperoleh kapasitas kerja (0,5–0,6 ha/jam atau 4-5 hektar dalam satu hari),
3.
Traktor tangan (power tiller)
Ukuran piringan : 26 x 3/16” artinya diameter piringan 26”
- tebal piringan 3/16”
Bajak piringan standar umumnya berdiameter piringan 24 sampai 32 inci. Diameter
piringan 24 “
cekungan 33/8 sampai 4 “, diameter 26 “ cekungan sampai 4 ½
Sudut piringan dengan garis vertical 15 - 250 dan dengan arah horizontal pada sudut 42 - 450 . Kegunaan :
Mesin ini berguna memperbaiki struktur tanah , dimana traktor ini bekerja dengan metode pengarikan pada bajak.
Fungsi
fungsi utamanya adalah untuk menarik bajak yang akan digunakan untuk mengolah dan membalikkan tanah.
4. Bajak putar / bajak Rotari
- Sistim Transmisi ( Chain - Gear)
- Sistim Penggerak ( Kopling Utama) V Belt ( 2 buah)
- Sistim Pembelok ( Kopling Kemudi) Dog cluth
- Isi Minyak Pelumas 5, 5 liter
- Dimensi Traktor P, 2730 mm. L, 1140 mm. T, 1370 mm
- Berat 300 Kg ( Berat Traktor termasuk Roda Besi dan Diesel. Apabila menggunakan roda karet berat = 250 Kg)
• Tenaga Penggerak
- Merk KUBOTA
- Type 4 langkah
- Model RD 85 DI-1
- Tenaga Rata-rata 7, 5 / 2200 HP / RPM
- Tenaga Maxsimum 8, 5 / 2400 HP / RPM
- Bahan Bakar Solar
- Sistim Starting Engkol
- Sistim Pendingin Radiator
- Isi Bahan Bakar 9, 5 ltr
- Isi Minyak Pelumas 2, 4 ltr
- Berat 86 kg
- Sistim Lampu dengan IC Regulator
• Perlengkapan Tambahan yang dapat dibeli ( terpisah)
- - HITCH II
- Roda Besi Bertapak Lebar
- Roda Besi Bertapak Panjang
Kegunaan :
Memberantas gulma
2. Memperbaiki struktur tanah agar lebih baik untuk pertumbuhan tanaman
3. Menempatkan seresah agar terdekomposisi dengan baik
4. Menurunkan laju erosi dengan cara pengolahan yang sesuai
5. Meratakan tanah
6. Mencampur pupuk dengan tanah
7. Mempersiapkan tanah untuk pemberian air irigasi
Fungsi :
Memotong dan
membalikkan tanah
pada pengolahan tanah, dapt membajakan
dengan kedalaman 15 cm,dan lebar
pembajakan bervariasi sedangkan besar
bongkahan didapati
diatas 24 cm.
Sumber : Data Primer, Laboratorium Mekanisasi dan Teknologi Pertanian, 2011
Tabel 2 . Alat Pengolahan Pasca Panen
No Nama alat Spesifikasi Fungsi dan kegunaan
1. Mesin vaccum evapator
Kapasitas optimal 65 liter maksimal 80 liter
Lama proses 120 – 180 menit
Sistem pemanasan tidak langsung , sistem double jacket
Bahar bakar LPG dengan control suhu digital
Pendingin sirkulasi air volume tabung evaporator 125 – 130 liter
Kebutuhan daya pompa vakum 750 – 1000 W
Kebutuhan daya pompa sirkulasi pemanas 300 W
Instalasi listrik rumah minimum 2200 W ,220 V 1 fase dimensi (p X L X T) 120 cm X 120 cmX120 cm
Volume pada waktu diangkut 120 cm X 120 cm X 160 cm
Control suhu digital
Bahan stainless steel
Fungsi
Mesin Evaporator Vakum (Vacuum Evaporator) berfungsi sebagai mengurangi atau bahkan menghilangkan kadar air pada minyak kelapa murni. Dengan kadar air yang rendah, maka minyak VCO yang Anda produksi akan semakin berkualitas dan tidak mudah tengik, serta awet (2 tahun). Alat mesin produksi ini juga dapat dipakai untuk mengurangi kadar air pada madu, sari buah, minyak nilam dan gula cair dari ekstrak nira
Kegunaan :
Untuk pemekatan bahan cair, mengurangi kadar air tanpa merusak nutrisi bahan
2
Mixer
• Frame : pipa besi kotak 2x4 cm
• Tabung / silinder : Stainless Steel 304
• Dimensi (pxlxt) cm : 70 x 60 x 85 cm
• Daya listrik maksimal : 500 W / 220 AV
• Kapasitas : 20-50 kg / proses
• Bahan bakar panas : Burner LPG
• Transmisi rpm : Gear box, pulley, V belt, 20-40 rpm
• Kontrol suhu : Sistem suhu terkontrol otomatis / analog
Fungsi :
Mesin ini berfungsi untuk mengaduk bahan, disertai dengan proses memasak. Mesin ini cocok untuk mengaduk bahan yang akan kita olah.
Kegunaan :
Alat ini digunakan untuk menyatuhkan bahan suspensi yang akan diolah seperti penyatuhkan tepung dengan gula.
3.
Alat pengemas
Tipe : AW 6035 4ss
- Produk yang dikemas : bubuk, biji-bijian, butiran
Tipeseal : sistem renteng 4 side seal
- Tipe mesin : vertical sachet
- Dimensi seal W=50-100 mm, L=50-140 mm
- Kapasitas pengemas : Up to 100 gr
- Ukuran mesin : WxLxT=670x900x1770 mm
- Material pengemas :AL+PE, OPP+PE, NY+PE, dan bahan kertas pengemas lain yang dapat direkatkan dengan panas
- Kecepatan mengemas : 50-80 pack/min
- Supply voltage : 220V/380V, 1ph/3ph Neutral 50Hz
- Power requirement : 1,4 kVA/18 amp
Fungsi : mesin untuk pengemasan produk otomatis dengan sistem vertical
Kegunaan :
Mesin ini berguna sebagai mesin ntuk mengemas menyegel body produk (beberapa produk). Plastik melekat di body produk. Cocok untuk kemasan terluar berbagai macam produk : minuman, mainan, dll. Bisa dipakai untuk menyatukan beberapa produk (dalam bentuk paket)
4
Pemecah biji kakao
Kapasitas 100- 200 kg bahan masuk / jam
Volume ruang 0,05 m3
Sistem pengepresan kontinyu
Bahan dinding stainless steel
Saringan 20 mesh
Putaran ulir 10 rpm
Pemisahan hasil langsung
Sistem penggerek
Motor 5,5 HP
Transmisi , gear box dan pulley
Jumlah belt , 3 belt
Fungsi :
Untuk memisahkan biji dengan kulitnya
Kegunaan :
Kegunaan dari alat ini yaitu selain mampu memisahkan biji , mesin ini juga berfungsi sebagai alat untuk membersihkan kulit buah
Sumber : Data Primer, Laboratorium Mekanisasi dan Teknologi Pertanian, 2011
4.2 Pembahasan
Dari hasil yang kita peroleh diatas maka kita dapat mengetahui alat dan mesin pertanian dapat dibedakan atas alat dan mesin pra panen dan pasca panen, dimana kita ketahui yang membedahkan mesin pra panen meliputi bajak piring, mesin penanam jagung, traktor tangan bajak putar. Sedangkan yang tergolong kedalam alat dan mesin pasca panen yaitu mixer, mesin pendingin, mesin vaccum evapator, mesin pengemas, dan mesin pemecah biji kakao. Sesuai dengan pendapat Hamilton (1996) yang menyatakan alat mesin dan alat pra dan pasca panen sangat berpengaruh terhadap kualitas pada produk yang akan diolah sehingga mesin dan alat pra dan pasca panen haruslah berstandar mutu yang telah ditetapkan.
Traktor tangan merupakan salah satu mesin pengolah tanah yang kini mulai banyak digunakan petani dalam mengolah tanah. Sebagai mesin pengolah tanah traktor haruslah dilengkapi dengan peralatan pengolah tanahnya, seperti bajak, garu, ataupun bajak rotari. Untuk mengenal traktor sebagai mesin pengolah tanah, maka perlu dipahami prinsip kerja serta persyaratan kondisi kerja, perlengkapan, serta kegunaannya. Sesuai dengan pendapat Siahaan (2011) bahwa dalam mekanisasi pertanian traktor merupakan alat dan mesin pertanian khusus pra panen yang sangat diperlukan karena sangat mendukung dalam meningkatkan produktivitas pada pertanian. Namun sebenarnya traktor tangan ini merupakan mesin yang serba guna, karena dapat digunakan untuk tenaga penggerek implement yang lain, seperti pompa air, alat prosesing, trailer, dan lain – lain.
Prinsip kerja traktor tangan adalah mesin pengolah tanah dengan menggunakan tenaga penggerak motor bakar yang pada umumnya motor diesel. Sebagai mesin pengolah tanah, traktor digunakan untuk menarik peralatan pengolahan tanah, seperti bajak piring,garu piring. Pengaturan tersebut dilakukan dengan mamanjangkan atau memendekkan pada ikatan sambungan peralatan atau pada tiga titik penyambungan. Dalam hal ini Mugniesyah (2006) menyatakan bahwa Roda besi digunakan untuk pembajakan di lahan kering. Sirip pada roda besi akan menancap ke tanah, sehingga akan mengurangi terjadinya slip pada saat menarik bebab berat . Roda apung digunakan pada saat pengolahan tanah basah. Dan ini berguna untuk keseimbangan traktor dalam proses pengolahan tanah.
Bajak putar juga termasuk kedalam mesin pra panen dimana pisau bajak terpasang pada as. Sistem kerja dari bajak putar atau bajak rotary yaitu berputarnya poros as mengakibatkan berputarnya pisau bajak sehingga tanah akan tercacah. Semakin cepat berputar, semakin sempurna pemotongannya (tidak terdapat pembalikan dan pelemparan tanah).
Mesin penanam jagung, mesin ini merupakan mesin yang dapat mempermudah petani dalam mengerjakan aktifitas penanaman jagung, dimana mesin ini bekerja secara spesifik . mesin ini berfunsi sebagai mesin penanam dan pemupukan jagung dan kedele skala besar termasuk kategori High Technology dengan traktor penarik traktor roda 4 secara mounted (3 titik penggandengan), atau ditarik dengan traktor roda dua, dan masuk klas implement.berfunsi sebagai alat tanam jagung yang dapat diatur 4 alur utk jagung, 6 alur untuk kedele, dan 10 alur utk padi didesain untuk mampu dipakai di hasil pengolahan tanah yang bergelombang (tidak rata), karena dilengkapi dengan pegas horisontal maupun vertical.Dapat menanam dengan kecepatan maju 2–2,5 km/jam, akan diperoleh kapasitas kerja (0,5–0,6 ha/jam atau 4-5 hektar).
Mesin dan peralatan adalah setiap alat bantu mekanik yang dipakai manusia untuk melakukan apa saja. Sedang perbedaan alat dan mesin, adalah mengenai tingkat kesederhanaan susunannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Mugniesyah (2003) bahwa berkembangnya teknologi sekarang ini, menyebabkan tingkat produksi dalam pemakaiannya alat mesin pertaniann juga dilakukan secara modern, sehingga dapat memudahkan dalam kehidupan. Tujuan dari penggunaan alat dan mesin ini sangat diperlukan karena sangat mendukung dalam meningkatkan produktivitas pada pertanian.
Alat dan mesin pertanian mencakup seluruh peralatan yang dipergunakan dalam suatu pekerjaan budidaya pertanian atau pengusahaan tanaman. Sehingga alat dan mesin pertanian sangat memudahkan dalam pengolahan pra dan pasca panen hingga sampai pada tingkat konsumen untuk produksi pemasaran. Pada dasarnya sumber penggeraknya dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu secara alami dan buatan manusia. Sesuai dengan pendapat Wijanto (2002) bahwa alat dan mesin pra pertanian yang dirancang khusus untuk penanaman hingga pemeliharaan tanaman yang biasa disebut dengan mesin alat tanam.
Mesin pasca panen adalah mesin yang digunakan untuk mengelolah hasil pertanian yang biasanya dlrancang sesuai dengan hasil pertanian yang ada. Mesin pasca panen ini biasanya lebih mengara kepembuatan produk yang ingin dihasilkan. Sedangkan yang termasuk mesin pasca panen yaitu mesin evaporator, mesin evaporator vakum adalah mesin yang biasa dipakai untuk mengurangi kadar air suatu bahan yang berbentuk cair. Prinsip kerja dari mesin ini adalah tanpa pemanasan langsung, suhu biasa diatur sesuai dengan keinginan. Penggunaan suhu rendah disertai dengan vakum, akan menjaga nutrisi/gizi produk tidak hilang atau rusak. Mesin separator sentrifugal (sentrifusi) berfungsi untuk memisahkan cairan dari cairan yang berbeda, seperti air dan minyak pada proses pembuatan VCO. Hal ini seuai dengan pendapat Hamilton dkk, (1996) bahwa mesin pasca panen adalah mesin yang digunakan untuk mengelolah hasil pertanian yang biasanya dirancang sesuai dengan hasil pertanian yang ada. Mesin pasca panen ini biasanya lebih mengarah kepembuatan produk yang ingin dihasilkan. Dan prinsip kerja dari mesin ini adalah tanpa pemanasan langsung, suhu biasa diatur sesuai dengan keinginan. Penggunaan suhu rendah disertai dengan vakum, akan menjaga nutrisi/gizi produk tidak hilang atau rusak. Mesin separator sentrifugal (sentrifus) berfungsi untuk memisahkan cairan dari cairan yang berbeda, seperti air dan minyak pada proses pembuatan VCO.
Dalam praktikum ini kita juga dikenalkan mesin pemecah biji kakao, dimana mesin ini merupakan mesin yang berfungsi sebagai merontokan biji kakao,dimana biji kakao dimasukkan ke mesin pemecah kulit. Proses ini mengelupaskan sekam dari kakao. Hasil biji kakao. Biji kakao masih memiliki kulit ari (aleurone dan pericarp). Lapisan kulit ari ini umumnya dikenal dengan istilah bekatul. Aleurone adalah lapisan protein. Pada saat benih berkecambah, sel aleurone akan memecah menjadi asam amino. Dipicu oleh hormon yang dipecahkan oleh embrio, aleuron akan mensintesis enzim yang berguna untuk memacu perkecambahan. Pericarp adalah jaringan yang mengelilingi biji. Hal ini sesuai dengan pendapat Robbin (2005) bahwa pada saat benih berkecambah, sel aleurone akan memecah menjadi asam amino. Dipicu oleh hormon yang dipecahkan oleh embrio aleuron akan mensintesis enzim yang berguna untuk memacu perkecambahan. Pericarp adalah jaringan yang mengelilingi biji, sebagai pelindung embrio dan ini dipengaruhi oleh alat dan mesin yang digunakan dalam pengolahan pasca panen.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari hasil kita peoleh dapat kita tarik kesimpulan bahwa :
1. Alat dan mesin pertanian didedakan atas alat dan mesin pra panen serta alat dan mesin pasca panen.
2. Alat dan mesin pra panen dalam praktikum yang kita lakukan meliputi traktor tangan, bajak piring, bajak putar, mesin penanaman padi.
3. Alat dan mesin pasca panen dalam praktikum yang dita lakukan meliputi mesin vaccum evapator, mesin pengemas, mixer, alat pemecah kakao, dan mesin pendingin.
4. Masing-masing alat dan mesin pertanian, baik pra maupun pasca panen memiliki fungsi dan kegunaan yang bersifat spesifik.
5.2. Saran
Sebaiknya dalam pelaksanaan praktikum efektivitas dan efisisensi lebih diperhatikan, agar praktikum lebih maksimal. Dan juga alat yang ada dalam laboratorium agar kiranya dapat dilengkapi spesifikasinya sehingga ini dapat melancarkan pelaksanaan praktikum
DAFTAR PUSTAKA
Anonima.,2011.Pengenalan Alat dan Mesin Pertanian. http://ictsleman.ath.cx/pustaka/
pertanian/agro_industri_non_pangan/15_pengenalan_alat_dan_mesin_pertanian.pdf Diakses pada hari 10 April , pukul 21:30 WITA. Makassar.
Anonimb.,2011.FungsiMesin Alat Pertanian. http://mekanisasi.litbang.deptan.go.id.Diakses pada tanggal 10 April Pukul 20.54 WITA.Makassar
Fauziah ,Sulaiman ,2000.Mekanisme Penyebaran Inovasi Pertanian Suatu Kajian prosiding. Lokakarya Nasional Pusat Perpustakaan Pertanian .Bogor
Mugniesyah, Siti Sugiah M. 2006.Penyuluhan Pertanian Bagian I : Peranan Penyuluhan
Pertanian dalam Pembangunan Pertanian .Bogor : IPB Press
Mulyoto, dkk. 2002. Mesin-Mesin Pertanian. PT Graha persada : Jakarta.
Robbins,2005. CRC handbook of engineering in agriculture. Boka Raton .F1.CRC Press
Siahaan , S.2001.Penelitian tentang DIKLAT jarak jauh penyuluhan pertanian dan
dampaknya terhadap peningkatan kualitas hidup petani di kabupaten Ogan Komering ilir (OKI) . Sumatera Selatan .IPB Press.
Dasar – Dasar Teknologi dan Mekanisasi Pertanian
PENGENALAN MESIN PRA
DAN PASCA PANEN
Disusun oleh
NAMA : ernawati djaya
NIM : (G 111 09 276)
KELOMPOK : 5
ASISTEN : : nurshadrina
anjas anwar
LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
I.PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang sudah sejak dahulu menjadikan sektor pertanian sebagai penopang perekonomian negara. Sampai saat ini pun sektor pertanian masih tetap menyumbang devisa yang cukup besar bagi perekonomian negara. Bahkan pada saat Indonesia dilanda krisis ekonomi yang menghancurkan perekonomian negara, sektor pertanian melalui agribisnis dan agroindustri justru dapat terus berkembang menjadi penyelamat perekonomian negara. Namun, dengan sumber daya yang melimpah, proses perkembangan dan modernisasi sektor pertanian Indonesia berjalan sangat lambat. Salah satu indikatornya yaitu produktivitas pertanian yang cenderung menurun dan petani sebagai ujung tombaknya sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan . Penyebabnya antara lain penerapan teknologi disektor pertanian yang masih rendah.
Teknologi dalam pertanian adalah segala sesuatu yang dapat memudahkan pekerjaan dan menghasilkan output yang lebih baik. Pembangunan pertanian tanpa teknologi ialah hal yang mustahil. Keduanya berjalan secara beriringan saling mengikat . Dalam pembangunan pertanian tentu akan sangat berbeda dalam segi kepraktisan maupun hasil tani apabila petani tersebut mengadopsi teknologi dibandingkan ia memakai cara tradisional.
Teknik pertanian meliputi usaha tani (teknik penanaman, pemupukan, pengairan perlindungan tanaman secara terpadu ) dan pasca panen (pengolahan hasil pengenalan alat perontol yang dapat menekan kehilangan hasil, penyimpanan hasil pertanian yang dapat meningkatkan kualitas produk pertanian ) dan teknologi yang digunakan dalam pertanian, seperti mesin – mesin.
Berdasarkan pernyataan diatas maka kita sebagai mahasiswa pertanian, harus mempelajari tentang teknologi pertanian ini karena negara kita Indonesia merupakan negara agraris yang sudah sejak dahulu menjadi sektor pertanian sebagai penopang perekonomian negara.
I.2.Tujuan dan Kegunaan
a. Tujuan
1. Untuk mengetahui nama – nama alat yang menggunakan motor bakar yang digunakan dalam bidang pertanian
2. Dapat membedakan antara mesin pra panen dan pesin pasca panen mesin alat hidrolik dan mesin drainase
3. Dan untuk mengetahui spesifikasi dari alat – alat mesin pertanian yang ada di dalam Laboratorium Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin.
b. Kegunaan
1. Agar mengetahui fungsi berbagai mesin yang ada dalam Laboratorium Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin dan,
2. Mampu menggunakan mesin mesin tersebut sesuai dengan kegunaannya.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Mekanisasi Pertanian
Mekanisasi pertanian diartikan secara bervariasi oleh beberapa orang. Mekanisasi pertanian diartikan sebagai pengenalan dan penggunaan dari setiap bantuan yang bersifat mekanis untuk melangsungkan operasi pertanian. Bantuan yang bersifat mekanis tersebut termasuk semua jenis alat atau perlengkapan yang digerakkan oleh tenaga manusia, hewan, motor bakar, motor listrik, angin, air, dan sumber energi lainnya. Secara umum mekanisasi pertanian dapat juga diartikan sebagi penerapan ilmu teknik untuk mengembangkan, mengorganisasi, dan mengendalikan operasi di dalam produksi pertanian (Robbins,2005).
Ruang lingkup mekanisasi pertanian juga berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan modernisasi pertanian. Ada pula yang mengartikan bahwa pada saat ini teknologi mekanisasi yang digunakan dalam proses produksi sampai pasca panen (penanganan dan pengolahan hasil) bukan lagi hanya teknologi yang didasarkan pada energi mekanis, namun sudah mulai menggunakan teknologi elektronika atau sensor, nuklir, image processing, bahkan sampai teknologi robotik. Dan digunakan baik untuk proses produksi, pemanenan, dan penanganan atau pengolahan hasil pertanian (Mugniesyah, 2006).
Mekanisasi pertanian dalam arti luas bertujuan untuk meningkatkan produktifitas tenaga kerja, meningkatkan produktifitas lahan, dan menurunkan ongkos produksi. Penggunaan alat dan mesin pada proses produksi dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, produktifitas, kualitas hasil, dan mengurangi beban kerja petani. Pengalaman dari negara-negara tetangga Asia menunjukkan bahwa perkembangan mekanisasi pertanian diawali dengan penataan lahan (konsolidasi lahan), keberhasilan dalam pengendalian air, masukan teknologi biologis, dan teknologi kimia. Penerapan teknologi mekanisasi pertanian yang gagal telah terjadi di Srilangka yang disebabkan kecerobohan akibat penerapan mesin-mesin impor secara langsung tanpa disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik pertaniannya. Berbeda halnya dengan Jepang yang melakukan modifikasi sesuai dengan kondisi lokal, kemudian baru memproduksi sendiri untuk digunakan oleh petani mereka ( Hamilton dkk,1996).
Suatu hal yang paling mendasar yang masih belum diperhatikan dalam pengembangan teknologi pertanian di Indonesia hingga kini adalah kurang memadainya dukungan prasarana pertanian. Prasarana pertanian kita belum dikelola secara baik, sehingga masih agak sulit atau lambat dalam melakukan introduksi mesin-mesin pertanian (Robbins,2005).
Pengelolaan lahan, pengaturan dan manejemen pengairan yang meliputi irigasi dan drainase, serta pembuatan jalan-jalan transportasi daerah pertanian, dan masih banyak lagi aspek lainnya yang belum disentuh secara sungguh-sungguh dan profesional.
Relevansinya dengan hal tersebut, beberapa hal penting yang harus dilaksanakan antara lain adalah merencanakan atau memperbaiki kondisi lahan (konsolidasi lahan). Selain itu juga mendatangkan dan mengupayakan agar prasarana dan sarana pertanian sampai dan tersedia di lapangan tepat waktu sehingga dapat mengakselerasi pencapaian visi dan misi pertanian modern (Anonim, 2011).
Pengembangan teknologi pertanian diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat kita umumnya dan petani khususnya. Dapat dipastikan bahwa jika teknologi pertanian yang cocok tersebut telah berhasil dikembangkan dan diterapkan di negara kita, maka ketahanan pangan atau swasembada pangan pasti akan tercapai sehingga kemandirian dalam hal ekonomi dan politik dapat kita wujudkan (Siahan,2001).
Pada akhirnya kita punya modal kemandirian minimal dalam satu aspek pangan dan beberapa aspek lainnya misalnya keutuhan bangsa dan semangat untuk berkompetesi demi kemajuan bangsa yang berdaulat dan bermartabat (Siahan,2001).
Pembangunan pertanian akan bergerak dengan baik apabila mengandung 5 (lima) syarat pokok seperti , teknologi yang selalu berubah pasar bagi hasil –hasil usaha tani tersedianya saprotan secara local perangsang bagi petani transpotasi selain syarat pokok tersebut juga terdapat syarat pelancar yaitu pendidikan pembangunan kredit produksi, kegiatan bersama atau kelompok oleh petani perbaikan dan perluasan areal lahan perencanaan nasional pembangunan pertanian (Mugniesyah, 2006).
2.2 Mesin Pra Panen
Mesin pra panen untuk pertanian adalah mesin yang digunakan untuk mengelolah lahan dari lahan primer hingga pengelolahan lahan sekunder. Adapun mesin pra pertanian yang dirancang khusus untuk penanaman hingga pemeliharaan tanaman yang biasa disebut dengan mesin alat tanam (Wijanto,2002).
Traktor tangan merupakan (hand tractor) merupakan sumber penggerek dari implement (peralatan) pertanian. Biasanya traktor tangan digunakan untuk mengolah tanah. Namun sebenarnya traktor tangan ini merupakan mesin yang serba guna , karena dapat digunakan untuk tenaga penggerek implement yang lain, seperti pompa air, alat prosesing, trailer, dan lain – lain (Anonim, 2011).
Selain kopling utama, ada dua kopling kemudi. Kopling kemudian terletak di bawah gigi persneleng, di pangkal poros kedua roda. Kopling kemudian dioperasikan melalui tunas kemudi kiri dan kanan. Apabila kopling kemudi kanan ditekan , maka putaran gigi persneleng tidak tersambung dengan poros roda kanan . Sehingga roda kanan akan berhenti , dan traktor tangan dapat bergerak maju mundur dengan kecepatan tertentu karena putaran poros motor penggerek disalurkan di samping roda . Ada tiga jenis roda yang digunakan pada traktor tangan, yaitu roda ban, roda besi, roda apung (roda sangkar / cage whell) . Roda ban berfungsi untuk transportasi dan mengolah tanah kering.Bentuk permukaan roda ban beralur agak dalam untuk mencegah slip . Roda ban dapat meredam getaran , sehingga tidak merusak jalan – jalan .Roda besi digunakan untuk pembajakan di lahan kering. Sirip pada roda besi akan menancap ke tanah, sehingga akan mengurangi terjadinya slip pada saat menarik bebab berat. Roda apung digunakan pada saat pengolahan tanah basah (Mugniesyah, 2006) .
Roda apung ini ada yang lebar. Ukuran roda disesuiakan dengan spesifikasi traktor .Besar kecilnya roda akan berpengaruh terhadap lajunya traktor. Poros roda traktor biasanya cukup panjang dan dilengkapi dengan beberapa lubang. Poros yang panjang ini dimaksudkan untuk menyesuaikan lebar oleh implement. Pemasangan roda yang cukup lebar juga aka menjaga keseimbangan traktor.Pemanasan roda yang cukup lebar juga menjaga keseimbangan traktor. Aplikasinya dari alat dan mesin pertanian sangat dipergunakan untuk memudahkan dalam pengerjaannya, khususnya dalam bidang pertanian. Berkembangnya teknologi sekarang ini, menyebabkan tingkat produksi dalam pemakaiannya alsintan juga dilakukan secara modern, sehingga dapat memudahkan dalam kehidupan. Tujuan dari penggunaan alat dan mesin ini sangat diperlukan karena sangat mendukung dalam meningkatkan produktivitas pada pertanian(Anonim, 2011).
Untuk melaksanakan tugas dengan baik perlu peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia yang merupakan ujung tombak transfer teknologi kepada petani tersebut. Dari hasil evaluasi Program Pendidikan dan Latihan jarak jauh terhadap para PPL dilaporkan terdapat perkembangan yang positif dalam wawasan pengetahuan , keterampilan serta peningkatan kemampuan pengelolahan usaha pertanian masyarakat (Siahan,2001).
Penerapan mekanisasi sangat berhubungan dengan kemajuan – kemajuan bidang lain dari “Agricultural Engenering” dan berbentuk dalam satu atau lebih kombinasi dari bidang – bidang tersebut. Agricultural Engenering meliputi bidang – bidang Teknik Mesin Budidya Pertanian (Farm Power and Machinery), Teknik Tanah dan Air (Soil and Water Engenering), Teknik Bangunan Pertanian (Farm Structures), Teknik Pengolahan Hasil Pertanian (Agricultural Product Procesing Engenering), Teknik Pelistrikan Pertanian (Farm Electrification), dan Teknik Pengolahan Pangan (Food Engenering) (Siahan,2001).
2.2. Mesin Pasca Panen
Pasca panen (kegiatan setelah panen) merupakan ruas kegiatan usaha tani yang paling kritis, bukan hanya curahan tenaga kerja namun juga faktor kritis yang menyangkut masalah susut. Data BPS pada musim tanam 1986/1987 menunjukkan angka susut yang cukup besar yaitu 21,3% dari seluruh kegiatan (panen sampai penggilingan). Angka susut memang berbeda beda, namun angka nasional yang ditunjukkan oleh data BPS dapat dipakai sebagai acuan resmi nasional ( Hamilton dkk,1996).
Mesin pasca panen adalah mesin yang digunakan untuk mengelolah hasil pertanian yang biasanya dirancang sesuai dengan hasil pertanian yang ada. Mesin pasca panen ini biasanya lebih mengarah kepembuatan produk yang ingin dihasilkan. Contohnya mesin penghasil sari buah, mesin pembuat bubuk coklat, mesin pembuat mie, dan sebagainya (Hamilton dkk,1996)
Alat dan mesin yang digunakan dalam pra penen dan pasca panen sangat membantu di dalam proses pertanian mulai dari pengolahan tanah sampai pada produksi pertanian. Dengan bertambahnya alat dan mesin yang canggih dapat meningkatkan produksi pertanian untuk kebutuhan konsumen yang semakin meningkat. Hal ini di pengaruhi oleh bertambahnya jumlah penduduk di dunia, sehingga peningkatan produksi terutama tanaman pangan mendorong para ahli untuk membuat alat yang modern,agar dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia (Siahan,2001).
Teknologi Industri Pertanian didefinisikan sebagai disiplin ilmu terapan yang menitikberatkan pada perencanaan, perancangan, pengembangan, evaluasi suatu sistem terpadu (meliputi manusia, bahan, informasi, peralatan dan energi) pada kegiatan agroindustri untuk mencapai kinerja (efisiensi dan efektivitas) yang optimal. Disiplin ini menerapkan matematika, fisika, kimia/biokimia, ilmu-ilmu sosial ekonomi, prinsip-prinsip dan metodologi dalam menganalisis dan merancang agar mampu memperkirakan dan mengevaluasi hasil yang diperoleh dari sistem terpadu agroindustri. Sebagai paduan dari dua disiplin, teknik proses dan teknik industri dengan objek formalnya adalah pendayagunaan hasil pertanian (Wijanto,2002).
Kemajuan para petani ini ditandai oleh banyaknya petani kita yang telah menggunakan saran-saran para penyuluh dari bidang pertanian tentang bagaimana cara menggunakan mesin perontok gabah yang baik sehingga menghasilkan hasil komoditi yang sangat baik. Jika dahulunya perontokan dilakukan dengan cara dibanting dan diijak-injak, sekarang mereka telah beralih menggunakan power tresher atau biasa kita sebut dengan mesin perontok gabah. Hal ini membuat pekerjaan mereka lebih mudah dan dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Pengolahan gabah merupakan tahap yang penting dalam pengolahan padi sebelum dikonsumsi karena perdagangan padi dalam partai besar dilakukan dalam bentuk gabah (Robbin, 2005).
Perontokan dan pengeringan. Perontokan adalah proses memisahkan gabah dari merang sedangkan pengeringan adalah proses mengurangi kadar air gabah hasil panen untuk keperluan simpan atau giling, urutan 2 proses ini dapat dibolak-balik. Pada padi hibrida umumnya dirontokkan dulu lalu dikeringkan/dijemur sedangkan padi varietas local umumnya dikeringkan lalu dirontokkan( Wijanto, 2002).
Setelah dirontokkan,gabah dimasukkan ke mesin pemecah kulit. Proses ini mengelupaskan sekam dari gabah. Hasil biji beras yang dikenal dengan Beras Pecah Kulit atau Brown Rice. Biji beras masih memiliki kulit ari (aleurone dan pericarp). Lapisan kulit ari ini umumnya dikenal dengan istilah bekatul. Aleurone adalah lapisan protein. Pada saat benih berkecambah, sel aleurone akan memecah menjadi asam amino. Dipicu oleh hormon yang dipecahkan oleh embrio aleuron akan mensintesis enzim yang berguna untuk memacu perkecambahan. Pericarp adalah jaringan yang mengelilingi biji, sebagai pelindung embrio (Robbin, 2005).
Berbagai penelitian membuktikan bahwa lapisan kulit ari kaya akan kandungan protein, vitamin, mineral, lemak dan serat. Oleh karena itu, membiasakan mengkonsumsi beras pecah kulit menjadi lebih sehat dan lebih baik. Akan tetapi, umumnya orang enggan memakannya karena nasi dari beras pacah kulit lebih keras, walaupun sudah lama dimask sehingga, sulit dikunyah (Wijanto,2002).
Proses mengelupas kulit ari sehingga diperoleh beras putih bersih. Biji beras yang putih bersih ini sebagian besar terdiri dari pati. Petani yang menggunakan teknologi di bidang pertanian khususnya yang menggunakan mesin pertanian haruslah mampu mengetahui biaya-biaya yang ia akan keluarkan dalam pengolahan lahannya. Seperti pengeluaran untuk bahan bakar mesin,biaya perawatan mesin,biaya perawatan tanamannya, sampai upah pekerja jika ia menggunakan jasa pekerja. Hal ini sangatlah penting karena dengan mengetahui seluruh biaya pengeluaran yang telah dikeluarkan selama pengolahan lahan, maka para petani dapat mengetahui keuntungan yang akan diperolehnya nanti (Robbin,2005).
Mesin evaporator vakum adalah mesin yang biasa dipakai untuk mengurangi kadar air suatu bahan yang berbentuk cair. Prinsip kerja dari mesin ini adalah tanpa pemanasan langsung, suhu biasa diatur sesuai dengan keinginan. Penggunaan suhu rendah disertai dengan vakum, akan menjaga nutrisi/gizi produk tidak hilang atau rusak. Mesin separator sentrifugal (sentrifus) berfungsi untuk memisahkan cairan dari cairan yang berbeda, seperti air dan minyak pada proses pembuatan VCO (Wijanto,2002).
Beberapa kasus pada pengolahan kakao dan kopi, juga memberikan indikasi, bahwa penggunaan alat dan mesin untuk sortasi, pengeringan, dan penanganan primer hasil kakao dan kopi mampu meningkatkan kualitas 10 hasil dan pada akhirnya mengangkat nilai tambah hasil pertanian Dalam sistem agribisnis yang terbagi dalam empat sub sistem yaitu sub sistem agribisnis hulu sampai pada sub sistem agribisnis hilir (pengolahan dan pemasaran), peran alat dan mesin pertanian diperlukan(Anonim,2011).
Faktor – faktor pra panen yang diketahui berdampak pada cita rasa produk hortikultura termasuk lingkungan , praktek budaya , bahan kimia yang digunkan serta faktor unsure hara . Pengaruh iklim terhadap cita rasa buah dan sayur juga telah banyak dilaporkan. Diketahui bahwa musim berpengaruh besar terhadap tinngkat kepedesaan pad bawang merah ( Hamilton dkk,1996)
Terdapat banyak faktor pra – panen yang dapat mempengaruhi mutu pasca panen buah dan sayur, terutama pengaruhnya terhadap penampakan , kekerasan dan cita rasa. Faktor-faktor biologi , fisilologi , lingkungan , dan budidaya. Kerusakan – kerusakan yang terjadi selama proses produksi , benda – benda asing yang tidak diinginkan yang tercampur pada produk hortikultura dan residu bahan kimia serta variasi genetic (Anonim, 2011).
Untuk tanaman pangan (padi, jagung dan kedelai) teknologi mekanisasi yang ada di pasar sebenarnya sudah tersedia cukup dengan suplai yang cukup. Namun demikian, masalah manajemen sistem mekanisasi menjadi faktor kendala yang perlu diperhatikan, bidang ini tidak banyak mendapat perhatian sebagai bidang sains dan perekayasaan. Pada masa sekarang dengan keinginan dan keutuhan untuk menuju ke produktivitas, efisiensi, kualitas dan nilai tambah, sistem manajemen/sistem enjinering mekanisasi pertanian perlu mendapatkan perhatian bagi peneliti/perekayasa mekanisasi, penyuluh dan praktisi yang bergerak di bidang mekanisasi (Mugniesyah, 2006).
Sebagai contoh dalam tahap penanganan dan pengolahan hasil pertanian, masalah hasil samping dan limbah perlu mendapat perhatian lebih banyak. Komoditi pertanian mempunyai prospek baik serta bersifat renewable. Sebagai contoh adalah sabut kelapa dan cangkang sawit dan sekam padi yang umumnya hanya dibakar. Teknologi pirolis dapat menambah nilai uang limbah dan dikembalikan lagi kepada usaha tani dalam bentuk yang
lain (Anonim,2011).
III.METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengenalan alat pra dan pasca panen dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 11 April 2011 pukul 12.00 WITA sampai selesai, di Laboratorium Mekanisasi dan Teknologi Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian,Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.2. Alat
Pada praktikum Pengenalan alat pra dan pasca panen ini , alat yang digunakan yaitu kamera dan alat tulis menulis.
3.3.Prosedur Percobaan
Dalam praktikum pengenalan mesin pra panen dan pasca panen, kita telah diperkenalkan beberapa mesin, adapun prosedur percobaan dari praktikum ini yaitu :
1. Dijelaskan tentang alat pra dan pasca panen
2. Dijelaskan tentang spesifikasi alat dan mesin pertanian untuk jenis mesin pra panen
3. Dijelaskan tentang spesifikasi alat dan mesin pertanian untuk jenis mesin pasca panen.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Dalam praktikum ini kita dikenalkan berbagai mesin dan alat pra dan pasca panen , adapun spesifikasi, fungsi dan kegunaannya dapat kita lihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1. Alat Pengolahan Pra Panen
No Nama alat Spesifikasi Fungsi dan kegunaan
1. Bajak piring
Model : DP50 Lembar piringan : 2 buah Lebar kerja : 0,70 meter ;
Kedalaman kerja : 0,30 m Diameter
piringan : 0,55 m;
Berat bajak piring : 200 kg; Daya untuk menarik : 15 - 35 HP Kecepatan kerja rata-rata adalah 5,77
km/jam, dengan
lebar pembajakan
rata-rata 580 mm. Daya minimum yang diperlukan adalah 5,7 jam/Ha dengan
efisiensi waktu
pengolahan 25%
Kegunaan : Sebagai pengolah tanah pertama untuk
perbaikan struktur butir-butir tanah,
memperbesar persediaan air
,memperbaiki peresapan air dan aerasi tata udara tanah, mengurangi evaporasi tanah,
Fungsi : untuk mengolah kebun seluas 2,5 - 5 Ha; Sangat cocok untuk usaha tani lahan kering seperti tanaman hortikultura dan palawija;Dapat digandengkan dgn traktor mini bertenaga min 15 HP; Lebar pengolahan, kedalamanpembajakan dan kemiringan bajak dapat diatur sesuai kebutuhan.
2
Mesin penanam jagung dan pemupukan
1. Model : GS–JP-FL/01
2. Penarik : Traktor roda 2
3. Traktor roda 4 30 /40/ 50 HP
4. Bijian yang sesuai : Jagung dan Kedele
5.Kap. Hopper : 5 kg /unit
6. Kecepatan penanaman : 1,5- 2,0 km/jam
7. Jarak tanam dalam alur : 30 – 40 cm
8. Jarak tanam antara alur : Dapat diatur (30–80) cm
9. Kedalaman penanaman : 5 – 7 cm
10. Berat (1 unit penanam) : 20 kg.
11. Penakar benih : Tipe priringan datar menyudut
12. Pembuka alur :Piringanganda
13. Dimensi ( 1 unit/ 1 baris)
Kegunaan :
Mesin ini berguna sebagai alat penanam jagung sekaligus alat untuk pemupukan yang bekerja sangat cepat sehingga waktu yang digunakan sangat efisien.
fungsi:
berfungsi sebagai alat tanam jagung yang dapat diatur : 4 alur utk jagung, 6 alur untuk kedele, dan 10 alur utk padi didesain untuk mampu dipakai di hasil pengolahan tanah yang bergelombang (tidak rata), karena dilengkapi dengan pegas horisontal maupun vertical.
Dapat menanam dengan kecepatan maju 2–2,5 km/jam, akan diperoleh kapasitas kerja (0,5–0,6 ha/jam atau 4-5 hektar dalam satu hari),
3.
Traktor tangan (power tiller)
Ukuran piringan : 26 x 3/16” artinya diameter piringan 26”
- tebal piringan 3/16”
Bajak piringan standar umumnya berdiameter piringan 24 sampai 32 inci. Diameter
piringan 24 “
cekungan 33/8 sampai 4 “, diameter 26 “ cekungan sampai 4 ½
Sudut piringan dengan garis vertical 15 - 250 dan dengan arah horizontal pada sudut 42 - 450 . Kegunaan :
Mesin ini berguna memperbaiki struktur tanah , dimana traktor ini bekerja dengan metode pengarikan pada bajak.
Fungsi
fungsi utamanya adalah untuk menarik bajak yang akan digunakan untuk mengolah dan membalikkan tanah.
4. Bajak putar / bajak Rotari
- Sistim Transmisi ( Chain - Gear)
- Sistim Penggerak ( Kopling Utama) V Belt ( 2 buah)
- Sistim Pembelok ( Kopling Kemudi) Dog cluth
- Isi Minyak Pelumas 5, 5 liter
- Dimensi Traktor P, 2730 mm. L, 1140 mm. T, 1370 mm
- Berat 300 Kg ( Berat Traktor termasuk Roda Besi dan Diesel. Apabila menggunakan roda karet berat = 250 Kg)
• Tenaga Penggerak
- Merk KUBOTA
- Type 4 langkah
- Model RD 85 DI-1
- Tenaga Rata-rata 7, 5 / 2200 HP / RPM
- Tenaga Maxsimum 8, 5 / 2400 HP / RPM
- Bahan Bakar Solar
- Sistim Starting Engkol
- Sistim Pendingin Radiator
- Isi Bahan Bakar 9, 5 ltr
- Isi Minyak Pelumas 2, 4 ltr
- Berat 86 kg
- Sistim Lampu dengan IC Regulator
• Perlengkapan Tambahan yang dapat dibeli ( terpisah)
- - HITCH II
- Roda Besi Bertapak Lebar
- Roda Besi Bertapak Panjang
Kegunaan :
Memberantas gulma
2. Memperbaiki struktur tanah agar lebih baik untuk pertumbuhan tanaman
3. Menempatkan seresah agar terdekomposisi dengan baik
4. Menurunkan laju erosi dengan cara pengolahan yang sesuai
5. Meratakan tanah
6. Mencampur pupuk dengan tanah
7. Mempersiapkan tanah untuk pemberian air irigasi
Fungsi :
Memotong dan
membalikkan tanah
pada pengolahan tanah, dapt membajakan
dengan kedalaman 15 cm,dan lebar
pembajakan bervariasi sedangkan besar
bongkahan didapati
diatas 24 cm.
Sumber : Data Primer, Laboratorium Mekanisasi dan Teknologi Pertanian, 2011
Tabel 2 . Alat Pengolahan Pasca Panen
No Nama alat Spesifikasi Fungsi dan kegunaan
1. Mesin vaccum evapator
Kapasitas optimal 65 liter maksimal 80 liter
Lama proses 120 – 180 menit
Sistem pemanasan tidak langsung , sistem double jacket
Bahar bakar LPG dengan control suhu digital
Pendingin sirkulasi air volume tabung evaporator 125 – 130 liter
Kebutuhan daya pompa vakum 750 – 1000 W
Kebutuhan daya pompa sirkulasi pemanas 300 W
Instalasi listrik rumah minimum 2200 W ,220 V 1 fase dimensi (p X L X T) 120 cm X 120 cmX120 cm
Volume pada waktu diangkut 120 cm X 120 cm X 160 cm
Control suhu digital
Bahan stainless steel
Fungsi
Mesin Evaporator Vakum (Vacuum Evaporator) berfungsi sebagai mengurangi atau bahkan menghilangkan kadar air pada minyak kelapa murni. Dengan kadar air yang rendah, maka minyak VCO yang Anda produksi akan semakin berkualitas dan tidak mudah tengik, serta awet (2 tahun). Alat mesin produksi ini juga dapat dipakai untuk mengurangi kadar air pada madu, sari buah, minyak nilam dan gula cair dari ekstrak nira
Kegunaan :
Untuk pemekatan bahan cair, mengurangi kadar air tanpa merusak nutrisi bahan
2
Mixer
• Frame : pipa besi kotak 2x4 cm
• Tabung / silinder : Stainless Steel 304
• Dimensi (pxlxt) cm : 70 x 60 x 85 cm
• Daya listrik maksimal : 500 W / 220 AV
• Kapasitas : 20-50 kg / proses
• Bahan bakar panas : Burner LPG
• Transmisi rpm : Gear box, pulley, V belt, 20-40 rpm
• Kontrol suhu : Sistem suhu terkontrol otomatis / analog
Fungsi :
Mesin ini berfungsi untuk mengaduk bahan, disertai dengan proses memasak. Mesin ini cocok untuk mengaduk bahan yang akan kita olah.
Kegunaan :
Alat ini digunakan untuk menyatuhkan bahan suspensi yang akan diolah seperti penyatuhkan tepung dengan gula.
3.
Alat pengemas
Tipe : AW 6035 4ss
- Produk yang dikemas : bubuk, biji-bijian, butiran
Tipeseal : sistem renteng 4 side seal
- Tipe mesin : vertical sachet
- Dimensi seal W=50-100 mm, L=50-140 mm
- Kapasitas pengemas : Up to 100 gr
- Ukuran mesin : WxLxT=670x900x1770 mm
- Material pengemas :AL+PE, OPP+PE, NY+PE, dan bahan kertas pengemas lain yang dapat direkatkan dengan panas
- Kecepatan mengemas : 50-80 pack/min
- Supply voltage : 220V/380V, 1ph/3ph Neutral 50Hz
- Power requirement : 1,4 kVA/18 amp
Fungsi : mesin untuk pengemasan produk otomatis dengan sistem vertical
Kegunaan :
Mesin ini berguna sebagai mesin ntuk mengemas menyegel body produk (beberapa produk). Plastik melekat di body produk. Cocok untuk kemasan terluar berbagai macam produk : minuman, mainan, dll. Bisa dipakai untuk menyatukan beberapa produk (dalam bentuk paket)
4
Pemecah biji kakao
Kapasitas 100- 200 kg bahan masuk / jam
Volume ruang 0,05 m3
Sistem pengepresan kontinyu
Bahan dinding stainless steel
Saringan 20 mesh
Putaran ulir 10 rpm
Pemisahan hasil langsung
Sistem penggerek
Motor 5,5 HP
Transmisi , gear box dan pulley
Jumlah belt , 3 belt
Fungsi :
Untuk memisahkan biji dengan kulitnya
Kegunaan :
Kegunaan dari alat ini yaitu selain mampu memisahkan biji , mesin ini juga berfungsi sebagai alat untuk membersihkan kulit buah
Sumber : Data Primer, Laboratorium Mekanisasi dan Teknologi Pertanian, 2011
4.2 Pembahasan
Dari hasil yang kita peroleh diatas maka kita dapat mengetahui alat dan mesin pertanian dapat dibedakan atas alat dan mesin pra panen dan pasca panen, dimana kita ketahui yang membedahkan mesin pra panen meliputi bajak piring, mesin penanam jagung, traktor tangan bajak putar. Sedangkan yang tergolong kedalam alat dan mesin pasca panen yaitu mixer, mesin pendingin, mesin vaccum evapator, mesin pengemas, dan mesin pemecah biji kakao. Sesuai dengan pendapat Hamilton (1996) yang menyatakan alat mesin dan alat pra dan pasca panen sangat berpengaruh terhadap kualitas pada produk yang akan diolah sehingga mesin dan alat pra dan pasca panen haruslah berstandar mutu yang telah ditetapkan.
Traktor tangan merupakan salah satu mesin pengolah tanah yang kini mulai banyak digunakan petani dalam mengolah tanah. Sebagai mesin pengolah tanah traktor haruslah dilengkapi dengan peralatan pengolah tanahnya, seperti bajak, garu, ataupun bajak rotari. Untuk mengenal traktor sebagai mesin pengolah tanah, maka perlu dipahami prinsip kerja serta persyaratan kondisi kerja, perlengkapan, serta kegunaannya. Sesuai dengan pendapat Siahaan (2011) bahwa dalam mekanisasi pertanian traktor merupakan alat dan mesin pertanian khusus pra panen yang sangat diperlukan karena sangat mendukung dalam meningkatkan produktivitas pada pertanian. Namun sebenarnya traktor tangan ini merupakan mesin yang serba guna, karena dapat digunakan untuk tenaga penggerek implement yang lain, seperti pompa air, alat prosesing, trailer, dan lain – lain.
Prinsip kerja traktor tangan adalah mesin pengolah tanah dengan menggunakan tenaga penggerak motor bakar yang pada umumnya motor diesel. Sebagai mesin pengolah tanah, traktor digunakan untuk menarik peralatan pengolahan tanah, seperti bajak piring,garu piring. Pengaturan tersebut dilakukan dengan mamanjangkan atau memendekkan pada ikatan sambungan peralatan atau pada tiga titik penyambungan. Dalam hal ini Mugniesyah (2006) menyatakan bahwa Roda besi digunakan untuk pembajakan di lahan kering. Sirip pada roda besi akan menancap ke tanah, sehingga akan mengurangi terjadinya slip pada saat menarik bebab berat . Roda apung digunakan pada saat pengolahan tanah basah. Dan ini berguna untuk keseimbangan traktor dalam proses pengolahan tanah.
Bajak putar juga termasuk kedalam mesin pra panen dimana pisau bajak terpasang pada as. Sistem kerja dari bajak putar atau bajak rotary yaitu berputarnya poros as mengakibatkan berputarnya pisau bajak sehingga tanah akan tercacah. Semakin cepat berputar, semakin sempurna pemotongannya (tidak terdapat pembalikan dan pelemparan tanah).
Mesin penanam jagung, mesin ini merupakan mesin yang dapat mempermudah petani dalam mengerjakan aktifitas penanaman jagung, dimana mesin ini bekerja secara spesifik . mesin ini berfunsi sebagai mesin penanam dan pemupukan jagung dan kedele skala besar termasuk kategori High Technology dengan traktor penarik traktor roda 4 secara mounted (3 titik penggandengan), atau ditarik dengan traktor roda dua, dan masuk klas implement.berfunsi sebagai alat tanam jagung yang dapat diatur 4 alur utk jagung, 6 alur untuk kedele, dan 10 alur utk padi didesain untuk mampu dipakai di hasil pengolahan tanah yang bergelombang (tidak rata), karena dilengkapi dengan pegas horisontal maupun vertical.Dapat menanam dengan kecepatan maju 2–2,5 km/jam, akan diperoleh kapasitas kerja (0,5–0,6 ha/jam atau 4-5 hektar).
Mesin dan peralatan adalah setiap alat bantu mekanik yang dipakai manusia untuk melakukan apa saja. Sedang perbedaan alat dan mesin, adalah mengenai tingkat kesederhanaan susunannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Mugniesyah (2003) bahwa berkembangnya teknologi sekarang ini, menyebabkan tingkat produksi dalam pemakaiannya alat mesin pertaniann juga dilakukan secara modern, sehingga dapat memudahkan dalam kehidupan. Tujuan dari penggunaan alat dan mesin ini sangat diperlukan karena sangat mendukung dalam meningkatkan produktivitas pada pertanian.
Alat dan mesin pertanian mencakup seluruh peralatan yang dipergunakan dalam suatu pekerjaan budidaya pertanian atau pengusahaan tanaman. Sehingga alat dan mesin pertanian sangat memudahkan dalam pengolahan pra dan pasca panen hingga sampai pada tingkat konsumen untuk produksi pemasaran. Pada dasarnya sumber penggeraknya dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu secara alami dan buatan manusia. Sesuai dengan pendapat Wijanto (2002) bahwa alat dan mesin pra pertanian yang dirancang khusus untuk penanaman hingga pemeliharaan tanaman yang biasa disebut dengan mesin alat tanam.
Mesin pasca panen adalah mesin yang digunakan untuk mengelolah hasil pertanian yang biasanya dlrancang sesuai dengan hasil pertanian yang ada. Mesin pasca panen ini biasanya lebih mengara kepembuatan produk yang ingin dihasilkan. Sedangkan yang termasuk mesin pasca panen yaitu mesin evaporator, mesin evaporator vakum adalah mesin yang biasa dipakai untuk mengurangi kadar air suatu bahan yang berbentuk cair. Prinsip kerja dari mesin ini adalah tanpa pemanasan langsung, suhu biasa diatur sesuai dengan keinginan. Penggunaan suhu rendah disertai dengan vakum, akan menjaga nutrisi/gizi produk tidak hilang atau rusak. Mesin separator sentrifugal (sentrifusi) berfungsi untuk memisahkan cairan dari cairan yang berbeda, seperti air dan minyak pada proses pembuatan VCO. Hal ini seuai dengan pendapat Hamilton dkk, (1996) bahwa mesin pasca panen adalah mesin yang digunakan untuk mengelolah hasil pertanian yang biasanya dirancang sesuai dengan hasil pertanian yang ada. Mesin pasca panen ini biasanya lebih mengarah kepembuatan produk yang ingin dihasilkan. Dan prinsip kerja dari mesin ini adalah tanpa pemanasan langsung, suhu biasa diatur sesuai dengan keinginan. Penggunaan suhu rendah disertai dengan vakum, akan menjaga nutrisi/gizi produk tidak hilang atau rusak. Mesin separator sentrifugal (sentrifus) berfungsi untuk memisahkan cairan dari cairan yang berbeda, seperti air dan minyak pada proses pembuatan VCO.
Dalam praktikum ini kita juga dikenalkan mesin pemecah biji kakao, dimana mesin ini merupakan mesin yang berfungsi sebagai merontokan biji kakao,dimana biji kakao dimasukkan ke mesin pemecah kulit. Proses ini mengelupaskan sekam dari kakao. Hasil biji kakao. Biji kakao masih memiliki kulit ari (aleurone dan pericarp). Lapisan kulit ari ini umumnya dikenal dengan istilah bekatul. Aleurone adalah lapisan protein. Pada saat benih berkecambah, sel aleurone akan memecah menjadi asam amino. Dipicu oleh hormon yang dipecahkan oleh embrio, aleuron akan mensintesis enzim yang berguna untuk memacu perkecambahan. Pericarp adalah jaringan yang mengelilingi biji. Hal ini sesuai dengan pendapat Robbin (2005) bahwa pada saat benih berkecambah, sel aleurone akan memecah menjadi asam amino. Dipicu oleh hormon yang dipecahkan oleh embrio aleuron akan mensintesis enzim yang berguna untuk memacu perkecambahan. Pericarp adalah jaringan yang mengelilingi biji, sebagai pelindung embrio dan ini dipengaruhi oleh alat dan mesin yang digunakan dalam pengolahan pasca panen.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari hasil kita peoleh dapat kita tarik kesimpulan bahwa :
1. Alat dan mesin pertanian didedakan atas alat dan mesin pra panen serta alat dan mesin pasca panen.
2. Alat dan mesin pra panen dalam praktikum yang kita lakukan meliputi traktor tangan, bajak piring, bajak putar, mesin penanaman padi.
3. Alat dan mesin pasca panen dalam praktikum yang dita lakukan meliputi mesin vaccum evapator, mesin pengemas, mixer, alat pemecah kakao, dan mesin pendingin.
4. Masing-masing alat dan mesin pertanian, baik pra maupun pasca panen memiliki fungsi dan kegunaan yang bersifat spesifik.
5.2. Saran
Sebaiknya dalam pelaksanaan praktikum efektivitas dan efisisensi lebih diperhatikan, agar praktikum lebih maksimal. Dan juga alat yang ada dalam laboratorium agar kiranya dapat dilengkapi spesifikasinya sehingga ini dapat melancarkan pelaksanaan praktikum
DAFTAR PUSTAKA
Anonima.,2011.Pengenalan Alat dan Mesin Pertanian. http://ictsleman.ath.cx/pustaka/
pertanian/agro_industri_non_pangan/15_pengenalan_alat_dan_mesin_pertanian.pdf Diakses pada hari 10 April , pukul 21:30 WITA. Makassar.
Anonimb.,2011.FungsiMesin Alat Pertanian. http://mekanisasi.litbang.deptan.go.id.Diakses pada tanggal 10 April Pukul 20.54 WITA.Makassar
Fauziah ,Sulaiman ,2000.Mekanisme Penyebaran Inovasi Pertanian Suatu Kajian prosiding. Lokakarya Nasional Pusat Perpustakaan Pertanian .Bogor
Mugniesyah, Siti Sugiah M. 2006.Penyuluhan Pertanian Bagian I : Peranan Penyuluhan
Pertanian dalam Pembangunan Pertanian .Bogor : IPB Press
Mulyoto, dkk. 2002. Mesin-Mesin Pertanian. PT Graha persada : Jakarta.
Robbins,2005. CRC handbook of engineering in agriculture. Boka Raton .F1.CRC Press
Siahaan , S.2001.Penelitian tentang DIKLAT jarak jauh penyuluhan pertanian dan
dampaknya terhadap peningkatan kualitas hidup petani di kabupaten Ogan Komering ilir (OKI) . Sumatera Selatan .IPB Press.
Kamis, 02 Juni 2011
lampiran konservasi
Menghitung Faktor Erosivitas Hujan (R)
Diperoleh data curah hujan untuk lokasi praktek lapang Polewali Mandar untuk tahun 2007 sebagai berikut :
Bulan jan feb Mar apr Mei jun jul ags sep okt nov des
Rata – rata CH/ Bulan 9 16 21 15 21 10 12 19 24 15 10 18
Jumlah Hari 6 11 4 16 12 10 4 2 1 11 11 15
Hujan max 20 27 43 45 40 23 20 26 24 29 17 40
E = f (I, r, v, t, m)
Dimana :
E = Erosi f = topografi I = Iklim v= Vegetasi
Sedangkan indikasi erosi menurut Universal Soil Loss Equation (USLE), dikenal dengan adanya persamaan:
A = R X K X LS X C X P
Dimana :
A : banyaknya tanah yang tererosi
B : Faktor Erosivitas hujan
K : faktor erodibilitas tanah
L : Faktor panjang lereng
S : Faktor panjang lereng
C : Faktor vegetasi penutup tanah
P : Faktor tindakan konservasi
a. Faktor Erosivitas Hujan (R)
R = ∑n = 1 E I30 E I30 = E ( I 30 10-2)
Atau dengan digunakan berbagai formula atau persamaan untuk memperoleh nilai R, diantaranya rumus pendugaan EI 30 menurut Bols (1978), yaitu :
E I 30 = 6.119 (R)1,21 (H) -0,47 ( RM)0,53
Dimana
E I30 = Indeks erosiviotas hujan bulanan rata – rata
R = Curah hujan rata – rata bulanan (cm)
H = jumlah hari hujan rata – rata bulanan ( hari )
RM = Curah hujan maksimum 24 jam bulanan (cm)
(Jan) E1I30 = 6.119 (9)1,21 (6) -0,47 (20)0,53
= 6.119 X 14,27 X 0,43 X 4,89
= 183.603, 83
(Feb) E2 I30 = 6.119 ( 15) 1,21 (16) -0,47 ( 45 )0,53
= 6.119 X 28,64 X 0,32 X 5,74
= 321895,82
(Maret) E3 I30 = 6.119 (21) 1,21 (4 ) -0,47 (43) 0,53
= 6.119 X 26,49 X 0,27 X 7,52
= 329.112,23
(April) E4 I30 = 6.119 (15) 1,21 (16) – 0,47 (45) 0,53
= 6.119 X 26,49 X 0,27 X 7,52
= 329.112,23
(Mei) E5I30 = 6.119 (21) 1,21 (12) -0,47 (40) 0,53
= 6.119 X 39,80 X 0,31 X 7,06
= 533.003,33
(Juni) E6 I30 = 6.119 (10 ) 1,21 (10) -0,47 (23) 0,53
= 6.119 X 16,22 X 0,34 X 5,27
= 177.836,47
(Juli) E7 I30 = 6.119 (12) 1,21 (4) -0,47 (20) 0,53
= 6.119 X 20,22 X 0,52 X 4,89
= 314.610,93
(Agustus) E8 I30 = 6.119 (19)1,21 (2) -0,47 (24) 0,53
= 6.119 X 35,26 X 0,72 X 5,62
= 873.034,84
(September) E9 I 30 = 6.119 (24) 1,21 (1) -0,47 (24) 0,53
= 6.119 X 46,78 X 1 X 5,39
= 1542.870,36
(Oktober) E10 I30 = 6.119 (15) 1,21 (11) -0,47 (29) 0,53
= 6.119 X 26,49 X 0,32 X 5,96
= 309.142,45
(November) E11 I30 = 6.119 (10) 1,21 (11) -0,47 (17) 0,53
= 6.119 X 16,22 X 0,32 X 4,49
= 142.602,66
(Desember) E12 I30 = 6.119 (18) 1,21 (15) -0,47 (40) 0,53
= 6.119 X 33,03 X 0,28 X 7,06
= 399.532,17
R = ∑n=12 I = I E1 + E2 + E3+ E4 + E5 + E6 + E8 + E9 + E10 + E11 + E12
= 183.603, 83 + 321.895,82 + 329.112,23 + 329.112,23 + 533.003,33 + 177.836,47 + 314.610,93 + 873.034,84 + 1.542.870,36 + 309.142,45 + 142.602,66 + 399.532,17
= 6.056.774,057
Menghitung faktor Erodibilitas Tanah (K)
Erodibilitas tanah (K) adalah kepekaan tanah terhadap erosi. Erodibilitas tanah dapat diduga dengan menggunakan nomograf (Wischmeier, 1971 ) atau menggunakan rumus Hammer (1978), dalam utomo (1989), sebagai berikut :
K = 2,713 M 1,14 (10- 4) (12 - a) + 3,25 (b- 2) + 2,5 (c- 3)
100
Dimana :
M = Persen pasir sangat halus + persen debu X ( 100 - % liat )
a = kandungan bahan organic (% C x 1,724) = 0,008 gram
b = harkat struktur tanah = 0,07 cm/jam
c = harkat permeabilitas tanah = 0,4 cm/jam
M = Persen pasir sangat halus + persen debu x (100 - % liat)
= 44,31 % + 7,38 % x (100 – 48,29 )
= 51,69 x 51,71
= 2.672,89 %
K = 2,713 X (2.672,89) 1,14 (10- 4) (12 – 0,008) + 3,25 (0,07- 2) + 2,5 (0,4 - 3)
100
= 2,713 (8067,86 ) (0,0001) (11,99) + 3,25 (- 1,93) + 2,5 (-2,6)
100
= 21.888,10 X 0,0011 + (– 6, 27 – 6,5)
100
= 24.07 – 12,77
100
= 11,3
100
= 0.113
1. Metode Penetapan Tekstur di Laboratorium
Menghitung berat debu dan liat dengan menggunakan persamaan dibawah ini :
Berat debu dan liat = [ H¬1 + 0,3 (t1 – 19,8)] – 0,5………………..(a)
2
Berat liat = [ H¬2 + 0,3 (t2 – 19,8)] – 0,5……………...(b)
2
Berat debu = berat (debu + liat ) – berat liat ………….. (c)
Menghitung persentase pasir, debu dan liat dengan persamaan
% pasir = C x 100
a+ c
% debu = (a - b) x 100
a+ c
% liat = b x 100
a+ c
dik H1 = 8 T1 = 29
H2 = 7 T2 = 28 C = 3,9
Penyeselesaian :
Berat debu dan liat = [ H¬1 + 0,3 (t1 – 19,8) ]– 0,5………………..(a)
2
= [ 8 + 0,3 (29 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 8 + 0,3 (29 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 8 + 8,7 – 5,9] – 0,5
2
= 10,8 – 0,5
2
= 5,4 – 0,5
= 4,9 ………..(a)
Berat liat = [ H¬2 + 0,3 (t2 – 19,8)] – 0,5……………...(b)
2
= [ 7 + 0,3 (28 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 7 + 0,3 (29 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 7 + 8,4 – 5,9] – 0,5
2
= 7 + 2,5 – 0,5
2
= 4,75 – 0,5
= 4,25 ………..(b)
Berat debu = berat (debu + liat) – berat liat
= 4,9 – 4,25
= 0,65……………..(c)
% pasir = C x 100
a+ c
= 3,9 x 100 %
4,9 + 3,9
= 3,9 x 100 %
8,8
= 44,31 %
% debu = (a - b) x 100
a+ c
= (4,9 – 4,25 ) x 100 %
4,9 + 3,9
= 0,65 x 100 %
8,8
= 7,38 %
% liat = b x 100
a+ c
= 4,25 x 100 %
4,9 + 3,9
= 4,25 x 100 %
8,8
= 48,29 %
2. Metode Penetapan Bahan organik
% C = (ml B – ml t) N x 3 x 1,33
Mg contoh tanah tanpa air
Dimana
ml b = 32,9 gram
ml t = 22,6 gram
N = 0,2
Mg contoh tanah tanpa air = 1000 gram
% C = (32,9- 22,6) 0,2 X 3 X 1,33
1000
= (10,3) (0,2 X 3,99)
1000
= 8,219
1000
= 0,008 %
% bahan organik = 0,008 X 1,724
= 0,014 %
3. Metode penentuan permeabilitas
K = Q x L x 1
t h A
K = 400
Dimana
K = Permeabilitas (cm/ jam)
Q = banyak air yang mengalir pada setiap pengukur (ml) = 400 mL
L = Tebal contoh tanah (cm) (tinggi ring sampel) =
A = Luas contoh tanah (cm) (luas permukaan tanah )
t = waktu pengukuran (jam) = 1 jam
h : tinggi permukaan air dari permukaan contoh tanah (cm) (konstan 4 cm)
K = 0,4 cm/ jam sangat lambat
b. Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS)
Faktor panjang dan kemiringan lereng dihitung menggunakan rumus Morgan (1979)
Menggunakan nomografi nilai faktor LS (Arsyad,2006 ) dengan persemaan :
LS = L (1,38 + 0,965 S + 0,138 S2)
100
Dimana :
LS = Faktor lereng
L = Panjang lereng = 200 m
S = Persen kemiringan lahan = 60 %
= 200 (1,38 + 0,965 (60 %) + 0,138 (60 %) 2 )
100
= 14,14 (1,38 + 57,9 + 0,138 (3600))
100
= 0,14 ( 59,28 + 496,8)
= 0,14 (556,08)
= 77,85
c. Faktor vegetasi penutup tanah (C)
Kondisi tutupan lahan berdasarkan jenis penggunaan lahan untuk mengetahui nilai indeks tutupan vegetasi di lokasi praktek. Dan nilai C dapat dihitung dengan persamaan :
C = A C = 1,0
R x K x LS x P
Dimana :
A = Banyaknya tanah yang tererosi
B = Faktor Erosivitas hujan
K = Faktor E rodibilitas tanah
L = Faktor panjang lereng
S = Faktor kemiringan lereng
C = Faktor vegetasi penutup tanah
P = Faktor tindakan konservasi tanah
d. Faktor tindakan konservasi (P)
Nilai faktor tindakan manusia dalam konservasi tanah (P) adalah nisbah antara besarnya erosi dari lahan dengan suatu tindakan konservasi tertentu terhadap besarnya erosi pada lahan tanpa tindakan konservasi (supirin, 2001). Nilai P adalah 1,0 yang diberikan untu lahan adanya tindakan pengendalian erosi. Menurut USLE
Persamaan umum untuk nilai P yaitu sebagai berikut :
P = A
R x K x L x S x C
P = 1,0
A = R x K x LS x C x P
= 6.056.774,057 x 0,4 cm/ jam x 77,85 x 1,0 x 1,0
= 188.607.944,1
Diperoleh data curah hujan untuk lokasi praktek lapang Polewali Mandar untuk tahun 2007 sebagai berikut :
Bulan jan feb Mar apr Mei jun jul ags sep okt nov des
Rata – rata CH/ Bulan 9 16 21 15 21 10 12 19 24 15 10 18
Jumlah Hari 6 11 4 16 12 10 4 2 1 11 11 15
Hujan max 20 27 43 45 40 23 20 26 24 29 17 40
E = f (I, r, v, t, m)
Dimana :
E = Erosi f = topografi I = Iklim v= Vegetasi
Sedangkan indikasi erosi menurut Universal Soil Loss Equation (USLE), dikenal dengan adanya persamaan:
A = R X K X LS X C X P
Dimana :
A : banyaknya tanah yang tererosi
B : Faktor Erosivitas hujan
K : faktor erodibilitas tanah
L : Faktor panjang lereng
S : Faktor panjang lereng
C : Faktor vegetasi penutup tanah
P : Faktor tindakan konservasi
a. Faktor Erosivitas Hujan (R)
R = ∑n = 1 E I30 E I30 = E ( I 30 10-2)
Atau dengan digunakan berbagai formula atau persamaan untuk memperoleh nilai R, diantaranya rumus pendugaan EI 30 menurut Bols (1978), yaitu :
E I 30 = 6.119 (R)1,21 (H) -0,47 ( RM)0,53
Dimana
E I30 = Indeks erosiviotas hujan bulanan rata – rata
R = Curah hujan rata – rata bulanan (cm)
H = jumlah hari hujan rata – rata bulanan ( hari )
RM = Curah hujan maksimum 24 jam bulanan (cm)
(Jan) E1I30 = 6.119 (9)1,21 (6) -0,47 (20)0,53
= 6.119 X 14,27 X 0,43 X 4,89
= 183.603, 83
(Feb) E2 I30 = 6.119 ( 15) 1,21 (16) -0,47 ( 45 )0,53
= 6.119 X 28,64 X 0,32 X 5,74
= 321895,82
(Maret) E3 I30 = 6.119 (21) 1,21 (4 ) -0,47 (43) 0,53
= 6.119 X 26,49 X 0,27 X 7,52
= 329.112,23
(April) E4 I30 = 6.119 (15) 1,21 (16) – 0,47 (45) 0,53
= 6.119 X 26,49 X 0,27 X 7,52
= 329.112,23
(Mei) E5I30 = 6.119 (21) 1,21 (12) -0,47 (40) 0,53
= 6.119 X 39,80 X 0,31 X 7,06
= 533.003,33
(Juni) E6 I30 = 6.119 (10 ) 1,21 (10) -0,47 (23) 0,53
= 6.119 X 16,22 X 0,34 X 5,27
= 177.836,47
(Juli) E7 I30 = 6.119 (12) 1,21 (4) -0,47 (20) 0,53
= 6.119 X 20,22 X 0,52 X 4,89
= 314.610,93
(Agustus) E8 I30 = 6.119 (19)1,21 (2) -0,47 (24) 0,53
= 6.119 X 35,26 X 0,72 X 5,62
= 873.034,84
(September) E9 I 30 = 6.119 (24) 1,21 (1) -0,47 (24) 0,53
= 6.119 X 46,78 X 1 X 5,39
= 1542.870,36
(Oktober) E10 I30 = 6.119 (15) 1,21 (11) -0,47 (29) 0,53
= 6.119 X 26,49 X 0,32 X 5,96
= 309.142,45
(November) E11 I30 = 6.119 (10) 1,21 (11) -0,47 (17) 0,53
= 6.119 X 16,22 X 0,32 X 4,49
= 142.602,66
(Desember) E12 I30 = 6.119 (18) 1,21 (15) -0,47 (40) 0,53
= 6.119 X 33,03 X 0,28 X 7,06
= 399.532,17
R = ∑n=12 I = I E1 + E2 + E3+ E4 + E5 + E6 + E8 + E9 + E10 + E11 + E12
= 183.603, 83 + 321.895,82 + 329.112,23 + 329.112,23 + 533.003,33 + 177.836,47 + 314.610,93 + 873.034,84 + 1.542.870,36 + 309.142,45 + 142.602,66 + 399.532,17
= 6.056.774,057
Menghitung faktor Erodibilitas Tanah (K)
Erodibilitas tanah (K) adalah kepekaan tanah terhadap erosi. Erodibilitas tanah dapat diduga dengan menggunakan nomograf (Wischmeier, 1971 ) atau menggunakan rumus Hammer (1978), dalam utomo (1989), sebagai berikut :
K = 2,713 M 1,14 (10- 4) (12 - a) + 3,25 (b- 2) + 2,5 (c- 3)
100
Dimana :
M = Persen pasir sangat halus + persen debu X ( 100 - % liat )
a = kandungan bahan organic (% C x 1,724) = 0,008 gram
b = harkat struktur tanah = 0,07 cm/jam
c = harkat permeabilitas tanah = 0,4 cm/jam
M = Persen pasir sangat halus + persen debu x (100 - % liat)
= 44,31 % + 7,38 % x (100 – 48,29 )
= 51,69 x 51,71
= 2.672,89 %
K = 2,713 X (2.672,89) 1,14 (10- 4) (12 – 0,008) + 3,25 (0,07- 2) + 2,5 (0,4 - 3)
100
= 2,713 (8067,86 ) (0,0001) (11,99) + 3,25 (- 1,93) + 2,5 (-2,6)
100
= 21.888,10 X 0,0011 + (– 6, 27 – 6,5)
100
= 24.07 – 12,77
100
= 11,3
100
= 0.113
1. Metode Penetapan Tekstur di Laboratorium
Menghitung berat debu dan liat dengan menggunakan persamaan dibawah ini :
Berat debu dan liat = [ H¬1 + 0,3 (t1 – 19,8)] – 0,5………………..(a)
2
Berat liat = [ H¬2 + 0,3 (t2 – 19,8)] – 0,5……………...(b)
2
Berat debu = berat (debu + liat ) – berat liat ………….. (c)
Menghitung persentase pasir, debu dan liat dengan persamaan
% pasir = C x 100
a+ c
% debu = (a - b) x 100
a+ c
% liat = b x 100
a+ c
dik H1 = 8 T1 = 29
H2 = 7 T2 = 28 C = 3,9
Penyeselesaian :
Berat debu dan liat = [ H¬1 + 0,3 (t1 – 19,8) ]– 0,5………………..(a)
2
= [ 8 + 0,3 (29 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 8 + 0,3 (29 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 8 + 8,7 – 5,9] – 0,5
2
= 10,8 – 0,5
2
= 5,4 – 0,5
= 4,9 ………..(a)
Berat liat = [ H¬2 + 0,3 (t2 – 19,8)] – 0,5……………...(b)
2
= [ 7 + 0,3 (28 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 7 + 0,3 (29 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 7 + 8,4 – 5,9] – 0,5
2
= 7 + 2,5 – 0,5
2
= 4,75 – 0,5
= 4,25 ………..(b)
Berat debu = berat (debu + liat) – berat liat
= 4,9 – 4,25
= 0,65……………..(c)
% pasir = C x 100
a+ c
= 3,9 x 100 %
4,9 + 3,9
= 3,9 x 100 %
8,8
= 44,31 %
% debu = (a - b) x 100
a+ c
= (4,9 – 4,25 ) x 100 %
4,9 + 3,9
= 0,65 x 100 %
8,8
= 7,38 %
% liat = b x 100
a+ c
= 4,25 x 100 %
4,9 + 3,9
= 4,25 x 100 %
8,8
= 48,29 %
2. Metode Penetapan Bahan organik
% C = (ml B – ml t) N x 3 x 1,33
Mg contoh tanah tanpa air
Dimana
ml b = 32,9 gram
ml t = 22,6 gram
N = 0,2
Mg contoh tanah tanpa air = 1000 gram
% C = (32,9- 22,6) 0,2 X 3 X 1,33
1000
= (10,3) (0,2 X 3,99)
1000
= 8,219
1000
= 0,008 %
% bahan organik = 0,008 X 1,724
= 0,014 %
3. Metode penentuan permeabilitas
K = Q x L x 1
t h A
K = 400
Dimana
K = Permeabilitas (cm/ jam)
Q = banyak air yang mengalir pada setiap pengukur (ml) = 400 mL
L = Tebal contoh tanah (cm) (tinggi ring sampel) =
A = Luas contoh tanah (cm) (luas permukaan tanah )
t = waktu pengukuran (jam) = 1 jam
h : tinggi permukaan air dari permukaan contoh tanah (cm) (konstan 4 cm)
K = 0,4 cm/ jam sangat lambat
b. Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS)
Faktor panjang dan kemiringan lereng dihitung menggunakan rumus Morgan (1979)
Menggunakan nomografi nilai faktor LS (Arsyad,2006 ) dengan persemaan :
LS = L (1,38 + 0,965 S + 0,138 S2)
100
Dimana :
LS = Faktor lereng
L = Panjang lereng = 200 m
S = Persen kemiringan lahan = 60 %
= 200 (1,38 + 0,965 (60 %) + 0,138 (60 %) 2 )
100
= 14,14 (1,38 + 57,9 + 0,138 (3600))
100
= 0,14 ( 59,28 + 496,8)
= 0,14 (556,08)
= 77,85
c. Faktor vegetasi penutup tanah (C)
Kondisi tutupan lahan berdasarkan jenis penggunaan lahan untuk mengetahui nilai indeks tutupan vegetasi di lokasi praktek. Dan nilai C dapat dihitung dengan persamaan :
C = A C = 1,0
R x K x LS x P
Dimana :
A = Banyaknya tanah yang tererosi
B = Faktor Erosivitas hujan
K = Faktor E rodibilitas tanah
L = Faktor panjang lereng
S = Faktor kemiringan lereng
C = Faktor vegetasi penutup tanah
P = Faktor tindakan konservasi tanah
d. Faktor tindakan konservasi (P)
Nilai faktor tindakan manusia dalam konservasi tanah (P) adalah nisbah antara besarnya erosi dari lahan dengan suatu tindakan konservasi tertentu terhadap besarnya erosi pada lahan tanpa tindakan konservasi (supirin, 2001). Nilai P adalah 1,0 yang diberikan untu lahan adanya tindakan pengendalian erosi. Menurut USLE
Persamaan umum untuk nilai P yaitu sebagai berikut :
P = A
R x K x L x S x C
P = 1,0
A = R x K x LS x C x P
= 6.056.774,057 x 0,4 cm/ jam x 77,85 x 1,0 x 1,0
= 188.607.944,1
jurnal konservasi
ABSTRAK
Konservasi tanah dan air merupakan upaya meningkatkan fungsi lahan untuk berproduksi secara lestari. konservasi tanah dan air diharapkankan dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan sehingga masyarakat dapat terhindar dari dampak dari erosi yang memerlukan dana yang cukup besar dalam penanganan dampak erosi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui usaha konservasi tanah dan air sebagai alternatif upaya peningkatan pendapatan petani di agroekosistem lahan kering. Penelitian telah dilakukan di polewali mandar.
Kata kunci : Tanah, air, konservasi, erosi, tanaman, pelestarian
PENDAHULUAN
Kegiatan konservasi di lahan kering merupakan langkah konstruktif, dapat meningkatkan fungsi lahan untuk berproduksi secara lestari, sehingga potensinya dapat dioptimalkan sebagai sumber pendapatan keluarga tani di pedesaan. Menurut Notohadiprawiro (1988), lahan kering marginal yang berstatus kritis dicirikan oleh solum tanah yang dangkal, kemiringan lereng curam, tingkat erosi telah lanjut, kandungan bahan organik sangat rendah, serta banyak singkapan batuan di permukaan.
Kondisi demikian umumnya terdapat di wilayah desa tertinggal dan sebagian besar dikelola oleh petani miskin yang tidak mampu melaksanakan upaya-upaya konservasi, sehingga kondisinya makin lama makin memburuk (Karama dan Abdurrachman, 1995). Kondisi tersebut lebih diperparah lagi oleh pola usahatani yang orientasinya subsisten, sehingga mempercepat terbentuknya lahan kritis (Suyana, 2005).
Dalam hubungannya dengan erosi yang menyebabkan degradasi lahan serta langkah-langkah penanganannya di lahan marginal telah banyak dibahas pakar antara lain Scwab et.al (1981), Arsyad (1989), Agus dan Widianto (2004). Pada prinsipnya, kejadian erosi erat kaitannya dengan erosivitas hujan, erodibilitas tanah serta panjang dan kemiringan lereng. Sementara itu pendekatan yang ditempuh untuk pengendalian erosi dilakukan melalui beragam cara.
Scwab et.al (1981) menekankan pendekatan dari segi rekayasa (engineering), sementara itu Arsyad (1989) melakukannya melalui pendekatan vegetatif, mekanik dan kimia sedangkan Agus dan Widianto (2004) dengan pendekatan teknis dan vegetatif. Tulisan ini tidak bermaksud membahas satu persatu pendekatan pengendalian erosi dalam rangka konservasi tanah dan air, akan tetapi lebih difokuskan pada beberapa pertanyaan berikut. Metode konservasi apa yang sesuai dengan agroekosistem lahan kering, dan sejauhmana petani memahami kegiatan konservasi tanah dan air ini hubungannya dengan peningkatan pendapatan petani.
Sehubungan dengan permasalahan itu, makalah bertujuan membahas pendekatan metode konservasi tanah dan air yang dilakukan petani di lahan kering, dan mengungkap dampak potensial kegiatan konservasi tanah dan air terhadap perbaikan dan pelestarian tanah dan air serta tanaman yang tumbuh diatasnya.
METODE PENELITIAN
Praktek lapangan di Kabupaten polewali mandar Propinsi Sulawesi Barat Tahun 2011. Penentuan lokasi didasarkan pada pertimbangan praktek-praktek usaha konservasi tanah dan air serta merupakan areal percontohan usaha konservasi oleh Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah dan pelestarian lingkungan oleh masyarakat setempat. Dan metodenya dilakukan secara observasi dan sumber bahasan utama didasarkan atas data primer yang dilengkapi data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara anggota kelompok tani. Selain itu melalui observasi langsung di lapangan untuk melihat usaha-usaha konservasi yang telah dilakukan. Data yang dikumpulkan antara lain monograf desa, peta penggunaan lahan, data curah hujan, data kelerengan, dan teknik konsevasi yang di praktekkan oleh masyarakat petani. Kemudian data kualitatif dan kuantitatif yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Adapun metode yang digunakan untuk analisis erosi adalh sebagai berikut :
a. Faktor Erosivitas
Dalam praktikum ini penentuan faktor erosivitas hujan ( R ) yang digunakan adalah EI30 yang merupakan perkalian antara energi kinetik hujan ( E ) dengan menggunakan berbagai formula atau persamaan untuk memperoleh nilai R diantaranya rumus pendugaan EI30 menurut Bols(1978), yaitu :
EI30 = 6.119 ( R )¬1,21 ( H )-0,47 ( RM) 0,53
Dimana :
EI30 = indeks erosivitas hujan bulanan rata – rata
R = curah hujan rata – rata bulanan ( cm )
H = jumlah hari hujan rata – rata bulanan ( hari )
RM = curah hujan maksimum 24 jam bulanan ( cm )
Faktor Erodibilitas Tanah ( K )
Untuk mengetahui tingkat erodibilitas tanah (K), pada praktikum ini menggunakan dengan nomograf ( Wischmeier, 1971 ), atau menggunakan rumus Hammer ( 1978 ) sebagai berikut :
K = 2,713 M 1,14 ( 10 -4 ) ( 12 – a) + 3,25 (b - 2) + 2,5 (c - 3)
100
Dimana :
M = Persen pasir sangat halus + persen debu x (100 - % liat)
A = kandungan bahan organik ( % C x 1,724)
B = harkat struktur tanah
c = harkat permeabilitas tanah.
Dalam penentuan nilai erodibilitas tanah (K), terlebih dahulu harus diketahui nilai analisis ukuran partikel (tekstur tanah), kandungan C- organik dan permeabilitasnya, maka perlu diadakan praktikum sebelumnya, dengan sampel tanah baik utuh maupun terganggu dari lokasi diadakannya praktek lapang terpadu.
Metode Penetapan Tekstur di Laboratorium
1. Menimbang 20 gram tanah kering udara, butir – butir tanah ini berukuran kurang dari 2 mm
2. Memasukkan kedalam erlemeyer atau botol tekstur dan tambahkan 10 ml calgon 0,05% dan air secukupnya
3. Menutup dengan plastik, mengocok dengan mesin pengocok selama 1– 2 jam
4. Menuang secara kualitatif semua isinya ke dalam silinder sedimentasi 500 ml yang diatasnya dipasangi saringan dengan diameter lubang sebesar 0,05 mm dan membersihkan botol tekstur dengan bantuan botol semprot.
5. Menyemprot dengan spayer sambil diaduk – aduk semua suspensi yang masih tinggal pada saringan sehingga semua partikel debu dan liat telah turun ( air saringan telah jernih)
6. Pasir yang tertinggal dipindahkan ke dalam cawan dengan bantuan botol semprot kemudian masukkan dalam oven bersuhu 1050 C selama 2 x 24 jam, selanjutnya masukkan dalam desikator dan menimbang hingga berat pasir diketahui (catat sebagai C gram)
7. Mencukupkan larutan suspensi dalam silinder sedimentasi dengan air destilasi hingga 500 ml
8. Mengangkat selinder sedimentasi, sumbat baik – baik dengan karet lalu kocok dengan membolak – balik tegak lurus 180 o sebanyak 20 kali, atau dapat juga dilakukan dengan memasukkan pengocok ke dalam silinder sedimentasi lalu aduk naik turun selama 1 menit.
9. Dengan cepat tuangkan kira – kira 3 tetes amyl alkohol kepermukaan suspensi untuk menghilangkan gangguan buih yang mungkin timbul.
10. Setelah 15 detik, masukkan hydrometer pertama (H1) dan suhu suspensi (t1)
11. Dengan hati – hati keluarkan hydrometer dari suspensi.
12. Setelah menjelang 8 jam, masukkan hydrometer dan catat pembacaan hydrometer kedua (H2) dan suhu suspensi (t2)
13. Hitung berat debu dan liat dengan menggunakan persamaan di bawah ini :
Berat debu dan liat = [H1 + 0,3 ( t1 – 19,8)] – 0,5............(a)
2
Berat liat = [ H2 + 0,3 (t2 – 19,8) – 0,5.............(b)
2
Berat debu = berat (debu + liat) – berat liat........(a+ b)
14. Hitung persentase pasir, debu dan liat dengan persamaan :
% pasir = C x 100
a+ c
% debu = (a - b) x 100
a+ c
% liat = b x 100
a+ c
Metode penetapan bahan organik
1. Menimbang contoh tanah dengan neraca analitis sebanyak 2 gram
2. Memasukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml
3. Menambahkan dengan teliti 10 ml larutan K2Cr2O7 1 N (pipet) dan reaksikan dengan 10 ml H2SO4 dan biarkan reaksi dapat dilakukan pemanasan suspensi pada suhu 40oC selama 5 menit.
4. Menambahkan aquades kira –kira 50 ml dan 10 ml H3PO4
5. Meneteskan 1 ml indikator dan menambahkan pula larutan F++ yang telah distandarisasi
6. Titik akhir titrasi adalah pada saat terjadi perubahan warna biru kehitaman menjadi hijau.
7. Cara volume titran Fe++ yang digunakan, begitu pula normalitas
8. Menghitung % C organik dan % bahan organik dengan rumus
% C = ( mlB – ml t) N x 3 x 1,33
Mg contoh tanah tanpa air
% Bahan Organik = % C x 1,724
Metode penentuan permeabilitas
1. Menutup salah satu ujung dari ring sample dengan barrier untuk menahan tanah di dalam ring. Untuk itu, dapat menggunakan dua helai kain yang cukup porous tetapi efektif menahan partikel, mengikat dengan karet gelang. (konduktivitas material yang digunakan harus sebesar mungkin, tetapi cukup efektif menahan tanah).
2. Meletakkan sampel, dengan bagian yang tertutup barrier di bagian bawah, ke dalam sebuah tray yang berisi air. Kedalaman air kira- kira setengah dari tinggi sampel. Setelah seluruh permukaan tanah sampel basah, menaikkan permukaan air di dalam tray sehingga rata dengan permukaan tanah. Membiarkan terendam selama sedikitnya 12 jam
3. Selanjutnya sampel tanah utuh dimasukkan ke dalam parameter
4. Kemudian mencatat jumlah air yang mengalir dari sampel tanah ke pipa kapiler kemudian diteruskan ke buret dalam waktu 1 jam
5. Menghitung permeabilitas dengan dasar hukum Darcy (syarief, 1989) :
K = Q x L x 1 cm/ jam
t h A
keterangan :
K : Permeabilitas (cm/ jam)
Q : banyaknya air yang mengalir pada setiap pengukuran (ml)
L : tebal contoh tanah (cm) (tinggi ring sampel)
A : Luas contoh tanah (cm) (luas permukaan tanah)
T : waktu pengukuran (jam)
h : tinggi permukaan air dari permukaan contoh tanah (cm) (konstan 4 cm).
Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS)
Faktor panjang lereng dan kemiringan lereng dihitung menggunakan rumus Morgan (1979), menggunakan nomograf nilai faktor LS (Arsyad, 2006), dengan persamaan :
LS = / L (1,38 + 0,965 S + 0,138 S2 )
100
Dimana :
LS : Faktor lereng
L : Panjang lereng
S : Persen kemiringan lahan
Faktor Vegetasi Penutup Tanah
Kondisi tutupan lahan berdasarkan jenis penggunaan lahan untuk mengetahui nilai indeks tutupan vegetasi di lokasi praktek. Dan nilai C dapat dihitung dengan persamaan :
C = A
R x K x LS x P
Dimana :
A = Banyaknya tanah yang tererosi
R = Faktor Erosivitas hujan
K = Faktor Erodibilitas tanah
L = Faktor panjang lereng
S = Faktor kemiringan lereng
C = Faktor vegetasi penutup tanah
P = Faktor tindakan konservasi tanah.
Faktor tindakan konservasi (P)
Nilai faktor tindakan manusia dalam konservasi tanah (P) adalah nisbah antara besarnya erosi dari lahan dengan suatu tindakan konservasi tertentu terhadap besarnya erosi pada lahan tanpa tindakan konservasi (Suripin, 2001). Nilai P adalah 1,0 yang diberikan untuk lahan tanpa adanya tindakan pengendalian erosi. Menurut USLE persamaan umum nilai P yaitu sebagai berikut :
P = A
R x K x L x S x C
Dimana :
C : nilai faktor pertanaman
R : erosivitas
K : erodibilitas
LS: faktor lereng
P : faktor tindakan konservasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Menghitung Tingkat Erosi
Diperoleh data curah hujan pada lokasi praktek lapang Polewali Mandar untuk tahun 2007 sebagai berikut :
Bulan Jan feb Mar apr Mei jun jul Ags sep Okt Nov des
Rata – rata CH/ Bulan 9 16 21 15 21 10 12 19 24 15 10 18
Jumlah Hari 6 11 4 16 12 10 4 2 1 11 11 15
Hujan max 20 27 43 45 40 23 20 26 24 29 17 40
E = f (I, r, v, t, m)
Dimana :
E = Erosi f = topografi I = Iklim v= Vegetasi
Sedangkan indikasi erosi menurut Universal Soil Loss Equation (USLE), dikenal dengan adanya persamaan:
A = R X K X LS X C X P
Dimana :
A : banyaknya tanah yang tererosi
B : Faktor Erosivitas hujan
K : faktor erodibilitas tanah
L : Faktor panjang lereng
S : Faktor panjang lereng
C : Faktor vegetasi penutup tanah
P : Faktor tindakan konservasi
A = R x K x LS x C x P
= 6.056.774,057 x 0,4 cm/ jam x 77,85 x 1,0 x 1,0
= 188.607.944,1 cm/ jam
A adalah besarnya erosi yang terjadi (ton/ha/thn), R adalah erosivitas curah hujan, LS adalah indeks panjang lereng, K sama dengan erodibilitas tanah, C adalah faktor pengelolaan tanaman, dan P yaitu faktor konservasi tanah.
Dalam praktikum ini kita mendapatkan hasil bahwa faktor erosivitas hujan sebesar 6.056.774,057 cm/ jam, untuk faktor erodibilitas tanah diperoleh sebesar 0,4 cm/ jam untuk faktor panjang lereng dan kemiringan lereng diperoleh 77,85 m, adapun faktor vegetasi penutup tanah diperoleh 1,0 dan faktor tindakan konservasi tanah sebesar 1,0.
Dari hasil perhitungan diperoleh banyaknya tanah yang tererosi pada lokasi praktek lapang polewali mandar diperoleh 188.607.944,1 cm/jam. Jika kita amati tingkat erosi yang terjadi daerah praktek lapang ini, cukup besar sehingga perlu penanganan yang cukup serius, salah satunya dengan melakukan konservasi baik konservasi tanah maupun konservasi air. Tindakan konservasi yang diupayakan ini kiranya dapat mengurangi pengikisan yang terjadi sebelumnya yang disebabkan oleh beberapa faktor dianataranya curah hujan yang tinggi, selain itu batuan yang mentusun di daerah memilki topografi yang curam.
Melihat besarnya erosi yang terjadi di wilayah itu, akan berpengaruh negatif terhadap produktivitas dan prduksi pertanian. Besarnya erosi berbanding terbalik dengan perolehan produksi. Semakin besar tingkat bahaya erosi, maka semakin rendah produksi pertanian yang diperoleh yang pada akhirnya berpengaruh negatif terhadap pendapatan petani.
Ada 2 metode konservasi yang diterapkan di wilayah tersebut yaitu metode vegetatif dan metode mekanik. Metode vegetatif yang dilakukan meliputi pembuatan hutan rakyat, pembuatan Kebun Bibit Desa (KBD), dan pembuatan Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumber Daya Alam (UP-UPSA). Sementara itu dalam metode mekanik yang dilakukan adalah pembuatan teras bangku, pembuatan saluran pembuatan air (SPA), dan pembangunan pegendali jurang (gully-plug). Uraian berikut menyajikan secara ringkas implementasi dari setiap metode tersebut.
Hutan rakyat adalah hutan yang dimiliki oleh rakyat (bukan hutan alam) baik secara perorangan atau kelompok maupun suatu badan hukum dan berada di luar wilayah hutan negara serta terletak dalam satu kompleks atau lokasi (Duryat, 1979).
Teras berfungsi mengurangi panjang lereng, mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan serta memungkinkan adanya penyerapan air oleh tanah yang lebih besar. Bentuk teras yang dibuat disesuaikan dengan kemiringan lahan, jenis tanah, vegetasi, kondisi penggunaan lahan. Dengan kemiringan lahan 15%-40% teras bangku merupakan jenis teras yang paling sesuai diterapkan. Teras bangku yang ada adalah jenis teras bangku datar, dengan tanaman penguat berupa ubi kayu, selain berfungsi sebagai tanaman penguat teras juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Teras bangku (Land Unit G) di desa Rejosari terbukti mampu mengurangi laju erosi dari sebelumnya sebesar 29,40 ton/ha/thn menjadi 7,90 ton/ha/thn (menurunkan faktor pengelolaan/CP dari 0,03 menjadi 0,008). Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras bangku adalah, tersingkapnya tanah sehingga menjadi tidak subur, untuk itu perlu adanya perbaikan lahan misalnya dengan pemupukan atau penanaman tanaman penguat teras yang mampu menyediakan unsur hara tambahan seperti kacang-kacangan (leguminose) yang mampu menyumbangkan unsur N, kemudian rumput gamal (Gliricida), lamtoro dan turi, yang juga dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Pembuatan teras bangku juga memerlukan tenaga kerja dan biaya yang lebih mahal dibandingkan metode konservasi vegetatif, sehingga pembuatan teras juga harus memperhatikan kemampuan finansial dan ketersediaan masyarakat lokal. Selain itu teras perlu dilengkapi dengan bangunan pelengkap seperti saluran teras, bangunan terjun sehingga teras berfungsi maksimal dalam mengurangi laju aliran permukaan dan erosi akibat energi kinetik curah hujan.
Metode konservasi mekanis dengan gully plug bertujuan untuk mengurangi terjadinya erosi jurang akibat pengaruh kecuraman lereng dan kepekaan tanah. Gully plug sebaiknya dilengkapi bronjong atau bangunan beton untuk mengurangi jumlah erosi dan seimentasi yang terangkut oleh air. Gully plug di Desa Rejosari masih sangat sederhana, terbuat dari tanah dan belum dilengkapi dengan bronjong kawat atau bangunan beton hanya diperkuat dengan rumput.
KESIMPULAN DAN SARAN
• Dari hasil praktikum yang kita lakukan kita dapat mengetahui bahwa faktor erosivitas hujan sebesar 6.056.774,057 cm/ jam, untuk faktor erodibilitas tanah diperoleh sebesar 0,4 cm/ jam untuk faktor panjang lereng dan kemiringan lereng diperoleh 77,85 m, adapun faktor vegetasi penutup tanah diperoleh 1,0 dan faktor tindakan konservasi tanah sebesar 1,0.
• Usaha konservasi tanah dan air di lahan kering yang dilakukan dengan pendekatan vegetatif dan mekanis melalui pembuatan hutan rakyat, kebun bibit desa, Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumber Daya Alam (UP UPSA), pembuatan teras, saluran pembuangan air (SPA), dan gully plug (pengendali jurang) terbukti dapat menurunkan besarnya erosi, merehabilitasi dan meningkatkan fungsi lahan.
• Keberhasilan penerapan konservasi di lahan kering mampu menciptakan kondisi lahan yang kondusif untuk menghasilkan produksi secara lestari dan terpeliharanya produktivitas lahan sehingga pada akhirnya berpengaruh positif pada peningkatan pendapatan petani.
• Keberhasilan konservasi tanah dan air di lahan kering tidak terlepas dari peran aktif masyarakat setempat, oleh karena itu untuk memelihara kelanjutan konservasi diperlukan dorongan dari pihak berwenang menggerakkan partisipasi petani antara lain melalui penyuluhan yang lebih intensif.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, F dan Widianto, 2004. Petunjuk Praktis Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering. World Agroforestry Centre. ICRAF Southeast Asia. Bogor.
Anonim, 1999. Monograf Desa Rejosari Kecamatan Semin Kabupaten Gunungkidul.. Pemerintah Desa Rejosari. Semin. Gunungkidul, Yogyakarta.
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit Institut Pertanian Bogor Press. Bogor.
Duryat, P. W. 1979. Meningkatkan Kegiatan Penyuluhan Dalam Rangka Pembentukan Hutan Rakyat. Seminar dan Reuni III Fak. Kehutanan UGM. Yogyakarta
Karama, A.S dan A. Abdurrachman. 1995. Kebijaksanaan Nasional dalam Penanganan Lahan Kritis di Indonesia. Prosiding Lokakarya dan Ekspose Teknologi Sistem Usahatani Konservasi dan Alat Mesin Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Yogyakarta, 17-19 Januari 1995.
Notohadiprawiro, T. 1988. Pembaharuan Pandangan terhadap Kedudukan Lahan Kering dalam Pembangunan Pertanian Pangan yang Terlanjutkan. Seminar Fak. Pertanian UNISRI. Surakarta
Scwab, et. al. 1981. Soil and Water Conservastion Engineering. 3rd edition. John Wiley and Sons. Inc. Toronto.
Suyana, J. 2005. Berkelanjutan Penerapan Teknologi Konservasi Hedgerows Untuk Menciptakan Sistem Usahatani Lahan Kering. Bahan Mata Kuliah Konservasi. IPB.
Konservasi tanah dan air merupakan upaya meningkatkan fungsi lahan untuk berproduksi secara lestari. konservasi tanah dan air diharapkankan dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan sehingga masyarakat dapat terhindar dari dampak dari erosi yang memerlukan dana yang cukup besar dalam penanganan dampak erosi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui usaha konservasi tanah dan air sebagai alternatif upaya peningkatan pendapatan petani di agroekosistem lahan kering. Penelitian telah dilakukan di polewali mandar.
Kata kunci : Tanah, air, konservasi, erosi, tanaman, pelestarian
PENDAHULUAN
Kegiatan konservasi di lahan kering merupakan langkah konstruktif, dapat meningkatkan fungsi lahan untuk berproduksi secara lestari, sehingga potensinya dapat dioptimalkan sebagai sumber pendapatan keluarga tani di pedesaan. Menurut Notohadiprawiro (1988), lahan kering marginal yang berstatus kritis dicirikan oleh solum tanah yang dangkal, kemiringan lereng curam, tingkat erosi telah lanjut, kandungan bahan organik sangat rendah, serta banyak singkapan batuan di permukaan.
Kondisi demikian umumnya terdapat di wilayah desa tertinggal dan sebagian besar dikelola oleh petani miskin yang tidak mampu melaksanakan upaya-upaya konservasi, sehingga kondisinya makin lama makin memburuk (Karama dan Abdurrachman, 1995). Kondisi tersebut lebih diperparah lagi oleh pola usahatani yang orientasinya subsisten, sehingga mempercepat terbentuknya lahan kritis (Suyana, 2005).
Dalam hubungannya dengan erosi yang menyebabkan degradasi lahan serta langkah-langkah penanganannya di lahan marginal telah banyak dibahas pakar antara lain Scwab et.al (1981), Arsyad (1989), Agus dan Widianto (2004). Pada prinsipnya, kejadian erosi erat kaitannya dengan erosivitas hujan, erodibilitas tanah serta panjang dan kemiringan lereng. Sementara itu pendekatan yang ditempuh untuk pengendalian erosi dilakukan melalui beragam cara.
Scwab et.al (1981) menekankan pendekatan dari segi rekayasa (engineering), sementara itu Arsyad (1989) melakukannya melalui pendekatan vegetatif, mekanik dan kimia sedangkan Agus dan Widianto (2004) dengan pendekatan teknis dan vegetatif. Tulisan ini tidak bermaksud membahas satu persatu pendekatan pengendalian erosi dalam rangka konservasi tanah dan air, akan tetapi lebih difokuskan pada beberapa pertanyaan berikut. Metode konservasi apa yang sesuai dengan agroekosistem lahan kering, dan sejauhmana petani memahami kegiatan konservasi tanah dan air ini hubungannya dengan peningkatan pendapatan petani.
Sehubungan dengan permasalahan itu, makalah bertujuan membahas pendekatan metode konservasi tanah dan air yang dilakukan petani di lahan kering, dan mengungkap dampak potensial kegiatan konservasi tanah dan air terhadap perbaikan dan pelestarian tanah dan air serta tanaman yang tumbuh diatasnya.
METODE PENELITIAN
Praktek lapangan di Kabupaten polewali mandar Propinsi Sulawesi Barat Tahun 2011. Penentuan lokasi didasarkan pada pertimbangan praktek-praktek usaha konservasi tanah dan air serta merupakan areal percontohan usaha konservasi oleh Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah dan pelestarian lingkungan oleh masyarakat setempat. Dan metodenya dilakukan secara observasi dan sumber bahasan utama didasarkan atas data primer yang dilengkapi data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara anggota kelompok tani. Selain itu melalui observasi langsung di lapangan untuk melihat usaha-usaha konservasi yang telah dilakukan. Data yang dikumpulkan antara lain monograf desa, peta penggunaan lahan, data curah hujan, data kelerengan, dan teknik konsevasi yang di praktekkan oleh masyarakat petani. Kemudian data kualitatif dan kuantitatif yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Adapun metode yang digunakan untuk analisis erosi adalh sebagai berikut :
a. Faktor Erosivitas
Dalam praktikum ini penentuan faktor erosivitas hujan ( R ) yang digunakan adalah EI30 yang merupakan perkalian antara energi kinetik hujan ( E ) dengan menggunakan berbagai formula atau persamaan untuk memperoleh nilai R diantaranya rumus pendugaan EI30 menurut Bols(1978), yaitu :
EI30 = 6.119 ( R )¬1,21 ( H )-0,47 ( RM) 0,53
Dimana :
EI30 = indeks erosivitas hujan bulanan rata – rata
R = curah hujan rata – rata bulanan ( cm )
H = jumlah hari hujan rata – rata bulanan ( hari )
RM = curah hujan maksimum 24 jam bulanan ( cm )
Faktor Erodibilitas Tanah ( K )
Untuk mengetahui tingkat erodibilitas tanah (K), pada praktikum ini menggunakan dengan nomograf ( Wischmeier, 1971 ), atau menggunakan rumus Hammer ( 1978 ) sebagai berikut :
K = 2,713 M 1,14 ( 10 -4 ) ( 12 – a) + 3,25 (b - 2) + 2,5 (c - 3)
100
Dimana :
M = Persen pasir sangat halus + persen debu x (100 - % liat)
A = kandungan bahan organik ( % C x 1,724)
B = harkat struktur tanah
c = harkat permeabilitas tanah.
Dalam penentuan nilai erodibilitas tanah (K), terlebih dahulu harus diketahui nilai analisis ukuran partikel (tekstur tanah), kandungan C- organik dan permeabilitasnya, maka perlu diadakan praktikum sebelumnya, dengan sampel tanah baik utuh maupun terganggu dari lokasi diadakannya praktek lapang terpadu.
Metode Penetapan Tekstur di Laboratorium
1. Menimbang 20 gram tanah kering udara, butir – butir tanah ini berukuran kurang dari 2 mm
2. Memasukkan kedalam erlemeyer atau botol tekstur dan tambahkan 10 ml calgon 0,05% dan air secukupnya
3. Menutup dengan plastik, mengocok dengan mesin pengocok selama 1– 2 jam
4. Menuang secara kualitatif semua isinya ke dalam silinder sedimentasi 500 ml yang diatasnya dipasangi saringan dengan diameter lubang sebesar 0,05 mm dan membersihkan botol tekstur dengan bantuan botol semprot.
5. Menyemprot dengan spayer sambil diaduk – aduk semua suspensi yang masih tinggal pada saringan sehingga semua partikel debu dan liat telah turun ( air saringan telah jernih)
6. Pasir yang tertinggal dipindahkan ke dalam cawan dengan bantuan botol semprot kemudian masukkan dalam oven bersuhu 1050 C selama 2 x 24 jam, selanjutnya masukkan dalam desikator dan menimbang hingga berat pasir diketahui (catat sebagai C gram)
7. Mencukupkan larutan suspensi dalam silinder sedimentasi dengan air destilasi hingga 500 ml
8. Mengangkat selinder sedimentasi, sumbat baik – baik dengan karet lalu kocok dengan membolak – balik tegak lurus 180 o sebanyak 20 kali, atau dapat juga dilakukan dengan memasukkan pengocok ke dalam silinder sedimentasi lalu aduk naik turun selama 1 menit.
9. Dengan cepat tuangkan kira – kira 3 tetes amyl alkohol kepermukaan suspensi untuk menghilangkan gangguan buih yang mungkin timbul.
10. Setelah 15 detik, masukkan hydrometer pertama (H1) dan suhu suspensi (t1)
11. Dengan hati – hati keluarkan hydrometer dari suspensi.
12. Setelah menjelang 8 jam, masukkan hydrometer dan catat pembacaan hydrometer kedua (H2) dan suhu suspensi (t2)
13. Hitung berat debu dan liat dengan menggunakan persamaan di bawah ini :
Berat debu dan liat = [H1 + 0,3 ( t1 – 19,8)] – 0,5............(a)
2
Berat liat = [ H2 + 0,3 (t2 – 19,8) – 0,5.............(b)
2
Berat debu = berat (debu + liat) – berat liat........(a+ b)
14. Hitung persentase pasir, debu dan liat dengan persamaan :
% pasir = C x 100
a+ c
% debu = (a - b) x 100
a+ c
% liat = b x 100
a+ c
Metode penetapan bahan organik
1. Menimbang contoh tanah dengan neraca analitis sebanyak 2 gram
2. Memasukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml
3. Menambahkan dengan teliti 10 ml larutan K2Cr2O7 1 N (pipet) dan reaksikan dengan 10 ml H2SO4 dan biarkan reaksi dapat dilakukan pemanasan suspensi pada suhu 40oC selama 5 menit.
4. Menambahkan aquades kira –kira 50 ml dan 10 ml H3PO4
5. Meneteskan 1 ml indikator dan menambahkan pula larutan F++ yang telah distandarisasi
6. Titik akhir titrasi adalah pada saat terjadi perubahan warna biru kehitaman menjadi hijau.
7. Cara volume titran Fe++ yang digunakan, begitu pula normalitas
8. Menghitung % C organik dan % bahan organik dengan rumus
% C = ( mlB – ml t) N x 3 x 1,33
Mg contoh tanah tanpa air
% Bahan Organik = % C x 1,724
Metode penentuan permeabilitas
1. Menutup salah satu ujung dari ring sample dengan barrier untuk menahan tanah di dalam ring. Untuk itu, dapat menggunakan dua helai kain yang cukup porous tetapi efektif menahan partikel, mengikat dengan karet gelang. (konduktivitas material yang digunakan harus sebesar mungkin, tetapi cukup efektif menahan tanah).
2. Meletakkan sampel, dengan bagian yang tertutup barrier di bagian bawah, ke dalam sebuah tray yang berisi air. Kedalaman air kira- kira setengah dari tinggi sampel. Setelah seluruh permukaan tanah sampel basah, menaikkan permukaan air di dalam tray sehingga rata dengan permukaan tanah. Membiarkan terendam selama sedikitnya 12 jam
3. Selanjutnya sampel tanah utuh dimasukkan ke dalam parameter
4. Kemudian mencatat jumlah air yang mengalir dari sampel tanah ke pipa kapiler kemudian diteruskan ke buret dalam waktu 1 jam
5. Menghitung permeabilitas dengan dasar hukum Darcy (syarief, 1989) :
K = Q x L x 1 cm/ jam
t h A
keterangan :
K : Permeabilitas (cm/ jam)
Q : banyaknya air yang mengalir pada setiap pengukuran (ml)
L : tebal contoh tanah (cm) (tinggi ring sampel)
A : Luas contoh tanah (cm) (luas permukaan tanah)
T : waktu pengukuran (jam)
h : tinggi permukaan air dari permukaan contoh tanah (cm) (konstan 4 cm).
Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS)
Faktor panjang lereng dan kemiringan lereng dihitung menggunakan rumus Morgan (1979), menggunakan nomograf nilai faktor LS (Arsyad, 2006), dengan persamaan :
LS = / L (1,38 + 0,965 S + 0,138 S2 )
100
Dimana :
LS : Faktor lereng
L : Panjang lereng
S : Persen kemiringan lahan
Faktor Vegetasi Penutup Tanah
Kondisi tutupan lahan berdasarkan jenis penggunaan lahan untuk mengetahui nilai indeks tutupan vegetasi di lokasi praktek. Dan nilai C dapat dihitung dengan persamaan :
C = A
R x K x LS x P
Dimana :
A = Banyaknya tanah yang tererosi
R = Faktor Erosivitas hujan
K = Faktor Erodibilitas tanah
L = Faktor panjang lereng
S = Faktor kemiringan lereng
C = Faktor vegetasi penutup tanah
P = Faktor tindakan konservasi tanah.
Faktor tindakan konservasi (P)
Nilai faktor tindakan manusia dalam konservasi tanah (P) adalah nisbah antara besarnya erosi dari lahan dengan suatu tindakan konservasi tertentu terhadap besarnya erosi pada lahan tanpa tindakan konservasi (Suripin, 2001). Nilai P adalah 1,0 yang diberikan untuk lahan tanpa adanya tindakan pengendalian erosi. Menurut USLE persamaan umum nilai P yaitu sebagai berikut :
P = A
R x K x L x S x C
Dimana :
C : nilai faktor pertanaman
R : erosivitas
K : erodibilitas
LS: faktor lereng
P : faktor tindakan konservasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Menghitung Tingkat Erosi
Diperoleh data curah hujan pada lokasi praktek lapang Polewali Mandar untuk tahun 2007 sebagai berikut :
Bulan Jan feb Mar apr Mei jun jul Ags sep Okt Nov des
Rata – rata CH/ Bulan 9 16 21 15 21 10 12 19 24 15 10 18
Jumlah Hari 6 11 4 16 12 10 4 2 1 11 11 15
Hujan max 20 27 43 45 40 23 20 26 24 29 17 40
E = f (I, r, v, t, m)
Dimana :
E = Erosi f = topografi I = Iklim v= Vegetasi
Sedangkan indikasi erosi menurut Universal Soil Loss Equation (USLE), dikenal dengan adanya persamaan:
A = R X K X LS X C X P
Dimana :
A : banyaknya tanah yang tererosi
B : Faktor Erosivitas hujan
K : faktor erodibilitas tanah
L : Faktor panjang lereng
S : Faktor panjang lereng
C : Faktor vegetasi penutup tanah
P : Faktor tindakan konservasi
A = R x K x LS x C x P
= 6.056.774,057 x 0,4 cm/ jam x 77,85 x 1,0 x 1,0
= 188.607.944,1 cm/ jam
A adalah besarnya erosi yang terjadi (ton/ha/thn), R adalah erosivitas curah hujan, LS adalah indeks panjang lereng, K sama dengan erodibilitas tanah, C adalah faktor pengelolaan tanaman, dan P yaitu faktor konservasi tanah.
Dalam praktikum ini kita mendapatkan hasil bahwa faktor erosivitas hujan sebesar 6.056.774,057 cm/ jam, untuk faktor erodibilitas tanah diperoleh sebesar 0,4 cm/ jam untuk faktor panjang lereng dan kemiringan lereng diperoleh 77,85 m, adapun faktor vegetasi penutup tanah diperoleh 1,0 dan faktor tindakan konservasi tanah sebesar 1,0.
Dari hasil perhitungan diperoleh banyaknya tanah yang tererosi pada lokasi praktek lapang polewali mandar diperoleh 188.607.944,1 cm/jam. Jika kita amati tingkat erosi yang terjadi daerah praktek lapang ini, cukup besar sehingga perlu penanganan yang cukup serius, salah satunya dengan melakukan konservasi baik konservasi tanah maupun konservasi air. Tindakan konservasi yang diupayakan ini kiranya dapat mengurangi pengikisan yang terjadi sebelumnya yang disebabkan oleh beberapa faktor dianataranya curah hujan yang tinggi, selain itu batuan yang mentusun di daerah memilki topografi yang curam.
Melihat besarnya erosi yang terjadi di wilayah itu, akan berpengaruh negatif terhadap produktivitas dan prduksi pertanian. Besarnya erosi berbanding terbalik dengan perolehan produksi. Semakin besar tingkat bahaya erosi, maka semakin rendah produksi pertanian yang diperoleh yang pada akhirnya berpengaruh negatif terhadap pendapatan petani.
Ada 2 metode konservasi yang diterapkan di wilayah tersebut yaitu metode vegetatif dan metode mekanik. Metode vegetatif yang dilakukan meliputi pembuatan hutan rakyat, pembuatan Kebun Bibit Desa (KBD), dan pembuatan Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumber Daya Alam (UP-UPSA). Sementara itu dalam metode mekanik yang dilakukan adalah pembuatan teras bangku, pembuatan saluran pembuatan air (SPA), dan pembangunan pegendali jurang (gully-plug). Uraian berikut menyajikan secara ringkas implementasi dari setiap metode tersebut.
Hutan rakyat adalah hutan yang dimiliki oleh rakyat (bukan hutan alam) baik secara perorangan atau kelompok maupun suatu badan hukum dan berada di luar wilayah hutan negara serta terletak dalam satu kompleks atau lokasi (Duryat, 1979).
Teras berfungsi mengurangi panjang lereng, mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan serta memungkinkan adanya penyerapan air oleh tanah yang lebih besar. Bentuk teras yang dibuat disesuaikan dengan kemiringan lahan, jenis tanah, vegetasi, kondisi penggunaan lahan. Dengan kemiringan lahan 15%-40% teras bangku merupakan jenis teras yang paling sesuai diterapkan. Teras bangku yang ada adalah jenis teras bangku datar, dengan tanaman penguat berupa ubi kayu, selain berfungsi sebagai tanaman penguat teras juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Teras bangku (Land Unit G) di desa Rejosari terbukti mampu mengurangi laju erosi dari sebelumnya sebesar 29,40 ton/ha/thn menjadi 7,90 ton/ha/thn (menurunkan faktor pengelolaan/CP dari 0,03 menjadi 0,008). Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras bangku adalah, tersingkapnya tanah sehingga menjadi tidak subur, untuk itu perlu adanya perbaikan lahan misalnya dengan pemupukan atau penanaman tanaman penguat teras yang mampu menyediakan unsur hara tambahan seperti kacang-kacangan (leguminose) yang mampu menyumbangkan unsur N, kemudian rumput gamal (Gliricida), lamtoro dan turi, yang juga dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Pembuatan teras bangku juga memerlukan tenaga kerja dan biaya yang lebih mahal dibandingkan metode konservasi vegetatif, sehingga pembuatan teras juga harus memperhatikan kemampuan finansial dan ketersediaan masyarakat lokal. Selain itu teras perlu dilengkapi dengan bangunan pelengkap seperti saluran teras, bangunan terjun sehingga teras berfungsi maksimal dalam mengurangi laju aliran permukaan dan erosi akibat energi kinetik curah hujan.
Metode konservasi mekanis dengan gully plug bertujuan untuk mengurangi terjadinya erosi jurang akibat pengaruh kecuraman lereng dan kepekaan tanah. Gully plug sebaiknya dilengkapi bronjong atau bangunan beton untuk mengurangi jumlah erosi dan seimentasi yang terangkut oleh air. Gully plug di Desa Rejosari masih sangat sederhana, terbuat dari tanah dan belum dilengkapi dengan bronjong kawat atau bangunan beton hanya diperkuat dengan rumput.
KESIMPULAN DAN SARAN
• Dari hasil praktikum yang kita lakukan kita dapat mengetahui bahwa faktor erosivitas hujan sebesar 6.056.774,057 cm/ jam, untuk faktor erodibilitas tanah diperoleh sebesar 0,4 cm/ jam untuk faktor panjang lereng dan kemiringan lereng diperoleh 77,85 m, adapun faktor vegetasi penutup tanah diperoleh 1,0 dan faktor tindakan konservasi tanah sebesar 1,0.
• Usaha konservasi tanah dan air di lahan kering yang dilakukan dengan pendekatan vegetatif dan mekanis melalui pembuatan hutan rakyat, kebun bibit desa, Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumber Daya Alam (UP UPSA), pembuatan teras, saluran pembuangan air (SPA), dan gully plug (pengendali jurang) terbukti dapat menurunkan besarnya erosi, merehabilitasi dan meningkatkan fungsi lahan.
• Keberhasilan penerapan konservasi di lahan kering mampu menciptakan kondisi lahan yang kondusif untuk menghasilkan produksi secara lestari dan terpeliharanya produktivitas lahan sehingga pada akhirnya berpengaruh positif pada peningkatan pendapatan petani.
• Keberhasilan konservasi tanah dan air di lahan kering tidak terlepas dari peran aktif masyarakat setempat, oleh karena itu untuk memelihara kelanjutan konservasi diperlukan dorongan dari pihak berwenang menggerakkan partisipasi petani antara lain melalui penyuluhan yang lebih intensif.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, F dan Widianto, 2004. Petunjuk Praktis Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering. World Agroforestry Centre. ICRAF Southeast Asia. Bogor.
Anonim, 1999. Monograf Desa Rejosari Kecamatan Semin Kabupaten Gunungkidul.. Pemerintah Desa Rejosari. Semin. Gunungkidul, Yogyakarta.
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit Institut Pertanian Bogor Press. Bogor.
Duryat, P. W. 1979. Meningkatkan Kegiatan Penyuluhan Dalam Rangka Pembentukan Hutan Rakyat. Seminar dan Reuni III Fak. Kehutanan UGM. Yogyakarta
Karama, A.S dan A. Abdurrachman. 1995. Kebijaksanaan Nasional dalam Penanganan Lahan Kritis di Indonesia. Prosiding Lokakarya dan Ekspose Teknologi Sistem Usahatani Konservasi dan Alat Mesin Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Yogyakarta, 17-19 Januari 1995.
Notohadiprawiro, T. 1988. Pembaharuan Pandangan terhadap Kedudukan Lahan Kering dalam Pembangunan Pertanian Pangan yang Terlanjutkan. Seminar Fak. Pertanian UNISRI. Surakarta
Scwab, et. al. 1981. Soil and Water Conservastion Engineering. 3rd edition. John Wiley and Sons. Inc. Toronto.
Suyana, J. 2005. Berkelanjutan Penerapan Teknologi Konservasi Hedgerows Untuk Menciptakan Sistem Usahatani Lahan Kering. Bahan Mata Kuliah Konservasi. IPB.
Sabtu, 30 April 2011
permeabilitas sel
I. PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Sel adalah unit terkecil, fungsional, struktural, hereditas, produksi, dan kehidupan yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu membran, sitoplasma, dan inti. Membran atau plasmalemma menyelubingi sel dengan fungsi mengatur keluar mansuknya zat, menyampaikan atau menerima rangsang, dan strukturnya terdiri dari dua lapisan lipoprotein yang diantara molekul terdapat pori.
Peranan membran dalam aktivitas seluler yaitu mengatur keluar masuknya bahan antara sel dengan lingkungannya, antara sel dengan organel-organelnya. Selain itu membran juga berperan dalam metabolisme sel. Organel-organel sel seperti nukleus, kloroplas, mitokondria, dan retikulum endoplasma juga diselubungi membran. Berdasarkan dari komposisi kimia membran dan pemeabilitasnya terhadap solut maka dapat disimpulkan bahwa membran sel terdiri atas lipid dan protein. Pada membran terdapat lapisan ganda dan molekul-molekul posfolipid yang letaknya teratur sedemikian rupa sehingga ujung karbon yang hidropobik terbungkus sedemikian rupa di dalam sebuah lapisan amorf dalam senyawa lipid. Komponen protein membran digambarkan sebagai suatu selaput yang menutupi kedua belah permukaan dan lapisa biomolekul posfolipid.
Membran plasma merupakan batas kehidupan, batas yang memisahkan sel hidup dari sekelilingnya yang mati. Lapisan tipis yang luar biasanya ini tebalnya kira-kira hanya 8 nm dibutuhkan lebih dari 8000 membran plasma mengontrol lalu lintas ke dalam dan ke luar sel yang dikelilinginya.
1.2.Tujuan praktikum
Tujuan dari praktikum permeabilitas dinding sel yaitu untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap permeabilitas sel pada buah hortikultura
1.1 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari praktikum permeabilitas sel antara lain :
a) Bagaimana permeabilitas dinding sel terhadap buah mangga.
b) Bagaimana mengatasi permeabilitas dinding sel pada setiap tanaman hortikultura.
c) Faktor-faktor apa yang mempengaruhi permeabilitas sel pada tanaman hortikultura.
II.TINJAUAN PUSTAKA
Tujuan fraksionasi sel ialah untuk memisahkan sel menjadi bagian-bagian, memisahkan organel-organel utama sehingga fungsinya masing-masing dapat dipelajari. Ada beberapa perbedaan besar antara karakter permeabilitas pada tanaman yang berbeda tetapi mempunyai prinsip umum yang sama. Salah satu faktanya adalah komposisi relatif dari daerah lipid dan area penjaringan terhadap permeabilitas yang berbeda dari tiap tanaman. Pada Chara, permeabilitas diatur oleh solubilitas lipid pada penyerapan larutan. Sedangkan pada Beggiataa, ukuran merupakan penentu paling utama. Pada tumbuhan tingkat tinggi yang memiliki sifat permeabilitas yang sama dengan Chara, solubilitas lipid merupakan faktor dominan penyerapan walaupun perbedaan kuantitatif dapat diperhitungkan pada angka penyerapan. (Kimball, 2000).
Beberapa teori-teori klasik tentang permeabilitas mempunyai kesulitan dalam menjelaskan gejala-gejala yang teramati. Seperti peleburan zat terlarut pada membran oleh pelarut. Semua perrcobaan permeabilitas membran melibatkan sistem yang tidak seimbang yang berubah sepanjang lintasan tidak baik apabila beberapa molekul yang tidak dapat menemdus lubang batas itu. Bermuatan pada membran akan terjadi potensial, untuk potensial ini dinamakan potensial dominan. Dalam hal ini konsentrasi keseimbangan ion dari dua belah sisi membran berbeda. Proses tercapainya keseimbangan dari berbagai keadaan tidak seimbang merupakan contoh termodinamika larutan balik yang terjadi pada sistem biologi. Membran mempunyai dua fungsi yaitu memberikan kerangka luar dari proses kehidupan dan pemisahan sitoplasma menjadi bahang. Membran memisahkan protoplasma menjadi bagian-bagian tetapi pemisahan itu selektif. (Lovelles, 1991)
. Untuk melakukan hal seperti itu, bagian hidrofilik molekul tersebut harus melewati inti hidrofobik membranya. (Campbell, dkk, 2002).
Suatu membran tetap berwujud fluida begitu suhu turun, hingga akhirnya pada beberapa suhu kritis, fosfolipid mengendap dalam suatu susunan yang rapat dan membrannya membeku, tak ubahnya seperti minyak babi yang membentuk kerak lemak ketika lemaknya mendingin. Suhu beku membran tergantung pada komposisi lipidnya. Membran tetap berwujud fluida pada suhu yang lebih rendah jika membran itu mengandung banyak fosfolipid dengan ekor hidrokarbon tak jenuh. Karena adanya kekusutan di tempat ikatan gandanya, hidrokarbon tak jenuh tidak tersusun serapat hidrokarbon. (Campbell, dkk, 2002).
Membran haruslah bersifat fluida agar dapat bekerja dengan baik, membran itu biasanya sekental minyak salad. Apabila membran membeku, permeabilitasnya berubah, dan protein enzimatik di dalamnya mungkin menjadi inaktif. Suatu sel dapat mengubah komposisi lipid membrannya dalam tingkatan tertentu sebagai penyesuaian terhadap suhu yang berubah. Misalnya, dalam banyak tumbuhan yang dapat bertahan pada kondisi yang sangat dingin, persentase fosfolipid tak jenuh meningkat dalam musim gugur, suatu adaptasi yang menghalangi pembekuan membran selama musim dingin. (Campbell, dkk, 2002).
Terdapat dua populasi utama protein membran. Protein integral umumnya merupakan protein transmembran, dengan daerah hidrofobik yang seluruhnya membentang sepanjang interior hidrofobik membran tersebut. Daerah hidrofobik protein integral terdiri atas satau atau lebih rentangan asam amino nonpolar. Protein periferal sama sekali tidak tertanam dalam bilayer lipid, protein ini merupakan anggota yang terikat secrara longgar pada permukaan membran, sering juga pada bagian integral yang dibiarkan terpapar. (Campbell, dkk, 2002).
Membran sangat beragam, tapi osmosis terjadi tanpa menghiraukan bagaimana fungsi membran, sepanjang pergerakan pergerakan linarut lebih dibatasi dibandingkan dengan pergerakan air. Membran bisa berupa satu lapis bahan yang lebih mampu melarutkan pelarut daripada partikel linarut, sehingga melewatkan lebih banyak molekul pelarut daripada partikel linarut. Selapis udara diantara dua larutan air merupakan pembatas yang menahan sama sekalim perpindahan linarut yang tidak menguap, yang ketiga berupa saringan (tapis) dengan sejumlah lubang berukuran tertentu sehingga molekul air dapat melaluinya, (Salisbury dan Ross, 1995).
Pergerakan air yang cepat melintasi antar permukaan ke dalam larutan akan menciptakan tegangan dalam air yang tertinggal di pori, dan akan menarik air bersamanya dalam bentuk aliran massa. Mekanisme membran ini menggambarkan kerumitan alam . (Salisbury dan Ross, 1995).
Ada beberapa perbedaan besar antara karakter permeabilitas pada tanaman yang berbeda tetapi mempunyai prinsip umum yang sama. Salah satu faktanya adalah komposisi relatif dari daerah lipid dan area penjaringan terhadap permeabilitas yang berbeda dari tiap tanaman. Pada Chara, permeabilitas diatur oleh solubilitas lipid pada penyerapan larutan. Sedangkan pada Beggiataa, ukuran merupakan penentu paling utama. Pada tumbuhan tingkat tinggi yang memiliki sifat permeabilitas yang sama dengan Chara, solubilitas lipid merupakan faktor dominan penyerapan walaupun perbedaan kuantitatif dapat diperhitungkan pada angka penyerapan. (Kimball, 2000).
Model membran uap merupakan contoh membran semipermeabel yang sejati, padahal semua membran pada tumbuhan harus dapat melewatkan linarut tertentu saja. Membran seperti itu dikatakan bersifat permeabel diferensial, tidak lagi disebut semi permeabel sejati. Meskipun membran hidup bersifat permeabel terhadap pelarut maupun linarut, tapi umumnya jauh lebih permeabel terhadap pelarut (Salisbury dan Ross, 1995).
III. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum mengenai pelilinan pada buah dilaksanakan pada hari rabu, 27 April 2011 bertempat di Laboratorium agronomi I, jurusan Budidaya pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum pelilinan pada buah yaitu timbangan.
Bahan yang digunakan pada praktikum pelilinan pada buah yaitu, buah mangga, cawan, dan air.
3.3 Prosedur Kerja
Adapun prosedur percobaan dari praktikum pelilinan pada buah antara lain :
1. Siapkan bahan yang akan dijadikan objek praktikum permeabilitas dinding sel.
2. Kemudian ambil satu sampel, buah di cuci, lalu dikeringkan.
3. Setelah di keringkan, buah tersebut ditimbang berat awalnya (utuh).
4. Sesudah ditimbang, kemudian diiris melintang 1 cm.
5. Setelah itu, buah ditimbang, lalu direndam selama 15 menit. Kemudian potongan buah tersebut diangkat dan ditimbang lagi, sampai mencapai berat konstan.
II. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. HASIL
Adapun hasil yang kita peroleh pada percobaan permeabilitas dinding sel pada buah mangga yaitu sebagai berikut :
Tabel 6. hasil pengamatan buah mangga.
Buah Berat potongan mangga 1 cm Perlakuan direndam selama 15 menit Berat (gr)
Buah mangga
(berat awal (utuh) = 65 gr)
10 gr I 15
II 18
III 20
IV 20
4.2.Pembahasan
Berdasarkan hasil yang kita peroleh maka kita dapat mengetahui bahwa semakin lama buah disimpan maka kentahanan permeabilitas dinding sel jaringan buah mangga akan semakin rendah , hal ini dipengaruhi beberapa faktor , adapun faktor yang mempengaruhi yaitu masuknya air pada dinding sel yang ketahanannya sangat rendah , selain itu suhu juga sangat mempengaruhi .Hal ini sesuia dengan pendapat Salisbury dan Ross, 1995 yang menyatakan Pergerakan air yang cepat melintasi antar permukaan ke dalam larutan akan menciptakan tegangan dalam air yang tertinggal di pori, dan akan menarik air bersamanya dalam bentuk aliran massa.
V. PENUTUP
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa sifat permeabilitas dinding sel pada khususnya buah mangga dipengaruhi oleh faktor ketahanan struktur jaringan buah, lama penyimpanan , dan suhu lingkungan.
5.2.Saran
Adapun saran untuk praktikum ini yaitu hendaknya semua praktikan dapat aktif dalam melakukan percobaan sehingga dalam praktikum ini keaktifan tiap praktikan itu sangat penting.
DAFTAR PUSTAKA
Albert ang Gwen V Childs. 1994. Molecular Biology Of The Cell. Garland publishing: New York.
Becker, W. M.. Lewis J.K., Jeff H. 2000. The World of the Cell. Addison Wesley Longman, Inc: San Fransisco.
Bima. 2008. PERMEABILITAS MEMBRAN SEL: Pengaruh Suhu dan Pelarut.http://bima.ipb.ac.id/~tpbipb/materi/prak_biologi/PERMEABILITAS%20MEMBRAN%20SEL.pdf. Tanggal Akses 13 November 2008.
Campbell, Neil. A., Jane B. Reece, Lawrence G. Mitchel. 2002. Biologi Edisi kelima Jilid II. Penerbit Erlangga: Jakarta.
Utmb. 2008. Membran Strukture and Function. http://cellbio.utmb.edu/cellbio…….basic arsitecture.htm. Tanggal akses 13 November 2008.
1.1.Latar Belakang
Sel adalah unit terkecil, fungsional, struktural, hereditas, produksi, dan kehidupan yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu membran, sitoplasma, dan inti. Membran atau plasmalemma menyelubingi sel dengan fungsi mengatur keluar mansuknya zat, menyampaikan atau menerima rangsang, dan strukturnya terdiri dari dua lapisan lipoprotein yang diantara molekul terdapat pori.
Peranan membran dalam aktivitas seluler yaitu mengatur keluar masuknya bahan antara sel dengan lingkungannya, antara sel dengan organel-organelnya. Selain itu membran juga berperan dalam metabolisme sel. Organel-organel sel seperti nukleus, kloroplas, mitokondria, dan retikulum endoplasma juga diselubungi membran. Berdasarkan dari komposisi kimia membran dan pemeabilitasnya terhadap solut maka dapat disimpulkan bahwa membran sel terdiri atas lipid dan protein. Pada membran terdapat lapisan ganda dan molekul-molekul posfolipid yang letaknya teratur sedemikian rupa sehingga ujung karbon yang hidropobik terbungkus sedemikian rupa di dalam sebuah lapisan amorf dalam senyawa lipid. Komponen protein membran digambarkan sebagai suatu selaput yang menutupi kedua belah permukaan dan lapisa biomolekul posfolipid.
Membran plasma merupakan batas kehidupan, batas yang memisahkan sel hidup dari sekelilingnya yang mati. Lapisan tipis yang luar biasanya ini tebalnya kira-kira hanya 8 nm dibutuhkan lebih dari 8000 membran plasma mengontrol lalu lintas ke dalam dan ke luar sel yang dikelilinginya.
1.2.Tujuan praktikum
Tujuan dari praktikum permeabilitas dinding sel yaitu untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap permeabilitas sel pada buah hortikultura
1.1 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari praktikum permeabilitas sel antara lain :
a) Bagaimana permeabilitas dinding sel terhadap buah mangga.
b) Bagaimana mengatasi permeabilitas dinding sel pada setiap tanaman hortikultura.
c) Faktor-faktor apa yang mempengaruhi permeabilitas sel pada tanaman hortikultura.
II.TINJAUAN PUSTAKA
Tujuan fraksionasi sel ialah untuk memisahkan sel menjadi bagian-bagian, memisahkan organel-organel utama sehingga fungsinya masing-masing dapat dipelajari. Ada beberapa perbedaan besar antara karakter permeabilitas pada tanaman yang berbeda tetapi mempunyai prinsip umum yang sama. Salah satu faktanya adalah komposisi relatif dari daerah lipid dan area penjaringan terhadap permeabilitas yang berbeda dari tiap tanaman. Pada Chara, permeabilitas diatur oleh solubilitas lipid pada penyerapan larutan. Sedangkan pada Beggiataa, ukuran merupakan penentu paling utama. Pada tumbuhan tingkat tinggi yang memiliki sifat permeabilitas yang sama dengan Chara, solubilitas lipid merupakan faktor dominan penyerapan walaupun perbedaan kuantitatif dapat diperhitungkan pada angka penyerapan. (Kimball, 2000).
Beberapa teori-teori klasik tentang permeabilitas mempunyai kesulitan dalam menjelaskan gejala-gejala yang teramati. Seperti peleburan zat terlarut pada membran oleh pelarut. Semua perrcobaan permeabilitas membran melibatkan sistem yang tidak seimbang yang berubah sepanjang lintasan tidak baik apabila beberapa molekul yang tidak dapat menemdus lubang batas itu. Bermuatan pada membran akan terjadi potensial, untuk potensial ini dinamakan potensial dominan. Dalam hal ini konsentrasi keseimbangan ion dari dua belah sisi membran berbeda. Proses tercapainya keseimbangan dari berbagai keadaan tidak seimbang merupakan contoh termodinamika larutan balik yang terjadi pada sistem biologi. Membran mempunyai dua fungsi yaitu memberikan kerangka luar dari proses kehidupan dan pemisahan sitoplasma menjadi bahang. Membran memisahkan protoplasma menjadi bagian-bagian tetapi pemisahan itu selektif. (Lovelles, 1991)
. Untuk melakukan hal seperti itu, bagian hidrofilik molekul tersebut harus melewati inti hidrofobik membranya. (Campbell, dkk, 2002).
Suatu membran tetap berwujud fluida begitu suhu turun, hingga akhirnya pada beberapa suhu kritis, fosfolipid mengendap dalam suatu susunan yang rapat dan membrannya membeku, tak ubahnya seperti minyak babi yang membentuk kerak lemak ketika lemaknya mendingin. Suhu beku membran tergantung pada komposisi lipidnya. Membran tetap berwujud fluida pada suhu yang lebih rendah jika membran itu mengandung banyak fosfolipid dengan ekor hidrokarbon tak jenuh. Karena adanya kekusutan di tempat ikatan gandanya, hidrokarbon tak jenuh tidak tersusun serapat hidrokarbon. (Campbell, dkk, 2002).
Membran haruslah bersifat fluida agar dapat bekerja dengan baik, membran itu biasanya sekental minyak salad. Apabila membran membeku, permeabilitasnya berubah, dan protein enzimatik di dalamnya mungkin menjadi inaktif. Suatu sel dapat mengubah komposisi lipid membrannya dalam tingkatan tertentu sebagai penyesuaian terhadap suhu yang berubah. Misalnya, dalam banyak tumbuhan yang dapat bertahan pada kondisi yang sangat dingin, persentase fosfolipid tak jenuh meningkat dalam musim gugur, suatu adaptasi yang menghalangi pembekuan membran selama musim dingin. (Campbell, dkk, 2002).
Terdapat dua populasi utama protein membran. Protein integral umumnya merupakan protein transmembran, dengan daerah hidrofobik yang seluruhnya membentang sepanjang interior hidrofobik membran tersebut. Daerah hidrofobik protein integral terdiri atas satau atau lebih rentangan asam amino nonpolar. Protein periferal sama sekali tidak tertanam dalam bilayer lipid, protein ini merupakan anggota yang terikat secrara longgar pada permukaan membran, sering juga pada bagian integral yang dibiarkan terpapar. (Campbell, dkk, 2002).
Membran sangat beragam, tapi osmosis terjadi tanpa menghiraukan bagaimana fungsi membran, sepanjang pergerakan pergerakan linarut lebih dibatasi dibandingkan dengan pergerakan air. Membran bisa berupa satu lapis bahan yang lebih mampu melarutkan pelarut daripada partikel linarut, sehingga melewatkan lebih banyak molekul pelarut daripada partikel linarut. Selapis udara diantara dua larutan air merupakan pembatas yang menahan sama sekalim perpindahan linarut yang tidak menguap, yang ketiga berupa saringan (tapis) dengan sejumlah lubang berukuran tertentu sehingga molekul air dapat melaluinya, (Salisbury dan Ross, 1995).
Pergerakan air yang cepat melintasi antar permukaan ke dalam larutan akan menciptakan tegangan dalam air yang tertinggal di pori, dan akan menarik air bersamanya dalam bentuk aliran massa. Mekanisme membran ini menggambarkan kerumitan alam . (Salisbury dan Ross, 1995).
Ada beberapa perbedaan besar antara karakter permeabilitas pada tanaman yang berbeda tetapi mempunyai prinsip umum yang sama. Salah satu faktanya adalah komposisi relatif dari daerah lipid dan area penjaringan terhadap permeabilitas yang berbeda dari tiap tanaman. Pada Chara, permeabilitas diatur oleh solubilitas lipid pada penyerapan larutan. Sedangkan pada Beggiataa, ukuran merupakan penentu paling utama. Pada tumbuhan tingkat tinggi yang memiliki sifat permeabilitas yang sama dengan Chara, solubilitas lipid merupakan faktor dominan penyerapan walaupun perbedaan kuantitatif dapat diperhitungkan pada angka penyerapan. (Kimball, 2000).
Model membran uap merupakan contoh membran semipermeabel yang sejati, padahal semua membran pada tumbuhan harus dapat melewatkan linarut tertentu saja. Membran seperti itu dikatakan bersifat permeabel diferensial, tidak lagi disebut semi permeabel sejati. Meskipun membran hidup bersifat permeabel terhadap pelarut maupun linarut, tapi umumnya jauh lebih permeabel terhadap pelarut (Salisbury dan Ross, 1995).
III. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum mengenai pelilinan pada buah dilaksanakan pada hari rabu, 27 April 2011 bertempat di Laboratorium agronomi I, jurusan Budidaya pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum pelilinan pada buah yaitu timbangan.
Bahan yang digunakan pada praktikum pelilinan pada buah yaitu, buah mangga, cawan, dan air.
3.3 Prosedur Kerja
Adapun prosedur percobaan dari praktikum pelilinan pada buah antara lain :
1. Siapkan bahan yang akan dijadikan objek praktikum permeabilitas dinding sel.
2. Kemudian ambil satu sampel, buah di cuci, lalu dikeringkan.
3. Setelah di keringkan, buah tersebut ditimbang berat awalnya (utuh).
4. Sesudah ditimbang, kemudian diiris melintang 1 cm.
5. Setelah itu, buah ditimbang, lalu direndam selama 15 menit. Kemudian potongan buah tersebut diangkat dan ditimbang lagi, sampai mencapai berat konstan.
II. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. HASIL
Adapun hasil yang kita peroleh pada percobaan permeabilitas dinding sel pada buah mangga yaitu sebagai berikut :
Tabel 6. hasil pengamatan buah mangga.
Buah Berat potongan mangga 1 cm Perlakuan direndam selama 15 menit Berat (gr)
Buah mangga
(berat awal (utuh) = 65 gr)
10 gr I 15
II 18
III 20
IV 20
4.2.Pembahasan
Berdasarkan hasil yang kita peroleh maka kita dapat mengetahui bahwa semakin lama buah disimpan maka kentahanan permeabilitas dinding sel jaringan buah mangga akan semakin rendah , hal ini dipengaruhi beberapa faktor , adapun faktor yang mempengaruhi yaitu masuknya air pada dinding sel yang ketahanannya sangat rendah , selain itu suhu juga sangat mempengaruhi .Hal ini sesuia dengan pendapat Salisbury dan Ross, 1995 yang menyatakan Pergerakan air yang cepat melintasi antar permukaan ke dalam larutan akan menciptakan tegangan dalam air yang tertinggal di pori, dan akan menarik air bersamanya dalam bentuk aliran massa.
V. PENUTUP
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa sifat permeabilitas dinding sel pada khususnya buah mangga dipengaruhi oleh faktor ketahanan struktur jaringan buah, lama penyimpanan , dan suhu lingkungan.
5.2.Saran
Adapun saran untuk praktikum ini yaitu hendaknya semua praktikan dapat aktif dalam melakukan percobaan sehingga dalam praktikum ini keaktifan tiap praktikan itu sangat penting.
DAFTAR PUSTAKA
Albert ang Gwen V Childs. 1994. Molecular Biology Of The Cell. Garland publishing: New York.
Becker, W. M.. Lewis J.K., Jeff H. 2000. The World of the Cell. Addison Wesley Longman, Inc: San Fransisco.
Bima. 2008. PERMEABILITAS MEMBRAN SEL: Pengaruh Suhu dan Pelarut.http://bima.ipb.ac.id/~tpbipb/materi/prak_biologi/PERMEABILITAS%20MEMBRAN%20SEL.pdf. Tanggal Akses 13 November 2008.
Campbell, Neil. A., Jane B. Reece, Lawrence G. Mitchel. 2002. Biologi Edisi kelima Jilid II. Penerbit Erlangga: Jakarta.
Utmb. 2008. Membran Strukture and Function. http://cellbio.utmb.edu/cellbio…….basic arsitecture.htm. Tanggal akses 13 November 2008.
Minggu, 13 Maret 2011
keikhlasan cinta

problema demi problema skarng ku hdpi entah bgmn hrz mnyelesaikan smwx tak tahu hrz bagmn lgi untk menyelesaikan ini
di suatu sisi takkan ada yang blh tersakiti tak ada yg blh dikecewakan
tapi aku harz memilih dia atau kw
dan hingga akhrnya kt harz menerima smw ini
baik tak baik untuk kta smw hrz kt terima
yakin sj Allah akan menunjukan jlan yang terbaik
walaupn bgi2 brt kt trma namun ini memang sbuah
knytaan pahit atau maniz tetp kt hadapi n terima dgn iklhs
Langganan:
Postingan (Atom)